Han sudah pergi, tinggal Jino, Jeno dan Thalia di UKS. Sebenernya dibanding roti, Thalia lebih ingin makan risol. Risol yang isi telur rebus dan mayones.
"Gue gak nyangka kalian pernah pacaran," celetuk Jino.
"Udah lama," balas Thalia.
"Tapi kok kita bisa gak tau ya?"
"Emangnya lo harus tau semua tentang temen lo?"
"Ya gak gituu... tapi kan kalau masalah pacaran, ngapain sembunyi-sembunyi?"
"Karena gue yang minta. Gue tau temen-temennya Han tuh suka berisik dan ribet,"
"Loh? Termasuk kita dong?!" pekik Jino tak terima.
"Iya," balas Thalia datar. "Ck, lagian emang gak penting buat kalian tau. Gue udah feeling hubungan gue sama Han bakal sebentar,"
"Kalau tau gitu kenapa kalian masih pacaran?" tanya Jeno.
"Ya karena gue suka sama Han lah! Tapi ngapain gue pertahanin hubungan yang bikin gue menderita? Meskipun sama-sama suka, gue gak bahagia," balas Thalia.
Jino tiba-tiba bertepuk tangan. "Gilee, lo pakar cinta ya?"
Thalia menatap sinis Jino. "Pakar apaan anjir? Gue cuman bilang kenyataan,"
"Baguslah, lo punya pemikiran kayak gitu. Berarti lo gak akan gampang kejebak di hubungan toxid. Gak kayak Jino tuh, pas kelas dua dia pernah pacaran sama cewek famous, kakak kelas kita, siapa namanya tuh?" tanya Jeno di akhir pada Jino.
"Kak Yola," balas Jino sambil berdecak malas.
"Nah itu. Dia dijadiin babu, disuruh ini-itu, beliin ini-itu, jemput sana, anter sini, ehh, ujung-ujungnya dia liatin terang-terangan kalau dia selingkuh. Udah kita bilangin, dia masih ngeyel aja," celoteh Jeno.
"Kenapa masih lo pertahanin?" tanya Thalia.
"Yahh, gue percaya diri aja dia bakal suka beneran sama gue,"
"Kenapa?"
Jino mengerang kesal, karena Thalia terus bertanya.
"Ya karena wajah gue ini sulit untuk ditolak kan? Terus gue itu udah jelas ya, baik, perhatian, gue juga kasih semua yang dia mau, kurang apa lagi coba gue?"
"Lo b**o!" seru Thalia dan Jeno secara bersamaan, yang membuat Jino seketika bungkam.
"Apa sih? Kok tiba-tiba jadi ngatain? Sekarang juga udah sadar, udah taubat gue!" seru Jino.
"Tapi kok bisa ya kak Yola sama sekali gak tertarik sama lo? Lo kan banyak penggemarnya, gue kira cewek gampang aja buat suka sama lo," tutur Thalia.
"Emangnya lo tertarik sama Jino?" tanya Jeno.
Thalia menggeleng. "Enggak sih,"
"Seganteng-gantengnya dia, belum tentu selera semua orang. Lagian masih bocil gitu, gampang dibegoin lagi, terus lo pasti taukan segimana berisik dan alaynya seorang Jino? Idaman cewek tuh yang bad boy, dingin-dingin menghanyutkan," kata Jeno.
"Ah, enggak, gue gak suka cowok kayak gitu, apa lagi yang populer, iyuh," timpal Thalia.
"Berarti iyuh sama kita?" tanya Jino.
"Gak usah ditanya kalau gak mau sakit hati," balas Thalia. "Ah, lagian kalian gak populer-populer amat,"
"Ih, kita tuh populer tau!" sahut Jino.
"Iya, populer berisiknya,"
"Yang paling populer di antara kita bersembilan tuh Jazmi, Felix sama Brian," ujar Jeno.
"Oh, gitu ya?" gumam Thalia.
"Iya, soalnya Jazmi tuh soft gitu, kalau Felix imut tapi suaranya bikin terngiang-ngiang katanya, kalau Brian gak tau ya kenapa bisa populer. Cewek-cewek pada katarak aja kali matanya," oceh Jino.
"Anjir, ya enggaklah. Itu karena kepala dia kecil," kata Jeno.
"Kalau kepalanya kecil berarti otaknya kecil dong,"
"Wajah lo juga kecil, makanya bibir lo keliatan jeding banget, gak muat wajah lo nampung bibir lo tuh,"
"Ahh, apaan sih, belain Brian mulu! Belain gue dong!"
"Ogah!"
"Bercandaan kalian body shaming ya," ucap Thalia dengan intonasi suara tenang, tapi sinis, sambil menatap tajam Jeno dan Jino, yang langsung membuat mereka berdua bungkam.
"Eh, tapi lo gak benci Han kan?" tanya Jeno tiba-tiba, setelah beberapa saat terdiam setelah Thalia bicara terakhir tadi.
"Enggak, bukan salah dia gue jadi dibully, salahnya ya karena gue pacaran sama dia. Lagian gue duluan yang mutusin," balas Thalia.
"Lo masih suka sama dia? Kalau masih pacaran lagi aja, kita jagain kalian," kata Jino.
"Mending cari yang baru, yang gak punya ekor," jawab Thalia sembari beranjak berdiri dari kasur. "Udah yuk ke kelas, udah mau selesai jam istirahatnya."
•••
Pulang sekolah Thalia langsung pulang, sementara Jeno, Jino dan Brian mau pergi nongkrong dengan teman-temannya.
Mereka nongkrong di warung kopi, kalau mau nongkrong di kafe, kemahalan untuk anak sekolahan seperti mereka, terutama yang nge-kost. Meskipun beberapa dari mereka ada yang anak sultan, mereka lebih memilih menyimpan uang mereka dari pada bayarin teman-temannya minuman mahal.
Itu uang orang tua, dan kalau ada alternatif yang murah, ngapain yang mahal? Toh, kopi di warung kopi gak ada masalah.
Yang jelas kalau di warung kopi banyak gorengan enak, bisa pesen nasi, dan bisa angkat kaki satu ke kursi.
Meskipun sedikit terganggu dengan asap rokok dari bapak-bapak.
"Enak gak tinggal di rumah Thalia?" tanya Randy.
"Biasa aja sih, enak-enak aja. Mamanya Thalia manjain kita banget," balas Jeno.
"Berapa tuh nge-kost di rumah Thalia?" giliran Felix yang tanya.
"Eungg... gak tau ya, orang tua kita gak ngasih tau. Soalnya mama Thalia gak ngasih harga pastinya juga, sukarela gitu mau bayar berapa aja," jawab Brian.
"Wih, enak dong," sahut Han.
"Apa lo? Mau nge-kost juga di rumah Thalia?" ucap Jino dengan nada sinis.
"Kalau bisa, kenapa enggak?" balas Han, sembari menjulurkan sedikit lidahnya pada Jino.
"Kamarnya udah gak ada yang kosong, udah pas kita bertiga yang tinggal, soalnya kamar kosongnya juga tinggal tiga," kata Jeno.
"Orang tua kita gak mungkin cuman bayar sejuta, apa lagi dibawahnya. Apa lagi mereka tau mamanya Thalia itu janda," tutur Brian.
"Mamanya Thalia gue denger workaholic ya?" celetuk Jazmi.
"Gak tau sih, tapi keliatannya iya, jarang di rumah soalnya," balas Jino.
"Dia jadi sedingin es gitu, gara-gara kondisi orang tuanya kali ya? Kan orang tuanya cerai, terus mamanya sibuk," kata Aaron.
"Gak tau, tapi Henry enggak,"
Henry yang sebelumnya sedang sibuk meniup-niup kopinya, seketika mengangkat pandangannya dari kopi ke arah teman-temannya yang tiba-tiba memandanginya.
"Apaan sih liat-liat? I know, i know, gue ganteng, manis dan bersinar, tapi nanti kalian bisa diabetes kalau keseringan liat gue," celoteh Henry, yang membuat semua temannya mengalihkan pandangan darinya.
"Yah, tapi kan orang beda-beda. Ada orang yang ceria, karena mendem masalahnya sendiri, atau milih gak mikirin masalahnya. Atau orang yang terpengaruh sama masalahnya, sampe berdampak ke sifatnya. Sifat Henry kan dasarnya udah ceria, kalau Thalia mungkin dasarnya emang udah dingin, ditambah ada masalah keluarga, jadi gitu deh," ujar Randy.
Henry yang sebelumnya tidak mengerti apa yang dibahas teman-temannya, kini jadi mengerti mereka membahas apa setelah mendengar omongan Randy.
"Oh, kalian ngomongin anak yang broken home ya? Yang penting kan bapak gue sekarang udah dipenjara, jadi gue sama ibu bebas, udah gak dipukulin lagi. Sekarang gue udah bahagia, jadi ngapain dijadiin beban?" kata Henry sambil tersenyum.
"Awas aja lo nyembunyiin masalah lo sendiri," sahut Aaron.
"Enggaklah! Mulut gue ember gini," balas Henry. "Eh, tapi kan Thalia itu gak punya temen. Dia cerita masalahnya ke siapa?"
Semuanya seketika hening untuk beberapa saat. Raut wajah Han seketika muram. Kalau dipikir benar juga, dua bulan pacaran dengan Thalia, ia tidak pernah menceritakan hal pribadinya padanya.
Ia bahkan baru tahu kalau ibu Thalia seorang workaholic.
"Kita jadi temennya aja." Usul Jazmi.