"Kok lo di sini?" tanya Han.
"Gue nganterin Thalia, dia lagi bulanan, jadi kram perutnya," balas Brian.
"Nganterin, apa sekalian nongkrong?" cibir Han.
"Kalau bisa dua-duanya, kenapa enggak?" jawaban Brian, sukses membuatnya dapat sabetan handuk Han.
"Kalian ngapain ke sini?" giliran Brian yang tanya.
"Gue habis main bola, terus jatuh, nih," Han menunjukkan lututnya yang berdarah.
"Harusnya lo gak usah tanya! Ya gue disuruh jemput lo lah!" dengus Jazmi kesal.
"Aduh, repot-repot segala dijemput, beginilah namanya pangeran yaa..." kata Brian sembari mengibaskan rambutnya.
"Pegangin Jaem, biar gue cekek pake handuk," ucap Han sembari mengibaskan handuknya.
Brian langsung bangkit berdiri sambil berdecak. "Akh, iya-iya nih, gue mau balik kelas,"
"Udah yuk Jaem," Brian menggandeng tangan Jazmi, dan menariknya paksa untuk pergi, tanpa membagi kesempatan padanya untuk pamit pada Han.
Hingga tinggalah Han hanya dengan Thalia di UKS. Han sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman dan canggung, tapi ia berusaha meyakinkan diri kalau tidak apa-apa, karena Thalia juga sedang tidur saat ini.
Han pun kemudian menempati kursi yang sebelumnya di duduki Brian. Dengan hati-hati, ia mengambil kotak obat yang ada di atas meja putih di samping kasur, dan mengeluarkan alat-alat yang ia perlukan untuk mengobati luka di lututnya.
Han sudah berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun, namun saat kapas yang sudah dibasahi antiseptik menyentuh kulitnya, tanpa disengaja ia meringis kesakitan.
"Adu-duhh... perih banget," keluh Han sambil meniup-niup lututnya.
"Eung... Brian?" Han sontak mendongak saat mendengar suara Thalia.
Ia melihat gadis itu menggeliat, dan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia mengernyit saat yang ia lihat rupanya bukan Brian, melainkan Han.
Thalia otomatis beranjak duduk, dan matanya yang sebelum terbuka sempurna, jadi terbuka lebar.
"Kok lo yang ada di sini? Brian mana?" tanya Thalia. Dari nada suaranya, ia terdengar agak panik.
"Dia udah balik ke kelas, tadi dijemput Jazmi," balas Han. "Santai ajalah sama gue, kayak ke siapa aja,"
Thalia berdecak. Bisa-bisanya Han menyuruhnya bersikap santai dengan status hubungan mereka sekarang. Dulu mereka mungkin memang sangat dekat, tapi sekarang, teman saja bukan.
Pandangan Thalia kemudian turun pada lutut Han yang sedang berusaha Han bersihkan.
"Lutut lo kenapa?" tanya Thalia.
"Jatuh tadi pas lagi main bola," balas Han.
"Kelas lo pelajaran olah raga ya?"
Han mengangguk. "Males banget mau masuk kelas gue sekarang, pasti satu kelas bau asem deh. Lagian pelajaran olah raga dibikin siang-siang panas gini, pas masih ada pelajaran lain lagi," gerutu Han.
"Itu lo kapan beresnya kalau kapasnya cuman ditempel-tempel doang ke luka?"
"Perih tau,"
Thalia menurunkan kedua kakinya dari kasur, kemudian merebut paksa kapas yang Han pegang, sebelum ia turun dari kasur dan berlutut di depan Han.
Thalia meletakan salah satu tangannya di bawah betis Han, dengan sedikit ia cengkram.
"Akh! Gak usah Tha! Biar gue sendiri!" teriak Han histeris, tapi Thalia mengabaikannya.
Han pun akhirnya pasrah, dan hanya bisa menggigit erat-erat kaosnya, sementara Thalia mulai membersihkan lukanya tanpa kelembutan sama sekali.
Tapi itu bekerja karena luka Han masih banyak kotoran dan debu, meskipun sebelumnya Han sudah membilasnya dengan air. Sekarang sudah bersih berkat Thalia gosok.
Setelah bersih, Thalia langsung meneteskan obat merah di atasnya, dan menutupnya dengan kain kasa.
Han sudah sesenggukan dari tadi karena sakit, tapi rasa sakitnya jadi cepat berlalu walau masih ada sisa-sisanya sedikit, karena Thalia mengobati lukanya dengan cepat.
"Kalau pelan-pelan, perihnya malah makin kerasa dan lama," ucap Thalia sembari beranjak berdiri.
Han tidak menjawab, ia sibuk mengusap-ngusap matanya yang berair dengan lengannya.
"Gue balik kelas dulu," Han tersentak mendengar Thalia tiba-tiba pamit.
Ia buru-buru menahan tangan Thalia yang baru saja hendak melangkah pergi.
"Katanya lo bulanan? Kan pasti sakit banget, udah istirahat aja, gue yang pergi," kata Han.
Thalia mendengus. "Gue udah gak papa," balas Thalia.
"Eyy, jangan gitulah. Lagian kenapa sih lo ngehindarin gue terus? Lo bener-bener udah gak mau kenal sama gue lagi ya?"
Kedua alis Thalia bertaut, ia tidak tahu harus membalas pertanyaan Han dengan apa.
Tangan Han yang sebelumnya mencengkeram pergelangan tangan Thalia sudah terlepas, namun Thalia tidak pergi dan tetap berdiam diri di tempat.
"Gue sampe sekarang gak tau alesan kita putus. Kenapa sih lo mutusin gue? Padahal kita baru pacaran dua bulan," ujar Han.
Thalia menghela napas. "Kalau gue ceritain penyebabnya kesannya gue kayak ngadu. Dan gue gak yakin lo bakal percaya,"
"Mana mungkin gue gak percaya sama lo? Justru kalau lo mutusin gue tanpa penyebab yang jelas gini, kan gak enak," kata Han.
"Lo masih deket sama Oyoy?" tanya Thalia.
"Yaa... biasa aja sih, kan kita temen sekelas. Ya Oyoy sama aja gue anggepnya kayak temen sekelas yang lain. Tapi gak tau kenapa dia suka ngintilin gue, berapa kali juga gue ngegep dia buka hp gue,"
Thalia mendengus. "Lo gak peka ya? Diakan suka sama lo!" ucap Thalia ketus.
"Oh gitu? Gue gak tauu... lagian kalau dia emang suka sama gue terus kenapa? Gue bakal macarin dia gitu? Iya, kalau gue ada rasa juga sama dia. Tapi kan enggak,"
Thalia berbalik badan, dan menatap tajam Han yang balik menatapnya dengan tatapan polos.
"Karena dia suka sama lo, dan tau kita pacaran, dia nerror gue. Di media sosial, di real life. Lo tau alesan gue pernah tiba-tiba batalin pulang bareng lo, padahal kita udah janjian, mau sekalian jalan, itu karena gue ditahan sama Oyoy di kamar mandi! Masih untung cuman dikunciin sama disiram air doang, selanjutnya gue juga dipukulin. Di media sosial gue dibilang p*****r, lont*, PHO, dan gue dibilang udah ngerebut lo dari dia, karena dia yang udah ngejar-ngejar lo dari lama, dia yang pertama kali deketin lo, tapi malah gue yang pacaran sama lo. Dia merasa dia adalah korban karena gue pacaran sama lo!" Thalia tidak melanjutkan ucapannya lagi karena sudah kehabisan napas.
Ia tanpa sadar bicara cepat dan panjang lebar tanpa jeda.
"Kenapa lo gak pernah bilang?" tanya Han.
"Karena Oyoy temen lo, gue kira kalian deket, kayak sahabat. Y-ya, gue mana mau ngancurin pertemanan kalian, cuman gara-gara gue. Gue kesannya ngadu domba lagian," balas Thalia.
"Lo tuh gak cuman dong! Kok bisa-bisanya lo mikir gitu?" seru Han.
"Hah, lagian gue gak kuat kalau harus pacaran sama lo, diterror terus!"
"Tapi kan lo bisa bilang ke gue!"
"Terus mau lo apain? Marahin? Gak akan bisa! Malah entar gue dibilang tukang ngadu, dan dapet terror lebih parah lagi. Cewek setan kayak gitu gak bisa diberhentiin kecuali ada kesadaran sendiri! Apa lagi temen-temennya yang ngedukung banyak!"
"Gue bisa lindungin lo,"
"Lindungin kayak gimana hah? Emangnya pas gue dipukulin, lo ada di samping gue? Kita gak dua puluh empat jam bisa bareng-barengkan? Bahkan hari itu lo gak bisa dihubungin, sampe dua hari, sibuk ini, itu, ya gue mana mau ganggu kalau lo emang lagi sibuk? Meskipun kenyataannya lo on terus,"
"Lo bisa langsung kasih tau kondisi lo tanpa basa-basi!"
"Gue gak basa-basi, gue udah bilang gue sakit! Tapi chatnya dibaca aja enggak sama lo! Begitu dibaca lo cuman bilang cepet sembuh, aku capek hari ini, mau istirahat. Kita emang mending putus!"
"Lo harusnya bilang lo habis dipukulin!"
"Kalau gue bilang gitu, gue khawatir lo panik! Gue gak mau bikin lo panik padahal lagi sibuk! Ngerti gak sih?!"
"Ta-tapi..." Han menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Marah, kesal, menyesal, campur aduk jadi satu.
"Gue tau lo gak bohong kalau lo lagi sibuk, jadi ya udahlah, gak usah merasa bersalah. Toh, sekarang lukanya udah sembuh juga. Yang terpenting sekarang lo udah tau alesan gue mutusin lo kan?"
Srek! Tirai tiba-tiba terbuka, yang menampilkan Jeno serta Jino di depan ruangan. Mereka terlihat membawa teh hangat serta roti.
"Udah berantemnya?" tanya Jeno. "Udah jam istirahat dari tadi,"
Jino masuk sembari meletakan teh hangat yang ia bawa di meja nakas.
"Diminum Tha, meskipun gue masih kesel sama lo, tapi karena perut lo lagi kram, gue maafin," ucap Jino.
"Gue gak suka teh," kata Thalia.
"Tapi kata ibu kantin itu bikin perut enakan pas lagi sakit perut bulanan," balas Jino.
Thalia menghela napas. "Ngapain sih? Repot-repot banget,"
"Biar perut lo cepet sembuh, terus bisa masuk kelas! Giliran gue yang mau di UKS! Padahal gue ngajak pergi bareng, malah lo sendiri yang pergi, gak adil!" oceh Jino.
"Lo harus sakit dulu dong baru masuk UKS, sini gue tendang perut lo," kata Thalia, yang membuat Jino sontak memeluk perutnya.
Thalia duduk di pinggir kasur, kemudian mengambil teh yang Jino bawa.
"Ya udah, bakal tetep gue minum, makasih," ucap Thalia.
Jeno tak lama menghampiri, sembari menyodorkan roti yang ia bawa pada Thalia.
"Nih, gue bawain roti juga. Gue gak tau lo suka rasa apa, jadinya gue beliin rasa s**u," tutur Jeno.
Thalia terdiam sejenak, sembari menatap roti dan Jeno secara bergantian, sebelum akhirnya ia mengambil roti tersebut dari tangan Jeno.
"Makasih. Tapi aneh banget dah, kalian tiba-tiba gini," gumam Thalia.
"Gue kan punya ibu sama kakak cewek, kata bokap, kalau cewek lagi bulanan harus dimanjain," kata Jeno dengan tampang polos.
"Kalau gue ikut-ikutan Jeno aja," timpal Jino.
"Gak segitunya juga kali," balas Thalia. "Terus Brian mana?"
"Dia dihukum. Disuruh hormat ke bendera sampe jam istirahat selesai," jawab Jino sambil terbahak.
Thalia melirik Han yang sedari hanya diam. Raut wajahnya tampak masam, saat sadar diperhatikan, ia membuang mukanya.