Kautak Terganti

2029 Kata
Marco ... ___ __ _ Mungkin waktu akan terasa melambat saat menunggumu, tapi itu hanya soal waktu. Pada akhirnya kita akan bersatu, mengikat cinta aku dan kamu Baby, i love you .... _ __ Langit pekat ... Malam pun begitu sepi dan sunyi. Namun suasana hati tak membuat senyum di bibir ini terhapus. Aku duduk di balkon kamar, memandang langit malam. Seperti biasa, aku akan menelepon Baby sebelum dia tidur dengan lelap dan polosnya. Aku berjalan menuju satu sudut untuk bersandar di sana sambil membayangkan wajah cantiknya Baby -ku yang sangat manja dan juga sangat manis. "Hai, bidadarinya Mommy yang paling manja!" sapa aku sambil senyum lebar yang tentu akan membuat kedua sudut mataku berkerut. "Hai juga ..., berondongnya Mommy ...! Aku baru aja mau ke bawah ke kamar Mom, untuk cium mereka sebelum tidur dan ... nggak lupa juga cium Pinky Sweet aku di perut Mom." Terdengar suara Baby sangat bahagia. Aku melebarkan senyum yang memang sudah cukup lebar sejak tadi. "Keluarga yang romantis banget sih ...! Jadi nggak sabar nih, mau ... jadi anggota keluarga baru Martin Santoso, jadi kakak iparnya Pinky Sweet gitu loh!" seru aku. "Yang sabar ya kakak Maco ..., eh ... calon kakak ipar ...!" Baby tertawa lalu berkata, "Lucu banget ya, kita udah lewat remaja terus baru mau punya adek, rasanya kayak ..." Dia nggak melanjutkan, "Kayak apa hayo?" goda aku, aku tahu apa yang dia maksud. Karena aku juga sempat bicara seperti itu saat kita sedang belanja keperluan Pinky kemarin. "Ya ... kayak kita yang mau punya anak, gitu deh ..." "Kita?" goda aku lagi, bibirku pun tersenyum karena menahan geli. "Iih ..., Marco kamu apa - an sih, sengaja ya godain aku gitu!" aku jadi membayangkan kejadian kemarin yang saat di toko boneka. "Ya pasti kamu lagi kebayang kalau misalkan kita bawa Pinky jalan - jalan, pasti bakalan dikira orang - orang kalau Pinky itu anak kita." Aku sengaja menggodanya. "Ya tapi emang benar, kan? Nggak usah ngerasa malu deh, ngakuin gitu aja pakai malu - malu segala. Walau pun ... lambat, nantinya kan kita juga akan melewati proses seperti ... Om dan Tante calon mertua aku. Ada saatnya nanti semua akan berbalik, bukan kita yang nemenin dan nungguin lahirnya bayi mereka, tapi Mommy dan Daddy yang akan nemenin dan nungguin bayi kita lahir. Benar, kan?" "Mm ..., iya benar," jawabnya yang terdengar malu - malu. "Udah ah, jangan bayangin itu, masih lama!" kata Baby lagi. "Lama ya?! Apa lagi aku yang nunggu, rasanya ... seribu tahun!" kata aku yang untuk sengaja menyindirnya. "Ih kamu mah gitu, kita nikmati aja prosesnya! Yang paling penting itu kita berdua, aku dan kamu udah dapet restu dari Mommy sama Daddy," kata si Manja. "Iya ... iya ... sayang, becanda doang kok tuan putri aku yang paling cantik sejagad raya bumi dan langit ...!" ucap aku yang memuji dengan bercanda. "Hihi! Ngng ... sekarang aku udah hampir umur delapan belas tahun, kalau Mommy kasih aku batasan umur sampai dua puluh dua tahun buat nikah, berarti ... masih ada empat tahun lagi. Gimana menurut kamu, nggak ... terlalu lama, kan Marc?" dari nada suaranya, sepertinya Baby sengaja hendak memancing dan menggoda aku untuk kesal. Nunggu empat tahun lagi, emang siapa yang nggak kesal. "Oh ..., nggak ...!" nada suara aku berubah menjadi sedikit lebih keras. Tentu saja karena aku kesal membayangkan jika harus menunggu sampai empat tahun lagi sedangkan empat minggu saja rasanya aku ingin cepat berlalu. "Nggak ..., nggak lama kok! Ada yang pacaran sampe 7 tahun, 8 tahun, 9 tahun, 10 tahun ..., 11 tah ..." "Ssst ... udah cukup, cukup! Nggak usah ngitungin tahun gitu juga kali!" "Ya udah deh, sekarang nggak usah bahas itu, aku jadi kerasa nunggu." Menggaruk kening yang tak gatal sama sekali. Perasaan aku yang terasa gatal karena tidak sabar menunggu setiap kali diingatkan soal waktu. "Ehm, mm ..., oh ya, besok kita mau mendekorasi kamarnya Pinky, kan?" tanya aku untuk mengalihkan pikiran soal waktu tadi yang akan mengoyak - ngoyak kesabaran aku. "Iya. Kita kayaknya harus beli wall paper, deh!" kata Baby mengingatkan. "Biar aku yang beli. Kamu, kan harus ke kampus, nggak sempat untuk mampir ke toko. Kalau aku yang beli, kita bisa langsung kerjakan setelah kamu pulang kuliah, sayang," kata aku menjawab dengan jelas. "Oke. Tapi kamu video call aku ya, biar aku yang milih." "Siap kakak ...!" sahut aku. "Sip! Tenang aja, aku bakal bawa pasukan ..., dan kamu tau pasti pasukannya siapa aja!" katanya excited. "Yeah, i know! Oke, udah malam, kamu harus tidur. Selamat malam bidadari ..., selamat tidur ..., mimpiin aku ya, pangeran Marco yang tampan. Calon kakak ipar ter ... baik!" "Hahaha ...!" tawa Baby meledak seketika membuat senyum di bibir aku pun melebar. "I LOVE YOU, BABY!" "Bye ... kakak ipar ...!" balas Baby sebelum kemudian telepon berakhir. Aku letakkan handphone di samping tubuh telentangku, meletakkan tangan di atas kepala, tersenyum memandang langit malam. "Meski waktu datang ... dan berlalu sampai kau tiada bertahan ... semua takkan mampu mengubahku ... hanya kau yang ada di relungku ... hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta... kau bukan hanya sekedar indah ... kau tak akan terganti ..." Aku menyanyikan lirik lagu itu seolah melihat jelas senyumnya menjadi bintang yang menyinari di langit gelap sana. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya dan memandang wajahnya walau kedua mata ini sudah terpejam. Baby, i love you ...! *** Menunggu memang adalah hal paling menyebalkan. Tapi menunggu jodoh yang sudah ada di depan mata merupakan sesuatu yang menyenangkan dan juga sekaligus menyebalkan. Aku yakin Baby adalah jodoh yang sudah disiapkan Tuhan untuk aku, hanya saja aku perlu menunggu sampai waktu paling membahagiakan itu tiba. __ Pagi ini ketika aku sedang berolah raga, aku teringat tentang janji kemarin. Aku segera menyudahi kegiatan berolah raga pagi sebelum pergi ke kantor. Ponselku berdering dengan nada khusus yang tentunya paling membuat aku semangat untuk menerima secepat yang aku bisa. "Pagi princess ...!" ucap aku "Pagi pangeran aku yang tampan senegeri dongeng. Pasti kamu baru selesai olah raga, ya kan?" terkanya yang tentu saja sangat tepat. "Pasti dong, sayang. Aku ingin selalu sehat dan bugar agar aku bisa selalu menjaga tuan putri tersayang untuk seumur hidup aku," jawab aku. "Hmm ..., kamu sweet banget, deh!" seru Baby. Mendengar itu, aku merasa menjadi seorang laki - laki yang paling berarti di dunia ini. Dia Baby, dia memang Baby - ku. Dia -nya aku. Dia segalanya bagi aku. Tak 'kan terganti. Tidak akan pernah. Hanya dia yang membuat aku merasa menjadi laki - laki sejati. Hanya dia yang selalu ada di pikiran dan di hati. Hanya dia ... ... yang akan aku jaga sampai aku mati. Baby ... Kau tak 'kan terganti ... __ ___ Baby ... ___ __ Ehm! Aku akan buat kejutan untuk si Comar. Dia pasti nggak bakal nyangka aku bisa sampai di hadapannya. Dengan diantar oleh Pak Min aku pergi ke kantornya Marco yang pasti kantornya Daddy juga. Di saat menjelang siang ini pasti dia sedang bersantai dan Daddy sama Mommy mungkin sedang berada di luar kantor untuk bertemu dengan rekan bisnis mereka. Ketika sampai di halaman kantor yang sudah lama sudah nggak aku datangi, aku langsung turun dari mobil dan kemudian berhenti di tengah - tengah halaman kantor. Kemudian ketika aku melihat ke atas sambil mengibaskan rambut panjang aku yang terurai ke belakang, tepat di atas sana aku melihat Marco terkejut dengan kehadiran aku yang tiba - tiba ada di hadapannya, dan saking terkejutnya dia sampai menumpahkan kopi yang hendak dia minum itu ke kemeja kantornya yang berwarna biru langit. Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. Menatapnya ke atas sana dengan senyum mengembang, barulah kemudian beranjak masuk ke kantor untuk menemui dia di ruangannya sana. Tanpa perlu merasa kesulitan aku sudah sampai di depan pintu ruangan si Comar. Aku lalu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dulu. Dan begitu pintu itu terbuka, aku melihat Marco sudah berdiri dengan cengiran yang sudah jelas di paksakan dan memamerkan kemejanya yang sudah kotor karena noda kopi yang ia tumpahkan sendiri tadi. Lagi - lagi aku malah tertawa sambil menggeleng. "Lalu, apa itu salah aku, Pak Comar?" tanyaku yang tentu saja bercanda. "Jelas! Lalu siapa yang harus aku salahkan? siapa yang suruh bidadari turun dari kahiyangan di tengah hari seperti ini, hm?!" dia terus saja mendumal sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dan dengan kedua mata yang membelalak kepada aku. Dia pikir aku takut, justru aku ingin tertawa dengan kencang. "Apa salah kalau ... bidadari terpaksa turun siang - siang bolong begini demi untuk bisa bertemu dengan pangerannya dan untuk sedikit memberi kejutan. Dan lihat, aku berhasil, " kata aku sambil menuding ke arah noda kopi di kemejanya dengan senyum konyol lalu bertepuk tangan kecil sambil nyengir. "Senang, ya? puas?! mau apa ke sini? nanti aku juga pasti ke rumah," katanya dengan masih bersikap sok galak pada aku. "Udah deh, kamu jangan bikin aku makin geli!" ucap aku. Aku sampai menutup mulut aku dengan punggung tangan karena nggak bisa menahan geli ingin tertawa. "Ketawa aja terus! sini masuk, pokoknya kamu harus tanggung jawab dengan kemeja aku. Ini masih jam kerja nona, masa aku harus tetap bekerja dengan kemeja yang kotor," dia mendumal sambil menyeret aku ke meja kerjanya. Marco duduk di kursinya sementara aku tetap berdiri di hadapannya. "Ayo pikirkan sesuatu gimana caranya agar kemeja aku bisa bersih, jangan diem aja cengar cengir tanpa dosa begitu!" Aku melipat kedua tangan di d**a sambil memikirkan sesuatu dan menatapnya juga. Kemudian aku membuka kancing kemejanya satu demi satu hingga membuat Marco terdiam membeku di tempat duduknya. Aku lalu melepas kemejanya sementara Marco tetap terdiam. Suara pintu membuka. "Apa - apaan ini?!" terdengar suara Daddy. "Baby!" kali ini suara Mommy menyusul. Aku berbalik badan dan melihat Mommy dan Daddy sudah ada di ambang pintu ruangan Marco dengan tatapan mereka yang ..., "Mom, Dad, jangan salah paham dulu," aku lalu mencari noda kopi yang ada di kemeja Marco tadi. "aku hanya ingin membersihkan noda ini," kata aku menjelaskan sambil menunjukkan noda kopi yang ada di kemeja Marco yang kini ada di tangan aku. Aku lalu menoleh ke belakang dan menemukan wajah Marco yang tegang dan bingung. "Ya sudah, cepat bersihkan sana," kata Mom. Aku pun beranjak dari hadapan mereka menuju toilet yang ada di ruangan Marco untuk membersihkan kemejanya tadi. "Lagian kamu, minum kopi aja sampai tumpah, kaya anak kecil aja!" ucap Daddy yang masih dapat aku dengar. "Hehe, abisnya aku kaget Om, Tante, tiba - tiba aja ada bidadari di depan mata," jawab Marco cengengesan yang samar - samar masih bisa aku dengar dari toilet. Tak berapa lama kemudian aku sudah keluar dari toilet, Mommy dan Daddy juga masih ada di ruangan Marco. Sepertinya mereka berdua memang benar - benar nggak ingin memberi kesempatan kami untuk berdua saja di dalam ruangan ini. "Mom, Mbak Maria ada? aku ingin tanya mungkin dia punya sesuatu untuk bisa mengeringkan kemeja ini," kata aku. "Mbak Maria lagi sibuk di ruangan Mommy, jangan diganggu," jawab Mom sedikit galak. "Sudah bersihkan saja, biar Marco memakainya walau pun basah sedikit. Marco jangan manja, pakai saja dan tutupi dengan jas - mu itu," kata Daddy galak. "Iya Om." "Baby, ada apa datang ke kantor siang begini?" tanya Mom. "Siang. Oh em ... makan siang, ya Mom aku dan Marco ingin makan siang," jawab aku. "Ya, sudah. Tapi setelah itu langsung pulang ke rumah," kata Mom. "Oke Mom!" seru aku. "Cari kafe yang dekat kantor saja Marc," kata Mom lagi dengan nada memerintah. "Ya Tante," jawab Marco sambil merapikan kemeja dan juga jasnya. "Jangan khawatir setelah makan, Baby aku antar pulang dan aku akan kembali ke kantor," katanya lagi. "Sudah cepat pergilah, hati - hati, ya." "Baik Om, kita pergi dulu." Marco lalu pamit. Aku dan Marco pergi berdua tanpa Pak Min. Kami berdua tak hentinya tertawa ketika sudah sampai di dalam mobil. "Ya ampun Marc, andai kamu bisa lihat wajah kamu tadi, kamu beneran ketakutan dimarahin sama Mommy, kan?!" seru aku sambil menahan tawa. "Kamu sih, ada - ada saja tiba - tiba muncul di kantor!" protes Marco. Aku tak menjawab lalu kami berdua tertawa lagi. _ __ ___ - - - - - - - - - - - - - *** - - - - - - - - - - - -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN