16. Di Cafe Star

1240 Kata
"Kamu nggak apa apa kan Sa? Maafkan ya, tadi aku hanya ingin membela Kamu," Ucap Rendy merasa bersalah kepada Elsa. " Nggak apa apa Mas, Mas Rendy nggak salah kog. Aku yang salah Mas, aku juga sudah mengingkari janjiku untuk datang di acara Varel pada malam itu, jadi Dani pun sekarang ikut bersikap dingin ," jawab Elsa parau. "Apa aku bantu menjelaskan kepada sahabatmu itu Sa? biar Dia tau kondisimu pada saat itu." "Tidak usah Mas, ini bukan waktu yang tepat. Baiknya Kita segera pergi saja Mas dari tempat ini." "Iya Sa, terus sekarang, Kamu mau diantar kemana Sa? Jadi lanjut atau pulang?" tanya Rendy sambil menjalankan mobilnya menyusuri jalan kota Bunga. "Elsa masih mau ke Cafe Star dulu Mas, untuk menemui Bu Cantika, Mas Rendy bisa pulang dulu kog Mas." Sambil menatap Rendy merasa tidak enak. "Nggak apa apa Sa, aku temenin Kamu ya sampai selesai." sambil tersenyum meyakinkan Elsa. Saat sampai di depan Cafe Star, keraguan Elsa mulai muncul lagi. Sebenarnya Dia tidak enak kepada Bu Cantika karena telah meninggalkan pekerjaanya tanpa kabar terlebih dahulu. "Kenapa Sa? mau aku temenin?" ucap Rendy yang melihat keraguan di wajah Elsa. "Tidak usah Mas, Mas Rendy bener mau nungguin Elsa? Takutnya Elsa nanti lama Mas, nunggu Bu Cantika datang. "Ya sudah, daripada aku bengong sendirian di mobil, mending aku ikut Kamu ya Sa, biar aku nunggu di dalam saja, sepertinya minuman di sana enak." " Yaudah Mas, ayuk." Elsa dan Rendy pun kemudian masuk ke Cafe bersama. Elsa sengaja mengajak Rendy duduk di meja pojok dekat pintu agar kedatangan mereka tidak menimbulkan perhatian teman temannya. "Silahkan Tuan dan Nona, mau pesan apa?" suara Hanny yang familiar terdengar menghampiri mereka berdua. "Han-Hany, Bu Cantika apakah ada?" sahut Elsa kemudian. "Elsa? kemana aja Kamu selama ini? kenapa tidak ada kabar nggak pernah masuk?" "Mas Rendy tunggu disini ya, Elsa mau bicara dulu ma Hanny, Mas pilih minuman dulu ya," sambil memberikan daftar menu Cafe Star kepada Rendy, kemudian menggandeng Hanny masuk ke ruang karyawan. "Han, ceritanya panjang, sekarang aku mau ketemu dengan Bu Cantika, apakah ada?" ucap Elsa kepada sahabatnya itu. "Bu Cantika di ruang VIP, ada tamu penting di dalam, aku nggak berani mengganggu, mending Kamu telepon aja coba." "Oh ya, aku minta nomornya ya Han," ucap Elsa sambil mengeluarkan HP di tas nya. "Wooo Hp kamu baru Sa? sampai udah nggak nyimpen nomor kita kita?" "Nggawur Kamu, HP ku rusak Han, ini Hp temen aku. Mana gih nomornya?" tanya Elsa lagi. "ini Sa, ngomong ngomong Cowok itu siapa? ganteng banget Sa! kenalin dong." Hanny menunjukkan layar teleponnya kepada Elsa sambil menatap Rendy dari jendela di ruangan itu. "Iya dech, nanti aku kenalin, sekarang Kamu layanin Dia dulu, ambilin pesenannya." ucap Elsa sambil tersenyum kepada Hanny. Dia paling tau kalau Hanny paling tidak bisa diam ketika melihat cowok tampan. 'Liat aja begitu, apalagi kalau tau Dia Dokter' desis Elsa sambil tersenyum kepada Hanny. "Kenapa Sa? kog senyum senyum. Buruan gih telepon, dari kemaren Bu Boss nanyain Kamu terus tuh." ucap Hanny sambil berjalan meninggalkan Elsa menuju ke tempat Rendy. Dengan ragu Elsa menekan panggilan ke nomor yang sudah Dia catat tadi. Tak lama telepon pun diangkat. "Elsa? Kamu kemana aja?" terdengar suara Bu Cantika dari dalam telepon. "Elsa ada di Cafe Bu, Elsa mau bicara sama Bu Cantika, apa Bu Cantika sekarang ada waktu?' Elsa berbicara dengan nada ragu. Sebentar ya, Ibu masih ada tamu, kamu tunggu dulu ya di sana. ** Di dalam ruangan VIP, Bu Cantika sedang mengadakan pertemuan dengan para pembisnis muda, dan yang pasti ada Vian di sana. Vian yang mendengar Bu Cantika menyebut nama Elsa kemudian bertanya kepadanya. "Apakah Bu Cantika ada tamu lain? kenapa tidak disuruh masuk ikut bergabung di sini bu?" ucap Vian dengan senyum dingin. "Sebenarnya tidak begitu penting Pak Vian, ini masalah karyawan part time yang saya bilang kemaren." ujar Bu Cantika menerangkan. "Oh, kenapa Dia? bukannya kata Bu Cantika, Dia sudah tidak berangkat tanpa kabar sepekan ini Bu?" selidik Vian. 'Iya Pak, tapi sepertinya Dia ingin kembali bekerja dilihat dari bicaranya tadi." "Ooh terus Bu Cantika langsung terima begitu saja? melihat kinerjanya tidak Profesional?" tanya Vian. "Baiknya bagaimana Pak vian, sebenarnya Dia pintar dan masakannya Enak Pak, saya juga kadang iba jika melihat Dia." "Apa coba Bu Cantika suruh Dia kesini saja, suruh bawa masakan Dia yang special, saya ingin menilai bagaimana Dia." "Baik Pak Vian. Saya permisi sebentar." ucap Bu Cantika kemudian meninggalkan Vian dan tamu lainnya yang sedang sibuk merencanakan proyek pengembangan usahanya. Bu Cantika pun keluar menghampiri Elsa di ruang karyawan. "Elsa akhirnya Kamu datang lagi? apa sudah selesai liburannya?' selidik Bu Cantika sambil mengamati Elsa. "Elsa tidak liburan Bu, Elsa harus menemani Mama Elsa yang habis di operasi Bu," ucap Elsa polos. "Oww begitu, terus apa tujuanmu datang kesini?' tanya Bu Cantika lagi. "Bu Cantika Elsa minta maaf karenba sepekan ini Elsa juga tidak menghubungi Ibu, karena Hp Elsa juga rusak Bu, ini dipinjami Hp temen Elsa. Jika Bu Cantika masih mengijinkan, ijinkan Elsa agar bisa bekerja di sini kembali Bu, Elsa Mohon." dengan tatapan penuh harap menatap Bu Cantika. "Sayangnya Cafe kita sedang di tinjau untuk bisnis pengembangan Hotel Hercules, Ibu nggak ingin nanti mereka mengganggap karyawan di sini tidak profesional. Tapi..." Bu Cantika berhenti sambil melirik Elsa. "Tapi apa Bu?" tanya Elsa dengan penasaran. "Coba sekarang mumpung ada peninjaunya, Kamu tunjukin kemampuan masak Kamu. Kamu buat mereka berkesan. Jika berhasil mungkin nanti Kamu Ibu ijinkan untuk kembali bekerja di sini. Bagaimana?" "Akan Elsa coab Bu, ada berapa orang Bu di dalam?" "Tinggal 3 orang, jadi cepat ya, nanti kalau sudah, Kamu sekalian atar ke dalam ya!" "Tapi, saya tidak bawa seragam Bu?" tanya Elsa lagi. "Hemmm, Kamu bisa pinjam baju Angel Hanny dulu, biasanya Dia bawa serep. Hanny kesini sebentar Sayang, Kamu pinjami Elsa bajumu dulu ya?" Sambil berjalan masuk ke ruag VIP lagi. "Baik Bu Cantika," kemudian bergegas mengambil baju di loker pribadinya dan memberikannya kepada Elsa. "Duh Han, bajumu kenapa pendek sekali sih?" ucap Elsa yang merasa tak biasa memakai baju Angel hanny. "Hey Sa, namanya juga baju Angel, ya harus sexy kan." ucap Hanny sambil tersenyum menggoda kepada Elsa. "Oya Sa, temenmu yang tampan tadi pamitan pergi dulu, katanya ada emergency gitu, Dia tadi coba hubungi Kamu tapi teleponmu sibuk terus, jadi suruh aku nyampein ke Kamu." "Oh ya Han, makasih ya, untunglah, lagian nggak enak juga kan Dia terlalu lama di sini nungguin aku." ucap Elsa mencoba mengerti lalu bergeas memasak untuk pesanan Bu Cantika tadi. "Dia tadi siapa? pacar Kamu bukan?" tanya Hanny lagi. "Bukan Han, Dia itu temen aku, Dokter Mamaku." ucap Elsa tanpa sadar. "What?? Dokter?? wah pantesan keren banget ya Sa, udah bersih, putih wangi, ganteng lagi." ucap Hanny sambil mbayangin pesona Rendy. "Ah Kamu Han, jangan lebay, Dia sudah punya tunangan." ucap Elsa sambil menahan senyum, karena Dia tak ingin Hannya terlalu berharap, sadar denngan status keadaan mereka yang berbeda dengan Rendy. Akhirnya kurang dari 1 jam, masakan Elsa pun sudah selesai. Dia segera bergegas membawa masakannya ke ruang VIP, sesuai instruksi Bu Cantika tadi. Elsa membawa nampan berisi menu tadi di temani Hanny yang membantu membukakan pintu dan menurunkan makannannya. Setelah makanan dihidangkan Elsa dan Hanny masih berdiri didekat kursi Bu cantika. "Silahkan Pak Vian, Pak Yoga dan Pak Roy mencoba hidangan spesial malam ini," ucap Bu Cantika mempersilahkan. Elsa yang mendengar nama Vian kemudian dengan ragu membuka matanya lebih lebar untuk melihat ke arah lelaki muda di dekat Bu Cantika. "Pak Vian?" ucapnya pelan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN