Jeno tersentak mendengarnya, sampai tidak bisa berkata-kata, jadi ia hanya tersenyum menanggapi ucapan Thalia.
"Jangan geer, maksud gue nyaman sebagai temen," ucap Thalia.
"Siapa yang geer? Emang gue anggep nyaman sebagai apa?"
"Kali aja lo mikir, gue nyama sama lo, lebih dari sekedar temen,"
"Itu bisa jadikan?"
"Cih, lo ketularan Jino,"
"Wehhh, kalian ngomongin gue ya?" Thalia dan Jeno sama-sama terkejut, mendengar suara Jino yang tiba-tiba di belakang mereka.
Sontak mereka menoleh, dan menemukan Jino masih menggunakan seragam sekolahnya, tapi sudah tidak berbentuk, dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya tampak bengkak, seperti baru bangun tidur.
"Lo tidur sore-sore?" tanya Jeno.
Jino menguap, sembari berjalan ke kulkas. "Iyaa, ngantuk banget gue tadi, ketiduran. Gak lama padahal tidurnya, tapi muka gue udah bengkak aja,"
"Kok lo belum ganti baju sih?" kali ini Thalia yang tanya.
"Besok kan libur, jadi biarin aja seragamnya kotor sama kusut sekalian," jawab Jino.
"Tapi lo kan berarti belum mandi dari pulang sekolah, sampe udah malem gini. Pulang sekolah lo main lagi, pasti badan lo lengket plus bau!" omel Thalia.
Jino mendekati Thalia, kemudian mengibas-ngibaskan bajunya di depan wajah Thalia sambil lompat-lompat.
"Apaan sih?!" seru Thalia sembari menoyor kepala Jino, yang membuatnya berhenti bertingkah.
"Bau gak gue? Enggak kan?" tanya Jino.
"Bau anjir! Gue sampe mau muntah nyiumnya!" balas Thalia.
"Ahh, bohong, gue mana pernah bau?" kata Jino sambil mengangkat kedua tangannya.
"Gue potong ketek lu entar," ancam Jeno yang terganggu dengan tingkah Jino, karena ia berdiri di belakangnya.
"Udah mandi sana! Kalau gak mandi gak enak tidurnya entar. Gak boleh makan kalau belum mandi!" kata Thalia, sembari mendorong Jino untuk menjauh darinya.
"Ahh, malesss..." keluh Jino.
"Eh, anceman gue gak main-main loh, kalau lo gak mau mandi gak boleh makan, titik!"
"Kejam banget,"
"Makanya mandi, apa susahnya mandi? Mandi sana!"
"Ahh, iya deh, iya, mau minum dulu, habis itu mandi deh," kata Jino pasrah, dengan bibir maju ke depan.
•••
Nolan dan Brian menatap meja makan dengan tatapan tidak suka. Thalia hanya memasak sayur-sayuran yang ditumis, dengan lauk tempe goreng.
"Kalau manyun gak usah makan," ucap Thalia yang menyadari tatapan protes Nolan dan Brian saat melihat makanan yang tersaji.
"Hah, kenapa masak ini sih Kak? Emangnya gak ada ayam apa di rumah?" keluh Nolan.
"Daging sama ayam, sehatnya cuman dimakan seminggu sekali," balas Thalia.
"Alah, biasanya gak mikirin kesehatan pun," dengus Nolan kesal.
"Kamu kan gak masak, gak tau susahnya masak. Udah makan aja apa yang ada. Kemaren juga siapa yang ngeluh sembelit? Jadi harus makan sayur banyak-banyak mulai hari ini," tegas Thalia, yang membuat bibir Nolan semakin maju ke depan.
Brian tidak bisa protes, karena semua protesannya sudah Nolan sampaikan. Dan ia tidak mau kena omel Thalia juga.
Jino yang baru selesai mandi, tak lama muncul di dapur dengan aroma semerbak, yang membuat Thalia menatapnya sinis.
"Ya ampun, wangi banget lu! Mau makan jadi mual tau gak?!" protes Thalia.
"Loh? Tadi gue bau asem juga lo protes," kata Jino.
"Ya tapi mandi aja dong, gak usah pake parfum segala!"
"Siapa yang pake parfum? Cuman samponya emang wangi banget. Terus salah gue gitu?"
"Ah, gue jadi gak selera makan!"
Jeno memegangi pundak Thalia. "Lo kenapa sih? Perut lo keram?" tanya Jeno.
Ia lama-lama tidak tahan juga mendengar Thalia terus mengomel dan marah-marah.
Gadis itu tidak menjawab, ia hanya diam sembari mengulum ke dalam kedua belah bibirnya, dan berkacak pinggang. Tapi Jeno bisa melihat, Thalia sedikit mencengkeram pinggangnya.
"Udah lo makan di ruang tengah aja, biar gak nyium wanginya Jino, lebih enak juga kan di sofa empuk," kata Jeno, sambil meraih pergelangan tangan Thalia, dan mengajaknya pergi.
Anehnya Thalia menurut tanpa protes, yang membuat Brian, Jino serta Nolan tercengang.
"Hah, gara-gara perutnya gak enak toh, jadi marah-marah terus," gumam Brian.
"Padahal pas nyuruh gue mandi tadi, gue kirain ngomel karena perhatian. Gak taunya gue wangi juga ngomel," ujar Jino, sembari duduk di salah satu kursi meja makan.
"Idih, pede banget kakak gue perhatian sama lo," sahut Nolan.
Jino tidak menjawab, malas bertengkar dengan bocah.
"Eh, kakak lo kan cewek, kok gak perhatian kayak Jeno?" kata Brian pada Nolan.
"Gue aja sering pisah sama dia," balas Nolan. "Kita kan anak broken,"
Akhirnya Brian tidak tanya lagi.
Sementara Jino sibuk mengambil nasi dan lauk, ia tidak protes melihat menunya. Malah excited, karena yang ditumis kangkung dengan cabai merah yang terlihat segar.
"Tapi kok bang Jeno sama kak Thalia lama ya? Harusnya bang Jeno balikkan buat ngambilin kak Thalia makan?" gumam Nolan. "Wah, gak beres nih,"
"Biar gue cek, sekalian nganterin makanan buat Thalia," kata Brian, sembari bangkit berdiri.
Ia mengambil piring, kemudian meletakan nasi serta lauknya dan sendok di pinggir nasi, sebelum bergegas ke ruang tengah.
Sesampainya di sana, ia terkejut melihat Thalia yang sedang berbaring di sofa, Jeno duduk di pinggirnya dan sedang memegangi perut Thalia.
"Kalian ngapain?" tanya Brian dengan nada suara kecil, agar tidak dapat didengar Nolan.
Jeno maupun Thalia terkejut melihat kehadiran Brian.
"Perutnya sakit, gue cuman elus, jangan salah paham," kata Jeno.
"Ya harus banget dielus?" balas Brian.
Thalia mau menjawab, tapi yang keluar dari mulutnya hanya ringisan.
"Lo bikin air anget gih, masukin ke botol terus bawa ke sini," titah Jeno pada Brian.
"Buat apa?"
"Buat pukul kepala lo. Ya buat kompres perut Thalia lah!"
"Ahh, iya-iya! Sadis bener lu! Tunggu bentar,"
Brian meletakan piring yang tadi ia bawa di meja, sebelum kembali ke dapur untuk membuatkan Thalia air hangat.
Begitu sampai dapur, melihat Brian mengambil panci dan mengisinya dengan air, membuat Jino dan Nolan keheranan melihatnya.
"Ngapain?" tanya Jino.
"Bikinin air anget buat Thalia, katanya buat ngekompres perutnya," balas Brian.
"Aneh, padahal katanya pas di sekolah gak sakit deh," kata Jino.
"Gak tau gue juga," gumam Brian.
"Kak Thalia emang gitu, awal-awal gak sakit, beberapa jam kemudian baru kesakitan," tutur Nolan. "Bisa sampe besok tuh,"
"Wah, kasian," timpal Jino. "Kalau menstruasi sesakit apa sih? Gue penasaran,"
"Potong aja ujung anu abang, biar keluar darah, pasti nanti sakit tuh,"
Jino seketika tersedak kangkung yang sedang ditelannya, tanpa pikir panjang, ia mengambil sendok yang masih bersih dan dilemparkannya pada kepala Nolan.
"Sembarangan lu kalau ngomong!" pekik Jino.
"Gak usah lempar sendok dong! Sakit tau!" keluh Nolan sembari memegangi kepalanya yang terkena lemparan sendok.
"Ya elu kalau ngomong dijaga dong,"
"Lah kan gue ngomongnya bener, abang penasaran sama rasa sakit bulanan kan? Ya udah, dibikin berdarah dong itu abang,"
"Ya gak gitu juga!"
"Ahh, udah deh! Kenapa malah jadi berantem sih kalian?" lerai Brian. "Jis, botol kosong mana? Buat diisiin air,"
"Cari aja di kulkas, pasti banyak botol kosong," balas Nolan.
"Asli, lo jadi adek cuek banget," komentar Jino.
"Mana ada cuek? Emang gue harus apa? Kan udah ada abang Jeno sama Brian yang ngurusin. Biasanya kak Thalia justru gak mau diapa-apain kalau udah sakit gitu,"
"Lo pasti kasar nih, bukannya ngasih air anget, pasti air panas yang dikasih,"
"Bacot lu bang,"
"Gue lempar semua sendok ke kepala lu entar,"
Jino hanpir menyerang Nolan, kalau saja Brian tidak bersuara.
"Heh, heh! Udahlah! Berantem mulu lu pada! Heran! Gue siram juga nih air panas ke kepala kalian!" ancam Brian.
•••
"Udah enakan belum?" tanya Jeno, sembari menggulingkan dengan lembut botol berisi air hangat di atas perut Thalia.
"Udah lumayan. Udah lo makan aja, gue harus tidur biar rasa sakitnya mendingan. Ngantuk juga sih karena nahan sakit," tutur Thalia.
Akhirnya ia bisa bicara, setelah beberapa saat hanya bisa mengerang atau meringis kesakitan.
"Oke, kalau ada apa-apa panggil aja," ucap Jeno sembari bangkit dari sofa.
Thalia mengangguk, kemudian memejamkan matanya.
Jeno pun pergi, meninggalkan Thalia sendiri di ruang tengah.
'Perhatian banget,' batin Thalia dengan mata yang ia buka, dan mulut yang ia tutup dengan punggung tangan.
Beberapa saat berlalu, Thalia akhirnya tertidur.
Jino sudah selesai makan duluan, ia langsung keluar dari dapur, karena tidak mau bertengkar lagi dengan Nolan.
Nolan sendiri masih ada di dapur, sedang minum s**u, sambil membicarakan game dengan Brian dan Jeno.
Jino tidak begitu suka game, jadi ia tidak juga tidak berminat nimbrung.
Tiba di ruang tengah, ia menghentikan langkahnya. Matanya melirik Thalia yang tidur di sofa.
Dengan hati-hati Jino berjalan menghampiri Thalia. Ia menatapnya sejenak di balik sandaran sofa, tangan kanannya kemudian terulur ke arah wajah Thalia.
Jari telunjuknya menekan pipi gadis itu pelan-pelan, untuk memastikan apa ia benar-benar sudah tidur atau belum.
Setelah yakin kalau Thalia sudah tidur, Jino pun memberanikan diri untuk memindahkan Thalia ke kamarnya.
Entah datang dari mana rasa simpati ini, yang jelas sekarang Jino hanya mau memindahkannya ke kamar.
Dengan sangat pelan, Jino meraih punggung dan kedua lutut Thalia, selayaknya kalau mau menggendong bayi. Harus super hati-hati. Kalau Thalia bergerak sedikit, Jino akan diam.
Saat Thalia sudah berada digendongannya, Jino mulai berjalan menuju lantai atas.
Tubuh Thalia tidak terlalu berat, apa lagi untuk dibawa anak laki-laki berbadan cukup besar sepertinya.
Aroma tubuhnya, aroma minyak kayu putih. Sama sekali tidak tercium aroma wangi-wangian seperti parfum.
Jino menangis di dalam hati, ia jadi merasa, kalau ia sudah kecentilan selama ini.
Setibanya di kamar Thalia, Jino membaringkan tubuh Thalia di atas kasur. Untungnya kamar Thalia tidak dikunci dan tertutup rapat, jadi Jino bisa masuk dengan hanya mendorongnya menggunakan kaki.
Setelah membaringkan Thalia, Jino duduk sebentar di pinggir kasur. Meskipun tidak begitu berat, tetap saja lelah membawa Thalia dari lantai bawah ke lantai dua.
Jino menarik rambutnya ke belakang, kemudian menggembungkan pipi, sembari menolehkan kepala ke arah Thalia.
Ia tersenyum tipis melihat wajah gadis itu. "Gak keliatan dinginnya kalau lagi tidur ya?" gumam Jino.
Jino kemudian mengusap lehernya, sembari mendesis. "Kok gue ngerasa jadi aneh gini deh,"
'Waktu Thalia ngomelin gue nyuruh mandi, gue kepikiran. Pas tau karena dia lagi sakit perut makanya marah-marah, gue malah kecewa. Hah, aneh banget. Padahal gak mungkinlah, dia perhatian ke gue,"
Jino akhirnya memilih bergegas keluar dari kamar Thalia, dari pada pikirannya semakin aneh.