Seminggu telah berlalu, hari hari Elsa hanya menemani Mamanya di Rumah Sakit. Walaupun keadaan mamanya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dia masih enggan untuk melanjutkan rutinitasnya. Elsa masih trauma dengan kejadian yang menimpanya tanpa berani menceritakan kepada siapapun.
Selama di Rumah Sakit, selain mendapatkan konsultasi terbaik dari Dokter Rendy Elsa juga mendapatkan banyak masukan dan nasihat untuk hidupnya. Dokter Rendy yang tadinya melihat tatapan Elsa kosong, sekarang sudah jauh lebih senang bisa melihat adanya semangat baru dari hidupnya.
Siang itu setelah Visit Ibu Nawang, Dokter Rendy menemui Elsa dan Mbak Dewi yang sedang memperhatikannya.
"Alhamdulillah semua berjalan baik Sa, Ibu nawang mempunyai respon yang baik selama sepekan ini. Dan nanti, Ibu Nawang sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa." ujar Dokter Rendy dengan senyum.
"Alhamdulillah Dok. Terimakasih banyak Dok." ungkap Elsa senang.
"Jadi mulai besok, Kamu bisa berangkat kuliah dan kerja lagi Sa, percayakan Tante kepada Mbak. Apa Kamu tidak dimarahi seminggu ini tidak kuliah dan kerja?" Mbak Dewi merangkul pundak Elsa mengemangati.
Elsa tampak berfikir sejenak, sebenarnya Dia masih belum siap untuk memulai hari harinya lagi. Rasanya, kehidupannya sudah hancur. Tapi demi Mamanya, Dia harus tetap kuliah dan bekerja untuk membiayai biaya Rumah Sakit.
"Terimakasih Mbak, besok Elsa akan berangkat kuliah. Nanti Elsa ijin mau ketempat Ibu Cantika dan Pak Tommy ya Mbak. Semoga mereka masih mau menerima Elsa." Elsa berbicara tampak ragu.
"Kamu Gadis yang baik dan cerdas Elsa, jangan sia siakan kuliahmu yah." Dokter Rendy yang mendengarnya ikut memberikan semangat.
"Terimakasih Dokter Rendy, Mbak Dewi sudah memberikan Elsa semangat baru." Elsa mencoba untuk tersenyum kepada kedua orang di depannya.
"Dan HP kamu sepertinya masih mati Sa, apa Kamu pake HP Mbak dulu?" tanya Mbak Dewi sambil memegang HP Elsa yang terjatuh saat Mamanya masuk ICU.
"Eh, tidak usah Mbak, terimakasih, nanti biar Elsa coba perbaiki. Mbak Dewi lebih membutuhkannya. Lagian Elsa udah biasa seminggu ini tanpa HP." ujar Elsa menenangkan.
"Oya Sa, HP sangat penting untuk berkomunikasi, kalo Kamu mau, saya ada HP yang sudah lama tidak di pakai. Kamu bawa dulu aja. Setelah HP Kamu jadi, bisa Kamu kembalikan." Ucap dokter Rendy hati hati.
"Tidak usah Dok, nanti Elsa malah nggak enak."
"Tidak usah sungkan Elsa, Katanya Kita sudah bersahabat kan? Suster tolong ambilkan HP di laci ruangan Saya ya." Pinta dokter Rendy kepada perawat jaga dengan ramah.
"Baik Dok." Suster yang mendampingi Dokter Rendy segera keluar untuk mengambil HP dokter Rendy. Tak berselang lama, Suster kembali membawa HP dan diserahkan kepada Dokter Rendy.
"Terimakasih ya Sus, Elsa ini dipakai dulu ya. Kamu juga ingin tau terus kan, bagaimana perkembangan Mama Kamu kedepannya." suara Dokter Rendy terdengar sangat lembut meyakinkaan Elsa.
"Terimakasih banyak ya Dok." tambah Mbak Dewi.
"Sama sama Mbak Dewi."
"Terimakasih Dok. Nanti segera saya kembalikan." Elsa tak enak lagi untuk menolak kebaikan Dokter Rendy.
Akhir akhir ini, Elsa seringkali diajak makan bareng oleh dokter Rendy, agar suasana hati Elsa membaik. Tapi Elsa selalu menolaknya, dengan alasan tidak mau merepotkan dan ingin menemani Mamanya.
Dokter Rendy sejak pertama kali melihat Elsa, seperti melihat bayangan tunangannya, yang telah meninggal, karena kecelakan lima tahun yang lalu seminggu sebelum pernikahannya. Dia juga pernah menjadi sangat terpuruk sejak kehilangan tunangannya itu. Dari situ Dia melihat Elsa mempunyai wajah yang mirip dengan tunangannya, tetapi saat melihat tatapan Elsa yang kosong, teringat seperti saat Dia dulu sedang terpuruk. Dia ingin membantu Elsa agar bisa bersemangat dan bangkit lagi seperti dirinya. Tanpa sadar Dokter Rendy juga telah mempunyai perasan kepada Elsa.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sore itu, Elsa berjalan di pinggiran jalan Rumah Sakit. Dia berniat mau menemui Pak Tommy dan Bu Cantika, agar masih diperbolehkan bekerja di sana. Tetapi dalam dalam hati kecilnya, Dia sebenarnya masih ragu untuk kembali ke aktifitasnya. Tapi kalo Dia hanya diam seperti ini, Dia tidak akan bisa mendapatkan biaya untuk kebetuhannya dan juga membiayai Mamanya di Rumah Sakit.
Pim Pim...
Suara klakson mobil terdengar di gendang telinganya. Elsa menoleh dan disampingnya sudah ada mobil Pajero Spot warna hitam berhenti disebelahnya. Tak lama seoramg lelaki tampan dengan kulit putih bersih keluar dari mobil itu.
"Hay Sa, Aku lihat Kamu, sepertinya berjalan sambil melamun. Nanti kalo ada yang nyulik gimana?" Ujar lelaki itu ke Elsa dengan senyum khas manisnya.
"Eh Dokter Rendy? ini Saya, mau..."
"Jangan panggil formal jika di luar Rumah Sakit. Kita kan sudah berteman Sa. Kamu mau kemana? ayo aku antar, kebetulan hari ini aku pengen refres."
"Tapi Dok, eh maaf Mas Rendy. Hari ini aku sudah ada rencana sendiri."
"Kamu sendirian kan? Ayo masuk, aku antar ya." Sambil menggandeng tangan Elsa masuk ke mobilnya.
Elsa tidak bisa lagi untuk menolak dan duduk diam di mobil Rendy.
"Yuk Sa, Kita kemana dulu? Bukannya dulu kata Mbak Dewi kamu orangnya suka sekali menceriakan suasana, kenapa sekarang jadi pendiam Sa? Apa ada masalah? Cerita aja Sa. Aku siap menjadi pendengar setiamu." Rendy membuka pembicaraan agar suasana tidak hening sambil tersenyum manis pada Elsa.
"Saya ... Saya ragu dok." Jawab Elsa sambil menunduk.
"Rendy aja, jangan pake Dokter. Lagian kita gak selisih jauh kan usianya."
"Baik Mas Rendy. Saya ragu, apakah nanti Saya masih diterima kerja setelah Saya tak ada kabar seminggu ini? Ini semua salah saya Mas, sebenarnya." Elsa tak kuasa menahan air matanya mengalir.
Rendy yang melihat Elsa menangis, kemudian memajukan tangannya untuk mengusap air mata di pipinya itu.
"Kamu jangan sedih Sa, Kamu harus tetap semangat. Kamu anak yang tangguh Sa, pintar. Pasti mereka akan sangat saying, jika melepaskan karyawan sepertimu. Kalaupun mereka tidak menerimu, apa Kamu mau jadi asistenku? hemm?" Rendy dengan lembut tersenyum pada Elsa.
"Terimakasih Mas, kata katamu bisa memberi semangat lagi untukku."
"Begitu dong. Oya ke Klinik terapi Jariku dulu kan Sa?"
"Iya Mas, nggak jauh kog dari Rumah Sakit."
"Iya Sa, dulu aku juga sering kesana, lebih tepatnya Rahma yang dulu sering ngajak pijat disana. Tapi setelah Rahma tidak ada, Aku sudah tidak pernah kesana lagi."
"Rahma tunangan Mas Rendy? yang Mas bilang mirip Elsa?"
"Benar Sa."
"Maaf Mas, Elsa tidak bermaksud mengingatkan."
"Tidak apa apa Sa, semua serba kebetulan kan? Apa jangan jangan kita berjodoh ya." Reza mencoba menggoda Elsa yang tampak terdiam.
"Ah, Mas Rendy jangan bercanda."
"Kalau tidak bercanda bagaimana Sa?" Rendy menatap Elsa serius, bersamaan mobilnya sudah sampai di depan Tetapis Jariku.
"Mas Rendy, Udah ah bercandanya. Elsa masuk dulu ya. Mas Rendy bisa pulang duluan. Nanti biar Elsa naik ojek."
"Aku tunggu aja Sa, disini. Lagian Kamu tidak lama kan? tidak langsung bekerja kan?" tanya Rendy lagi.
"Enggak Mas, Elsa mau menemui Pak Tomny dulu aja, pemilik klinik ini untuk kelanjutannya. Kalo gitu tunggu sebentar ya Mas." Elsa kemudian masuk ke klinik tempatnya bekerja.
**
Didalam klinik, setelah Elsa menanyakan keberadaan Pak Tomny, Dia disuruh menunggu di ruangan Pak Tommy. Tak lama, Pak Tommy pun masuk menemui Elsa di ruangannya.
"Elsa, bagaimana Kamu bisa menghilang begitu saja kemaren Sa? Kamu tahu karena ulahmu, Saya jadi kena teguran dari Pusat. Dan bagaimana pertanggungjawabanmu terhadap Pak Vian Sa? Kamu jangan bikin Bapak tambah pusing Sa!" Pak Tommy berbicara dengan nada yang serius kepada Elsa. Walaupun Dia tahu, pasti ada sesuatu hal yang menyebabkan Elsa tak biasa seperti ini.
"Maafkan saya Pak Tommy, saya tidak bermaksud menghilang. Tapi kemaren HP saya jatuh dan mati Pak sampai sekarang. Dan saya fokus menunggui Mama saya di Rumah Sakit Pak. Saya sangat ingin Mama saya, kembali sehat lagi Pak." jawab Elsa dengan mata berkaca menahan tangis.
"Uang yang 150 juta, yang mau Kamu pinjam kemaren jadi sudah dapat Sa? itu untuk operasi Mamamu?" tanya Pak Tomny lagi.
"Iya Pak, saya pinjam ke Om saya. Dan saya harus mengumpulkan uang untuk menggantinya. Jadi saya ingin bekerja lagi Pak di sini, jika Pak Tommy masih menerima saya." ucap Elsa memohon.
"Sejak Kamu menghilang kemaren, Saya jadi tidak punya muka lagi Sa kepada Pak Vian. Saya tidak enak hati, dikira mempermainkan beliau. Pak Vian adalah orang yang berpengaruh terhadap dunia bisnis dikota ini Sa. Jika Kamu masih ingin bekerja di sini, Kamu hubungi Pak Vian dulu, minta maaf padanya, penuhi kewajibanmu padanya. Nanti, Dia yang akan memutuskan, apakah Kamu masih bisa bekerja di sini atau tidak." ucap Pak Tommy dengan wajah serius.
"Iya Pak, Elsa mengerti. Elsa yang salah waktu itu, Elsa tidak jadi datang. Elsa akan meminta maaf kepada beliau."
"Maafkan Bapak ya Sa, karena Bapak tidak bisa membantu banyak. Ini Bapak kasih kontaknya. Sekarang saya coba hubungi beliaunya dulu ya Sa."
"Terimakasih Pak." ucap Elsa terharu.
**