15

1766 Kata
Thalia bangun saat sudah sangat malam dan sepi. Sepertinya semua orang di rumah, sudah tidur. Ia mengusap-ngusap matanya, kemudian mengelus sejenak perutnya. Sudah terasa lebih baik, meskipun masih agak mual. Biasanya rasa sakit bulanannya, tidak sesakit sekarang. Itu terjadi kalau dia sedang stress aja. Tangannya meraih ponselnya yang tergeletak asal di bagian kosong kasusnya. Ia mengernyit, begitu layar ponselnya dinyalakan. Ada nomor tak dikenal yang mengiriminya pesan, membuat kerutan di keningnya jadi semakin banyak. Sepertinya chat itu masuk sudah dari tadi sekali. Ia beranjak duduk, kemudian melihat isi pesan tersebut. From: 08××-×××... Ini Jazmi, To: 08××-×××... Tau dari mana nomor gue? From: 08××-×××... Loh, belum tidur? To: 08××-×××... Lo sendiri? From: 08××-×××... Biasalah, banyak tugas. Karena tadi sore main, ada tugas yang belum sempet dikerjain, Lo juga? To: 08××-×××... Enggak, gue baru bangun, From: 08××-×××... Ohh. Jangan lupa simpen nomor gue ya? Jangan tidur kemaleman, Thalia berdecih. "Apaan sih? Kenapa jadi sok akrab gini?" gumamnya. Ia kemudian memilih keluar kamarnya, dan pergi ke dapur. Ia lapar, semoga makanan yang tadi ia masak belum habis. Saat melewati kamar mamanya, langkahnya terhenti, ia seperti mendengar suara tangisan dari dalam. Thalia terdiam sejenak, sebelum mendekati kamar tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya ingin memastikan, kalau ia tidak salah dengar. "Mama bukannya pilih kasih, tapi papa gak begitu suka sama kakak kamu, karena anak perempuan. Bukannya Mama gak merjuangin hak asuh kamu juga, tapi Mama kalah di pengadilan," "Sekarang papa sering mukul aku, harusnya ada alesan buat aku sekarang tinggal sama Mama. Aku juga kan pengennya tinggal sama Mama," "Tapi papa kamu gak terima, dan pasti malah nuntut Mama karena kamu terus di sini," Thalia terhenyak, rupanya ada Nolan juga di dalam kamar. "Sekarang Mama sama kak Thalia tinggal sama tiga cowok asing, meskipun mereka anak temen Mama, keliatannya baik-baik, aku tetep gak bisa, gak khawatir. Aku anak laki-laki yang udah seharusnya diandelin sama mama dan kak Thalia," "Kamu gak perlu khawatir. Kamu harus lebih khawatir sama diri kamu sendiri sekarang, kalau besok gak pulang, papa bakal dateng ke sini dan ngamuk-ngamuk, kamu bisa dipukul," Nolan terdengar menghela napas, kemudian disusul dengan langkah kaki mendekati pintu. Thalia sontak melangkah mundur, menyadari pintu akan dibuka. Cklek. Nolan terhenyak, mendapati kakaknya berdiri di depan pintu. Ia kemudian menghela napas lagi, sembari menutup pintu. "Aku capek banget lahir di keluarga ini," ucapnya seraya melipat kedua tangannya di depan d**a. "Emangnya kamu aja?" balas Thalia, sembari bergegas ke dapur. Nolan tidak menyusul, ia memilih berbaring di sofa ruang tengah untuk tidur. ••• Jino melirik Thalia dan Nolan yang tampak murung, bahkan mereka enggan membalas senyuman mamanya yang baru saja meletakan sarapan ke meja makan. Suasana jadi canggung dan terasa mencekam. Ugh, Jino benci suasana seperti ini. Brian dan Jeno masih belum muncul lagi. "Jino, kok malah ngelamun? Ayo duduk," ucap mama yang membuat Jino tersentak. Jino hanya menganggukan kepala, sembari menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Jeno dan Brian untungnya tak lama datang. Sembari tersenyum, Jeno mendekati mama Thalia, dan menyodorkan kunci mobil. "Tante, kayaknya kita udah gak usah pake mobil lagi deh ke sekolah, sekolah kan deket, kayaknya juga terlalu berlebihan. Kecuali kalau pulang sekolahnya mau belanja," tutur Jeno. "Jadi kalian mau jalan kaki ke sekolahnya?" tanya mama, yang Jeno balas dengan anggukan. "Makasih udah percayain mobilnya ke kita Tante," ucap Jeno. Mama menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Ya udah duduk, sarapan," Jeno menganggukan kepalanya. Ia pun kemudian duduk di sebelah Jino. "Tante gak bisa sarapan bareng kalian, udah agak telat ini, jadi kalian makan aja ya, Tante pergi dulu," ujar mama. Nolan seketika langsung mendelik tajam pada mamanya, sementara Thalia bersikap tak acuh. Mama memeluk Nolan sejenak, sembari mencium keningnya, sebelum pergi. Begitu mamanya pergi, Nolan langsung mengerang kesal, sembari menghentakan lutut kanannya di bawah meja. Membuat semua yang berada di meja makan terkejut. "Nolan!" bentak Thalia. "Gila ya mama? Aku hari ini disuruh pulang, tapi seenggaknya sarapan barenglah! Udah gitu sekarang hari minggu!" seru Nolan. "Mama emang hampir gak pernah sarapan di rumah. Udahlah, mama sibuk juga buat ngirimin kamu. Jangan bikin suasana gak enak!" Nolan akhirnya diam. Sebenarnya percuma juga marah-marah, tidak bisa merubah keadaan. Ia marah bukan karena mamanya pergi dan tidak bisa sarapan bersama, tetapi karena hari ini ia harus pulang ke rumah papanya. Nolan tiba-tiba menatap tajam ke tiga anak laki-laki di depannya. "Gue hari ini pulang ke rumah papa. Kalian bertiga yang cowok di rumah, tolong jagain kakak sama mama gue. Awas aja kalau malah macem-macem, gak gue hajar, gue bunuh," Thalia memukul kepala Nolan. "Kamu nih! Udah dibilangin jangan kurang ajar gitu!" "Kurang ajar? Itu bukan kurang ajar!" tukas Nolan tak terima. "Eh, udah-udah, jangan ribut, lagi makan nih," lerai Jino. Nolan dan Thalia akhirnya diam, dan melanjutkan makan mereka. Nolan sebenarnya tidak selera, tapi ini yang terakhir ia makan masakan mamanya sebelum pulang ke rumah papanya. Entah kapan ia bisa ke sini lagi. Kalau pun bisa ke sini diam-diam, mamanya pasti tidak ada di rumah. "Nanti mau gue anter?" tanya Brian. "Pake motor aja. Tha, motor di rumah lo adakan?" "Ada," balas Thalia. Ia kemudian melirik Nolan yang tidak merespon tawaran Brian. "Mau gak dianter Brian?" tanya Thalia.                             "Iya, mau," balas Nolan datar. "Nanti Kakak bawain keperluan kamu, kemaren udah pada sampe barang yang Kakak beli di online," "Emang apaan keperluan aku?" "Perawatan muka," Nolan mendengus. "Seneng banget acak-acak muka aku," "Dih, itu kan biar kamu glowing," "Kak, aku udah sering dibilang  playboy karena terlalu ganteng, kalau perawatan mau segimana gantengnya aku coba?" Thalia memukul bahu Nolan, yang malah Nolan tanggapi dengan tawa, "Pede banget!" "Serius, tanya aja temen-temen aku," Thalia hanya membalas dengan menatap sengit Nolan. Dibanding membalasnya dengan kata-kata yang berpotensi menyakiti perasaan Nolan, Thalia memilih hanya memasang ekspresi seolah jijik. Ia tahu Nolan tiba-tiba bercanda agar tidak menangis. ••• Thalia memasukan sabun cuci muka, toner, dan pelembab ke dalam paper bag berukuran sedang. Nolan tidak mengerti soal perawatan, jadi harus dibelikan, dan diberitahu cara pakainya. Ia juga memasukan celana jeans baru. Katanya Nolan butuh. Thalia memang selalu memberikan barang-barang yang dibutuhkan Nolan, kalau ia sudah mau kembali ke rumah papa. Tak lupa ia juga menyelipkan uang di antara barang-barang itu. Meskipun tidak banyak, tapi Nolan pasti sudah senang. Karena terpisah, yang terpikirkan di benak Thalia untuk membahagiakan Nolan, hanya memberi barang dan uang. "Kak," Thalia tersentak, saat tiba-tiba mendengar suara Nolan di kamarnya. Ia menoleh ke arah pintu, dan mendapati Nolan tengah berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya kosong, wajahnya memerah, dan bibir bawahya bergetar. "Aku gak mau pulang ke papa~," ucap Nolan, yang diakhiri dengan isakan tangis. Thalia tidak menjawab, ia mendekati Nolan dan hanya memeluknya, sembari menepuki punggungnya. "Jangan benci papa, dia sayang banget sama kamu," tutur Thalia. "Hiksh, aku gak benci papa, ta-tapi... kepisah-pisah gini gak enak. Aku kan kadang kangen mama, kadang kangen papa juga. Tapi sekarang papa lagi gampang emosi, jadi aku gak mau pulang ke papa," Thalia hanya diam, ia bingung harus menjawab apa. Posisi mereka sama, dan mungkin rasa sedih yang mereka tanggung juga sama. ••• "Hati-hati," ucap Thalia pada Brian dan Nolan yang akan segera pergi. "Iya, tenang aja," balas Brian. "Gue pastiin, adek lo sampe di tempat tujuan dengan aman," "Heum," balas Thalia sembari menganggukkan kepala. "Telfon Kakak kalau udah sampe ya?" Nolan yang sedang mengancingi helmnya, hanya mengangguk sebagai jawaban. Nolan lalu menaiki motor, di mana Brian sudah lebih dulu berada di atasnya. Ia kemudian menoleh ke arah Thalia, sambil tersenyum. "Pergi dulu, kalau mama ada di rumah, bilang," ucap Nolan. "Iya," balas Thalia. "Jagain kakak sama mama gue bang. Gue bakal susah banget mau balik ke sini," kali ini Nolan bicara dengan Jeno dan Jino, yang berdiri di kedua sisi Thalia. "Iya, pasti. Percaya aja sama kita, gak usah khawatir," kata Jino. "Gak gue hajar, tapi gue bunuh kalau macem-macem," ancam Nolan. Jeno tertawa kecil mendengar ancaman Nolan. "Iya-iya, udah tenang aja," "Udah siap Jis?" tanya Brian. "Iya, udah," balas Nolan. "Hati-hati!" seru Thalia, sebelum Brian menjalankan motornya. Nolan melambaikan tangannya sejenak pada Thalia, sebelum ia beralih memegangi kedua sisi baju Brian. Thalia mengembungkan pipinya. Ah, dadanya sesak sekali rasanya. Kapan semua hal-hal buruk ini berlalu? Batinnya. Ia tidak menyadari, kalau Jino dan Jeno sama-sama tengah menatapnya. Salah satu tangan Jino dan Jeno pun tak lama terangkat, dan mendarat di atas pucuk kepala Thalia, yang membuat ketiganya sama-sama terkejut. Thalia langsung menjauh dari mereka, sementara Jeno dan Jino mengibas-ngibaskan tangan mereka, seolah mereka jijik, karena tangan mereka sudah bersentuhan. "Ish, kalian ngapain sih?!" seru Thalia. "Baru dibilangin jangan macem-macem, malah mau pegang-pegang," "Cuman mau pegang kepala, aelah," sahut Jino. "Lo keliatan murung banget," "Ya emang kenapa kalau gue murung? Biasanya juga emang selalu keliatan gitu," balas Thalia. Jeno menghela napas. "Apa yang bisa ngehibur lo?" "Ck, udahlah, gak usah ikut campur," dengus Thalia. "Siapa yang mau ikut campur? Kita kan temen, ya harus saling care dong," kata Jino. "Kita emang gak ngerasain apa yang lo rasain, tapi kita tau pasti berat," "Gue cuman mau sendiri sekarang," gumam Thalia, sebelum bergegas masuk ke dalam rumah. Jeno dan Jino saling tatap, kemudian menghela napas. "Nge-teh aja yuk," ajak Jeno. "Hah, udah kayak bapak-bapak aja. Tapi sambil nonton drama Korea," "Hah, kayak emak-emak aja lo," ••• Jino dan Jeno, berakhir minum s**u kotak di ruang tengah, sambil nonton kartun. Karena ternyata tidak ada teh di rumah, dan jam tayang drama Korea yang seru, masih nanti malam. "Gue kayaknya gak akan sanggup kalau jadi Thalia atau Nolan," celetuk Jino, setelah sekian lama hanya diam. "Yah, makanya lo gak dikasih masalah seberat mereka," balas Jeno. "Orang tuanya kenapa sih? Egois banget," gumam Jino. "Jangan main judge orang, kita gak tau apa yang sebenernya terjadi. Lagian ngajak gibah aja lo," "Siapa yang ngajak gibah?" "Bisa-bisanya lo nyangkal," "Tapi jujur, gue bener-bener gak ngerti sama orang tua yang cerai, masih mending gitu kalau mereka gak punya anak. Kan kasian anaknya," "Kita kan belum nikah, ya gak akan ngertilah," "Gue gak mau kayak gitu kalau udah nikah," "Ck, kejauhan amat lo mikirnya. Pikirin ujian aja sana," "Itu lebih bikin gila!" Obrolan mereka terhenti, karena tiba-tiba mencium aroma asap rokok di belakang mereka. Sontak mereka menoleh, dan mendapati Thalia berdiri di belakang sofa, sambil mengapit gulungan tembakau di belahan bibirnya. Ia tampak berpakaian rapi dan dandan. "Nonton yuk, tapi tunggu Brian pulang. Gue juga ajak Jazmi sama yang sama lain,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN