Hari Ketiga (1/4)

1252 Kata
Esoknya, langit mendung telah menyapa sejak matahari terbit. Awan bergumpal rendah, berwarna keabu-abuan seolah keberatan menahan tampungan air bumi di langit. Rudy menyipitkan mata memandang langit sebelum masuk ke mobil. "Kayaknya mau hujan, Beb," Nanda terlihat gelisah dengan ekspres ngeri memandang langit. "Kalau hujan di tengah jalan... kita bakal aman nggak?" "Kita lihat aja nanti." Rudy mengedikkan bahu. Kedua pasangan itu sudah mendengarkan rekaman siaran radio, dan Nanda sudah tidak mengolok-olok Karin tentang Jakarta yang direncanakan akan diledakkan. Tanpa banyak kata, keduanya pagi-pagi sudah bersiap untuk berangkat. Reyga, yang duduk di bangku belakang, mengamati Rudy yang tidak segera menyetir, malah sedang memeriksa s*****a yang ia simpan di bawah kakinya. Rudy memberikan satu pistol kepada Nanda. "Lu bisa gunain ini kan?" tanya Rudy. "Bisa dong!" Nanda terkikik girang. Lalu ia menoleh ke belakang. "Dor! Dor!" ia mengarahkan mulut pistol ke arah Bayu dan membuat Bayu nyaris menangis di dalam pelukan Karin. "Bercanda doang," Nanda terkikik puas setelah membuat Bayu ketakutan setengah mati. Sementara Karin melotot jengkel memandang wanita itu. "Gak papa, Yu." Ia mencoba menenangkan Bayu. "Kita jalan," kata Rudy. "Pastiin semua jendela tertutup." Mereka semua mematuhinya. Mobil bergerak maju melewati air mancur di tengah halaman, selanjutnya mobil melewati gerbang rumah. Kini mereka akan benar-benar meninggalkan Jakarta Selatan. *** Reyga tidak terlalu sehat. Badannya sedikit panas, namun dia diam saja. Dia tidak ingin menarik perhatian. Mungkin bukannya memaklumi dirinya yang sedang sakit, Nanda dan Rudy malah akan menurunkannya di sembarang tempat. Lima belas menit sudah mobil melaju di jalan tol, mereka melaju mulus dan kadang membentur beberapa mobil yang terbengkalai di jalan, namun tidak sebanyak tumpukan mobil yang ada di jalan umum. Meski langit mendung dengan awan bergumpal yang bergelung menutupi langit, Rudy dan Nanda sudah tidak begitu memperdulikannya. Di dalam mobil sangat bising karena Rudy menyalakan lagu Band populer tahun 2000an dengan sangat nyaring. Rudy dan Nanda berkaraoke sepanjang jalan seperti tak memperdulikan apa pun. Reyga, Karin dan Bayu tidak banyak berbicara. Mereka bertiga diam membisu membiarkan kedua orang di depan mereka bertindak semaunya. Satu hal yang pasti bagi mereka bertiga adalah dapat sampai ke Tanjung Priok hari ini juga. Mereka sudah memasuki Jakarta Pusat. Reyga mengenali ujung monas dari kejauhan. Ia teringat betapa berani dirinya yang pernah bersepeda ke Jakarta Pusat dan mendatangi Mesjid Istiqlal. Bahkan ia melalui jalan-jalan umum, tanpa tahu adanya maligon yang dapat berjalan-jalan di siang hari. Kecepatan mobil melambat ketika tetesan-tetesan besar air dari langit mulai berjatuhan. Seketika Rudy dan Nanda berhenti bernyanyi. Musik masih diputar sepuluh menit berikutnya sementara hujan lebat telah mengguyur Jakarta Pusat tanpa ampun. Langit nyaris gelap karena mendung dan hujan. Akhirnya Nanda mematikan lagu karena bisingnya hujan mengalahkan suara musik. Ekspresinya tampak gelisah melihat suasana gelap dan hujan lebat di luar jendela. "Makhluk jejadian itu... nggak bakal nongol kan?" tanya Nanda parau, entah parau karena habis bernyanyi atau karena terlalu tegang. Tidak ada yang menjawab. Mereka semua tentu ingat jika ada maligon yang dapat muncul di siang hari, dan adik Rudy adalah korban pertama yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri. "Kalau pun ada yang nongol, langsung kita tembak aja," kata Rudy, mengeraskan suaranya, berlagak sombong. "Kita tembak tengkorak kepalanya sampai pecah." ia menoleh ke belakang. "Diantara kalian ada yang bisa menyetir mobil?" tanyanya pada Reyga dan Karin. "Aku bisa," kata Karin tanpa diduga-duga. "Lo yakin?" tanya Rudy, mengerutkan sebelah alisnya, memandang ke cermin di atas kemudi, menatap langsung pada Karin melalui pantulan wajahnya. "Iya, Bapak ngajarin saya menyetir," kata Karin. Nanda mendengus. "Saya... saya... Formal bingits!" ledeknya. Mungkin ia jarang mendengar orang-orang berbicara dengan sopan seperti itu. "Yah... gue cuman nanya ya, lagian juga gak bakal ada sesuatu yang terjadi selama kita tenang." ujar Rudy terkekeh pelan. Sepertinya ia sama sekali tidak mempercayai Karin. Reyga memandang Karin dengan tatapan heran. "Kamu serius bisa menyetir mobil?" Ia bertanya dengan berbisik pada Karin. "Bisa," jawab Karin dengan ekspresi wajah datar, Reyga tidak bisa melihat kebohongan di wajah Karin. "Tapi aku benar-benar nggak bisa naik sepeda," tambahnya. Reyga menggelengkan kepalanya, sama seperti Rudy, ia juga tidak mempercayainya. Ia kembali menolehkan wajah ke jendela, mengamati tetesan hujan yang besar-besar menampar-nampar jendela. Fista meringkuk nyaman di pangkuannya. Ia membelai bulu-bulu hitam si kucing yang panjang-panjang, berbagi kehangatan. Sementara Karin memandang ke jendela satunya, dengan Bayu yang duduk menempel di sisi tubuhnya. Bayu terus menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. "Kapan kita sampai, Kak?" "Bentar lagi," jawab Karin, melirik ke arah Nanda yang sudah menoleh ke belakang karena kesal mendengar pertanyaan Bayu yang terus berulang. Jalan tol memang bebas hambatan meski pun kadang ada mobil yang terbengkalai tertinggal di tengah jalan, tapi setidaknya Rudy dapat melewatinya tanpa perlu menabrakkan mobil, hingga mereka melindas sesuatu. Mobil terbentur keras, terlonjak hingga membuat mereka terguncang di dalam mobil. Rudy segera menghentikan mobilnya secara mendadak. "Apaan tadi?" tanya Nanda panik. "Nggak tau, perasaan tadi nggak ada apa-apa di depan jalan," ujar Rudy. "Kak..." bisik Bayu menunjuk ke jendela belakang. Karin memberi isyarat pada adiknya untuk diam. Sementara Reyga sudah mengeluarkan stik golfnya, memegangnya erat-erat, memandang ke belakang. "Apa itu, gaes?" Tanya Nanda yang memandang ke belakang, ia menyipitkan sebelah matanya. Ada tubuh manusia terbaring di sana. "Dia... masih hidup?" tanya Reyga tidak kepada siapa-siapa, karena dia sendiri sudah tahu jawabannya. "Itu bukan manusia," kata Rudy pasti. Ia segera menyalakan mobil, namun mobil tersendat tidak mau menyala. Ia memaki jengkel dan kembali mencoba menyalakan mobil. "Kenapa, Ben?" Tanya Nanda, semakin panik karena mobil belum juga menyala. "Ngadat," jawab Rudy. "Mana tau kita mobil ini jelek banget!" Serunya jengkel sambil memukul kemudi. Sementara Rudy dan Nanda berdebat soal mobil yang belum juga menyala, Reyga dan Karin memandang mayat di luar sana yang terbaring di bawah hujan lebat. Mayat itu tidak bergerak sama sekali, mungkin memang mayat. Bukan Maligon. "Gue keluar aja kali ya?" kata Rudy. "Keknya musti dicek mesin depannya." "Jangan, Beb!" Seru Nanda dengan ekspresi ngeri. "Jangan keluar! Gimana kalau monsternya cuman pura-pura tiduran di sana?" "Lu gila ya? Monster itu kan katanya udah gak bisa mikir! Masa dia bisa sepintar itu? Kayak cara binatang mau mangsa aja?!" Gerutu Rudy jengkel melihat Nanda yang panik. Ia segera membuka kunci mobil, namun Nanda masih menahannya ketika pintu mobil baru terbuka sedikit, membuat tetesan besar air hujan merembes masuk ke dalam. "Jangan, Beb!" Nanda masih menghalangi Rudy. "Kak, suara apa itu?" Bayu tiba-tiba bertanya. Karin mengerutkan dahi, lalu ia menajamkan pendengarannya. Dan memang benar, samar-samar ada suara keributan. Dan lolongan. Pintu mobil yang terbuka sedikit membuat suara-suara itu terdengar lebih jelas di dalam keributan hujan. "Tutup pintunya!" seru Reyga tepat ketika melihat ada orang-orang yang memanjat naik dari pagar pembatas jalan tol. Rudy yang masih berdebat dengan Nanda, terkesiap kaget ketika melihat maligon bermunculan di sisi jalan tol. Ia segera menutup pintu kemudian menguncinya. "Kak! Mayatnya bangun!" Seru Bayu sambil menunjuk ke jendela belakang. Dan benar saja, yang mereka anggap mayat kini sudah berdiri dan bergerak berjalan menuju mobil. "Kan sudah gue bilang, Beb!" seru Nanda, membelalak ngeri melihat maligon bermunculan di setiap sisi dalam lebatnya hujan. Para Maligon itu bergerak menuju ke arah mereka. "Nyalain mobilnya!" Tanpa diperintah pun Rudy sudah kembali menstarter mobil, namun hanya terdengar bunyi mesin yang tersendat-sendat. Pria besar itu memaki-maki tidak sabar. Sementara mobil mereka sudah dikepung. Para Maligon itu menempeli sisi mobil, berteriak-teriak tidak jelas sambil memukul keras bagian sisi mobil. Seketika mereka semua menjadi panik, Nanda berteriak, Reyga berteriak, Bayu dan Karin juga berteriak. Akhirnya Rudy berhasil menyalakan mesin mobil. Namun ketika ia mencoba menjalankannya, mobil terasa berat karena para Maligon sudah memanjati mobil, bahkan memukuli atap mobil sampai penyok. Lalu terdengar pecahan kaca, disusul pekikan nyaring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN