Part 6

1498 Kata
 Mati-matian Alisya menahan air matanya agar tak tumpah di hadapan semua orang yang ia jumpai, baginya mendapat perlakuan kasar dari suaminya tak seberapa dari pada melihat kegitan panas laki-laki itu bersama wanita lain yang entah siapa. “loh Ca, ini seriusan kamu ? udah lama banget kamu gak mampir ke sini, ada gerangan apa ni?” yah setelah lima tahun pernikahannya untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di tempat ini. Tempat yang membuat adrenalinnya terpacu untuk menantang arus “ aku masih boleh datang ke sini kan?” tanya Alisya dengan ketus yang dibuat-buat “hei ayolah kita ini keluarga, dan sampai kapanpun kita akan tetap menjadi keluarga kecuali kalau kau yang menganggap kami bukan siapa-siapa lagi bagimu” “kau lihat Diko, dia sudah latihan mati-matian untuk bisa mengalahkan kamu di dalam arena” “bagaimana kabar mu Diko?” tanya Alisya basa-basi, setidaknya ia bisa melupakan kejadian yang barusan ia lihat. “baik, tapi sayang setelah aku siap melawanmu  kau malah gantung sabuk” “kalau begitu buktikan, aku rasa aku masih mampu untuk mengimbangi kau” pancing Alisya “siapa takut, aku yakin kali ini bisa membuat mengalahkanmu” “baiklah tapi jangan minta aku berhenti karena aku sedang membutuhkan pelepasan” ucap Alisya menaiki arena yang tentu ditonton oleh seluruh teman-temannya. Pukulan demi pukulan antara Alisya dan Diko tak terelakkan bahkan pertandingan yang semula hanya untuk  reunian sedikit sengit, antara Dikco yang benar-benar ingin menumbangkan lawan beratnya sementara alisya menumpahkan kekesalan yang ia pendam dari lima tahun belakang. “masih mau mencoba?” tantang Alisya mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah  akibta pukulan keras dari Dicko dan juga gesekan giginya sendiri, tanpa ada yang menegtahui perempuan itu juga mengusap air matanya yang keluar seiring dengan senyum getirnya. “tentu aku sudah berlatih lima tahun dan aku tidak akan mundur hanya karena luka kecil ini” jawab Dicko diselingi nada bercanda. “baiklah jangan salahkan aku kalau diantara kita harus ada yang menyentuh entah itu rumah sakit atau pusara” jawab Alisya membuang botol minumnya. “bersiap” ucapnya lagi saat pertandingan untuk kesekian kalinya dimulai “patah hati hee” ucap Dicko berhasil mengunci pergerakan Alisya yang kurang fokus untuk pertama kalinya. “bukan, lanjut?” tawar Alisya setelah kembali berdiri dan merenggangkan anggota geraknya yang terasa sedikit kaku. “tentu aku semakin tertantang ingin mengalahkanmu Ca” mendegar itu seluruh penonton semakin berteriak histeris. Pertandingan semakin Asik untuk yang menyukai olahraga adrenalin menantang seperti itu. Akh Teriak Alisya saat untuk kedua kalinya laki-laki itu mengunci pergerakannya kembali, namun kali ini lebih terasa sakit karena laki-laki itu tak sengaja menyikut uluh hatinya. “Ca, kamu gak apa?” tanya Dicko dan yang lainnya mengahmpiri Alisya menangis kesakitan “sori Ca, serius aku gak tau kalau tadi terlalu keras aku hanya terlalu bersemangat sumpah” “udah-udah, Ca kamu bisa jalan kita turun yok kamu udah babak belur” “aku masih mampu” elak Alisya berusaha berdiri meski sudah sempoyongan Bukh Lagi-lagi perempuan itu terjatuh karena kakinya sudah tak mampu untuk sekedar menahan bobotnya sendiri. “cukup Ca, kalau kau mau bunuh diri jangan di dojo ini!” Hening Alisya menatap getir teman-temannya satu-persatu, ada yang menatapnya iba dan ada juga yang menatapnya dengan tatapan meremehkan, bagi Alisya itu bukan hal yang penting untuk saat ini. “kalian sudah babak belur kau tidak berniat untuk membunuh dirimu sendiri ataupun Dicko kan?” “maaf” “kita turun yah kau masih mampu untuk berjalan kan”Alisya hanya mengangguk dan berusaha keras untuk berjalan keluar dari atas arena. baru di anak tangga ke tiga Alisa sudah kehilangan kesadarannya. **** “umma” panggilnya serak melihat sosok wanita anggun yang sedari tadi menggenggam tangannya. “sykur lah kamu sudah bangun sayang umma cemas sekali, tiba-tiba dikabari kamu tidak sadarkan diri sayang, ada apa sebenarnya kenapa kamu bisa berkelahi sampai seperti ini?” “Ica baik umma, Ica cuma latihan kembali” Dustanya “baik dari mananya lihat keadaan kamu ini seperti preman pasar, kamu perempuan Ca. Umma gak salahin kalau kamu ikut bela diri tapi tidak sampai membahayakan kamu, untung papi kamu gak tau Ca, kalau papi kamu tau bisa tutup dojo tempat kamu latihan nak” peringat Nadine “papi gak mungkin melakukan itu umma, Ica udah bukan anak kesayangan papi lagi” “sayang, sampai kapanpun kamu tetap anak umma sama papi. Mami yakin papi kamu tetap menyayangi kamu dan takkan bisa benci sama kamu nak” “umma, mas Adit tau aku di sini?” tanya Alisya ragu-ragu “tau, suami kamu yang membawa kamu ke sini nak, tapi dia sekarang sedang keluar mungkin sebentar lagi balik” Tak ada jawaban dari Alisya. Tatapannya kosong menatap langit-langit tempatnya menginap. “cerita sama umma kenapa kamu bisa seceroboh ini” pancing Nadine “gak ada umma Ica cuma mau mengasah kemampuan tapi bablas sampai tiduran di hotel putih aww sakit umma” rintihnya saat perempuan paruh baya yang masih segar diusianya memplintir tangannya sdikit keras “kamu tuh pingsan lebih dari 24 jam Ca, kamu mau buat papi kamu jadi duda? Jantung umma rasanya mau copot mendengar kamu gak sadarkan diri sayang, suami kamu bahkan gak tidur-tidur cuma nungguin kamu sadar” “umma Ica mau makan bubur putih buatan umma” ucapnya mengalihkan ucapan Nadine, ia masih belum mempercayai apapun mengenai suaminya. “iya nanti umma buatin, sekarang kamu makan yang ini dulu” titah Nadine yang mau tak mau Alisya ikuti, cukup sekali ia melanggar ucapan ummanya dan ia cukup menyesal dengan pilihannya dulu. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur “Alya apa kabar umma?” “adik kamu itu sedang bucin bucinnya, baru pulang bulan madu mereka” “papi pasti cemburu banget umma” gelak Alisya yang begitu hapal bila menyangkut anak perempuannya. “bukan lagi, masa iya papi kamu mau nyusulin si adek karena ponsel adek kamu mati. ada-ada saja papi kamu itu Ca” “suami umma” gelak Alisya “Ca, boleh umma kasih kamu pan..” “assalamualaikum” ucapan Nadine terhenti mendengar pintu ruangan anaknya diketuk “mbak, Alya kangen sama mbak” “Ya, jangan kenceng kenceng peluk kakak kamu” peringat Nadine pada kedua anak kembarnya “iya mbak kangen juga tapi jangan kelewatan, rontok semua badan aku” “sori-sori” “kata umma kamu baru pulang bulan madu, gimana lancar?” “lancar jaya dong” “dasar pengantin baru” celetuk Alisya yang hanya dijawab dengan cengiran oleh sang empuh Semetara di tempat berbeda Aditya tengah mengantri untuk satu buket bunga mawar yang ia pesan dari tadi pagi. Entah dorongan dari mana sosok arogan seperti dirinya bersusah payah untuk mengantri hanya untuk istri dendamnya. Senyum hangatnya berganti datar mendapati orang tua Nesa meghubunginya. Yah ia sudah lama mengenal keluarga Nesa, bahkan saat dirinya masih berstatus gembel keluarga itu menyambutnya dengan tangan terbuka. “hallo pa” “....” “baiklah pa saya jalan sekarang” ucapnya mematikan sambungan teleponnya. Tanpa mengambil bunga yang sudah mahal-mahal ia pesan, Aditya bergegas menuju mobilnya melajukan dengan kecepatan sedang. “ma, pa kalian apa kabar?” tanya Aditya sopan menyalami kedua pasangan lansia tersebut dengan takzim “seperti yang kamu lihat kami sudah semakin renta, bagaimana keadaan kamu sekarang?” “baik, saya baik. ini untuk mama sama papa. kebetulan tadi saya lewat supermarket” Aditya menyerahkah satu kantong plastik dengan logo bakery ternama d ikota tersebut. “terima kasih nak” “mama sangat merindukan kamu, semenjak karier mu semakin bagus kamu sudah jarang mengunjungi kami. Nesa juga” rajuk wanita tua yang di panggil mama oleh Aditya “maafin saya ma, akhir-akhir ini pekerjaan saya lumayan banyak dan Nesa juga sangat membantu di kantor” “lalu kapan kamu akan melamar putri kami Aditya, papa sudah semakin tua dan sakit-sakitan” *** “sori yah Ca, sungguh aku tak berniat membuat kamu sampai terbaring seperti ini, aku lupa kalau kamu sudah lama gak latihan, aku hanya terlalu bersemangat saat itu” ungkap Dicko tulus. Seketika susana yang tadi riuh berubah menjadi canggung.   “aku juga minta maaf sudah membuat tulang hidung kamu retak, aku akui latihan kamu selama lima tahun cukup keras” ucap Alisya menekan kata lima tahun seolah ia menyepelekan laki-laki tersebut dengan nada bercanda, lagi-lagi Alisya membuat semua yang membesuknya tertawa. Semua hal itu tak luput dari pandangan maupun pendengaran Aditya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu rawat inap istrinya. Yah ini hari ketiga istrinya dirawat namun belum sekalipun ia membesuk istrinya setelah dinyatakan bangun dari pingsannya. “mas” lamunannya buyar melihat sosok wanita menyerupai istrinya hanya saja perempuan itu di baluti busana tertutup. “Ya, kamu sejak kapan disini?” “baru sampai kok mas, kenapa hanya berdiri di luar?” “ini aku mau masuk, kalau begitu silahkan”ucap Aditya membuka pintu ruangan inap Alisya “mbak” panggil Alya bersorak, namun seketika wajah cerah itu berubah buram  melihat Aditya di belakang kemabrannya, entah apa sebabnya laki-laki itu tak tau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN