Bab 1 : Kepulangan Sang Tuan Putri
Angin musim gugur yang dingin menusuk tulang menyambut langkah Alice Pattinson begitu ia keluar dari pintu kedatangan Bandara Internasional John F. Kennedy. New York masih sama—sibuk, bising, dan penuh ambisi. Namun bagi Alice, kota ini hanyalah latar belakang dari panggung megah yang sedang ia siapkan.
"Alice! Di sini!"
Gadis remaja dengan jaket denim tebal melambaikan tangan di antara kerumunan penjemput. Ariel Pattinson berdiri di sana, tampak kontras dengan kakaknya yang mengenakan coat bulu berwarna krem yang mencolok.
"Kau lama sekali, Ariel. Aku sudah hampir membeku di sini," keluh Alice begitu sang adik mendekat.
Ariel memutar bola matanya pelan sembari mengambil alih salah satu tas jinjing kakaknya. "Kau baru berdiri lima menit, Kak. Lagi pula, siapa yang menyuruhmu memakai rok pendek di cuaca seperti ini?"
"Ini fashion, Ariel. Kau tidak akan mengerti karena kau selalu memakai pakaian seperti anak kutu buku," sahut Alice manja sembari berjalan menuju limosin hitam yang sudah menunggu.
"Kau sudah menyelesaikan pendidikanmu di Jerman, tapi sifat manjamu itu sepertinya tidak tertinggal di sana," gumam Ariel yang masih bisa didengar oleh Alice.
"Apa tadi kau bilang?"
"Tidak ada. Ayo masuk, Papa dan Mama sudah menunggu di apartemen."
Gedung apartemen mewah di kawasan Upper East Side itu menyuguhkan pemandangan Central Park dari jendela besarnya. Kedua orang tuanya sedang duduk membelakangi pintu saat kedua putrinya masuk.
"Mama! Aku pulang!" Alice langsung menghambur dan memeluk ibunya dari belakang.
Tessa berbalik berdiri dan tersenyum hangat. "Selamat datang kembali di New York, Sayang. Bagaimana perjalananmu?"
"Sangat melelahkan, Ma. Kursi di pesawat tadi sangat tidak nyaman," adu Alice sembari menjatuhkan diri di sofa beludru.
"Padahal kau berada di first class, Kak," sela Ariel yang baru saja meletakkan koper-koper Alice di sudut ruangan.
"Tetap saja membosankan!" Alice beralih menatap ayahnya dengan mata berbinar.
"Pa, aku ingin segera bekerja. Aku ingin Papa memasukkanku ke Winter Enterprise besok."
Edward yang sedari tadi duduk dengan tenang seketika mengernyitkan dahinya. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja.
"Kau baru sampai, Alice. Beristirahatlah dulu satu atau dua minggu."
"Tidak mau! Aku sudah cukup beristirahat di Jerman. Aku ingin memimpin salah satu divisi di Winter Enterprise. Papa tahu kan aku lulus dengan hasil memuaskan?"
"Perusahaan di New York tidak sama dengan teori di kampusmu, Alice. Persaingannya sangat keras," ujar Edward serius.
"Tapi aku putrimu! Papa itu pemilik tunggal Winter Enterprise. Siapa yang berani menentangku?"
"Aku tidak ingin kau masuk ke sana hanya untuk memerintah orang, Alice," sahut Edward tegas.
Alice mengerucutkan bibirnya, wajahnya berubah masam. "Jadi Papa tidak mengizinkanku? Papa ingin aku menganggur dan menjadi bahan tertawaan teman-temanku?"
"Papa bukan tidak mengizinkan—"
Edward menghela napasnya saat mendapati sorot tatapan tajam dari istrinya, menatap putri sulungnya yang selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya sejak kecil.
"Tapi kau harus mulai dari posisi yang masuk akal. Kau akan bekerja di bawah arahan Direktur Operasional."
Mendengar jabatan itu, detak jantung Alice berpacu lebih cepat. Ia berusaha menyembunyikan senyum kemenangannya. "Maksud, Papa... Alvanrendra?"
"Ya, Alvan. Dia yang mengelola seluruh operasional kantor pusat di sini. Jika kau ingin bekerja, kau harus patuh padanya. Dia tidak akan memberimu keistimewaan hanya karena kau putriku. Apa kau sanggup?"
Alice berdiri dengan semangat, rasa lelahnya hilang seketika. "Aku sanggup! Bahkan jika dia memintaku bekerja lembur setiap hari, aku akan melakukannya."
Ariel yang sejak tadi menyimak dari meja makan akhirnya angkat bicara.
"Kau yakin sanggup mengikuti ritme kerja Alvan, Kak? Kau tahu sendiri dia pria yang sangat dingin dan gila kerja. Belum lagi... ada Melissa di sana." seketika wajah Alice mengeras mendengar nama itu.
"Melissa hanyalah sekretaris yang kebetulan sedang beruntung, Ariel. Kau lihat saja nanti, saat aku sudah berada di kantor yang sama dengan Alvan, keadaan akan berubah." bisik Alice pada adiknya.
"Kau gila, Kak. Dia kekasih Alvan," ucap Ariel tak percaya.
"Cinta bisa memudar, Ariel. Tapi kehadiran yang terus-menerus akan sulit untuk diabaikan," balas Alice dengan nada penuh arti.
Lalu ia menatap ke arah jendela, membayangkan dirinya duduk di ruangan yang sama dengan pria idamannya.
"Besok, pastikan kau menyiapkan setelan kantorku yang paling cantik, Ariel."
"Aku bukan pelayanmu, Kak!" seru Ariel kesal.
"Tapi kau adikku yang paling baik, bukan?" Alice mengedipkan mata, memamerkan senyum manjanya yang tak terbantahkan.
"Biar pelayan yang nanti menyiapkannya," ujar Tessa menengahi perdebatan kedua putrinya dengan nada suara yang tenang namun tak terbantahkan. Ia mengusap bahu Alice lembut, seolah sedang menenangkan seorang putri kecil yang baru saja kehilangan mainannya.
Edward dan Tessa hanya bisa saling melempar senyum penuh arti saat melihat interaksi tersebut. Di balik kemegahan ruang tengah mereka, kedua orang tua itu tahu betul bahwa Ariel memiliki kedewasaan pemikiran yang jauh melampaui usianya, bahkan jika dibandingkan dengan Alice sekalipun. Ariel adalah jangkar yang tenang, sementara Alice adalah badai yang penuh tuntutan.
"Kau selalu mengalah pada kakakmu, Ariel. Terima kasih sudah mengerti," ucap Edward dengan tatapan bangga yang tulus pada putri bungsunya.
Ariel hanya membalasnya dengan senyuman tipis, hampir tidak terlihat. "Tidak masalah, Pa. Aku sudah terbiasa dengan drama kecil ini. Lagipula, New York akan terasa sepi tanpa rengekan Kak Alice, bukan?"
Beruntungnya, Ariel tumbuh menjadi sosok yang sangat bijak. Ia tidak pernah membiarkan rasa cemburu merasuki hatinya meski Alice selalu bersikap manja dan seolah-olah seluruh dunia harus mendahulukannya. Bagi Ariel, kasih sayang orang tuanya tidak diukur dari siapa yang paling banyak menuntut, melainkan dari kedamaian yang ia rasakan saat melihat keluarganya utuh.
"Tentu saja sepi! Aku adalah nyawa di rumah ini," sahut Alice dengan dagu terangkat, sama sekali tidak merasa tersindir oleh ucapan adiknya.
Tessa tertawa kecil melihat kepercayaan diri putri sulungnya itu. "Sudahlah, sekarang lebih baik kau istirahat. kau harus memiliki energi yang cukup."
Alice mengangguk mantap, matanya berkilat penuh ambisi. "Aku akan bersiap, Ma. Senin depan, New York akan melihat sisi lain dari seorang Alice Pattinson."