“kamu yang sabar yah nak, mungkin memang Panji bukan jodohmu” Tak ada jawaban sepatah katapun yang mampu keluar dari mulut mungil yang sudah poles dengan lipstik senada dengan kebaya soft pink yang ia kenakan. Air mata yang sudah mengenang dipelupuk matanya hanya butuh sekali kedip maka luruh sudah pertahanan Dena hari itu juga. Malu, sakit hati, semua bercampur mengaduk perasaan Dena dan keluarga saat ini. Hari yang seharusnya menjadi momen bahagia harus berubah menjadi momen yang mencekam untuknya. Saat seluruh tamu undangan dan penghulu sudah siap untuk melangsungkan sebuah janji suci yang akan merubah statusnya menjadi seorang istri harus berakhir sia-sia. Bukannya kedatangan Panji dan keluarganya melainkan sebupucuk surat permohonan maaf mengenai mundurnya laki-laki pengecut itu.

