Reyga terbangun karena kasak-kusuk yang berisik. Ia duduk sambil mengucek mata, lalu melihat tatapan setengah terkejut ke arahnya sesaat, lalu mereka kembali memalingkan wajah, tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Untuk beberapa waktu Reyga hanya duduk dengan wajah melongo, ia seperti melupakan sesuatu. Detik berikutnya barulah ia sadar jika malam tadi ia kesakitan luar biasa. Ia mengangkat kedua telapak tangannya, memandang tubuhnya dengan mata membelalak ngeri. Kulitnya mulai berwarna kelabu. "Gimana, le?" Danang duduk di sebelah Reyga, lalu memberikan segelas air putih pada Reyga. Reyga segera menerimanya, lalu meminum air. Ia sangat kehausan. "Saya..." Reyga membuka suaranya. Suaranya masih ada, namun serak dan terdengar lelah. "Nggak usah buru-buru, le." sela Danang. "Ka

