18. Berpelukan

1160 Kata
Saat mobil itu bergegas akan menghampiri Elsa, tiba tiba Roy menghentikan laju mobil yang dia kemudi, ketika Vian mengangkat tangannya untuk menyuruhnya berhenti. "Stop!' ucap Vian. "Ada apa Pak Vian?" tanya Roy belum mengerti. "Sepertinya sudah ada mobil yang menjemputnya," ucap Vian dingin. Tampak di depan mereka Elsa yang sedang duduk di tepi jalan di hampiri mobil Pajero Spot berwarna hitam. Tak lama sesosok Pria bertubuh tegap tinggi pun menghampiri Elsa yang sedang duduk. Dari dalam mobil Vian, terlihat tidak bergitu jelas muka orang itu, tapi Vian dapat menangkap adanya kedekatan diantara mereka berdua. "Apa Pria itu adalah Pria yang bersamanya di Restoran tadi?" tanya Vian beberapa saat kemudian. "Sepertinya iya, tapi saya belum bisa mencari informasi tentang asal usul Pria tersebut Pak." jawab Roy merasa bersalah. "Besok Kamu coba cari info lagi, kalau sudah dapat kasih tau saya." "Baik Pak." "Sekarang Kita kembali saja, besok gadis itu juga yang akan datang sendiri mencariku," ucap Vian dengan senyum tajam. "Siap Pak." Roy pun kemudian melajukan mobilnya melewati Elsa dan Pria itu yang masih berdiri di pinggir jalan. Saat melintasi keduanya, Vian menolehkan pandangannya dan melihat Elsa dan Pria itu saling berpelukan di jalan. Ada perasaan tidak suka yang Vian rasakan saat melihat Elsa dengan Pria itu. Yang pasti itu membuat Vian merasa bertambah kesal terhadap Elsa, bahkan kepada dirinya sendiri. ** Di sisi lain, Rendy yang melihat Elsa duduk sendirian di pinggir jalan itu, kemudian bergegas menghampiri Elsa. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Elsa sendirian di Cafe Star. Tadi saat menunggu Elsa di Cafe itu, Rendy tiba tiba di telepon oleh pihak Rumah Sakit bahwa akan ada operasi emergency yang membutuhkan kehadirannya sebagai dokter anestesi. Rendy kemudian berjalan keluar dari mobilnya dan menghampiri Elsa. "Mas Rendy? kenapa kembali? Hanny bilang Mas ada...." Kata kata Elsa terhenti, saat Rendy tiba tiba datang kemudian memeluk tubuhnya yang dingin terkena angin malam hari itu. Rendi memeluk Elsa beberapa saat sambil mengusap punggung tubuh Elsa. Elsa yang terkaget pun seolah tak bisa menghindari pelukan Rendy yang begitu tiba tiba. Sampai saat dirinya tersadar kemudian menjauhkan tubunya dan mendorong Rendy pelan masih dengan tatapan tak percaya. "Maaf Sa, aku benar benar minta maaf, Aku tidak bermaksud untuk berbuat tidak baik terhadap Kamu." ucap Rendy saat tersadar kalau Elsa mungkin tidak menyukai tindakannya itu. "Eh, iya Mas, nggak apa apa, Elsa ngerti." sambil menundukkan mukanya. "Kamu maafin aku kan Sa?" sambil memegang pundak Elsa yang berdiri di depannya. "Iya Mas, Elsa hanya kaget saja. Elsa ngerti kalo Mas Rendy tidak bermaksud jahat." balas Elsa kemudian menatap wajah Rendy. "Terimakasih Sa. Aku janji tidak akan bertindak gegabah lagi," tambah Rendy meyakinkan Elsa. "Iya Mas, tapi bagaimana Mas bisa kembali kesini? bukannya Mas tadi sudah nitip pamit ke Hanny karena ada operasi?" tanya Elsa penasaran. "Bagaimana aku bia ninggalin kamu Sa, nanti Kamu pulangnya gimana?" jawab Rendy penuh perhatian menatap Elsa. "Aku kan bisa naik taksi atau ojek Mas, Mas Rendy tidak perlu repot repot untuk menjemput Elsa." balas Elsa sungkan. "Enggak repot Sa, aku yang mengantarmu kesini, jadi aku yang bertanggung jawab mengantar Kamu kembali pulang Sa," "Terus operainya Mas?" tanya Elsa lagi. "Operasinya Alhamdulillah berjalan lancar, jadi aku bisa segera kembali untuk menjemputmu." Sambil mencolek hidung Elsa dengan gemas. "Ah Mas, jangan gitu, aku malu, aku kan bukan anak kecil lagi, masak dicolek pas hidung." sambil sedikit menghidar setelah kena colekan Rendy. "He he, habis kamu ngemesin Sa. Jangan ngambek ya! yuk cepat naik, sudah malam." sambil membukakan pintu dan menyuruh Elsa untuk segera memasuki mobilnya. "Makasih ya Mas, Elsa malah ngrepoti Mas Rendy terus." "Ah, enggak Sa, aku seneng kog bisa nemenin Kamu. Terus ini kamu mau diantar kemana Sa? Rumah? atau Rumah Sakit?" tanya Rendy sambil mulai melajukan mobilnya menerjang dinginnya malam. "Elsa pulang kerumah saja Mas, besok Elsa mulai berangkat kuliah lagi. Elsa mau beres beres dulu, udah seminggu ini Elsa tinggal di Rumah Sakit." sambil menundukkan wajahnya kembali. "Kenapa Kamu Sa? Kamu ada masalah?" ucap Rendy yang melihat adanya kegelisahan di dalam wajah Elsa. "Ah, tidak apa apa kog Mas." Sambil tersenyum palsu menatap Rendy. "Kamu jangan senyum kaya gitu, aneh tau," ucap Rendy sambil tersenyum. "Kamu takut sama Dosenmu? atau apa? takut ketemu sahabatmu tadi?" lanjutnya. Elsa kemudian menoleh ke arah Rendy lagi, dia tidak menyangka Rendy bisa membaca apa yang dipikirkannya sampai mendetail, dan ingat tentang Dani di kampusnya. "Sebenarnya iya sih Mas, hehe" jawab Elsa polos sambil tersenyum seperti anak kecil. "Mau aku temenin?" tanya Rendy mencoba memberi kekuatan kepada Elsa. "Eh, nggak usah Mas, Elsa pasti bisa menghadapi ini. Lagian Pak Jerry Dosen Elsa baik kog ma Elsa, paling Elsa dikasih tugas tambahan aja Mas, karena udah bolos seminggu ini." Ucapnya yakin. "Ok syukurlah, Kamu pasti bisa Sa, kalau hanya tugas pasti tidak masalah kan? Oya ini ke arah mana Sa?" tanya Rendy yang belum tau arah rumah Elsa. "Arah Jalan Mawar ya Mas," "Ok Sa, oya kalo Kamu capek, Kamu bisa sambil rebahan Sa, nanti kalau sudah sampai aku bangunin." ucap Rendy yang melihat Elsa seperti kelelahan. "Ahh, enggak kog Mas, Elsa belum mengantuk." ucapnya sambil mencoba melebarkan matanya yang tadi sempat tertutup karena kantuk. "Nggak pa pa, nggak usah malu. Aku jamin nanti selamat dech, sampai tujuan." ucap Rendy menghibur. Elsa yang mencoba bertahan dari kantuknya, akhirnya tertidur juga di perjalanan menuju rumahnya. Hembusan udara AC mobil dan suara alunan musik seperti menjadi mengantarnya tidur. Rendy yang melihatnya pun hanya tersenyum melihat Elsa dan membiarkannya tertidur, dia tau kalau Elsa kecapekan karena sudah seminggu ini Dia menunggui Ibunya di Rumah Sakit. Sesampainya di kawasan jalan Mawar Rendy memulai menjalankan laju mobilnya dengan pelan. Tadi dia belum sempat bertanya mendetail tentang rumah ELsa padanya, sekarang melihat Elsa yang tertidur pulas di sambingnya ada perasaan tidak tega untuk membangunkannya. Saat melewati pos kampling di ujung jalan, Rendy melihat ada sekelompok Bapak Bapak yang sedang Ronda. Rendy pun kemudian turun bermaksud menanyakan rumah Elsa secara detailnya. "Maaf Pak, selamat malam, saya Rendy mau menanyakan rumah Elsa Arneta yang mana ya Pak?" ucap Rendy dengan sopan. "Ow anaknya Ibu Nawang?" jawab salah seorang bapak yang ada di Pos. "Benar sekali Pak," balas Rendy mulai senang karena ada harapan. "Rumahnya yang paling ujung Mas, sebelum ada gapura kanan jalan, nanti ada Rumah cat kuning ada garasinya, ya itu rumahnya." "Terimakasih banyak Pak informasinya, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Rendy kemudian. "Tapi sepertinya, hampir seminggu ini rumah itu kosong mas, Mbak Elsanya nggak pulang." ucap bapak itu lagi. "Iya Pak, Elsa menemani Bu Nawang karena dijadwalkan Operasi kemaren." Balas Rendy. "Kalau boleh tau Mas siapanya? karena jam berkunjung hanya sampai jam 10 malam saja." tanya seorabng bapak lainnya. "Saya tunangan Elsa Pak, kebetulan saya baru pulang dari luar kota, dan saya hanya mau mengantarnya pulang saja, karena ketiduran di mobil Pak," jawab Rendy. Dia sengaja berbohong sebagai tunangannya karena kalau dia bilang hanya teman biasa pasti Elsa dianggap gadis yang tidak bener. Sedangkan jika dia mengaku sebagai saudara, takutnya nanti ada yang mengetahui detail saudaranya akan diketahui kalau dia berbohong. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN