Untuk Pinky Sweet

1557 Kata
Baby ... ___ __ _ Sementara di saat Mommy dan juga Daddy sedang mencari baju bayi dan sebagainya yang aku belum ngerti gimana bentuk dan ukurannya, aku lalu mengajak Marco untuk belanja boneka dan pernak - pernik lainnya untuk menghias kamar baby Pinky Sweet. Pinky Sweet aku akan segera lahir sebentar lagi. Tentu sebagai seorang calon kakak, aku akan menyambut kehadiran adik aku dengan sangat meriah. Sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia aku menyambutnya. Aku mulai khilaf ketika melihat semua benda berwarna pink dengan berbagai macam jenis dan bentuk, semuanya terlihat lucu dan unik. Dan aku juga tidak lupa merekam video untuk aku jadikan sebagai dokumentasi pribadi. Nanti begitu baby Pinky Sweet lahir ke dunia, aku akan langsung buatkan akun i********: untuknya. Aku mulai dari boneka yang berukuran kecil sampai yang berukuran paling besar. Bahkan lebih besar dari Marco. Semua itu aku ambil. "Ih ... ini lucu - lucu banget ...!" aku rasa suara aku terdengar begitu heboh hingga menimbulkan perhatian orang - orang yang dapat mendengar suara aku tadi. "Beli aja semua ...!" kata Marco dengan enteng saja, sambil memegang kamera. "Iya deh kita ambil semua yang kecil -kecil dulu. Kalau yang besar nanti aja, kalau Pinky udah lahir." Kata aku sambil memilihkan yang lucu dan berwarna pink tentunya. "Memangnya ... Mbak udah berapa bulan?" tanya si mbak pelayan. "Ngng?" aku menatap tanya kepada si mbak pelayan. "Iya, udah berapa bulan usia kandungannya? Pasti anak pertama ya? Kelihatan semangatnya luar biasa dan seneng banget," si mbak - nya terus saja berceloteh. "Udah jalan 7 bulan Mbak," jawab aku kikuk, dan si mbak pelayan bingung melihat perut aku yang jelas saja rata. "Iya, dia semangat banget mau jadi seorang ... Kakak terbaik sedunia!" timpal Marco wajahnya terlihat sangat menahan geli. Aku menginjak kakinya, terdengar suaranya mengaduh pelan. "Ehm iya, udah jalan 7 bulan tapi ... Mommy aku yang ... hamil, bukan aku, he ...!" aku cengir agar si mbak nggak merasa malu. "Oh ..., ya ampun ..., jadi malu!" tentu saja dia masih tetap merasa malu telah salah sangka begitu. "Nggak papa Mbak, kita malah seneng kok, itu berartikan kita berdua dido'ain untuk cepat punya anak juga!" kata Marco dengan seenak perutnya saja, aku pun langsung menyiku perutnya. "Maaf ya, Mbak! Ya soalnyakan banyak yang usia muda udah nikah, malah udah punya anak," kata si mbak. "Iya nggak papa Mbak!" sahut aku. "Kita juga rencananya mau nikah muda sih, Mbak!" ucap Marco lagi, aku langsung mendaratkan cubitan di perutnya sampai wajahnya jadi merah, "aduh ampun tuan putri ...!" "Jangan didengerin Mbak, ayo kita masukin bonekanya ke dalam troli!" perintah aku. "Kita juga sebentar lagi mau jadi Papah muda sama Mamah muda loh, mbak ...!" si Comar masih saja meneruskan kata - kata nggak pentingnya untuk menggoda si Mbak pelayan yang memang sudah merasa malu. Satu boneka anak monyet lalu melayang tepat di wajah monyet eh ... maksud aku wajah Marco. Si Mbak pelayan tadi tak henti tertawa. Aku pun tersenyum geli sambil meletakkan kedua tangan di pinggang melihat tingkahnya. Dan dia pun tertawa puas sampai wajahnya benar - benar berubah warna menjadi merah padam. Selanjutnya kami berdua hanya saling lempar pandang dan tersenyum yang entah apa artinya hanya kami berdua yang tahu. Entah itu serius atau hanya bercanda saja, tetap saja membuat aku membayangkan hal itu terjadi. Oh ... Marco ...! Entah apa yang Marco katakan kepada Mom dan Dad, tapi setelah mengantar mereka pulang Marco langsung membawa aku pergi bersama dengannya. "Kamu mau culik aku?" dia mengangguk dengan wajah yang dibuat seram. "Ke mana? tanya aku lagi kemudian entah mengapa wajahnya membuat aku tertawa dan bukannya takut. "Ke tempat yang gelap, dan kamu akan teriak ketakutan, Nona!" balasnya dengan nada suara yang kasar. "Oh, aku takut sekali!" seru aku dengan tampang berpura - pura. "Bagus. Kamu memang harus takut." "Hahaha! Marco serius, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya aku memaksanya untuk menjawab. "Sudah aku bilang, tempat yang gelap dan kamu bakalan teriak ketakutan di sana nanti," jawab Marco. "Oke, baiklah aku nyerah. Aku pasraaah ... puas." Akhirnya kami sampai di tempat yang dimaksud oleh Marco tadi, yang ternyata dia membawa aku ke bioskop. Dia pun memilih film yang memang akan membuat aku teriak ketakutan. Aku suka film horor tapi masih ada unsur komedi yang bisa bikin aku ketawa, dan asalkan nggak bertema tentang pembunuhan. Aku paling nggak suka dengan adegan pembunuhan, apa lagi kalau sampai dipertunjukkan secara detail melalui adegan di film tersebut. Dan kalau boleh milih sih, aku lebih suka film drama romantis atau komedi romantis. Tapi kali ini, Marco yang memilih. Sepertinya dia memang sengaja ingin buat aku teriak. "AAAAAA ...!" aku teriak kencang dan refleks memeluknya dengan sangat erat. Marco lalu membalas dengan memeluk aku lebih kuat lalu berkata, "tenang sayang, ada aku, calon suami kamu." "Oh ..., jadi ini niat kamu?" tanya aku dengan nada berbisik sambil mendorong tubuhnya dengan kuat untuk melepaskan diri dari pelukannya. "Iya, memang kenapa? salah ya, kalau calon suami meluk calon istri yang lagi ketakutan, hm?" Marco berdalih. "Salah! Kamu salah pilih film!" suara aku meninggi, aku yakin saat ini semua mata sedang memandang aku dengan ganas. Ya ternyata benar, aku sedang menjadi pusat perhatian hampir seluruh mata pengunjung bioskop. Tapi apa maksud pria di hadapan aku ini, dia justru menertawakan aku diam - diam dengan menahan suaranya namun tidak dengan cengiran dan bahunya yang bergerak naik dan turun. "Mbak ini gedung bioskop tempat untuk nonton, bukan pantai tempat untuk teriak teriak bebas sesuka hati," kata seorang pengunjung wanita yang gayanya sangat tomboi. Jelas aja gadis yang bergaya seperti dia itu suka menonton film yang nyeremin kaya gini. "Iya Mbak maaf, sepertinya aku memang salah tempat, maaf ya." Aku pasrah saja kalau harus disalahkan karena teriakan aku tadi. "Seru, kan?" bisik Marco dengan enteng sambil melipat kedua tangannya di d**a. "Menurut lo, menurut gue ini sungguh membosankan! Film apa sih yang tujuannya cuma buat orang teriak - teriak nggak jelas!" kataku, protes. "Ya, itu tandanya film yang seru, non. Kalau film nggak bisa membuat penonton sampai emosional bahkan sampai teriak, itu baru namanya sangat mem - bosan - kan. Mengerti nona Baby Santoso, calon nyonya Marco Santoso?" "Nggak. Aku sama sekali nggak ngerti dengan selera film kamu," kata aku dengan kesal. Aku ingin bicara lagi tapi sepertinya pengunjung yang ada di depan aku itu memutar kepalanya ke arah aku. "Mbak, Mas, kalau mau sambil ngobrol mendingan ke kafe terdekat deh, jangan ke bioskop," kata seorang pengunjung wanita tapi yang kali ini bergaya feminin. Ketika keluar dari gedung bioskop Marco justru tertawa bebas. Dia seperti sangat puas karena melihat aku sebal dengan para pengunjung tadi. Terutama dua orang pengunjung yang sudah menegur aku dengan bicara seenaknya tadi. "Hahaha!" dia masih saja melanjutkan tawa seenak perutnya. "Masih belum puas juga ketawanya?" kataku yang bernada protes. "Lucu!" jawab Marco seenaknya saja. "Lucu? Nyebelin!" aku merajuk pada Marco yang justru tertawa di atas penderitaan aku yang diserang oleh seorang pengunjung bioskop tadi. Baiklah, aku bete karena sikap Marco yang nyebelin. Tapi selanjutnya dia mengajak aku entah ke mana agar aku nggak bete lagi, katanya. "Aku tau apa yang bisa jadi obat bete - nya princess Baby yang manja." "Udah deh, nggak usah sok tauk!" sahut aku yang masih berpura - pura marah. Marco berhenti di sebuah taman kota yang di sana ada seorang penjual es krim keliling dan di sana juga banyak anak - anak kecil yang sedang bermain. Mulai dari bermain lari - larian, main sepeda sampai dengan main layang - layang. Entah apa maksud Marco membawa aku ke sini tapi aku biarkan saja dia terus menuntun aku tanpa bertanya. "Hai ..., adik - adik yang pada manis - manis nggak berantem ya mainnya, pinter. Nah, karena kalian semua pada pinter mainnya, kakak bakalan traktir makan es krim. Ayo sini pilih sendiri mau es krim yang mana. Jangan rebutan ya, pada gantian ngambilnya. Atau kakak yang cantik ini mau bantu pilih es krim buat kalian!" Aku pun tersenyum senang segera berlari mendekati gerobak es krim untuk membantu anak - anak itu memilih yang mana rasa es krim yang mereka suka. Semua anak yang berjumlah lebih dari sepuluh orang tadi sudah memegang es krim masing - masing, aku pun kemudian memilih sebuah es krim cone lalu duduk menyusul Marco yang sudah lebih dulu duduk menikmati es krimnya. Aku tersenyum padanya lalu berkata, "jadi ini obat bete yang kamu maksud?" kata aku dengan menunjuk es krim di tangan aku. "Iya, kamu benar banget Comar." "Tadinya sih, aku mau ajak kamu ke istana es krim yang dulu kamu pernah datangi bersama yang lain, tapi pas aku lihat anak - anak di aini tafi dan ada Mamang penjual ea krim, aku jadi lebih tertarik ke sini. Dan aku tahu kamu pasti bakal jauh lebih bahagia kalau lihat senyum anak - anak yang kita bagikan es krim tadi, benar kan princess?" Aku mengangguk excited. "Benar banget Comar!" seru aku. Marco lalu dengan kejamnya mendorong es krim di tangan aku hingga mengotori hidung aku, dan dia justru berlari. Aku mengejarnya dengan dibantu oleh anak - anak tadi. Ya, Comar, sekali lagi, kamu tahu apa hal yang membuat aku bisa sangat bahagia. Melihat senyum anak - anak kecil ini. Itu sudah luar biasa bisa bikin aku bahagia. _ __ ___ - - - - - - - - - - - - - *** - - - - - - - - - - - -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN