“Den, kamu masih di sini? Ini udah malam loh nak” “papah? Kok belum tidur pah?” “bagaimana papah bisa tidur kalau putri papah sedang tidak baik-baik saja” “maafin Dena yah pah” tutr Dena menundukkan kepalnya. Meskipun ini bukan kesalahannya tapi Dena tak bisa menutupi perasaan bersalahnya bagaimanapun ia ikut andil dalam membuat keluarganya malu, bahkan sampai detik ini Panji belum menghubunginya mengenai keputusan sepihak laki-laki itu. “kenapa harus minta maaf? lagi pula tidak ada yang tau kan jalan hidup kita kedepannya seperti apa? Anggap saja kalau kamu sedang mengikuti perlombaan lari, kamu harus memilih sepatu yang cocok untuk bisa kamu bawa lari dengan nyaman dan aman, begitu juga dengan jodoh. Lebih baik kamu gagal sebelum terlanjur dari pada sudah menikah tapi kamu tidak baha

