Vian mengamati Elsa, saat Elsa masuk kedalam ruang VIP. Dia membawa nampan berisi hidangan special dengan pakaian yang menempel erat di tubuhnya. Tatapan mata Vian dingin, dengan senyuman tipis terangkat terkandung banyak maksud di dalamnya. Dia tidak mendengar ucapan Elsa menyebut namanya, tapi saat Elsa mulai mengangkat wajahnya memberanikan diri melihat kearah Vian, Dia pura pura tidak melihatnya.
"Bagaimana Pak Vian hidangan malam ini? Apakah sesuai dengan selera Pak Vian? Pak Yoga bagaimana?" ucap Bu Cantika sengan senyum mengembang kemudian menoleh ke arah Elsa dan Hanny yang masih berdiri di sampingnya.
"Enak Bu, iya kan Pak Vian?" ucap Pak Yoga yang sedang lahap menikmati makanan di depannya.
"Hemmm lumayan, nanti pasti akan saya jadikan pertimbangan Bu," balas Vian kemudian kembali melirik Elsa yang masih menunduk tampak memikirkan sesuatu.
"Terimakasih Pak Vian atas kebijaksanaannya. Dan soal Gadis ini, bagaimana Pak? apa Dia, masih diijinkan bekerja lagi di sini, jika kerjasama Kita sudah berjalan Pak?" ucap Bu Cantika kepada Pak Vian sambil mengarahkan pandangannya kepada Elsa.
"Tentu saja masih bisa Bu Cantika, karena...." Vian menggantungkan ucapannya sambil melihat kearah Elsa.
"Karena apa Pak Vian?" ucap Bu Cantika penasaran.
"Tidak apa apa Bu Cantika, hari ini saya sedang tidak ingin merusak suasana hati saya yang sedang bahagia. Semoga saja, sampai besuk suasana hati saya masih baik, tidak ada yang merusaknya." ucap Vian masih memegang gelasnya masih melirik ke arah Elsa.
"Siapa yang berani merusak suasana hati Pak Vian, iya kan Pak Yoga?" canda Bu Cantika.
"Tentu saja tidak ada yang berani Bu. Andaikan saja ada,siap siap saja karirnya pasti habis." timpal Pak Yoga menambahi sambil tertawa.
"Tapi sepertinya ada Pak Yoga, seminggu yang lalu saja, saya dipermainkan seperti orang bodoh, yang mau saja menunggu kedatangan seseorang, nyatanya sampai sekarang tidak datang." ucap Vian dingin.
"Siapa Pak orang itu? berani sekali, apa tidak tahu kalau Pak Vian waktunya sangat berharga," timpal Bu Cantika.
"Yah begitulah Bu, saya akan lihat besok, bagaimana Dia meminta maaf kepada saya."
"Duch..." Suara Hanny menahan dorongan tubuh Elsa secara tiba tiba.
Tiba tiba nampan yang di bawa Elsa hampir terjatuh, untung saja Dia bisa menahannya kembali, tetapi dengan menempelkan ke tubuh Hanny.
"Elsa, Kamu kenapa?" tanya Bu Cantika yang melihat Elsa seperti terkaget.
"Maaf Bu, tadi kaki saya agak kram Bu, pake sepatu High Heels Hanny yang agak kesempitan." Bisik Elsa merasa sungkan minta maaf kepada Bu Cantika.
"Kalau begitu sini, ikut duduk bersama Kita sambil menyanyikan lagu disini. Kami ingin mendengar lagu hiburan dari Angel di sini Bu Cantika," ucap Pak Yoga sambil tersenyum yang bisa mendengar suara Elsa walau samar.
"Baiklah Hanny,kamu hibur Kita dengan suara merdumu ya Sayang, dan Elsa kamu bereskan meja ini ya!" ucap Bu Cantika dengan bangga.
"Baik Bu, ucap Elsa dan Hanny hampir bersamaan.
"Mari kalo gitu, Kita pindah di meja samping untuk berkarauke bersama Pak," Ucap Bu Cantika sambil berdiiri kemudian berjalan ke arah meja pojok tempat bernyanyi bersama.
Pak Yoga, Roy dan Hanny pun mengikuti Bu Cantika ke pojok ruangan itu.
Elsa kemudian bergegas merapikan meja tempat makan tadi, dengan Vian masih duduk di mejanya sambil mengawasi gerakan Elsa. Dia melihat, Elsa hari ini masih tampak gugup seperti saat pertama kali bertemu di Terapis Jariku. Sama sekali tidak sama dengan ELsa saat malam itu.
'Apa Dia tidak ingat sama sekali kejadian malam itu? kenapa hari ini Dia tidak menampakkan kalau telah terjadi sesuatu diantara Kita? ' batin Vian mulai mempertanyakan.
"Maaf Pak, saya bereskan dulu, apa Bapak memerlukan sesuatu?" tanya Elsa setelah selesai membereskan meja dan akan berjalan keluar. Elsa berusaha menampakkan ketenangannya, walaupun dalam hatinya, Dia sendiri tidak tau, kenapa hatinya terasa berdetak begitu kencang saat di tatap Vian.
"Tidak usah, saya hanya ingin tahu, apakah besok Kamu akan membohongi saya lagi? nona Elsa yang terhormat?" ucap Vian sambil berdiri mendekati Elsa yang berdiri membawa Baki penuh dengan tatapn dingin.
"Saya salah Pak Vian, dan besok saya akan datang untuk pekerjaan saya."ucap Vian sambil menunduk.
"Baiklah, saya akan menunggu dan melihat bagaimana Kamu bertanggung jawab." sambil mengangkat dagu Elsa ke atas agar melihat ke arah matanya yang tajam.
"Ba-baik Pak, saya sudah berjanji, sekarang saya mohon pamit." ucap Elsa masih berusaha menutupi ketakutan dirinya.
Elsa kemudian berjalan keluar, membawa baki berisi barang yang sudah Dia bereskan tadi. Dia sendiri heran, bagaimana bisa Dia merasakan perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, saat bertemu Vian tadi. Hal yang selama ini belum pernah Dia rasakan.
"Bagaimana bisa aku bertemu dengan Dia lagi di sini, perasaanku benar benar aneh." bisiknya dalam hati.
Bu Cantika yang melihat perlakuan Vian kepada Elsa pun merasa penasaran. Bagaimana bisa Pak Vian tampak intens terhadap orang yang baru ditemuinya sekali.
'Apa jangan jangan Pak Vian benar benar mengenal Elsa?' batin Bu Elsa sambil melangkah mendekati Pak Vian yang masih duduk di kursi nyamannya tadi.
"Pak Vian, apa tidak ikut bernyanyi?" tanya Bu Cantika kepada Vian.
"Saya tidak begitu suka Bu," jawab Vian dingin.
"Apa Pak Vian kenal Elsa?" tanya Bu Cantika yang tidak bisa menahan penasarannya.
"Iya. Maaf Bu Cantika sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu saya sampaikan. Sekarang sudah hampir larut, saya pamit dulu." Sambil memberi kode kepada Roy untuk keluar mengikutinya.
"Pak Yoga mau ikut pamit, atau mau bersenang senang dulu?" Ucap Roy kepada Pak Yoga yang sepertinya masih ingin bersenang senang.
"Kalau begitu saya juga ijin pamit dulu Bu Cantika," ucap Pak Yoga kepada Bu Cantika, kemudian segera mengikuti Vian, yang akan meninggalkan ruangan.
Akhirnya, Vian diikuti Roy dan Pak Yoga meninggalkan ruangan itu. Bu Cantika dan Hanny pun segera mengikuti untuk mengantarkan sampai pintu depan.
"Hanny sepertinya sudah tidak ada pelanggan yang datang, jam juga sudah larut, kita tutup aja sekarang," pinta Bu Cantika kepada Hanny.
"Baik Bu Cantika." Hanny pun segera menutup jendela dan pintu di bantu dengan teman yang bertugas.
Saat Bu Cantika Hendak masuk, Elsa keluar dari ruang ganti karyawan.
"Malam Bu Cantika, Elsa pamit dulu, dan apakah saya bisa bekerja lagi Bu?" tanya Elsa dengan penuh harap.
"Tentu saja bisa, Kamu sudah mendengarnya kan tadi." jawab Bu Cantika.
"Terimakasih banyak Bu," balas Elsa sambil menundukkan kepalanya.
"Dan Elsa, Ibu penasaran, apakah Kamu sebelumnya kenal dengan Pak Vian?" tanya Bu Cantika penasaran.
"Pak Vian? yang tadi Bu?"
"Siapa lagi?"
"Elsa tidak mengenalnya Bu, tapi Elsa tahu Pak Vian dan," ucapak Elsa terhenti ragu.
"Dan apa Elsa?"
"Elsa pernah membuat kesalahan kepada Pak Vian Bu, dan Elsa..."
Belum selesai Elsa menjawab, Bu Cantika menerima telepon dari suaminya agar segera pulang karena anaknya demam. Akhirnya Bu Cantika bergegas pulang meninggalkan tempat itu.
Suasana Cafe Star pun sudah sepi, karyawan di Cafe sebagian sudah meninggalkan tempat itu. Elsa tampak berjalan pelan mendekati jalan sambil memainkan HP untuk mencari ojek online, tapi pada jam segitu emang sudah jarang ojek online yang ada.
"Sa, maaf ya aku duluan, hari ini aku minta antar Dion karena motor aku mogok." sapa Hanny kepada Elsa saat melewatinya.
"Tidak apa apa Han, Kamu duluan aja, ini aku lagi pesen ojek kog," jawab Elsa sambil tersenyum.
"Duluan ya Sa, aku antar Hanny dulu." ucap Dion menambahkan sambil tersenyum kepada Elsa.
"Iya sana antar Hanny, aku udah ada yang jemput, Pak ojek hahaa," jawab Elsa sambil diiringi senyum bahagia melihat sahabatnya berdua.
Elsa berjalan pelan sambil membuka Hanphonenya. Tanpa Elsa sadari, karena terlalu fokus di Handphone, ternyata ada seseorang di dalam Mobil Mercedes Benz C-300 mengawasinya.
**