15. Bertemu Mereka

1126 Kata
"Selamat sore Pak Vian, saya Pak Tommy pemilik Klinik Jariku. Kapan Pak Vian ada waktu? ini Gadis yang dulu ada tanggungan ke Pak Vian mengganti laptop sudah kembali. Sekarang, Dia bermaksud bekerja kembali. Apa Pak Vian mengijinkan?" Ucap Pak Tommy pada layar HP nya. "Hemm masih punya nyali Dia? Suruh Dia langsung menemui saya. Untuk waktunya mungkin besok sore. Hari ini, saya ada acara dengan keluarga." jawab Vian dengan senyum yang menyeringai. "Terimakasih banyak Pak Vian." kemudian menyimpan kembali HP miliknya. "Alhamdulillah Sa, Kamu masih diberi kesempatan. Besok sore, Kamu hubungi Pak Vian di nomor itu. Lakukan pekerjaan yang beliau minta. Dan ingat, jangan kecewakan kesempatan ini." Pak Tommy berbicara dengan semangat. "Terimakasih Pak Tommy, atas bantuannya. Sementara ini, Elsa pake HP temen Elsa. Besok Elsa akan hubungi nomor Pak Vian ini." Ucap Elsa tak kalah semangat. "Baguslah Sa, Bapak senang mendengarnya." sambil menepuk pundak Elsa. "Kalau begitu, Elsa pamit dulu ya Pak. Sekali lagi terimakasih Pak, atas kesempatan yang diberikan." Elsa kemudian berpamitan dan keluar menuju mobil Rendy yang masih terparkir di halaman klinik. Tok tok tok Elsa mengetuk kaca mobil, di dalam terlihat Rendy yang sedang membaca buku dengan serius. "Sudah Sa? ayo masuk tidak dikunci." Rendy menyambut Elsa dengan senyuman. "Terimakasih Mas Rendy, maaf sudah membuatmu menunggu lama." Jawab Elsa tidak enak hati. "Tak apa. Tapi Kamu harus bertanggungjawab ya." Goda Rendy sambil tersenyum menjalankan mobilnya. "Tanggungjawab apa Mas?" tanya Elsa penasaran. "Kamu kali ini harus mau menemaniku makan, Aku lapar sekali ini, dari tadi siang belum makan. Lagian ini udah jam 7 malam, udah waktunya makan malam. Okey Sa?" "Baiklah Mas." Elsa yang tidak enak melihat Rendy kelaparan tidak enak hati untuk menolak ajakan tersebut. Tak lama mobil berhenti di depan restauran megah di tengah kota. "Mas apa ini tidak terlalu berlebihan Mas? apa Kita tidak makan di warung biasa saja." Elsa ragu untuk masuk ke restoran tersebut. "Tidak usah ragu Sa, ini restoran special, untuk orang yang spesial juga, nanti Kamu bisa lihat ada pemandangan yang tidak di dapatkan di restoran manapun." ucap Rendy meyakinkan. Rendy kemudian menggandeng Elsa, masuk ke dalam restoran. Elsa pun kemudian mengikuti Rendy masuk ke dalam. Saat hendak memasuki ruang pilihan Rendy, tak sengaja ada Vian yang akan meninggalkan Restoran tersebut. Vian yang ditemani oleh Roy menatap Elsa yang masuk digandeng dengan seorang lelaki dengan intens. Mata Vian menatap Elsa seolah olah seperti busur panah yang siap memanah mengenai sasaran. "Pak, bukankah itu?" ucap Roy kepada Vian dengan pelan. "Ya, suruh orangmu selidiki dengan siapa Dia. Dan ada hubungan apa?" "Baik Pak." Hanya Elsa yang tak sadar telah berpapasan dengan Vian. Tetapi di hatinya, seolah olah Elsa melihat seseorang yang sangat Dia kenal, sehingga Elsa pun menoleh menatap dua orang pria yang berjalan keluar dengan terburu buru itu. "Kamu kenal?" Tanya Rendy yang tengah melihat Elsa menoleh melihat duaPria yang berjalan keluar itu. "Enggak, tapi seperti pernah tau. Tapi dimana ya?" jawab Elsa sambil berfikir. "Apa kekasihmu?" ucap Rendy menggoda. "Saya tidak punya kekasih Mas. Dan mungkin tidak ada waktu buat memimirkannya." ujar Elsa jujur. "Kenapa?" "Wah bagus sekali Mas pemandanganya, seumur umur baru kali ini aku melihatnya." Elsa terkagum kagum melihat pemandangan restoran dari atas yang menampakkan kelap kelip kota seolah olah seperti bintang di kejauhan. "Kamu suka?" tanya Rendy dengn senyum khasnya. "Iya Mas. Terimakasih sudah mengajakku kesini." ucap Elsa dengan senyum. "Seharian ini udah berapa kali kamu bilang terimakasih Sa. Kalo aku kumpulin bisa dapat ssekarung maaf kali ya," ucap Rendy menggoda. "Mas Rendy bisa aja." sahut Elsa dengan pipi merahnya karena malu. Pada saat makan malam ini, Rendy berhasil mengajak Elsa setelah sekian kali Elsa menolak ajakan darinya. Rendy senang bisa membuat Elsa tersenyum pada malam ini. Saat mereka sedang asyik bercanda dan mengobrol tiba tiba ada anak kecil dan seorang lelaki yang berdiri dekat ruangan makan mereka. "Kak Elsa?" ucap Varel yang bediri ditemani Dani dibelakangnya. "Varel? Dani? sejak kapan Kalian di sini? Kalian berdua?" Elsa yang kaget dan tidak enak kepada Varel, karena tidak bisa datang ke acara ulang tahunnya berbicara agak rikuh. "Kak Elsa, kenapa kemaren tidak datang di ulang tahun Varel?" tanya Varel dengan polosnya. "Maafkan kak Elsa,Varel ... Kak Elsa...." Belum selesai menyelesaikan ucapannya, Dani segera memotong kata kata Elsa. "Kak Elsa sibuk Varel, sekarang jangan ganggu Kak Elsa lagi. Ayo kita kembali ke meja kita." Dani kemudian mengajak Varel kembali kemejanya setelah melihat Elsa sedang berdua bersama lelaki lain. "Dan- Dani..." Elsa tak bedaya memanggil Dani yang sudah berlalu mengajak Varel. "Siapa Dia Elsa?" Reza yang penasaran mencoba memberanikan diri bertanya kepada Elsa. "Dia Dani, teman Elsa, Mas, dan itu tadi Adiknya. Dani sahabat dekat saya, tapi mungkin Dia kecewa karena aku tak sebaik perkiraanya. Saat ulang tahun Varel kemarenpun, aku nggak bisa datang Mas, karena saat itu barengan saat Mama waktu masuk ICU." Wajah Elsa tampak sedih menceritakan kejadian saat itu. "Sudah jangan sedih Sa, kalau Dia memang sahabat Kamu, pasti Dia bisa ngertiin Kamu." Sambil tersenyum memegang pundak Elsa. "Terimakasih Mas." "Kalau gitu, Kita pulang saja yuks, daripada nanti tambah gak enak kamu lama lama disini." "Baik Mas. Ayo." ucap Elsa mengiyakan. Saat mereka bedua berjalan keluar, tak sengaja berbarengan dengan Dani, Varel, Sarah, Om Ahmad dan Tante Amara. 'Kenapa bisa bertemu mereka?' bisik Sarah dalam hati. "Oh, ada Elsa, Kamu dengan siapa Elsa? bagaimana bisa ada di sini?" Ucap Sarah sombong sambil menggandeng tangan Dani. "Selamat malam Sarah, Dani, Varel, Om dan Tante," sapa Elsa kepada mereka dengan senyum ramah. "Ooh ada Elsa ya, tak disangka bisa bertemu Kamu di tempat ini. Dan Dia, apa targetmu sekarang? setelah Dani bertunangan dengan Sarah?" ucap tante Amara dengan ekspesi jijik kepada Elsa. "Apa bertunangan?" sahut Elsa kaget. "Yah, sekarang aku dan dan Dani sudah bertunangan. Jangan coba coba lagi menggodanya, mengerti!" timpal Sarah ketus. "Sarah! Mama! Sudah cukup, Kita pergi saja." Dani menggandeng Varel dan mencoba mengajak semua pergi. "Anak muda, hati hati dengan gadis yang sok polos ini, jangan sampai Kamu hanya dimanfaatkan olehnya. Mengerti?" ucap tante Amara kepasa Reza yang berdiri disamping Elsa. "Saya bisa menilai dan memutuskan sendiri, apa yang baik dan tidak baik untuk saya Tante, Terimakasih." jawab Rendy tenang tanpa terpengaruh sedikitpun. "Ohhh kalian berpacaran ya? Apa Kamu tau, kalo...." Tanpa melanjutkan kata katanya Sarah kemudian berjalan meninggalkan mereka sambil tersenyum kecut. "Sarah cukup! Ayo kita pergi." ucap Dani lagi. "Kalau Dia kekasihku, apa ada yang keberatan?" tanya balik Rendy. Saat mendengar ucapan itu, Dani pun menoleh dingin kea rah sumber suara itu. 'Apakah laki laki itu Dia?' desisnya dalam hati. "Ohh sama sekali tidak, tapi jangan sampai Kamu menyesal ya," Ucap sarah dengan senyum yang menyeringai. Kemudian mereka semua berjalan keluar meninggalkan Elsa dan Rendy berdua. Rendy melihat mata Elsa yang berkaca menahan tangisnya. Rendy pun kemudian memegang pundak Elsa kemudian menuntunnya keluar dan masuk ke dalam mobilnya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN