[Malang, 21 Juli 2008]
Seorang gadis berkuncir ekor kuda duduk disudut ruang. Kepalanya menunduk sempurna, meratapi meja-meja kayu yang penuh dengan coretan-coretan angka. Ia sadar, seluruh mata kini berbisik menatapnya. Ah tidak-tidak, bukan padanya, melainkan pada bekas luka merah yang melingkar dilehernya.
“Bekas zombie!” seloroh seorang gadis berambut pendek dengan suara yang sengaja dikeraskan. Gadis-gadis lain yang melingkar disekitarnyapun segera tertawa.
“Tapi kalau zombie kan bekas gigitannya gigi, bukan gitu.”
“Terus apa dong?” tanya gadis yang sama, “Monster? HAHAHA!”
Gadis disudut ruang itu menunduk lebih dalam, mencoba sekuat tenaga menghalau airmatanya yang siap jatuh kapan saja. Dadanya menyesak, jemarinya bergetar hebat. Gadis kecil itu ketakutan. Belum lagi, kepalanya tiba-tiba membayangkan kejadian dua tahun silam. Kejadian yang membuatnya pergi sejauh ini dari rumah. Tangan kanan gadis itu jatuh lunglai, merogoh saku tas pink yang baru saja ia beli semalam, tempat kantong kertas dilipat rapi oleh bunda. Ia sudah tidak tahan, ia harus pergi dari neraka berbentuk ‘kelas baru’.
“Eh-eh, jangan gitu dong! Lihat, nangis dia.”
“Serius nangis? Wah, monster juga bisa nangis ya?”
“Wow, iya-ya. Kok monster bisa nangis ya? Monster jenis apa ini?”
“Siapa sih nama dia?”
“Tau deh.” Ujar gadis berkepang dua sembari menggedikkan bahu, “Tadi pagi main masuk kelas gitu aja.”
“Ah, yang katanya Bu Rina itu kali?”
“Apa?”
“Oh, yang anak pindahan itu? Yang tinggal di Panti Asuhan itu?”
“Anak-anak yang nggak punya orang tua serem ya ternyata.”
“Iya, makanya, mama ku nggak pernah ngebolehin kalau main sama anak panti.”
“Bener-bener monster sih.”
Gadis berambut pendek yang sedari tadi memimpin percakapan itu, berjalan mendekati sang gadis di sudut ruang. Langkahnya begitu mengintimidasi, membuat detak jantung sang gadis berdegup kencang seiring dekatnya jarak mereka. Gadis berambut pendek itu duduk tepat dihadapannya, “Hai, monster. Namaku Deva, namamu?”
“Eh, kok nama sih? Monster ya jenis dong!” protes seorang anak lelaki berambut cepak.
“Ah, iya jenis.” Balas Deva menyetujui, “Kamu monster jenis apa?”
Kinan mengepalkan tangannya. Tidak, bukan ingin memukul gadis kurang ajar didepannya. Hanya saja, ia tidak ingin menyembunyikan ketakutannya dibalik genggaman.
“Tuli kali, Dev!”
“Di film-film sih, monster nggak bisa bicara.”
Sementara itu, dari bangku barisan tengah, seorang lelaki mungil yang sedari tadi menenggelamkan kepalanya diantara puing mimpi semalam, memutar kepala menatap sinis dua gadis disudut belakang kelas. Ia menghela nafas, lelah harus menghadapi hal-hal seperti ini dihari pertama kelas duanya.
Ia memutuskan untuk bangkit, menatap tajam Deva dengan sudut matanya yang runcing, “Nggak ada kerjaan?” tanyanya.
“Eh, J-Johan.”
Lelaki yang dipanggil Johan itu diam saja, tidak menanggapi. Matanya malah makin memicing, seolah siap membantai siapa saja yang berani berkedip dihadapannya. Sebenarnya, ini adegan klise. Bagaimana bisa seorang lelaki sependek itu melawan Deva yang selalu menyombongkan kebongsorannya? Jawabannya sederhana, Deva menyukai Johan. Sejak studytour semester lalu.
“Nggak ada kerjaan?” ulang Johan.
Deva bangkit, memainkan ujung roknya, mendadak gugup, “A-aku Cuma mau kenalan kok, Han.”
Johan tertawa kecil, “Kenapa? Habis lihat dia kamu takut kalah saing?”
“Kalah saing apa?” sentak Deva tak mau kalah. Bibirnya mulai digigit-gigit kecil demi menghalau tangis.
“Soalnya dia lebih cantik.”
Kaki Deva mendadak kehilangan keseimbangan. Ia mundur selangkah.
“Iya, kan?” lelaki itu mengendus, dan mendudukkan tubuhnya tepat disebelah sang gadis. Dengan dua tepukan tangan, ia memanggil lelaki berambut cepak yang sudah berdiri kaku ketakutan, “Zal, aku gak jadi duduk disana. Pakai aja. Aku mau duduk disini. Sama monster cantik.”
---
Pelajaran olahraga berakhir lebih cepat. Semua murid kelas 2-B sudah duduk ditempatnya masing-masing bersama sekotak bekal dingin dan sebotol s**u aneka rasa. Johan celingukan, gadis yang sebulan ini duduk disampingnya tak kunjung datang. Selalu seperti ini setiap selesai kelas olahraga. Gadis itu mendadak telat masuk kelas, bersembunyi, entah dimana.
Entah apa yang menggugah Johan, lelaki itu bangkit. Menyusuri lorong-lorong sekolah, mencari keberadaan sang gadis yang sebenarnya ia mulai lupa siapa namanya.
Hingga tepat didepan pintu ruang ganti perempuan, suara isakan lirih terdengar begitu menyayat hati. Johan terdiam sejenak, ia tidak pernah memperdulikan hal-hal seperti ini sebelumnya. Tapi begitu mendengar tangisan itu, ia tiba-tiba teringat malam-malam yang harus ia habiskan dalam tangisan bisu ketika sang mama mulai membanding-bandingkannya.
“Apa memang hidup anak kelas dua SD ditakdirkan seberat ini?” tanyanya entah pada sesiapa.
Ia memilih duduk dianak tangga, jalan yang paling mungkin dilewati sang gadis ketika tangisnya mulai pudar.
Menit berlalu begitu lambat, pintu ruang ganti perempuan pun akhirnya terbuka. Johan menoleh, menatap mata basah sang gadis yang terkejut melihatnya. Johan diam saja, sengaja tidak bertanya. Ia tersenyum tipis, begitu tipis hingga meruntuhkan kesedihan lain di mata Kinan.
Gadis itu menghela nafas dalam, meremas kantong kertasnya, “Kamu nungguin aku?
Johan mengerjap, mendadak mencoba merangkai kata untuk mengilah, “Enggak.” Jawabnya singkat.
“Oh, yaudah.”
Entah apa yang ia pikirkan, gadis tak berperasaan itu melewatinya begitu saja. Membuat Johan merasa menit-menit yang berlalu tidak lagi berguna. Padahal ia sudah datang sejauh ini untuk hanya menghiburnya.
“Kamu nggak kekelas?”
“Kekelas.” Jawabnya cepat.
“Ayo, barengan.”
“Kamu masih digangguin sama Deva?” tanyanya tiba-tiba.
Gadis itu mengangkat alisnya terkejut, “A-apa? Enggak kok.”
“Kalau nggak ada aku, Deva sama geng nya suka gangguin kamu ya?”
Gadis itu terdiam, tidak tau harus menjawab apa. sudut hatinya gengsi. Ia tidak boleh terus menerus dibawah perlindungan Johan. Itu akan membuat Deva semakin senang merundungnya.
“Karena aku ya?”
“E-enggak kok, Johan.”
“Terus? Karena bekas lukamu? Mereka memanggilmu monster karena itu?”
Gadis itu menunduk, lantas mengangguk lamat-lamat.
“Nan.” panggil Johan lembut, “Memangnya kamu monster? Memangnya kamu seburuk yang mereka katakan? Nggak, Nan. Kamu lebih dari mereka. Tapi kenapa kamu diam aja? Kenapa kamu nunduk? Kamu nggak salah.”
Air mata Kinan jatuh tipis, “Tapi, aku juga benci dengan luka ini Johan.”
Mendengar itu, Johan tersentuh. Selama ini gadis itu bukan kalah, tapi ia memilih untuk menerima semua karena ia merasa apa yang dikatakan orang-orang benar.
Johan berdiri, menjajari pandangan Kinan, “Apa kamu merasa, luka itu kelemahan mu?”
Untuk pertama kalinya, Kinan mendongak, memberanikan diri menatap lawan bicaranya dan mengangguk tipis.
Tangan Johan bergerak menarik pelan kuncir kelinci kuning tua yang mengikat tinggi rambut Kinan. Seketika, rambut hitam legam itu terurai sempurna. Jemari Johan segera bergerak cepat, membenarkan letak anak rambut Kinan, “Kalau begitu, kamu punya menutupinya. Jangan biarkan orang tau tentang luka itu. Panjangkan saja rambutmu dan anggap luka itu tidak pernah ada.”
Mata bening Kinan mengerjap, mencatat tebal-tebal ucapan Johan.
“Jangan menunduk didepan siapapun. Kamu nggak salah apa-apa. Kembali kekelas, dan berusahalah jadi Kinan yang lebih kuat. Lihat mata semua orang yang bilang kamu kaya monster, buktikan bahwa mereka salah. Kalau perlu, ajak kelahi sekalian. Aku dibelakangmu. Aku bantuin kamu.”
“J-Johan,” panggil Kinan lirih, “Terimakasih.”
“Jangan makasih dulu, kamu harus berubah jadi Kinan yang lebih baik dulu baru berterimakasih. Kamu harus kuat nan. Kalau kamu jatuh kemarin, bangkitlah hari ini. Karena yang membedakan kita, hanyalah soal seberapa kuat bangkit setelah jatuh.”
Kinan mengangguk cepat, mengamini semua perkataan Johan.
“Senyum, dong.” Pinta Johan.
Malu-malu, gadis yang matanya masih basah itu tersenyum kecil.
“Nah, gitu.” Puji Johan, “Eh iya, aku ada permen cokelat.” Ujarnya sembari mengeluarkan dua bungkus permen cokelat dari dua saku celana merahnya. “Mau yang mana? Ini chocomint, ini choco aja.”
Kinan menatap dua permen cokelat itu, ia nampak berpikir, “Yang itu.”
“Yang mana?” tanya Johan heran, “Yang pertama atau yang kedua?” tanyanya sembari mengangkat kedua tangannya bergantian.
Gadis manis itu tersenyum, “Yang ketiga.” Ujarnya, “Yang ketiga, aku mau jadi temennya yang punya permen cokelat.”