Prolog
Happy reading!
Dengan dibalut gaun hitam panjang sebatas mata kaki, Lee Eun Ji memperhatikan pantulan dirinya melalui sebuah cermin besar yang berdiri tegak di hadapannya. Sambil memperhatikan gaunnya yang tampak sederhana namun elegan itu, ia tersenyum sendiri. Ia menyukai gaun itu.
"Gomawo, eomma," ucapnya kemudian. Tahu-tahu setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang baru selesai dirias beberapa saat yang lalu.
Gaun itu pemberian mendiang ibunya sebelum meninggalkan Eun Ji dan ayahnya. Mengingatnya kembali membuat air matanya menggenang lagi. Hidungnya mulai beringus. Tidak. Eun Ji tidak ingin merias wajah dua kali. Jadi, Eun Ji segera menenangkan kembali dirinya.
"Apa kau sudah siap?" Suara serak itu menyadarkan Eun Ji dari lamunannya. Ia kemudian membalas dengan berteriak. "Ne. Aku akan keluar sebentar lagi!"
Sebelum meraih gagang pintu kamarnya, Eun Ji menyempatkan diri untuk kembali merapikan rambut dan gaunnya. Lalu membuka pintu dan berjalan keluar dari kamar, menyusul ayahnya yang sudah dari tadi menunggunya.
••
Mobil ayahnya berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah yang kini ramai dengan banyaknya tamu yang ikut hadir untuk merayakan ulang tahun sahabatnya itu, Kim Hye Rim, yang genap berumur 17 tahun hari ini. Tidak hanya para pemuda, namun orang tua masing-masing ikut hadir, ada yang sengaja berkumpul untuk membicarakan tentang bisnis mereka, dan juga ada yang sengaja ingin menemani anak-anak mereka.
Eun Ji turun dari mobil, berdiri sambil menunggu ayahnya yang memarkir mobil akan turun. Mereka lalu berjalan beriringan memasuki rumah mewah itu.
"Saengil chukkahae, Hye Rim!" sahut Eun Ji riang seraya menghambur ke pelukan gadis cantik yang dibalut gaun putih bak pengantin wanita itu dan bercipika-cipiki dengannya.
"Ne, gamsahamnida." Hye Rim membungkuk sopan ala-ala gadis ber-hanbok. "Ngomong-ngomong, appa-mu di mana? Dia datang, 'kan, malam ini?" tanyanya seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok ayah Eun Ji di sana.
"Ya, dia datang. Tadi dia menemui temannya. Seperti biasa, membicarakan urusan bisnis mereka," jawab Eun Ji.
"Akhirnya kau datang juga, Lee Eun Ji." Suara itu lantas membuat gadis yang disapa menoleh.
"Oh, kau, Jin Young!" Eun Ji tampak takjub. "Lihatlah penampilanmu. Kau tampak seperti bukan Lee Jin Young yang kukenal," balas Eun Ji sambil memperhatikan setelan kemeja hitam lengan panjang dan jins hitam yang dipakai Jin Young.
Jin Young menebar senyumnya di depan Eun Ji. "Dan kau masih belum menyukaiku, Lee Eun Ji?"
••
Eun Ji menatap langit malam yang dipenuhi bintang di taman belakang rumah Hye Rim. Entah apa yang merasuki dirinya, ia masih saja memandangi langit yang sebenarnya tidak berarti apa-apa dibanding Jin Young yang duduk di sampingnya. Melihat riasan wajah Eun Ji yang biasanya jarang dipoles make up itu, Jin Young tidak bisa berhenti tersenyum dan terus memandanginya.
"Apa yang menarik? Kau sudah mendongak seperti itu sejak lima menit yang lalu. Apa tidak pegal?" tanya Jin Young memecah hening.
"Ani," jawab Eun Ji singkat tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.
Jin Young mendekatkan wajahnya pada Eun Ji sambil tersenyum jail. Sengaja, ingin Eun Ji menoleh padanya. Eun Ji yang menyadarinya lewat ekor mata, kemudian menoleh. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Dibandingkan Eun Ji yang tampak tenang, senyum jail Jin Young perlahan memudar. Tatapannya terkunci pada wajah Eun Ji. Dirinya mendadak gugup. Jin Young melirik ke bawah, tepat ke arah bibir tipis berwarna merah ceri Eun Ji.
Secepat mungkin Eun Ji bergerak menjauh dari Jin Young, kemudian berdiri.
"Apa yang kau lakukan, huh? Jangan berpikir kalau kau bisa menciumku dengan mudah, arasseo?" Eun Ji beranjak dari sana meninggalkan Jin Young.
Namun sebelum semakin jauh, Jin Young berteriak, "Ya! Lee Eun Ji! Kau begitu percaya diri, huh?"
Eun Ji berhenti dan menoleh dengan kesal. Tapi, ia tahu betul dan mengerti bahwa hubungannya dengan Jin Young hanya sebatas sahabat. Bagi Eun Ji, kejadian tadi hanyalah sebuah candaan belaka. Tanpa tahu perasaan Jin Young untuknya bukan sebuah candaan.
••
Sebelum pesta dimulai, Hye Rim membagi-bagikan topeng kepada teman-temannya yang ikut memeriahkan pesta ulang tahunnya itu. Setelah itu, acara pun dimulai. Mulai dari nyanyian, make a wish, meniup lilin, dan yang terakhir adalah memotong kue. Kue pertama ia berikan tentu saja untuk ayahnya. Potongan kue kedua diberikan untuk sahabatnya, Lee Eun Ji. Dan potongan kue terakhir ia berikan untuk Lee Jin Young, teman sejak kecilnya.
Setelah rangkaian acara itu selesai, para tamu bubar untuk menikmati hidangan yang disajikan oleh sang pemilik acara. Eun Ji duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana. Kemudian mulai menyantap potongan kue yang diberikan Hye Rim hingga habis.
Eun Ji hendak berdiri ketika seseorang tiba-tiba menabraknya. Dirinya terjatuh begitu saja.
"I'm sorry," ucap si laki-laki yang baru saja menabraknya sambil membungkukkan badan meminta maaf. Dia lebih tenang dari yang Eun Ji duga. Buktinya, sekarang laki-laki itu malah berlalu meninggalkannya yang masih terduduk di tanah.
"Ya! Apakah seperti itu caramu meminta maaf?" pekik Eun Ji marah, sebelum laki-laki itu berjalan lebih jauh.
Laki-laki yang tampak berdarah campuran dengan setelan jas rapi itu berhenti melangkah, lalu berbalik dan menghampiri Eun Ji kembali dengan tenang.
"I'm sorry. Aku benar-benar terburu-buru,” katanya. Dari caranya berbahasa inggris dan berbahasa Korea, sepertinya ia bukan orang berdarah Korea asli.
Eun Ji bangkit, lalu menatap laki-laki itu dengan geram.
"Kau meminta maaf lalu pergi begitu saja?" Eun Ji akan lebih mudah memaafkannya kalau saja dia tidak menemukan ujung gaunnya yang terobek cukup panjang karena ternyata diinjak laki-laki itu saat menabraknya tadi. "Lihat? Kau membuat gaunku rusak. Apakah dengan dua ucapan 'I'm sorry'-mu itu kau bisa pergi begitu saja?!" hardiknya sambil memperlihatkan bagian gaunnya yang robek.
"Oh, come on. Itu hanya gaun. Kau bisa membeli yang baru lagi nanti. Bahkan jika dilihat, gaunmu itu terlalu sederhana untuk dianggap mahal."
Kalimat yang diucapkan sembarangan oleh laki-laki itu terasa seperti lemparan batu yang menghantam dadanya keras.
"Mwo? Apa kau bilang? Murah? Apa kau bahkan tahu gaun ini pemberian siapa?"
"It's none of my business. I don't even know you," balas laki-laki itu dengan nada meremehkan.
Heol .... Eun Ji berusaha meredam emosinya. Kedua tangannya mengepal kuat.
Belum sempat Eun Ji bersuara lagi, laki-laki itu sudah berbalik meninggalkannya lagi tanpa perasaan bersalah sama sekali.
"Ya! Apakah ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Ah, apakah dia ada di sini? Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa dia tidak berhasil mendidik anaknya dengan baik." Eun Ji melipat kedua tangan di depan d**a. Seluruh pasang mata tertuju pada mereka. Seketika suasana berubah sunyi senyap bercampur tegang.
Mendengar ucapan kasar dengan nada sarkastis yang ditujukan padanya, laki-laki itu berbalik. "Apa maksudmu berkata seperti itu? Pantaskah seorang wanita berbicara sekasar itu, huh? Kukira itu hanya ada di dalam film-film. Tapi aku salah. Hal itu bahkan terjadi saat ini. Kau memalukan," balasnya menyeringai.
"Apa kau bilang?" Eun Ji tak percaya apa yang didengarnya dari laki-laki tak berperasaan itu. Eun Ji melepas topeng yang sedari tadi dipakainya dengan marah. Ditatapnya laki-laki itu tajam. "Kau ingin mengajakku berkelahi, huh? Kau pikir karena aku perempuan, aku takut denganmu?!" Eun Ji tidak punya apa pun untuk menahannya lagi. Kalau ingin berkelahi, berkelahi saja. Toh, malam ini akan segera berakhir dan dia tidak akan bertemu laki-laki itu lagi besok.
Hening. Para tamu hanya bertindak sebagai penonton yang sedang menonton adegan menegangkan di sebuah film tanpa berani berbuat apa-apa.
Sebelum sesuatu yang tidak diinginkan benar-benar terjadi, Hye Rim dan Jin Young akhirnya muncul dan berlari menghampiri mereka.
"Kalian ... jangan coba-coba menghancurkan pestaku, arasseo?" ucap Hye Rim kesal sambil menatap Eun Ji dan laki-laki itu bergantian.
Laki-laki itu menunjukkan seringai di bibirnya sebelum beranjak dari tempatnya meninggalkan kerumunan orang itu.
••
Eun Ji memasuki toilet dan segera membasuh wajahnya, tidak peduli jika make up-nya akan luntur dan wajahnya berantakan. Ia sangat marah dan kesal setengah mati. Darahnya sampai naik ke ubun-ubun. Benar-benar tidak punya sopan santun, rutuknya dalam hati.
Eun Ji menghela napas menatap tajam pantulan dirinya di cermin.
"Lihat saja. Kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan membuat perhitungan.
Setelah keluar dari toilet, Eun Ji segera menemui ayahnya dan meminta untuk pulang. Sesaat sebelum dia akan benar-benar meninggalkan pesta itu, ia menghampiri Hye Rim dan Jin Young yang sedang mengobrol.
"Hye Rim, Jin Young, maaf sudah membuat acara ini berantakan. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Aku pamit pulang dulu, annyeong," pamit Eun Ji, dan tanpa mendengar balasan dari Jin Young dan Hye Rim, ia segera meninggalkan mereka.
••
Sekali lagi, Eun Ji menatap pantulan dirinya pada sebuah cermin yang berdiri tegak di hadapannya sambil memegang bagian gaunnya yang robek. Ia masih menangis sejak pulang dan masuk ke kamar. Eun Ji biasanya adalah gadis yang kuat, tapi entah kenapa kali ini dia tidak bisa lagi memendam kesedihannya.
"Eomma, mianhae ...."
••