Setelah pulang ganti baju di rumahnya, Elsa kemudian membawa uangnya ke Rumah Sakit. Di Rumah Sakit Elsa berjalan dengan terburu buru menghampiri Mbak Dewi dengan mata yang sembam. Dia menyembunyikan kesedihannya dengan senyumannya
"Mbak, ini uang 150 jutanya, Kita bayarkan sekarang Mbak, biar Mama segera di operasi." Elsa berbicara sambil menggenggam tangan Mbak Dewi.
"Alhamdulillah Sa, Kamu jadi pinjam ke Om Kamu kemaren?" tanya Mbak Dewi hati hati.
"Iya Mbak. Mbak ini uangnya Mbak bawa ke bagian administrasi dulu ya, Elsa mau ke kamar mandi dulu, nanti Elsa susul." Elsa sengaja menyuruh Mbak Dewi duluan agar pertanyaan Mbak Dewi tidak berlanjut. Dia tidak ingin, Mbak Dewi tahu bahwa Dia dapat uang dari orang yang sudah mengambil kegadisannya, karena Dia sendiri tidak tahu siapa orang itu.
"Iya Sa, nanti kamu langsung menyusul ya." Jawab Mbak Dewi lembut.
Elsa menganggukkan kepalanya kemudian berbalik menuju kamar mandi. Disana Elsa menangis karena tak kuasa menahan air matanya.
"Aku harus kuat, ini semua untuk Mama." bisiknya lirih.
Saat hendak menyusul Mbak Dewi, di lorong karena Elsa berjalan dengan terburu buru tanpa sengaja dia menabrak seorang pria yang membawa botol mineral ditangannya.
BRUKK
"Maaf, maafkan saya Mas." Elsa dengan cepat mengambil botol minuman yang terjatuh, kemudian menatap Pria yang berdiri didepannya itu lalu melanjutkan "Biar saya ganti, tunggu sebentar."
Saat hendak pergi meninggalkan pria itu untuk membeli botol air mineral baru, tangan Elsa di pegang oleh Pria itu."Terimakasih, tapi tidak usah diganti, ini harusnya masih bersih karena belum Saya buka."
"Tapi ini..."
"Tak apa, Kamu bisa langsung pergi, kelihatannya Kamu terburu buru." ucap Pria itu lembut.
"Kalau begitu terimakasih banyak. Maafkan Saya." Elsa lalu menunduk segera berbalik berjalan meninggalkan pria itu.
"Tunggu, Kalo boleh tau siapa namamu? sepertinya Saya tidak asing," ucap pria itu.
"Perkenalkan Saya Arneta." Elsa kemudian berbalik dan mengulurkan tangannya. Dia sengaja berkenalan dengan nama belakangnya karena orang itu masih asing olehnya.
"Oh, mungkin Kamu hanya mirip. Perkenalkan saya Rendy ." Tersenyum sambil menjabat tangan Elsa.
"Oh begitu, kalo begitu saya duluan ya. Permisi." Elsa sengaja cepat menjauh. Karena Dia baru saja mengalami kejadian yang sangat menyakitkan, Dia tidak mau membuka diri untuk mengenal siapapun untuk saat ini, walaupun Pria tadi bisa dikatakan Pria yang tampan dan ramah.
**
"Mbak Dewi, sudah selesai?" ucap Elsa saat bertemu Mbak Dewi didepan ruang administrasi.
"Udah Sa, ini kwitansinya. Semoga cukup ya Sa."
"Misal masih kurang, besok Elsa usahakan lagi Mbak, asal Mama sembuh." Elsa berbicara dengan yakin, walaupun Dia tidak tau misal masih kurang harus mencari kemana.
"Maaf permisi, benar dengan Mbak Dewi? Dokter Rendy sudah di ruangan Mbak, kalau mau bertemu." Seorang suster muda tiba tiba datang menghampiri Elsa dan Mbak Dewi.
"Baik Sus, terimakasih." balas Mbak Dewi dengan tersenyum.
"Ayo Sa, kita keruangan Dokter." sambil berdiri mengajak Elsa.
"Iya Mbak, Mbak bukannya mama selama ini di rawat oleh dokter bambang? Kog jadi dokter Rendy?" tanya Elsa sambil berjalan mengikuti Mbak Dewi.
"Dokter Bambang udah purna Sa, sekarang penggantinya dokter Rendy, dia pindahan dari Luar Negeri, Dia dokter hebat Sa, masih muda dan pintar. Insya Allah, keadaan Tante Nawang bisa berangsur membaik di tangani oleh Dokter Rendy ini. Ada temen Mbak dulu juga pernah ditangani Dokter Rendy udah membaik Sa." ucap Mbak Dewi Semangat mengagumi Dokter Rendy.
"Makasih Ya Mbak. Elsa jadi tenang mama didampingi Mbak Dewi."
"Nanti terimakasih ma Dokternya, kalo mbak kan hanya menemani Sa." Tersenyum sambil merangkul ELsa.
Tok Tok Tok...
"Permisi Dok." Mbak Dewi membuka pintu kemudian masuk setelah mengucap salam.
"Iya Mbak Dewi, silahkan masuk." Jawab Dokter Rendy ramah karena sudah akrab sering ketemu di Rumah Sakit.
"Terimakasih dok. Hari ini Saya datang dengan Elsa dok, Anak Tante Nawang." Ucap Mbak Dewi lagi.
"Baik silahkan duduk Mbak Dewi dan ... Mbak Elsa?bukannya Arneta?" ucap Dokter Rendy ragu sambil menatap Elsa, yang sedang menunduk karena malu membohongi seorang Dokter.
"Iya Dok, saya Elsa, Elsa Arneta dok, anak Ibu Nawang." jawab Elsa gugup tapi berusaha untuk tampak tenang.
"Elsa kamu kenal?" Mbak Dewi merasa kebingungan bagaimana Dokter Rendy bisa tau nama belakang ELsa.
"Tadi, tidak sengaja Saya bertemu Dokter Rendy Mbak." Ucap Elsa pelan.
"Iya Mbak, tadi kita sudah berkenalan. Benarkan Mbak Arneta?" Sambil tersenyum melihat Elsa. Elsa merasa salah tingkah mendengar panggilan itu.
"Baiklah Mbak Elsa Arneta salam kenal saya Dokter Rendy, pengganti Dokter Bambang yang akan merawat Ibu Nawang." Sambil tersenyum kepada Elsa dan Mbak Dewi.
"Jadi kapan Mama saya akan di operasi Dok? untuk soal administrasi ini tadi sudah diselesaikan, misalkan ada kekurangan besok akan Kita genapi Dok." ucap Elsa dengan antusias.
"Ini bukan masalah administrasi Mbak Elsa, Dalam minggu ini kita akan melihat perkembangan Ibu Nawang terlebih dahulu, seandainya besuk senin Ibu Nawang kondisinya masih stabil seperti ini tidak ada penurunan bisa kita langsung operasi Mbak." Jawab Dokter Rendy menenangkan.
"Terimakasih Dok, Saya sangat berharap kepada Dokter." balas Elsa berharap.
"Tapi..."
"Tapi apa dok?" ucap Elsa dan Mbak Dewi hampir bersamaan.
"Sebaiknya kita lebih intens menjaga ibu Nawang, jangan sampai kejadian malam kemaren terulang lagi. Karena salah sedikit bisa fatal akibatnya."
"Maksudnya dok?" Elsa kebingungan.
"Maaf Sa, Mbak sengaja tidak menceritakan hal ini kepada Kamu, takut Kamu cemas. Sepertinya kemaren ada orang yang sengaja melepas saluran oksigen Tante Nawang." Mbak Dewi menjelaskan sambil memegang tangan Elsa.
"Benar sekali Mbak Elsa. Untung saja, saat itu Mbak Dewi datang pada saat yang tepat, sehingga bisa langsung membenarkan dan memanggil Dokter jaga sehingga nyawa Ibu Nawang tertolong." Dokter Rendy menambahkan.
"Tapi siapa Mbak. Mama udah lama tak sadarkan diri. Siapa yang tega berniat jahat melukai Mama. Dia satu satunya orang yang Elsa punya mbak."
Elsa yang mendengar semua itu, merasa tidak percaya apa yang terjadi. Dia menangis di hadapan Mbak Dewi dan Dokter Rendy. Dia sama sekali tidak menyangka, akan ada orang yang berniat jahat kepada Mamanya, orang satu satunya yang Dia punya.
Dokter Rendy yang melihat Elsa merasa kasihan kepadanya. Dia tidak menyangka Gadis usia remaja seperti Elsa, harus menjadi tulang punggung keluarganya yang tidak sedikit, apalagi untuk biaya Rumah Sakit selama bertahun tahun. Sedikit banyaknya Dokter Renndy tahu tentang keadaan Ibu Nawang dan Elsa dari cerita Mbak Dewi.
***
"Lihatlah ini semua Dani! Buka matamu! Dia sama sekali tidak pantas untukmu apalagi untuk keluarga kita!" Teriak Amara kepada Dani sambil melempar foto Elsa yang sedang tidur tanpa busana di sebuah kamar dengan seorang laki laki.
"Ini tidak mungkin Ma, pasti semua ini salah paham." Dani masih membela Elsa karena tau Elsa adalah gadis baik baik.
"Terus foto itu apa? itu bukti nyata Dan! pokoknya besok Kamu harus bertunangan dengan Sarah. Dia satu satunya orang yang cocok untuk mendampingi kamu! Dia sekelas dengan keluarga kita. Mengerti!"
"Ma, tapi Dani tidak mencintai Sarah, Dani dari dulu hanya mencintai Elsa Ma." Mohon Dani kepada ibunya.
"Cinta saja tidak cukup Dan. Mana ada orang makan cinta. Mama tidak mau dibantah. Kalo kamu masih ingin melihat mama dan keluarga ini bangkit turuti perkataan Mama."
Dani hanya terdiam tidak sadar, di kelopak matanya sudah berkumpul setumouk cairan yang akan menetes keluar. Dia sama sekali tidak menyangka, apa yang Dia lihat di foto itu. Elsa yang sedang tidur dan memeluk seorang Pria. Bahkan Elsa juga tidak datang pada acara Adiknya, padahal Dia sudah berjanji. Apalagi sampai sekarang, Dia sama sekali tidak menghubungi Dani walau hanya sekedar basa basi untuk meminta maaf padanya.Dia sendiri pun sampai saat ini tidak bisa menghubungi Elsa dan menemukan keberadaannya.
Hati Dani rasanya remuk. Restu dari Orang tuanya untuk Elsa tidak didapatkannya. Bahkan sekarang hancur berkeping keping setelah melihat foto itu. Yang ada sekarang hanyalah, mematuhi perintah Mamanya untuk melaksanakan pertunangan dengan Sarah. Karena ancaman dari Mamanya selama ini, tidak main main. Dia tidak ingin melihat keluarganya pecah seperti dulu.
**