Hari Kedua (4/4)

1449 Kata
Rudy dan Nanda kembali ketika hari sudah sore. Mereka datang dengan mobil yang dijanjikan, dan dengan keributan karena mobil menabrak-nabrak sembarang pada sisi setengah trotoar dan sisi setengah jalan raya. "Wah, bagus," puji Rudy sementara Bayu berlari ke dalam pelukan Karin. "Gue ucapin makasih, dengan begini adik gue bisa tidur dengan tenang." Reyga nyaris saja mendengus sinis mendengar kata-kata Rudy, namun ia berhasil menahannya. Ia hanya diam memandang Rudy dengan tubuh penuh peluh. "Gue mau adik gue didoain," kata Rudy kemudian. "Lu, bacain apa kek buat mayat adik gue." Reyga sama sekali tidak mempercayai apa yang ia dengar. Jika ini hanya merupakan kasus yang diberikan guru agamanya, maka ia akan menjawab secara teori jika : orang jahat sekalipun harus dapat dikubur sesuai syariat agamanya. Tapi Reyga mengalami sendiri kejadiannya. Ia tidak pernah bertemu dengan orang jahat yang arogan sebelumnya. Ia tidak menyangka akan mengalami situasi dimana ia merasa dilema, bahwa sebagian dari dirinya merasa orang mati itu tidak pantas didoakan, dan sebagian lagi dari dirinya menceramahinya karena membiarkan pikiran jahat menguasainya. "Kenapa diam aja?!" bentak Nanda. Reyga mengangguk pelan. "Ya..." ucapnya, pelan juga. Ia segera melanjutkan mengubur mayat sang adik. Dengan susah payah, ia berhasil menutup lubang di tanah. Ia tahu apa yang ia kerjakan tidak sempurna, namun hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia duduk di sisi gundukan tanah, Karin dan Bayu bergabung di sebelahnya. Sesaat mereka bertiga hanya bertukar pandang dengan mulut terkatup rapat. Selanjutnya Reyga membacakan surah-surah yang ia hafal, sesekali ia melirik Rudy dan Nanda. Nanda sama sekali terlihat tidak peduli. Namun Rudy, meski ia adalah orang yang jahat, dia tetap saja manusia, yang tentu merasa malu karena tidak pernah dekat dengan agama. *** "Kami sudah pilihkan rumah," Nanda berkata ceria, seolah lupa jika temannya baru saja meninggal dengan mengenaskan. "Ya kan, Beb?" Rudy menyetir dalam diam. Diamnya Rudy terasa lebih menakutkan bagi Reyga. Reyga tidak tahu apa yang dipikirkan si preman, dia tidak bisa menilai seberapa berbahayanya pergi bersama orang ini. "Karena sudah sore, kita istirahat aja dulu." akhirnya Rudy berujar. "Lu pada nggak mau kan dimakan kanibal di malam hari?" "Sebenarnya mereka itu makhluk apa sih? Ngeri banget tetangga-tetangga kita pada jadi gila, terus makanin orang!" keluh Nanda. "Mereka disebut maligon," tiba-tiba Karin buka suara. Seketika saja Nanda dan Rudy menolehkan wajah pada Karin. Rudy hanya sesaat menoleh, ia kembali memandang ke depan untuk fokus menyetir. Namun pasang mata pria itu memandang ke cermin di atas dashboard mobil. Reyga memalingkan wajah. Karin memang adalah anak yang cerewet, tapi ia tidak menyangka Karin akan seberani ini berbicara dengan para preman. "Ma... apa?" tanya Nanda. "Maligon. Ma-li-gon." ulang Karin. "Darimana lu tau nama mereka?" tanya Rudy, terdengar risih dan kesal. "Kita dengarnya dari radio," jawab Karin. "Kalian nggak dengar?" "Semua Hape kan nggak ada jaringan?" tanya Nanda heran. "Radio, mbak," kata Karin terdengar meremehkan. "Radio FM, coba cek hape mbak, pasti ada radio FM. Ternyata sinyal radio FM masih ada dibandingkan sinyal dari jaringan telepon." Nanda segera mengecek ponselnya, mengotak-atik isi layarnya lalu menggelengkan kepala ketika hanya ada suara berisik yang terdengar setiap ia memilih stasiun radio. "Lu berdua bohong ya?" bentaknya. "Nggak, Mbak. Siarannya cuman pas pagi," kata Karin. "Udah, udah, terserah soal radio. Jadi tadi apa?" "Maligon," ulang Karin. "Manusia yang sudah tidak memiliki akal pikiran. Mereka hidup hanya karena rasa lapar saja. Infeksi terjadi karena gigitan atau pun darah orang yang terinfeksi tertelan atau masuk ke dalam tubuh, perubahan akan terjadi setelah tiga jam. Yaitu penurunan kecerdasan secara drastis." "Gue tau," kata Rudy. "Gue udah liat satu-persatu orang di apartemen mampus jadi kanibal itu. Mangkanya gue tembak kepala adek gue. Gue tau cepat atau lambat adek gue bakal berubah jadi makhluk jejadian itu." "Terus, dari yang lu dengar, bakalan ada orang yang nyelamatin kita nggak?" tanya Nanda. "Nggak ada," jawab Karin. "Di siarannya nggak ada bilang apa-apa. Cuman bilang, mereka bakalan nunggu kita di Tanjung Priok. Dan kita harus ke sana sebelum...." Reyga menelan ludah ketika melihat Karin menoleh menatapnya. "Sebelum apaan?" tanya Nanda. "Sebelum Jakarta meledak." "Lu bercanda?" Karin kini duduk bersandar pada punggung kursi, melipat tangan di d**a. Ia membalas pelototan Rudy dalam cermin. "Mereka berdua ini kayaknya mau bohongi kita, Beb. Turunin aja lah mereka, gak suka gue sama mereka. Biarin aja mereka dimakan maligon apalah itu!" seru Nanda yang terlihat marah. Reyga merasa ngeri jika Nanda dan Rudy benar-benar akan menurunkan mereka di jalanan dimana hari sudah nyaris magrib. Ia bahkan bisa melihat gerakan muncul di bayang-bayang bangunan. "Kita emang bukan orang baik, Beb," kata Rudy, tetap santai mengemudi meski kegelapan sedang mengejar mereka di belakang. Sebentar lagi sinar matahari akan lenyap, diambil alih langit malam. "Tapi ketiga bocah ini masih manusia." Nanda mengerucutkan bibirnya. "Lu yakin Jakarta bakalan diledakkan?" Rudy bertanya lagi. "Kalau nggak percaya sama kami, kalian bisa dengar sendiri nanti." Jawab Karin yang melirik ke arah Reyga. Reyga segera memalingkan wajah dari Karin. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Kalau sampai dia salah ngomong, bisa-bisa mereka bertiga akan diturunkan dari mobil. Ia abaikan saja pelototan Karin yang artinya : dasar pecundang! "Asyik, sampai!" seru Nanda ketika mobil memasuki sebuah halaman dengan kolam air mancur di tengah halamannya yang luar biasa luas. Reyga, Karin dan Bayu segera menempelkan wajah ke jendela mobil, mengamati halaman rumah yang tampak cantik dengan hiasan lampu-lampu emas yang mengelilingi pagar. "Rumah siapa ini?" tanya Reyga ketika mereka menuruni mobil. "Rumah kami lah!" jawab Nanda yang terkikik riang, lalu segera berlari untuk masuk ke dalam gedung rumah. Reyga, Karin dan Bayu masih berdiri kebingungan di depan mobil. Rudy menoleh, mengerutkan dahinya yang luas untuk ukuran wajahnya yang besar persegi panjang. "Lu bertiga mau jadi makanan maligon di sini, hah?" bentak Rudy. "Di dalam sana aman?" tanya Reyga. "Aman lah!" Rudy menunjuk ke sudut halaman, dan di sana terlihat ada tumpukan aneh. Seperti tumpukan karung beras atau apa pun itu. "Itu maligon yang udah gue bunuh tadi siang," ujarnya dengan nada puas. Ia berbalik, menyusul pacarnya yang sudah masuk ke dalam rumah. Reyga dan Karin memandang tumpukan tubuh di sudut halaman. Mungkin ada tiga mayat yang ditumpuk sembarang di sana. Rudy benar-benar orang yang sangat tidak berperasaan, meskipun pemilik rumah ini sudah menjadi maligon, tetap saja, menumpuk tubuh mereka seperti sampah itu benar-benar keterlaluan. Bayu menarik-narik ujung jaket Karin, kakinya mulai kedinginan karena hembusan angin malam, ditambah ia merinding karena mendengar lolongan mengerikan dari kejauhan. Mereka bertiga segera memasuki rumah besar itu. *** Reyga merasa ngeri dengan luka gigitannya. Pembuluh darah di lengan atasnya semakin menghitam dan menonjol di bawah kulitnya dengan bentuk tidak wajar. Apakah seluruh pembuluh darah di tubuhnya akan menebal? Ia menggelengkan kepala. Besok mereka akan ke Tanjung Priok. Meski pun pada akhirnya ia akan ditangkap karena ketahuan terinfeksi, akan lebih baik ia tetap diam dan berhati-hati. Jangan sampai Nanda dan Rudy mengetahui jika ia terinfeksi, juga Karin dan Bayu, Dia... pasti akan baik-baik saja kan? Reyga segera mengenakan kaos hitam lengan panjangnya. Ia baru saja selesai mandi. Ia merasa segar karena tidak sempat mandi di apartemen tempat tinggal Karin sebelumnya. Reyga bergabung di dapur. Nanda dan Rudy sudah duduk di kursi meja makan, sementara Karin memasak makan malam dengan bahan seadanya yang ia temukan di dalam kulkas dapur. Bayu membantunya sambil melirik takut-takut pada Rudy dan Nanda yang tertawa-tawa sambil memakan camilan, membuat meja makan menjadi kotor sebelum makan malam dihidangkan. "Kamu bikin apa?" Reyga segera mendekati Karin. Karin menarik nafas. "Cuman masak telur dadar, tumis tahu tempe." ia melirik ke arah meja sekilas. "Aku gantiin ya?" bisik Reyga karena melihat wajah Karin yang sudah memucat. Sepertinya sudah waktunya Karin untuk minum obat. "Nggak usah," tolak Karin. "Kamu urus aja meja makan." *** Akhirnya Rudy dan Nanda pergi meninggalkan dapur setelah makan malam. Suara mereka terdengar semakin menjauh karena menaiki tangga menuju kamar di lantai atas. Reyga mengecek kedua preman itu yang sudah tidak terlihat di ujung tangga. Ia kembali ke dalam dapur, lalu duduk di sebelah Bayu yang makan dengan lahap. Setidaknya mereka masih disisakan makanan. "Mau kumasakin lagi?" tawar Karin yang mengamati Reyga dan Bayu memakan sisa makanan Rudy dan Nanda. "Maaf ya, aku nggak begitu pintar masak." Reyga mengulum senyumnya. "Kamu masak aja aku sudah syukur banget. Enak kok. Dan nggak usah repot-repot. Kamu udah kecapekan banget kan?" "Kak Karin jago masak kok," kata Bayu dengan mulut belepotan saos kecap. "Karena Ibu nggak ada, Kak Karin yang biasanya masak." Karin menundukkan kepala, memandang isi piringnya yang masih tersisa. "Ada satu kamar di lantai ini," kata Reyga. "Preman itu nggak bakal mau kita naik ke atas. Jadi kalian bisa tidur di sana. Aku bakal tidur di ruang tengah." jelasnya. "Takutnya kenapa-kenapa pas kita tidur." Mungkin Reyga terdengar seperti pemberani, tapi sebenarnya ia hanya takut jika sewaktu-waktu ia berubah tanpa ia ketahui. Hari kedua setelah digigit... sebentar lagi berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN