Makan Bersama Imas

1715 Kata

“Loh, teuacan pulang, Zam?” Wajah Imas yang berada di dalam ponselku langsung hilang, kedatangan Deri membuatku secepat kilat menekan tombol kembali hingga layar berubah menjadi deretan menu. “Baru mau.” Aku menyahut seadanya, kuraih tas dengan lemas, memasukkan laptop dan beberapa berkas. “Kunaon atuh, Zam? Kamu teh kelihatan kuyu sekali.” Deri malah menarik kursi di sampingku dan duduk menatap dengan raut wajah penasaran. “Masa?” ucapku sambil menoleh. Deri langsung mengangguk. Kuhela napas dalam, lalu mengitari sekitar dengan tatapan. Keadaan sudah sepi, mungkin ada baiknya aku bertanya pada Deri perihal kejanggalan di hati. “Der, memangnya pelet itu beneran ada?” tanyaku. “Bahas pelet lagi …,” “Ssstt!” ucapku cepat karena merasa nada intonasi suara Deri telalu tinggi, aku tak ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN