Pagi ini Aditya disibukkan dengan beberapa materi untuk presentasi yang beberapa jam lagi akan dimulai. Untung saja semua materinya sudah rampung ia dan timnya kerjakan. Berbicara mengenai rapat kali ini salah satu saingannya dari pihak Mahesa akan diwakili oleh kakak iparnya. Ia yakin 1000 persen perusahaan tempatnya bekerja lah yang akan memenangkan tender hari ini, karena ia sudah menyusupkan mata-mata kepercayaannya.
“pak, jangan lupa rapat hari ini setengah jam lagi” tanpa permisi sekretarisnya menerobos ruangan Aditya menggelayut mesra dipundak kokoh laki-laki itu
“baiklah jangan lupa temani aku makan siang seperti biasa”
“tentu kau hanya perlu menang untuk hari ini”
Muach
“kau tak perlu menghawatirkan itu sayang, cukup mempersiapkan dirimu karena setelah ini kita akan berlibur berdua” bisik Aditya s*****l dengan tangan yang sibuk membelai wajah sekretaris cantiknya merangkap kekasih gelapnya.
“kalau begitu kau cepat lah bersiap” senyum Aditya tak lepas dari bibirnya memandangi sekretaris nya berjalan keluar dari ruangannya.
.
.
.
.
Aditya tersenyum puas melihat raut frustasi dari lawannya, terutama raut kekesalan dari seorang Alvian yang menurutnya masih awam untuk urusan seperti ini.
“aku akui kau sekarang di atas angin tapi aku janji akan membalikkan keadaan” Aditya tak membalas sindiran dari iparnya.
“aku hanya membuktikan kalau aku tidak serendah ucapan mertuaku” gumamnya yang masih sangat jelas di telinga Alvian
“kalau gitu aku permisi terlebih dahulu semoga kau tidak mendapati kekecewaan berarti dari mertuaku tersayang” setelah mengatakan hal tersebut Aditya berlalu begitu saja.
***
Tak henti-hentinya Aditya mengagumi wajah anggun dari wanita yang ada di hadapannya tersebut. Wanita yang menerimanya sejak ia masih gelandangan hingga kini menjadi sukses. Seperti biasa mereka akan menghabiskan waktu bersama sebagai bentuk perayaan atas kemenangan Aditya.
“apa kau tak ingin menyentuhku lebih jauh? aku bosan kalau hanya seperti ini” ucap wanita tersebut dengan raut cemberut membuat Aditya semakin gemes
“aku akan melakukan hal tersebut setelah kita resmi menjadi suami istri”
“lalu kapan kau akan menikahiku?”
Aditya tak menjawab apapun karena pada dasarnya ia memang tak mempunyai jawaban atas pertanyaan tersebut.
Brak
Seketika pandangan dua sejoli itu terarah pada pintu yang di buka, menampilkan sosok yang selama ini menunggunya dengan senyuman.
“maaf sepertinya saya salah ruangan” spontan Alisya memalingkan wajahnya.
“masuk! kau tidak salah ruangan ada apa?” desis Aditya kemudian menurunkan sekretarisnya dari pangkuannya.
Dengan susah payah Alisya kembali memasuki ruangan suaminya.
“aku hanya membawakan kamu makan siang, kalau begitu aku permisi” jawab Alisya menahan suara seraknya, jadi benar dugaannya selama ini mereka bermain gila dibelakangnya, seorang Aditya? Suaminya?
“siapa yang menyuruhmu keluar, masuk Ca dan silahkan siapkan makanan itu untukku”
“kau keluar dulu yah, nanti aku hubungi kembali”
“tapi kau sudah berjanji kalau kita akan makan diluar” bantah Vanessa tak terima
“nanti kita bicarakan kembali ada istriku” Vanessa hanya mengangguk, berjalan anggun keluar dari ruangan Aditya meski dengan kesal yang tentu harus ia pendam
“kenapa hanya diam disitu? Bukannya kau ingin mengantar makan siang untukku? cepatlah”
“iya” dengan telaten Alisya menata hasil buatan tangannya di atas meja yang tersedia dengan sesak yang sulit ia tahan.
“sudah, kalau begitu aku keluar dulu”
Pandangan Adit teralihkan pada dua ruas jari istrinya yang dibaluti plester
“ada apa dengan jarimu?”
“bukan apa-apa” Alisya mencoba menutupi bukti kerja kerasnya hari ini untuk menyiapkan makan siang untuk suaminya, meski ia tau belum tentu rasanya sesuai ekspektasinya.
“suapi aku” titahnya membuka lembaran kertas yang sebenarnya telah selesai ia bahas.
“hah?”
“aku sedang bekerja, kau tadi mengganggu urusanku sehingga kau harus bertanggung jawab menemaniku bekerja”
Alisya tersenyum sinis dengan perkataan “berkerja”, entah pekerjaan apa yang dimaksud oleh suaminya.
“cepatlah perutku sudah lapar” tak sepenuhnya ucapan Aditya adalah kebohongan karena memang pemuda itu belum menyentuh apapun sedari pagi, dan mengenai rencana makan siangnya dengan Vanessa harus batal karena Aditya lebih memilih masakan Alisya yang sebenarnya tidak terlalu enak bahkan terkadang asin ataupun hambar namun ia sudah terbiasa dengan masakan istrinya.
Aditya menerima suapan demi suapan dari tangan istrinya langsung dengan fokus yang tak pecah, begitupun Alisya yang melakukan apa yang disuruh oleh suaminya
“sudah selesai kalau begitu aku pulang dulu”
“hmm terserah kau saja” usai mengatakan hal itu Aditya kembali fokus pada kertas kerjanya.
Setelah pintu ruangannya benar-benar tertutup Aditya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kemudian meremas pelan rambutnya ada sesak yang tak pernah ia mengerti kenapa harus ia alami.
***
Aditya menyusuri rumahnya yang masih gelap. Bahkan pintu rumahnya tadi masih terkunci, untung saja ia mempunyai kunci cadangan.
“kemana perempuan itu malam-malam begini?” gumam Aditya sembari tangannya sibuk membuka kancing kemeja satu persatu kemudian membuangnya pada keranjang kain kotor dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan aktivitas bersih-bersih nya Aditya masih belum mendapati sosok Alisya di rumahnya, bahkan kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tak biasanya istrinya satu itu keluyuran seperti ini. Tapi Aditya tetaplah Aditya yang dengan Pedenya kalau perempuan itu akan kembali karena hanya dirinyalah yang mau menerimanya.
Satu jam dua jam Aditya menunggu tapi tak ada tanda-tanda istrinya akan kembali, dan hal itu sedikit banyaknya membuat laki-laki itu gusar.
Drrt
Drrt
“halo” ucapnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya
“...”
“apa? dimana sekarang ia?” tanya Aditya was-was
“...”
“baiklah kalau begitu saya akan kesana sekarang juga” usai mengatakan hal tersebut Aditya mengambil kunci mobilnya menuju tempat yang diucapkan lawan bicaranya barusan.
Setelah memarkirkan mobilnya sembarangan laki-laki itu menerobos bangunan tiga lantai tempat istrinya latihan bela diri.
Brak
“diamana dia?” tanya Aditya dengan wajah yang sudah memerah.
“mengapa ia bisa menjadi seperti ini?” tanya Aditya mendapati istrinya dalam kondisi tak sadarkan diri dan babak belur disekitaran wajah istrinya yang sudah membiru.
“apa kalian menghajarnya haa” teriak Aditya
“jawab, atau aku tuntup dojo ini sekarang juga” desis Aditya
“bukan kami yang menghajarnya tapi dia bermain kasar dengan teman mainnya” ucap seseorang menunjuk laki-laki yang tak kalah babak belurnya dengan Alisya. Aditya tak bisa menutupi kekagetannya lagi, lawan main Alisya tak kalah parah dari kondisi istrinya. saat itu juga Alisya berspekulasi kalau istrinya sepertinya melampiaskan kekesalannya. tanpa banyak bicara Aditya berdiri mengeluarkan secarik uang berwarna merah dalam dompetnya “obati lukamu!”
Usai memberikan uang kompensasi pada pemuda yang di katakan lawan duel istrinya, Aditya menggendong Alisya begitu erat namun hati-hati seolah Alisya merupakan benda rapuh “mau kau bawa kemana ia?” cegat pemuda yang tadi menghubungi Aditya
“rumah sakit, kau pikir kemana lagi apa kau buta kondisinya mengenaskan sialan”
“bukan begitu tapi dokter akan datang, lebih baik ia di obati dulu”
“ia harus diperiksa lebih sialan, minggir atau dojo ini ku tutup”ancam Aditya menggendong Alisya. Entah kenapa ia tak suka bila melihat istrinya terluka oleh orang lain.
***
Di tempat lain seorang laki-laki paruh baya tenga menantikan keputusan hakim mengenai pengajuan bebas bersyarat yang ia layangkan pada pengadilan, dihari tuanya ia hanya ingin menikmati hidup dekat dengan pemilik hatinya. Bayang-bayang kebersamaannya dengan seorang wanita berparas timur tengah yang hampir 20 tahun ini tak pernah lepas dari benaknya akhir-akhir ini.
“tuan, bagaimana keadaan anda saat ini? maaf saya baru sempat kemari lagi setelah beberapa bulan terakhir”
“aku bukan lagi tuan mu kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan itu, panggil saja namaku. Itu lebih terdengar akrab”
“bagiku kau tetap atasan yang selalu ku hormati seumur hidupku” pria paruh baya itu hanya tersenyum
“saya berharap permohonan anda segera terkabul dan bisa menjalani kehidupan normal kembali”
“aku rasa penjara bukan tempat yang mengerikan, banyak pengalaman yang aku dapati selama mendekam di dalam sini”
“hanya saja aku memang ingin keluar untuk menyampaikan permohonan maaf ku pada seseorang yang menghiasi mimpiku setiap malam”
“apapun itu saya hanya mampu berdoa yang terbaik untuk anda”
“aku sudah tua dan harus banyak istirahat” usai mengatakan itu laki-laki itu bangkit dari duduknya berjalan menuju ruangan tempat ia menghabiskan waktu untuk berbenah diri selama ini karena memang waktu kunjungan sudah habis.