Jendela di sebelah Nanda pecah. Nanda berteriak histeris namun ia segera menembak kepala maligon yang mencoba menggigit lengannya. Nanda dengan jijik mendorong keluar lengan busuk maligon itu.
Berlanjut, jendela di sebelah Reyga pecah, tangan-tangan keabu-abuan yang busuk itu masuk, mencoba meraih-raih badan Reyga. Reyga berusaha menghindari mulut Maligon itu yang berusaha menggigitnya. Ia segera mendorong pintu hingga menjeblak terbuka, kemudian menyerunduk lari melewati kelompok maligon. Langsung saja deras hujan menerpa tubuhnya.
Reyga segera mengayunkan stik golf ke arah para Maligon yang mencoba memasuki mobil melalu pintu yang terbuka. Ia memukul mundur para Maligon, melindungi Karin dan Bayu yang turun dari mobil.
"Ayo!" seru Reyga pada Karin dan Bayu, ia mendorong keduanya untuk berlari lebih dulu. Ia segera menyusul di belakang setelahnya. Mereka bertiga berlari secepat mungkin di bawah hujan, sementara beberapa Maligon mengejar mereka di belakang.
Mereka terus berlari di sepanjang jalan tol, mengabaikan bunyi tembakan di belakang mereka. Bahkan Reyga tidak berniat untuk membantu Rudy dan Nanda. Kedua orang dewasa itu pasti bisa mengurus diri mereka sendiri.
Reyga membayangkan mereka terus berlari hingga mencapai Tanjung Priok. Tapi apakah mereka bisa melakukannya?
"Kakak!" Bayu berteriak ketika Karin mendadak terjatuh.
Reyga segera bergabung dengan mereka berdua, nafasnya tersengal karena berlari.
"Kak Karin sesak nafas!" Bayu berteriak memberitahu Reyga.
Karin terlihat sangat pucat dengan nafas putus-putus. Bayu berteriak histeris memanggil kakaknya, tampak sangat ketakutan.
Reyga menggigit bibirnya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menoleh ke belakang dimana para Maligon akan segera mencapai mereka.
"Bantu kakakmu, Yu!" Seru Reyga putus asa. Ia segera berbalik membelakangi mereka berdua, berdiri dengan tangan menggenggam stik golf yang terasa licin karena basah.
Reyga menelan ludah, ia merasa gugup melihat makhluk mengerikan itu semakin mendekat. Ada lebih dari lima. Dari mana saja mereka ini muncul? Rasanya jumlah para makhluk ini bertambah daripada ketika menyerang mereka di mobil. Entah apakah ia hanya sedang membayangkannya saja, wajah para Maligon yang mati ekspresi itu seperti mencemoohnya, memberitahunya jika hari ini adalah akhir bagi mereka. Mereka akan menjadi makanan makhluk mengerikan ini.
Reyga mati-matian menghalau para makhluk mengerikan itu dengan ayunan stik golfnya yang nyaris tidak berguna. Lalu ia diterkam hingga membuatnya tubuhnya terlempar ke belakang. Kepalanya terbentur sisi jalan, membuat pandangannya berkunang-kunang. Ia meringis kesakitan.
Reyga sepertinya sudah tidak mampu lagi bertahan. Ia menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Karin dan Bayu. Ia terbaring pasrah dengan kesadaran yang mulai menipis.
Dan samar-samar, Reyga melihat sesuatu menghantam kepala Maligon di atasnya. Seperti sebuah kapak. Lalu seseorang, dengan satu tangan menarik Maligon itu dari atasnya dengan begitu mudahnya.
Reyga mengerjapkan mata, memandang seorang pria yang berdiri menjulang di sebelahnya. Sayangnya beberapa detik kemudian pandangannya menggelap.
***
Reyga tahu ia sedang demam. Namun ia tidak berada di atas ranjangnya yang nyaman dan tidak ada Ibunya yang biasanya akan menungguinya di saat seperti ini. Ia berada di tempat yang dingin dan keras. Dikejauhan ia bisa mendengar suara derasnya hujan. Juga terdengar suara-suara yang berbicara dengan nada keras.
Kenapa orang-orang itu bertengkar? Dan siapa orang-orang ini?
"Bunuh! Pokoknya bunuh!"
Reyga mendengar suara Rudy berteriak mengancam.
"Apa hak Anda memutuskan begitu?!"
Ini pasti suara Karin yang terdengar tegas dan berani.
"Tolong tenang!"
Suara asing menengahi, suara wanita, jelas bukan suara manja Nanda.
"Kalau lu pada nggak mau bunuh dia, gue aja!" seru Rudy.
Dan Reyga kembali kehilangan kesadarannya.
***
Reyga akhirnya benar-benar terbangun. Keadaan sunyi senyap menandakan hujan sudah reda. Ia bangkit duduk, mengerjapkan matanya untuk terbiasa dengan suasana temaram, ia memandang ke sekeliling. Ia berada di balik jeruji besi.
"Sudah bangun, Dik?"
Reyga menolehkan wajah, seorang wanita yang rambut panjangnya diikat ekor kuda, duduk di luar jeruji besi, mulutnya mengunyah sesuatu dan ia memainkan kunci di jarinya. Mungkin kunci tempat ia dikurung. Di sebelahnya duduk seorang wanita berkacamata yang tampaknya lebih tua dari wanita pertama, memberikan senyum lembut padanya.
"Kamu baik-baik aja, Dik?" Tanya wanita yang berkacamata.
Reyga mengangguk dengan ekspresi masih linglung. Ia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Hal terakhir yang ia ingat, ia berada di jalan tol, diserang maligon.
"Kalian siapa?" Tanya Reyga ragu.
Si wanita berkacamata tersenyum lagi. "Namaku Anita. Dan ini Melinda." Ia menepuk bahu wanita di sebelahnya.
"Halo, nama kamu Reyga kan?" Tanya Melinda dengan sorot tajam. Ia mengenakan kaos hitam dengan celana hijau tentara.
Reyga mengerutkan dahi. Darimana kedua orang ini tahu namanya? Namun detik berikutnya Reyga teringat dengan Karin dan Bayu.
Reyga segera berdiri lalu mendekati jeruji sel. "Karin! Bayu!" Serunya.
"Tenang, Dik Reyga. Karin dan Bayu aman kok," Anita segera mendekati Reyga yang membuat Reyga malah mundur otomatis dari jeruji. "Mereka berdua sedang dirawat suamiku. Haikal." Ia mengangguk dan seorang pria berkepala nyaris botak namun bertubuh tinggi dan berbadan bidang muncul.
"Bagaimana dengan mereka, kal?" Tanya Anita segera.
"Yang kecil sudah tenang, dia sedikit syok, juga sedikit demam karena kehujanan. Yang kakak juga demam berat, tapi masa kritisnya sudah berlalu." Jelas pria yang bernama Haikal itu. "Lalu bagaimana dengan bocah satu ini?"
Haikal, yang katanya suami dari wanita bernama Anita ini, juga memberikan senyum lembut persis Anita. Mau tidak mau Reyga menjadi merasa tenang karena keberadaan sepasang suami istri yang ramah ini.
"Tidak terlihat ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan," jawab Anita. "Menurutku kita tidak perlu mengurungnya."
"Anda yakin, Bu?" Tanya Melinda segera, pasang matanya masih saja memandang tajam ke arah Reyga. "Dia kan sudah terkena gigitan."
Seketika Reyga merasa seluruh organ dalam perutnya jatuh ke dasar. Tentu saja mereka sudah memeriksa tubuhnya. Itulah mengapa ia berada di dalam jeruji sel ini.
"Sudah berapa lama kamu terinfeksi?" Tanya Melinda yang tampaknya tidak ingin berbasa-basi.
Reyga merasa ragu untuk menjawab. Ini tidak ada dalam rencananya, ia tidak ingin mengaku lebih cepat, tapi mau bagaimana lagi. "Tiga hari."
Anita dan Melinda serta Haikal saling bertukar pandang setelah mendengar jawaban Reyga.
Lalu seorang pria lainnya muncul. Reyga mengerjap gugup ketika melihat pria kurus berkulit cokelat gelap yang terbakar sinar matahari, berdiri memandanginya dengan sorot tajam. Pria ini tidak asing. Sepertinya ia pernah melihat pria ini entah dimana.
"Danang," Melinda memperkenalkan nama pria itu. "Dia yang nyelamatin kamu."
"Kalian... yang menyelamatkan kami?" Tanya Reyga. Itu artinya ia tidak bermimpi ketika melihat seseorang telah menyelamatkannya.
"Ya, Melinda, Danang dan Haikal segera datang ketika mendengar keributan di jalan tol. Syukurlah nggak ada korban diantara kalian..." Ujar Anita.
Tidak ada korban...? Itu artinya... Rudy dan Nanda juga...?
"Beruntung karena lokasi kalian cukup dekat dari tempat kami," kata Melinda. "Jadi kami bisa datang secepatnya."
"Ma... Makasih..." Kata Reyga pelan. Bagaimana pun dia harus berterima kasih karena ia masih punya satu hari lagi untuk hidup.
"Sama-sama, Dik," ujar Haikal, tersenyum. "Syukurlah kalian masih bisa bertahan meski hujan lebat. Maligon tetap bisa berkeliaran ketika hujan di siang hari. Mereka hanya tidak tahan dengan sinar matahari."
"Rudy dan Nanda, kamu kenal kedua orang itu kan?" Melinda bertanya.
Reyga mengangguk. "Kami pergi bersama mereka."
Melinda mendengus sinis. "Dan kamu nggak bilang kalau kamu terinfeksi?"
Reyga mengangguk lagi.
"Itu wajar," kata Anita. "Reyga pastinya tidak berniat untuk membahayakan siapa-siapa."
"Ya, tapi preman itu kepingin anak ini mati," Melinda mendengus jengkel. "Ngerepotin banget meladeni orang itu."
"Biar aku yang bicara dengannya," Haikal menawarkan diri.
Melinda mengedikkan bahu tidak peduli. "Beri tahu dia, kalau nggak mau nurutin kita, Lebih baik mereka nggak ikut bareng kita. Pokoknya usir aja."
Reyga memandang gugup melihat sikap Melinda yang tegas.
Haikal hanya tersenyum kecil sambil mengangguk mengerti mendengar kata-kata Melinda. Berikutnya Haikal mengajak Danang untuk pergi menemui Rudy.
"Jadi gimana status dia, Bu?" Melinda bertanya pada Anita setelah Haikal dan Danang pergi.
"Seperti yang sudah saya bilang, kondisi Reyga sangat normal. Dia sempat demam namun setelahnya dia baik-baik saja," jawab Anita. "Mungkin kondisinya sama dengan Surya."
"Surya juga baru ketahuan terinfeksi setelah tiga hari," ujar Melinda pelan.
Surya?
Reyga mengerutkan dahi. Dari pembicaraan kedua orang ini, itu artinya ada orang selain dirinya yang juga terinfeksi namun belum menunjukkan gejala setelah beberapa hari. Syukurlah bukan dirinya saja yang mengalami hal ini.
"Mungkin aku bisa menganalisa kondisinya lebih jauh kalau kita bisa mengecek darahnya," ujar Anita. "Mungkin kita bisa ke rumah sakit X."
"Berbahaya, Bu." Ujar Melinda. "Sudah pasti di sana ada lebih banyak Maligon. Lagi pula kita punya misi yang harus diselesaikan."
"Maaf," Reyga mengangkat tangannya dengan sopan. "Boleh saya bertanya?"
"Ya, Dik. Silahkan," Anita tersenyum pada Reyga.
"Sebenarnya kalian siapa? Eum, maksud saya... Apakah kalian tidak ke Tanjung Priok? Kalian pasti dengar pengumuman yang ada di Radio FM?"
"Oh... kamu dengar radio itu ya?" Melinda mendengus. "Ya... ya... kalian pasti jauh-jauh datang untuk ke Tanjung Priok. Kuberitahu ya, itu siaran ilegal. Aku sudah berusaha mencari sumber salurannya, tapi masih belum ketemu."
"Jadi... info di radio itu hoax?" tanya Reyga.
"Infonya valid," kata Melinda. "Tapi info itu nggak disampaikan oleh sumber terpercaya. Sepertinya ada reporter usil yang berhasil mendapat informasi dari pusat. Entah bagaimana caranya. Lalu dia membuat siaran secara ilegal. Pusat sama sekali tidak menyetujui adanya informasi yang dibeberkan seperti itu. Kemungkinan hal itu hanya akan membuat warga menjadi panik."
"Tapi kita tetap butuh informasi kan!" Reyga tanpa sadar meninggikan suaranya. Bukan bermaksud tidak sopan. Hanya saja, bayangkan jika dia tidak pernah mendengar berita itu. Mungkin dia tidak akan pernah tahu informasi mengenai Maligon, dan tentu dia tidak akan pergi jauh dari rumahnya gara-gara informasi pengeboman itu.
"Dia benar," Anita mengangguk setuju. "Harusnya pusat segera bertindak lebih transparan."
"Pusat terpaksa melakukan hal itu karena diperkirakan seluruh warga Jakarta yang tertinggal sudah terinfeksi semua," kata Melinda dengan nada dingin.
Reyga bisa melihat Melinda adalah wanita dengan sosok tegas dan sedikit egois. Wanita itu terlalu kaku dan mungkin sangat patuh dengan perintah atasannya.
"Tapi kamu lihat sendiri kan? Kalau ternyata masih ada orang-orang yang bertahan hidup?" Ujar Anita, mengangguk ke arah Melinda.
"Saya ngerti kalian nggak setuju dengan keputusan dari Pusat. Tapi daripada menurunkan berpuluh-puluh pasukan ke dalam wilayah berbahaya demi menolong segelintir orang, hal itu juga tidak bisa dibenarkan." Melinda melipat tangan di d**a. "Meski Bu Anita bilang kamu aman untuk dikeluarkan, tetap aja, ada orang-orang yang masih belum percaya dengan kamu. Jadi agar malam ini kita dapat berpikir tenang, kamu tetap akan di dalam sel. Pagi nanti kamu akan dikeluarkan dan kita akan bahas apa yang harus kita lakukan nantinya."