12. BUKAN MAUKU

1126 Kata
"Dasar bodoh! mengawasi Gadis kecil saja tidak bisa! bagaimana Dia bisa kabur?" Tampak raut muka Pak Surya dengan amarahnya yang berkobar. "Maaf Pak, tadi Neng Elsa minta dibelikan pembalut di swalayan depan, ternyata itu hanyak tak tik nya untuk melarikan diri." Tyo menjawab dengan perasaan takut kepada boss nya ini. "Dalam kondisi hujan begini, dan kondisi pengaruh obat itu, Dia tidak akan bisa bertahan. Cepat kita sisir lagi daerah sini menggunakan mobil." perintah Pak Surya. "Baik Pak." Tyo menjawab patuh. Akhirnya sampai selama 3 jam mereka berkeliling area tempat itu, tidak juga menemukan Elsa. Akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat itu, dan Pak Surya memberitahu Mario agar bertanggungjawab atas apa yang terjadi dan mengembalikan uang yang sudah di transfer kepadanya. ** "Pak Vian, apa ada yang bisa Saya bantu lagi?" Roy menawarkan bantuan kepada Vian setelah melihat Vian menggendong Elsa dan menidurkannya di sofa tengah kamar megah itu. "Kau bisa kembali Roy, biar Gadis ini Aku yang urus." Sambil memperlihatkan senyuman licik menatap Elsa yang terus bergeliat menahan birahinya. "Baik Pak, jika butuh bantuan, bisa hubungi saya." sambil menunduk kemudian menutup pintu. Vian kemudian duduk di sofa tempat Elsa di tidurkan. Dan tanpa sengaja menyentuh tangan Elsa yang yang terasa sangat dingin. "Sial, Gadis ini bisa mati kedinginan jika seperti ini." Dengan cepat Vian menggendong tubuh Elsa masuk ke dalam kamar dengan penerangan lampu tidur berbentuk jamur. Tanpa ragu Vian membuka baju yang Elsa kenakan. "Tuan, apa yang Kamu lakukan?" terdengar suara Elsa dengan sedikit kesadarannya memegang tangan Vian kuat kuat. "Kalau Kamu tak melepas bajumu, Kamu bisa mati kedinginan! mengerti?" Vian kemudian menarik seluruh baju yang di pake Elsa tanpa meninggalkan sehelai benangpun. Vian seperti terhipnotis oleh pemandangan di depannya. Dia memandang Elsa yang sedikit kedinginan, tapi kepanasan di dalam tubuhnya dengan tatapan menyeringai. Tak lama Vian tersadar, dan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Elsa. Dan saat itu, tak sengaja Vian terjatuh karena menginjak baju Elsa yang basah di bawah lantai. Sekarang posisi Vian berada tepat di atas badan Elsa yang tanpa sehelai kain pun di tubuhnya. Keadaan ini membuat Elsa yang dalam pengaruh obat perangsang mengeluarkan desahan. Tubuhnya tak kuasa menolak gairah yang menguasainya. Vian pun sebagai laki laki normal merasa tergoda untuk mencium Elsa dan mengelus rambut basahnya. "Tuan....." Suara Elsa terpotong karena bibir Vian telah mendarat di bibirnya yang ranum. Vian memposisikan tubuhnya kemudian memeluk Elsa yang tampak kedinginan. "Apa sekarang udah mendingan?" bisik Vian lembut ke telinga Elsa. Elsa yang mendapatkan perlakuan lembut dari Vian, terus menggeliat tidak bisa menahan gejolak aneh yang ada di tubuhnya. Di dalam hatinya ingin menolak, tapi keinginan di tubuhnya lebih besar tidak ingin terhenti. Dia kemudian justru membalas pelukan Vian dengan pelukan b*******h. "Aku tak tahan Tuan, tolong Aku..." Dalam hati Elsa berkata tak ingin, tapi tubuhnya berkata lain. Dia ingin mendapatkan sentuhan Vian yang lebih dari sekedar pelukan. Tubuhnya meronta walaupun terlihat air mata menetes dari mata indahnya. Dia tak bisa menahan birahinya yang sudah menembus batas pertahannnya. "Jangan salahkan Aku, ini bukan mauku, Kamu yang memintanya, mengerti?" bisik Vian kembali ke Elsa sambil mengusap wajah lembutnya. Karena sudah di batas pertahannya, Vian pun membuka baju dan memeluk tubuh Elsa lagi dengan kuat sambil menyalurkan kehangatan tubuhnya. Elsa pun dengan liarnya menciumi tubuh Vian yang telah memberikan kenyamanan pada tubuh dan keinginannya. "Akhhhhh, Sakit..." Elsa meronta kesakitan saat milik Vian menerobos organ inti Elsa. Ada darah segar yang mengalir di tengah pernyatuan mereka. "Ternyata Kamu masih perawan? sabar sayang, sebentar lagi tak akan sakit lagi. Kamu pasti menikmatinya" Vian merasakan nikmat yang menggetarkan tubuh kekarnya, dan dia tersenyum dengan senyum bangga. Elsa hanya bisa pasrah karena pengaruh obat perangsang itu masih sangat kuat di tubuhnya. Dia tak kuasa menolak tubuh Vian, karena tubuhnya saat inilah yang menginginkan hal ini. Malam itu, entah berapa kali mereka melakukan pertarungan yang b*******h itu sampai akhirnya keduanya tidur saling berpelukan seperti bayi yang tak berbusana. ** Pagi harinya Elsa terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tubuhnya remuk redam dan banyak tanda merah yang tertinggal jelas di setiap inci tubuhnya. "Ya Allah, apa yang Aku lakukan?" Elsa menangis sejadi jadinya di kamar itu seorang diri. Dia menatap sekeliling ruangan yang megah itu, dan tidak mendapati siapa siapa. "Apa Om Surya kemaren yang telah membawanya kesini?" di pikirannya terlintas ingatan tadi malam. " Tapi sepertinya aku telah lolos dan ada orang yang telah menyelamatkanku. Siapa Dia? kenapa tidak ada orang disini?" Elsa tampat kebingungan. Elsa mencoba berdiri, sambil melilitkan selimut di tubuhnya. Terasa bagian inti miliknya masih merasakan perih. Dia menuju ruang pojok untuk memastikan apakah ada orang di sana. Ternyata kamar mandi ini pun, tidak ada orang. Akhirnya Elsa memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi itu. Setelah selesai, Elsa keluar menggunakan handuk yang tersedia di sana. Dia mencoba mencari pakaiannya, tapi Dia melihat pakaiannya yang Dia kenakan tadi malam masih sedikit basah dan sobek. Kemudian dia membuka lemari dan menemukan kaos berukuran besar dan tanpa pikir panjang memakainya. "Yah, walaupun hanya sebatas paha kaosnya tapi lebih baik daripada tidak sama sekali." bisiknya pada dirinya sendiri. Tapi saat Dia mau meninggalkan ruangan itu, Elsa melihat ada tas berisi dress wanita. Elsa kemudian segera memakai dress itu, karena tidak mungkin, Dia keluar tempat itu hanya menggunakan atasan saja. Masih dengan air mata yang berlinang menahan sakit di hatinya Elsa kemudian melihat secarik kertas di meja dekat kamar tidurnya. "Hey gadis... terimakasih buat servisnya tadi malam. Kamu yang memaksaku. Bukan mauku. Uang di amplop ini untukmu, 150 juta. Kamu pasti lagi membutuhkan uang ini kan? jika kurang bisa hubungi no 08132999999. okey" Setelah membaca surat itu, Elsa menangis kembali. Dia sakit hati, kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Kesucian yang dia jaga selama 20 tahun ini telah di renggut oleh orang yang tidak dia ketahui. "Maafkan anakmu ini ma" dengan air mata yang terus mengalir. Kemudian Elsa membawa uang itu dan meninggalkan tempat yang telah merampas kehormatannya itu dengan air mata yang berlinang. Tanpa sadar Elsa masih diawasi oleh CCTV yang ada dikamar apartemen itu. ** "Dasar Gadis munafik, pura pura aja sok suci, toh Dia juga mengambil uang itu." Vian melihat semuanya dari layar di laptopnya. Dia pagi pagi kekantor karena harus menandatangin proposal penting untuk kemajuan bisnisnya. kriing...... Bunyi telepon dari Roy. "Pak, Gadis itu sudah menginggalkan apartemen. Apa perlu Saya ikuti?" terdengar suara Roy dari seberang telepon. "Tidak usah, ada tugas lain untukmu. Kamu antar hadiah buat Sarah ini saja, pasti Dia akan sangat suka." sambil tersenyum melihat foto foto Elsa yang udah dia cetak untuk diberikam ke Sarah. "Benernya hampir saja aku tertarik ma Gadis sok lugu itu, tapi ternyata benar, Dia sama aja dengan Gadis lain yang hanya menginginkan uang. Mulai sekarang kita lihat apa Kamu masih berani mengganggu kekasih Sarah? sekarang Kamu ada di dalam genggamanku, cepat atau lambat pasti Kamu akan datang kembali mencariku. " **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN