Jam sudah menunjukkan jam 4 sore, tapi langit sudah terlihat begitu gelap. Setelah kejadian tadi di taman, Elsa memutuskan untuk mencari informasi sendiri tentang perusahaan EXVO sendiri melalui buku buku di perpustakaan dan juga komputer online perpustakaan. Tak lupa Elsa pun kemudian meminjam salah satu buku sebagai referensinya membuat laporan nantinya.
Sebenarnya Elsa berniat untuk pulang dahulu untuk mandi dan berganti baju baru menuju tempat Vian. Tapi karena sore ini terlihat mendung, Elsa mengurungkan niatnya. Dia kemudian hanya mengambil baju ganti di lokernya kemudian bergegas pergi agar tidak kehujanan.
"Untung saja masih ada baju ganti disini," ucapnya pada dirinya sendiri. Sejak dulu, Elsa mempunyai kebiasaan meninggalkan baju ganti di loker, karena kesibukannya bekerja di Terapis Jariku dan Cafe Star, jadi dia bisa langsung menuju tempat kerjanya tanpa pulang dulu kerumah. Paling tidak ini bisa menghemat ongkos perjalanannya.
Sore ini Elsa menaiki ojek menuju rumah Vian sesuai lokasi yang telah dikirimkan oleh Pak Tommy di WA.
"Pak saya sudah sampai. Benar ini tempatnya?'"Elsa mengirimkan pesan dan juga foto yang dia ambil kepada Pak Tommy.
"Iya Sa, benar itu. Jaga sikap ya." terlihat tulisan balasan Pak Tommy di layar.
"Iya Pak, Terimakasih," balas Elsa lagi kemudian memasukkan Handphone nya ke saku celananya.
Elsa pun kemudian menekan bel di apartemen mewah itu.
Ting Tong...
Tak selang lama pintu pun terbuka, Elsa dengan hati berdebar campur takur menarik nafasnya dalam dalam. Tampak seorang pria tinggi keluar dari dalam, "Oh Mbak ini.." ucap Roy sengaja menggantung.
"Saya Elsa dari Terapis Jariku, apa benar ini rumah Pak Vian?" ucap Elsa sambil mencoba menenangkan sikapnya. Dia seperti telah mengenali sosok yang berada didepannya ini sebelumnya, tapi tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Oh kamu tunggu di ruang tamu dulu, Pak Vian baru saja pulang dan sedang membersihkan badannya di kamar. saya akan memberitahunya kalau kamu sudah datang." ucap tyo sambil mempersilahkan Elsa duduk di sofa ruang tamu yang empuk itu.
"Baik Pak, apa saya boleh pinjam kamar mandi Pak?" ucap Elsa ragu, tapi demi kenyamanannya dia memberanikan diri. Kalau dia memijat Pak Vian dengan kondisi tubuh tidak segar pasti nanti akan ada komplain bukan.
Roy tidak segera menjawab pertanyaan Elsa, tapi dia mengamati ELsa yang tampak kusut itu. "Apa kamu belum mandi?" tanyanya dengan penuh kecurigaan.
"Saya tadi buru buru dari kampus Pak, jadi saya tidak sempat mandi keburu hujan," ucapnya polos.
"Pak Vian paling memperhatikan kebersihan, jangan sampai kamu terapis dia dalam keadaan kotor, kamu bisa gunakan kamar di pojok itu, tetapi cepatlah," balas Roy lagi.
"Baik, terimakasih Pak, saya akan cepat." sahut Elsa kemudian memasuki kamar pojok yang ditunjukkan oleh Roy.
Roy pun mengirimkan pesan kepada Vian kalau Elsa telah datang ke Apartemen dan sedang menggunakan kamar pojok untuk membersihkan diri. Vian pun kemudian keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dan duduk di sofa menunggu Elsa hanya menggunakan handuk model kimono tebal berwarna biru dongker.
Elsa pun kali ini mandi dengan cepat kemudian memakai baju ganti yang dia bawa. Karena tidak membawa sabun, Elsa tadi menggunakan sabun yang ada di kamar mandi itu. Dia kemudian mengikat atas rambutnya dan terburu buru untuk keluar. Tanpa dia sadari, Elsa meninggalkan baju kotor yang dia pake tadi dan juga buku perpustakaan yang dia pinjam di kamar itu.
Saat sampai di ruang tamu, dia melihat ada sesosok pria tampan yang sedang duduk menonton televisi. Ada perasaan kagum yang muncul dari dirinya menatap ke Vian.
"Kamu sudah selesai?" ucap Vian yang berhasil membangunkan lamunan Elsa yang telah terpana menatap Vian.
"Sudah Pak, maaf tadi saya terburu buru dari kampus langsung kesini takut keburu hujan," jawab Elsa menerangkan.
"Terus, apa Pak Tommy yang menyuruhmu mandi disini?" sambil melirik Elsa dengan tatapan dingin.
Deg
Hati Elsa tiba tiba terkaget, 'Apa ini akan membuat orang ini marah?' batinnya meronta.
"Tidak Pak, Tidak ada hubungannya dengan Pak Tommy, tadi saya yang minta ijin kepada Bapak yang tadi untuk pinjam kamar mandi dan sudah diijinkan Pak," jawab Elsa merasa bersalah.
"Dan apa sudah ijin juga sudah menggunakan sabun mandi di kamar itu?" sambil menoleh kepada Elsa sambil tersenyum sinis.
"Maaf Pak, untuk itu saya yang salah tidak ijin sudah menggunakan sabun di kamar mandi itu, karena saya lupa bawa sabun Pak, saya benar benar minta maaf Pak, saya mohon." ucap Elsa menyesal.
"Nama kamu siapa?" tanya Vian dingin.
"Elsa Arneta Pak." jawab Elsa singkat.
"Elsa Arneta, kamu kesini untuk mempertanggungjawabkan keteledoran kamu karena telah merusakkan laptop yang berisi dokumen penting bukan? tapi pertama kali kamu kesini kamu sudah akrab sepertinya disini, sehingga sesuka hati menggunakan barang barang yang ada. Hebat juga ya?" ucapnya sinis sambil menatap intens pada Elsa.
Dalam ingatannya ini seperti bukan Elsa yang pernah bersamanya malam itu. Elsa malam itu sangat buas dan menggoda, tapi sekarang terlihat hanya seperti anak kecil yang takut di ambil mainannya. 'Apa dia benar benar tidak mengingat kejadian malam itu?' desis Vian di dalam hatinya.
Elsa yang merasa takut dan bersalah sudah kehabisan kata kata untuk membela diri, dan dia hanya bisa pasrah terhadap nasibnya.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud, saya berjanji tidak akan mengulangi," ucapnya dengan mengeluarkan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam dirinya, dengan menahan air matanya yang hampir keluar.
"Saya paling tidak suka melihat wanita menangis, dan saya juga paling tidak suka jika ada orang yang tidak menepati janjinya. Kamu mengerti?" sambil melangkah mendekati Elsa.
Elsa yang ketakukan mengambil langkah mundur, sampai tubuhnya terhenti karena ada tembok yang menghalangi langkahnya kebelakang.
"Kamu tidak usah takut, kalau Kamu benar benar ingin menepati ucapanmu, kira kira sampai berapa lama Kamu bis abertahan bekerja untuk saya di sini?heh?" tanya Elsa sambil memegang dagu Elsa dan mengangkatnya sedikit ke atas.
"Sampai gaji saya cukup untuk mengganti Laptop Bapak." jawab Elsa yang ketakutan.
"Dilihat dari gajimu di Terapis Jariku, paling tidak butuh 3 tahun agar uangnya cukup, apa itu tidak terlalu lama?" ujar Vian lagi sambil melepaskan tangannya tadi yang memprovokasi Elsa.
"Saya akan mencari kerjaan tambahan lagi Pak, agar tidak sampai selama itu," balas Elsa lagi berusaha meyakinkan.
"Kerjaan apa? apa aku punya waktu untuk menunggu uang recehmu itu? Tapi aku punya penawaran untukmu. Kalau kamu mau nanti Roy akan mengantarkan perjanjian tertulis untuk itu agar kamu tidak seenaknya mengingkari janjimu," tegas Vian lagi dengan menunjukkan senyum tipisnya yang penuh dengan rencana.
"Apa itu Pak? kalau saya sanggup, saya pasti bersedia." Menjawab sambil sesekali melihat Vian yang berdiri didepannya sambil menopang kedua tangannya kedepan.
"Benarkah?" sambil melihat Elsa dengan ragu.
"Iya Pak," jawab Elsa mencoba meyakinkan kembali.
"Kalau begitu, jadilah pembantuku!"
**