Pelet?

1803 Kata

“Alhamdulillah, Kang …,” Suara Neneng masuk ke dalam telinga ini, namun aku memilih diam, rasa pening yang mendera membuatku enggan berkata apa pun. “Ayo, Kang. Minum dulu.” “Argh,” ucapku refleks saat hendak mendudukkan tubuh, dengan sigap Neneng membantu sampai akhirnya aku bisa bersandar pada bantal di belakang. “Bagaimana? Sudah enakan?” tanya Neneng saat aku sudah selesai meneguk air putih pemberiannya. Lekas aku mengangguk walau singkat. “Mana yang sakit, Kang?” Neneng bertanya seraya memegangi lenganku, tatapan lekatnya menyiratkan kekhawatiran yang dalam. “Nggak, sudah mendingan sekarang.” Aku menjawab sambil tersenyum. “Tapi apa yang sakit, Kang? Kepala? Perut? Atau apa? Akang sampai pingsan tadi,” katanya lagi, sekarang matanya terlihat berembun. “Iya, perut.” “Pantas saj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN