Rendy pun kemudian pamit kemudian masuk mengemudikan mobilnya. Tidak butuh waktu yang lama mencari rumah Elsa. Sesampainya di depan rumah bercat warna kuning dan ada garasinya di depan, Rendy menghentkan mobilnya. Dia menatap wajah polos ELsa sambil tersenyum. Saat tangannya mencoba meraih rambut Elsa dan berniat mengelusnya, tiba tiba ada pergerakan dari tubuh Elsa yang kemudian membuat Rendy mengurungkan niatnya. Tak lama kemudian Elsa tersadar dari tidurnya. Rendy pun segera menarik tangannya ke tempat semula dan melupakan keinginannya.
"Mas, maaf, aku ketiduran ya?" ucap Elsa dengan mata masih terkantuk.
"Iya Sa, baru saja sampai kog." jawab Rendy mencoba menenangkan.
"Mas sudah tau rumah Elsa?"
"Oh, enggak, tadi aku tanya ma bapak bapak yang ada di pos ronda Sa,"
"Kenapa gak bangunin Elsa saja Mas."
"Gak usah di pikirkan Sa, yang penting Kamu sudah sampai dengan selamat kan?"
"Iya, makasih banyak ya Mas, Elsa masuk dulu. Mas Rendy hati hati ya pulangnya. Sekali lagi terimakasih Mas," sambil melemparkan senyum kepada Rendy saat turun dari mobilnya.
Elsa pun kemudian memasuki rumahnya yang sudah satu minggu ini dia tinggalkan di Rumah Sakit. Rumahnya tampak banyak debu dan kotor, dia pun kemudian membersihkan rumahnya itu sebentar, lalu tertidur di kamar kesayangannya.
**
Tak terasa, kuliah hari ini serasa cepat berlalu. Setelah kuliah selesai, Elsa terlihat memasuki ruang Dosennya pak Jerry.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
ketuk Elsa tiga kali.
"Iya silahkan masuk," jawab Pak Jerry di dalam ruangan.
Elsa pun kemudian masuk ke ruangan Pak Jerry untuk menghadapnya, sesuai permintaannya tadi di kelas.
"Oh, kamu Sa, mari silahkan duduk," ucap Pak Jerry sambi mengarahkan tangan ke kursi depan mejanya.
"Terimakasih Pak, maaf saya baru bisa menghadap Pak Jerry."
"Oh iya, sebenarnya ada apa Sa? Kamu di sini kan masuk di jalur beasiswa berprestasi, tapi kenapa Kamu kemaren tidak masuk seminggu lebih? Dan tanpa ada keterangan jelas. Kamu tahu kan apa akibatnya?" Pak Jerry berbicara sambil menopang dagu dengan tangan sambil menatap mengamati Elsa dengan serius.
"Elsa mengaku salah Pak, maka dari itu, saya mau memperbaiki kesalahan saya. Apa Elsa masih diberi kesempatan Pak?" tanya Elsa serius dengan mimik muka memohon.
"Kalau saya memberi kesempatan kepada Kamu, dan ada penerima beassiswa lainnya yang tau sampai laporan ke Dekan, pasti akan timbul masalah Sa. Tapi..." Pak Jerry menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa Pak?" sahut Elsa penasaran, mengharapkan suatu keajaiban.
"Kalau sampai ada yang melaporkan kamu, kamu pasti sudah kehilangan beasiswamu Sa. Kita tidak tahu kan, siapa tau ada yang tidak suka dengan kamu. Tapi Kamu bisa mengganti ketidakhadiranmu selama seminggu kemaren dengan laporan kerja lapangan. Kebetulan, saat ini prodi kita sedang ingin membuat penelitian tentang IT perusahaan EXVO. Karena begitu melesatnya perusahaan itu sehingga bisa menjadi perusahaan pemberi Saham terbesar di Kota kita. Kalau kamu bisa menyajikan laporan tentang perusahaan EXVO dengan baik, dan mendapat pengesahan dari Direktur utamanya, maka beasiswa kamu akan terus kita berikan Sa, walaupun ada catatan merah tentang bolosmu selama seminggu kemaren. Bagaimana?" terang Pak Jerry kepada Elsa.
"Perusahaan EXVO pak? sepertinya sudah ada banyak yang menyajikan laporan tentang perusahaan itu kan Pak?" tanya Elsa karena dia sering menemui bacaan tentang perusahaan tersebut.
"Iya banyak, tapi selama ini tidak ada yang bisa mendapatkan legalitas dari Direktur utamanya , jd ya, hanya terpajang di perpustakaan prodi kita saja karena dianggap laporan tidak syah," ujar Pak Jerry menanggapi.
"Apa begitu susah Pak? untuk mendapatkan legalitasnya?" tanya Elsa lagi.
"Dulu saya pernah bertemu dengan Direktur Utamanya, beliau orang baik dan terbuka. Tapi sekarang perusahaan itu di alihkan ke anaknya, untuk melindungi data mereka, setiap orang yang melakukan penelitian disana harus melalui beberapa ujian dahulu untuk mendapatkan legalitasnya, dan itu tidak mudah."
"Apakah sudah ada yang berhasil Pak?" tanya Elsa yang masih penasaran.
"Ada 3 orang, yang satu adalah seorang wanita, kalau tidak salah Amanda namanya, tapi sekarang sudah berpindah profesi sebagai seorang model di luar negeri. Satunya lagi bernama Barra, sekarang dia bekerja di perusahaan EXVO juga bagian IT. Dan yang satunya Bapak lupa, karena dia menyembunyika identitasnya sendiri." Terang Pak Jery lagi.
"Kalau begitu Elsa akan berusaha Pak, demi beasiswa saya." ucap ELsa berusaha meyakinkan.
"Bagus Sa, Bapak suka dengan semangatmu. Jika kamu bisa menyelesaikan laporanmu ini, Bapak jamin kedepannya Kamu bisa menjadi orang sukses, bahkan mungkin bisa menjadi bagian dari perusahaan itu," ucap Pak Jerry senang,
"Amiin Pak, Elsa akan berusaha." jawab Elsa kembali bersemangat.
"Baiklah, kalo begitu kamu bisa kembali, bapak akan mengajukan namamu agar bisa di setujui oleh Dekan, selanjutnya jika ini disetujui, selama satu semester besok kamu magang di EXVO. Kamu harus gunakan waktumu baik baik, karena dari lima kandidat yang kita ajukan hanya tiga yang diijinkan, mengerti?" tanya Pak Jerry lagi.
"Mengerti Pak, Elsa tidak akan mengecewakan Bapak. Kalau gitu Elsa mohon pamit Pak."
Elsa pun kemudian melangkah keluar sambil memikirkan banyak hal di kepalanya. Dia harus bisa mendapatkan laporan kerja ini, jika tidak, dia harus siap siap menanggung biaya kuliahnya sendiri karena yang pasti beasiswa kuliahnya akan di cabut.
Ketika Elsa hendak meninggalkan kampus, dia melihat ada Dani yang sedang duduk di taman. Elsa pun mengayunkan langkahnya untuk menghampiri Dani.
"Hey Dan, kebetulan kamu ada di sini, aku mau bertanya sesuatu." sapa Elsa kepada Dani kemudian duduk di kursi sebelahnya.
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Sa," ujar Dani kemudian berdiri ingin meninggalkan Elsa.
"Dan, Kamu kenapa? Aku minta maaf soal kemaren Dan, aku..." ucapan Elsa terhenti ragu melihat Dani yang berubah sifatnya kepadanya.
"Cukup Sa, aku sibuk, aku sudah mengerti sekarang! jadi jangan ganggu aku lagi." tangkis Dani masih dengan wajah penuh kekecewaan.
"Kamu mengerti apa Dan?" sambil memegang satu tangan Dani yang dapat digapai oleh tangannya.
PLAK,
"Hey kamu! beraninya kamu! lepasin tangan tunangan saya! jangan ganggu dia lagi!" ucap Sarah yang tiba tiba datang kemudian menamp*r Elsa tepat di pipinya.
Elsa pun terkaget sambil memegang pipinya yang meninggalkan tanda merah bekas di tampar Sarah. Mereka pun jadi pusat perhatian orang orang yang sedang duduk di taman itu. Netra mata Elsa pun sedikit berubah, seperti mengundang air matanya untuk berkumpul menjadi satu.
"Sarah, aku tidak bermaksud..." Elsa pun mencoba mengeluarkan kata kata untuk menjelaskan kepada Sarah.
"Tidak bermaksud katamu?" sebelum kata kata Elsa selesai, Sarah pun menimpali dengan ucapannya sambil mengangkat tangannya lagi ingin menampar Elsa untuk kedua kalinya. Tapi kemudian tangan Dani menahannya.
"Sarah cukup, lebih baik kita pergi dari sini," ucap Dani, kemudian merangkul tubuh Sarah dan meninggalkan Elsa yang masih berdiri terpaku ditempatnya.
Elsa pun tak bisa menahan air mata yang membasahi pipinya, seolah olah air matanya ingin mendinginkan pipinya yang terasa terbakar setelah ditampar tadi. Dia tidak menyangka, Dani yang sudah menjadi sahabatnya begitu lama, sekarang tiba tiba sikapnya berubah. Selama ini Dani tidak pernah mengatakan sedang sibuk saat bersama Elsa. Walaupun Dani benar benar sibuk, pasti dia tetap menyempatkan waktunya kepada Elsa.
'Mungkin ini semua juga karena salahku, Dani juga sudah menjadi Tunangan Sarah, tidak seharusnya aku masih merepotkannya' bisik Elsa pelan.
**