BAB 1: POLA KALIMAT
Sekolah Menengah Atas, latar belakang dari setiap cerita cinta yang dibalut seragam putih kelabu, topi, dasi dan bahkan sabuk hitam yang selalu hilang dua jam sebelum upacara bendera. Tapi sayangnya, riuh merah jambu itu hanyalah bualan dongeng pengantar tidur. Sekolah sebenarnya tak lebih dari tempat berkumpulnya jiwa-jiwa murung yang terkungkung dibalik buku-buku tebal, rantaian peringkat ujian, dan harapan gemilang masa depan.
Pagi ini, diantara beriak cahaya mentari yang berpadu dengan riuh tawa sebelum pelajaran pertama dimulai, seorang lelaki dengan hoodie abu-abunya berjalan gontai. Sesekali, kakinya dengan sengaja menyapa dedauan kering yang luput dari runcing sapu lidi. Ia selalu membenci hal-hal yang rapuh, entah itu daun menguning atau lukanya yang tak kunjung kering.
Seiring dengan nafasnya yang kian memberat, lelaki itu menghentikan langkah dipersimpangan koridor. Matanya bergulir kesembarang arah mencari sesuatu –yang sebenarnya ia sendiri masih ragu. Setelah sekian detik pencarian kosong, manik matanya menangkap seorang gadis berambut panjang yang sedang menatap hampa papan majalah dinding. Wajah gadis itu nampak lebih bersahabat daripada keramaian asing disekelilingnya.
“Permisi.” Ucapnya lirih.
Gadis berambut panjang itu menoleh sedikit terkejut, “Iya?” jawabnya sembari mengibarkan senyum.
“Ruang guru dimana ya?”
Mendengar pertanyaan itu, mata cokelat sang gadis menjamah ragu ke tiap badge yang dijahit serampangan pada seragam lelaki dihadapannya. Anak baru, begitu pikirnya. “Lurus aja habis itu belok kiri.” Ujarnya sambil menunjuk koridor paling muram disekolah ini, “Mau aku antar, dek?”
Lelaki itu tersenyum tipis saat mendengar panggilan yang dihaturkan untuknya, “Nggak usah, terimakasih.” tolaknya halus.
Berkawan dengan berpasang-pasang mata penasaran dan bisik-bisik lirih, ia kembali melangkahkan kaki keujung telunjuk sang gadis. Koridor ini benar-benar semuram yang dilihat. Dindingnya penuh dengan nilai-nilai semester, pengumuman remidi, selebaran perguruan tinggi dan hal-hal memuakkan lainnya.
Lelaki yang terus berjalan gontai itu akhirnya memaku tubuh diambang pintu ruang guru. Ruangan yang dihiasi seragam batik PGRI ini ramai riuh. Disudut ruang, dipangkuan sofa cokelat tua yang bagian tengahnya mengangga, sekelompok guru dengan kening berkerut-kerut melingkar berdiskusi. Disampingnya, dua orang berbalut almamater kampus ternama terlihat sedang susah payah menuangkan teh racikan ke gelas-gelas kaca. Diujung lain, beberapa guru berjajar menatap papan putih yang bertuliskan ‘jadwal bimbel kelas 12’ dan mengeluh panjang. Sedang sisanya, sedang duduk menyebar dengan kepala menunduk dalam dan berkacamata tebal diantara tumpukan-tumpukan buku tugas, lembar ulangan hingga mekanisme pengembangan silabus.
Lelaki itu berjalan mendekati seorang guru yang nampak sibuk memeriksa tumpukan bola dibawah mejanya. “Selamat pagi, permisi pak.” sapanya, “Saya siswa pindahan-”
Guru itu menatapnya sejurus, “Pindahan?” potongnya cepat.
“Dari Kuda Putih.”
Seketika guru itu melonjak sumringah, “Loh, Alan? Alan Kuda Putih?”
Mata Alan sekilas jatuh pada sepasang kakinya, “Iya, pak.” Jawabnya singkat.
“Loh, kok sudah masuk? Coachmu bilangnya baru masuk minggu depan.”
“Sudah baikan, Pak.”
Guru itu mengangguk-angguk paham, “Syukur kalau begitu. Ya sudah, sekarang kamu ke Pak Nur sana!” Perintahnya sembari menunjuk seseorang berbalut jaket kulit hitam dengan dagu. “Pak Nur, muridmu!” ujarnya setengah berteriak.
Pak Nur yang sedari tadi asyik melantunkan nada-nada dengan gitar dipangkuannya mendongak penuh senyum. Alan yang merasa diberi lampu hijau untuk menyudahi percakapan pun segera berpamitan pergi.
“Selamat pagi, Pak. Saya Alan, murid baru.”
“Selamat pagi, Alan. Saya Nur Rochmad, guru lama.”
Alan terdiam sejenak mendengar jawaban guru yang terus mendentingkan senar gitar itu. Tangannya mengusap tengkuk gugup, tidak tau harus berkata apa lagi.
“Kamu bisa main gitar?” tanya Pak Nur memecah kebingungan pada raut murid dihadapannya.
“B-bisa, Pak.”
Pak Nur tersenyum penuh, jemarinya mengepal menuntut tepukan. Alan mendadak salah tingkah. Dengan ragu, ia menepuk pelan tangan sang guru.
“Oke! Selamat kamu diterima masuk kelas saya.” Gurau pak Nur, “Sekarang ayo kekelas. Hari ini jam pertama matematika, teman-temanmu harus diajak senam pagi dulu biar nanti gak ketiduran.”
Pak Nur segera menggendong gitar akustiknya dan berjalan mendahului Alan yang masih berusah mengurai keadaan. Bak artis ibukota, sepanjang perjalanan, tapak kaki Pak Nur diiringi dengan sapa manis dari murid-murid yang berlarian keluar hanya demi menyambutnya.
Ditengah lambaian elegan dan dentingan jenaka dari gitar Pak Nur, Alan yang berjalan dua langkah dibelakang terus mencoba menerka tentang siapa sosok guru dihadapannya.
“Gimana?” tanya Pak Nur tiba-tiba.
Alan mengernyit heran, “Gimana apanya, Pak?”
“Saya sudah keren belum dimatamu?”
Lelaki itu meringis kecil, tidak ingin menjawab. “Pak Nur guru musik?” tanya Alan mencoba melepas kecanggungan.
“Guru?” Pak Nur mencebik, “Bukan. Saya ini Rocker!”
Alan lagi-lagi meringis, tidak tau harus merespon seperti apa.
“Iya benar, saya Guru, Guru bahasa Indonesia yang kebetulan jadi walikelasmu. 12 MIPA 7” Ujar Pak Nur dengan nada lebih serius, “Jangan kaget kalau saya atau guru-guru disini nggak se-branded guru-guru disekolah lamamu. Tapi meski begitu, kami selalu berusaha yang terbaik.”
“Branded Cuma covernya kok, Pak. Sisanya cuma buat formalitas.”
“Bagus dong buat Formalitas. Daripada formalin, buat ngawetin mayat! Hahaha!” Ujar Pak Nur setengah tertawa.
Langkah mereka terjeda didepan kelas yang berada dikoridor paling sepi sekolah ini, koridor kelas dua belas. “Ini kelasmu.” Ujar pak Nur, “Dari sini, lurus terus belok kiri sedikit ada jalan tikus, kalau kekanan keparkiran sepeda, kalau kekiri ada gerbang kecil buat bolos. Saran saya, kalau mau bolos habis istirahat pertama aja, biar sudah tercatat absennya. Oke?”
Alan sedikit tercengang mendengar penjelasan Pak Nur, “B-baik, pak.”
Pak Nur tersenyum dan menepuk bahunya, “Yuk, masuk!”
Dengan langkah dibuat semenarik mungkin, Pak Nur berjalan masuk sembari menjentikkan gitar dengan irama-irama ceria. Sorak sorai murid-murid yang sedari tadi duduk tegang melatih otak dengan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi mendadak ramai memenuhi ruang. Konsentrasi yang sudah dibangun susah payah dengan mudah tergantikan oleh gema tawa ceria.
Pak Nur mengangkat tangannya meminta seluruh usikan suara itu terdiam. Tangannya merangkul bahu Alan, “Hari ini saya membawa teman satu spesies kita yang datang dari jauh. Dari Paris. Iya Paris, tapi Van Java.” Gurau pak Nur, “Kepada saudara sebangsa dan setanah air kita, waktu dan tempat kami persilahkan.”
Alan terdiam sejenak, menatap wajah-wajah penasaran yang menunggunya bicara. Tiba-tiba, matanya tak sengaja menangkap gelagat seorang gadis berambut panjang yang sedang kelimpungan menyembunyikan wajah dibalik kepala-kepala. Alan menyungingkan senyum, gadis itu pasti sedang menahan malu karena pagi tadi dengan penuh percaya diri memanggilnya ‘Dek’.
“Perkenalkan nama saya Alan Maulana, pindahan dari SMA WHIFA Bandung.” Ujarnya singkat.
Berpasang-pasang mata dihadapannya berkedip heran. Beberapa diantara mereka nampak berbisik-bisik kecil membicarakan sesuatu dibalik telapak tangan. Pak Nur yang menyadari keheningan canggung itu segera buka suara, “Oke manusia Malangensis, ada yang mau ditanyakan kepada Manusia bandungensis?”
Dari deret tengah, seorang lelaki berambut ikal mengangkat tangannya tinggi, “SMA WHIFA itu SMA apa? Sorry, nggak pernah dengar soalnya.”
Alan menghela nafas sejenak, sungguh ia tidak sedang ingin mengatakannya, “White Horse International Football Academy.” Jawabnya singkat namun mampu membuat setiap mulut menggangga lebar.
“Woahhh!!!”
“Anak bola? Woah!”
“Jangan woah-woah aja, tau nggak apa artinya?” ejek Pak Nur kesembarang siswa.
“Tau lah, Pak!”
“Ngejek ih, Pak Nur!”
Diantara carut marut jawaban, Pak Nur yang sepanjang perkenalan singkat Alan menatap sejurus kesibukan seorang gadis diatas mejanya pun mendadak gusar. Dengan tergesa ia melangkah mendekatinya. Mata Pak Nur berdesis tajam menatap soal-soal matematika yang tertangkap basah tengah terbuka.
“Duduk, Lan.” perintah Pak Nur dingin tanpa mengubah arah pandangnya.
Ruangan mendadak beku mendengar suara Pak Nur. Diam-diam mereka sepakat, Pak Nur sedang marah. Alan yang sebenarnya tidak terlalu paham situasipun hanya melangkah gontai mendekati bangku paling ujung belakang kelas. Diantara derit tarikan kursi, mata Alan tak sengaja bertemu dengan senyum kaku gadis berambut panjang yang dihaturkan ragu untuknya. Namun Alan mengabaikan senyum itu dan memilih kembali berbaur dengan ketegangan ditengah ruang.
Pak Nur mengangkat buku terbuka itu tinggi-tingi, “Buku Sakti Siap Masuk PTN. Kupas tuntas Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi.” Ejanya membaca sampul buku. Jemari Pak Nur bergerak kasar membolak-balikkan halaman, “Ah, Buang aja bukunya, nggak bagus, nggak lengkap.”
“Loh Pak, kunci sukses kan menguasai matematika, Fisika, Kimia sama Biologi. Kok bisa nggak lengkap? Kok bisa disuruh buang? Pak Nur guru sesat!” Ujar Pak Nur bermonolog. Ia menjeda, melemparkan tatapan pada seluruh penghuni kelas, “Kenapa saya katakan nggak lengkap? Karena nggak ada pelajaran etika, nggak ada pelajaran moral, nggak ada pelajaran tentang bagaimana cara memanusiakan manusia. Buku ini mungkin mampu membuatmu bisa mengerjakan matematika, fisika, kimia, biologi bahkan bahasa indonesia dengan sempurna. Tapi secara tidak sadar, buku ini membuatmu gagal menghargai hal sesederhana perkenalan diri seorang teman.”
Pak Nur menatap gadis yang menunduk dalam menyembunyikan semburat merah wajahnya, “Jangan jadi orang yang pintar disekolah tapi gagal dikehidupan, Della. Dimata saya, itu lebih memalukan daripada mendapat rangking satu dari bawah.” Ia meletakkan kembali buku tebal pada tempatnya, “Perguruan tinggi itu tidak sesederhana hitung-hitungan matematika. Kompetisinya tidak sesederhana reaksi kimia. Jangan mengira hanya dengan kepintaran maka kehidupanmu akan diatas segala-galanya. Itu hanya dongeng. Pegang omongan saya, nilai yang kita banggakan sekarang, suatu saat nanti akan kalah dengan softskill, etika, pengalaman, relasi dan sesuatu yang berada diluar buku sakti itu.”
“Maaf, Pak.” Lirihnya.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan, karena kamu nggak salah, kamu Cuma belum mengerti. Dan ketidaktauan bukanlah dosa. Tapi karena sekarang sudah saya jelaskan, kedepannya jangan diulangi lagi. Hargai orang lain seperti kamu menghargai diri sendiri.” Pak Nur mengarahkan kepalan tangannya tepat dihadapan Della, “Oke?”
Gadis itu dengan ragu menyambutnya pelan, “Iya, Pak.”
Pak Nur kembali tersenyum hangat, mencairkan ketegangan diwajah anak-anak didiknya. “Sebelum pelajaran matematika, saya mau review sebentar tentang materi paling sederhana dari pelajaran Bahasa Indonesia.” Ujarnya, “Pola Kalimat.”
“Kinan, coba sebutkan macam-macam pola kalimat!”
Gadis berambut panjang yang sedikit terkejut karena namanya dipanggil tiba-tiba itu menjawab cepat, “Subjek Predikat, Subjek Predikat Objek, Subjek Predikat Pelengkap, Subjek Predikat Keterangan, Subjek Predikat Objek Keterangan, Subjek Predikat Objek Pelengkap, Subjek Predikat Pelengkap Keterangan, Sub-”
“Cukup.” potong Pak Nur, menghentikan jawaban Kinan agar tidak semakin panjang, “Benar. Semua jawaban Kinan adalah macam dari Pola Kalimat. Tapi sadar atau tidak, sehalnya dengan kalimat, semesta tempat kita bernaung ini juga memiliki pola tertentu. Ada yang tau nggak, bagaimana Pola semesta bekerja?”
Seluruh murid menghening diam, mata mereka berkeliling sembarang menghindari kontak mata dengan sang Guru.
“Pola semesta itu sederhana. Kehidupan kita selalu berjalan dengan pola ini. Pola semesta adalah-” Pak Nur menjeda puitik, “Semesta selalu bercanda dengan jiwa-jiwa yang tak meriah.”
Seluruh murid-murid terdiam, mencoba meresapi apa yang coba disampaikan oleh guru setengah Rocker dihadapan mereka.
“Maka dari itu, meriahkan dirimu. Jangan sibuk oleh hal-hal yang semu. Istirahatlah ketika waktu istirahat. Berhentilah ketika jeda.” Pak Nur memutar gitar kepelukannya, “Dan, Jangan lupa bahagia dan sedih secukupnya.”
Pak Nur mendentingkan senar gitar dengan irama halus. Riuh tepuk tangan segera mengudara mengisi ruang. Guru ‘Nyentrik’ itu berdehem pelan, “4 Non Blondes – What’s up.”
(...)
And So I wake in the morning
And I step outside
And I take a deep breath
And I get real high
And I scream at top of my lungs
“What’s going on!” seluruh isi kelas berteriak bersamaan. Melepaskan beban-beban masa depan yang menggantung dibahu mereka dalam sekali hembusan nafas.
“And i said, hey hey hey hey, hey hey hey.” Pak Nur mengangkat tangannya tinggi, meminta seisi kelas untuk kembali berteriak bersama, “I said hey-”
“WHAT’S GOING ON!”
***
Siang ini kantin ramai suntuk. Meja-meja terisi penuh dengan gurauan, mangkok hampir kosong, gelas-gelas es jeruk, botol plastik, jawaban ulangan dari kelas sebelah, lembaran pr untuk jam selanjutnya hingga soal-soal persiapan ujian masuk PTN. Disudut yang lebih bersahabat, dua perempuan duduk berhadapan dengan bekal-bekal beragam menu dan tiga gelas es cincau.
Salah satu dari mereka berdiri melambai, “KINAN!” teriaknya pada seorang gadis yang berdiri diambang pintu masuk.
Gadis berambut panjang yang dipanggil ‘Kinan’ itu segera berlarian kecil menghampiri mereka, “Sorry, lama ya?” tanyanya penuh rasa bersalah.
“Yup, sampai bersarang nih bahu.” Jawab gadis berambut pendek cuek.
“Itu mah karena kamu kelamaan jomblo kali, Ta!”
“Iyadeh yang cowoknya mas-mas teknik.” Balas Okta tak mau kalah, “Lagian Kinan juga jomblo!”
Kinan tertawa kecil sembari menggigit sendokan pertamanya, “Aku mah dari lahir.”
“Eh, tapi mending jomblo daripada terjebak friendzone, ya nggak Vin?”
“Betul!” ujar Gavinda sambil mengarahkan sendoknya kewajah Kinan.
“Apaan sih!”
“Eh, By the way gimana Pak Nur? Udah dapat penggantinya si Rizki?”
Kinan menggeleng lemas, “Belum.”
“Anjir emang si Rizki. Dari zaman uas semester kemarin, dia sendiri yang sepakat join team. Tapi sekarang, dia tiba-tiba out dengan alasan ‘udah kelas dua belas’. Otaknya kemana coba waktu itu?” omelnya, “Terus sekarang gimana, udah ada yang mau join?”
“Sebenarnya banyak banget gitaris disekolah kita, Vin. Tapi nggak semuanya mau kalau diajak lomba musikalisasi puisi.” Keluh Kinan, “Aku udah bilang Pak Nur, mundur aja atau kalau nggak nyari gitaris adik kelas. But, Pak Nur nggak mau. Beliau pengennya ngeutamain anak kelas dua belas dulu.”
“Iyalah, kan kalau menang lumayan buat bekal jalur undangan. Terus gimana sekarang udah ada calon lagi?”
“Udah, sih. Tapi aku nggak yakin, Soal-”
Okta yang sedari tadi sibuk bersama ponselnya tiba-tiba dengan heboh menunjukkan penemuannya, “Guys! Lihat deh!” ujarnya sembari menunjukkan profil i********: milik Alan, “Ini anak baru itu kan?”
“Yaelah, dari tadi kamu sibuk main hp tuh stalking Alan?”
“Iya, kepo tau, ngapain coba anak bola tiba-tiba pindah ke SMA biasa? Liat ini, deh!” perintah Okta sembari menahan tangan Kinan, “Alan Maulana, Kuda Putih will never die.” Eja penuh tekanan.
Gavinda yang turut penasaran langsung memerintahkan jemarinya berselancar dilayar ponsel Okta, “Gothia Cup Swedia, Aqua Danone Nation Club, Asean Cup 2013, Timnas U-14, Timnas U-15. Timnas u-16” Ujarnya sembari terus berselancar membaca caption postingan Alan, “Prestasinya udah segede ini, tapi kenapa kok dia tiba-tiba pindah kesekolah kita?”
“Nah!” Okta menjentikkan jarinya, “Thats the point! Ngapain coba dia ninggalin bola yang jelas-jelas bikin dia segede ini.”
“Skorsing mungkin.” Tebak Gavinda, “Biasanya kan kalau anak bola tuh suka diskorsing kalau habis ngelakuin pelanggaran. Lagian lihat nggak sih mukanya Alan? Serem-serem gimana gitu. Sebelas dua belas sama si Leo. Huh, kelas kita nggak akan tenang. Udah nenek sihir a.k.a Della, raja preman Leo, and now anak dari sekolah bola.”
“Aku tadi sempat lihat mukanya Leo pas si Alan datang. Mukanya tuh kaya ‘Anjir, musuh baru nih.’ Gitu!”
Diantara spekulasi tak masuk akal yang mengelilingi Kinan, gadis itu lebih tertarik pada bingkai terakhir postingan Alan. Sebuah video tanpa caption yang menampilkan dentingan jemarinya diantara senar gitar. Kinan menajamkan teling, “Balada Seorang Kelana – Iwan Abdurrahman.” Tebaknya.
“Apa Nan?” tanya Gavinda.
Kinan menggeleng cepat. Matanya kembali jatuh pada tarian jemari Alan. Pantesan Pak Nur milih Alan, udah riset ternyata –batinnya.
“Tapi yang lebih aneh, kok bisa ada anak pindah dari sekolah bola kesekolah biasa, masuk IPA, pas dua belas lagi. Damage nya nggak ngotak banget!”
“Dan masuk waktu minggu keempat!” tambah Okta dengan tegas.
“Backingannya kuat kali, kan dia Timnas, jelas punya akses sama pemerintah.” Seloroh Kinan, “Lagi pula, sekolah kita itu bukan sekolah favorit yang persaingannya selangit sampai nggak bisa masukin anak baru ditengah tahun pelajaran.”
“Bener sih. Lagian dengan datangnya Alan, nama sekolah kita bakal lebih naik.” Tambah Gavinda.
“Yeu! mau favorit atau nggak, nggak ada pengaruhnya sama kita. Kinan masih rangking pararel satu, Gavinda masih rangking pararel 4, dan aku masih pararel 172.” Keluh Okta sembari mengacak rambutnya, “Argh! Jadi kepikiran kan.”
“Santai, masih ada satu semester lagi. Masih bisa diperbaiki.” ujar Kinan mencoba menenangkan.
“Emangnya nilaiku bisa berubah dalam satu semester? Jelas nggak lah.” Okta menopang dagunya, “Sumpah ya, aku itu nggak tau apa yang salah, tapi tiap pelajaran aku nggak paham apa yang aku nggak paham. Setiap kali guru tanya, ‘Apa ada pertanyaan?’, aku sebenarnya punya banyak pertanyaan. Iya banyak, saking banyaknya sampai nggak tau mau tanya apa. Padahal nih ya, aku nggak pernah bolos, rajin mencatat, ikut belajar bareng kalian terus, les dua belas juta setiap hari, tapi hasilnya? Nihil!”
“Look at Kinan, Les enggak, pulang sekolah masih kerja, pulang kerja ngurusin adik-adiknya di panti, tapi rangking satu dengan sederet penghargaan. Eh jangan kamu deh, Nan, anggap aja kamu terlahir jenius. Gavinda aja.” Okta beralih menatap Gavinda yang menahan tawanya, “Aku sama kamu, Vin, les ditempat yang sama, program yang sama, kelas yang sama dan jelas guru yang sama. Kamu jarang banget nyatet dan selalu fotokopi catetanku sebelum ujian. Kamu juga kalau nggak disenggolin Kinan terus, pasti ketiduran dikelas. Tapi gimana bisa kamu rangking pararel empat? Sumpah ya, hidup ini gila.”
“Makin kesini aku semakin yakin.” Ujar Okta semakin serius, “Nggak semua hal didunia ini bisa didapatkan dengan berusaha. Kadang kita butuh keberuntungan, background keluarga, kecantikan, orang dalam dan sesuatu sejenisnya.”
Kinan menyikut Okta, “Kok pesimis gitu sih, Ta.”
Okta hanya menggedik kecil.
“Ta, kamu itu pintar dengan caramu sendiri.” Ujar Kinan menenangkan pergulatan batin sahabatnya, “Diantara kita, kamu yang paling pinter ngelukis. Rangking satuku sama rangking empatnya si Gavin nggak bisa bikin lukisan yang bagus.”
“I agree with you.” Jawab Okta cepat, “But, lukisanku juga nggak bisa bantuin masuk ke Teknik Industri. Aku seenggaknya, harus menguasai matematika, fisika, kimia atau biologi biar lancar masuk perguruan tinggi.”
“Kamu jelek kalau lagi pesimis!” sindir Gavinda, “Ini tadi ngapain dah kok tiba-tiba ngomongin nilai?”
“Gara-gara Alan!” ujar Kinan sambil terkekeh kecil, “Udah ah, Ta. Jangan kepikiran terus, kamu nggak seburuk yang kamu pikirkan. Youre valuable. Buat masalah nilai, santai aja, aku sama Gavinda bakal bantuin kamu.”
“Janji ya?”
Gavinda memotong separuh kuning telornya dan meletakkan diatas sendok Okta, “Janji kuning telor.” Ujarnya.
“Tuh, kalau Gavinda udah ngasih kuning telor, artinya dia nggak main-main. Oke? Senyum dong!”
Seiring dengan mengembangnya senyum Okta, derap langkah kaki kasar tiba-tiba bergema mendekat. Pemilik langkah itu mengacak rambut Kinan kasar, “Hey, bu!” sapanya.
Kinan menghempas tangannya, “Apa sih?” jawabnya ketus.
Laki-laki itu meletakkan sekotak s**u cokelat dan selembar kertas dihadapan Kinan, “Tulisin yang bagus.” perintahnya.
“Tulisin apa?” tanyanya heran.
“Nama, nomor absen sama kelas. Yang besar ya, buat dipajang di taneman soalnya.”
“Taneman? Maksudmu taneman yang disuruh Pak Aziz? Gila nih anak, dari minggu kemarin belum kamu kumpulin? Kamu beneran mau dihukum bersihin kamar mandi?”
“Males tau bawa taneman ke sekolah. Ngotorin motor.” Keluhnya.
Kinan menghela nafas lelah menanggapi. Ia segera menyaut bolpoint disaku lelaki itu dan mulai menulis: Johan Imando Pratama – 11 – 12 MIPA 3.
“Eh Vin, tau nggak apa yang lebih gila daripada aku nggak paham pelajaran sama sekali?” tanya Okta dengan nada menyindir, “Terjebak friendzone sebelas tahun!”
“Mau sepuluh tahun.” Tambah Johan membenarkan. Kinan menatapnya tajam, nggak usah diperpanjang –maksudnya.
“Serius sepuluh tahun? Gila banget sih itu!” seloroh Gavinda pura-pura terkejut, “Kok bisa kuat ya?”
“Salah satu jelas nggak kuat, tapi terus pura-pura kuat. Biar nggak merusak persahabatan gitu. Hahaha! Klise!”
Kinan menghentikan pekerjaan dan menatap dua sahabatnya yang tak pernah bosan menggoda, “Nggak semua persahabatan antara laki-laki dan perempuan jadi cinta kali.”
“Yup bener!” jawab Okta mantap, “Nggak semua persahabatan antara laki-laki dan perempuan jadi cinta. Beberapa kadang malah jadi luka.”
“Luka untuk salah satu pihak, lebih tepatnya.” Tambah Gavinda memanaskan suasana, “Udahlah, Jo, mau sampai kapan ngebuntutin Kinan terus? Nggak capek apa modus suruh nulisin nama? Padahal kan dikelasmu juga banyak ceweknya. Kalau suka tinggal bilang. Entar aku sama Okta bantuin deh waktu nembak.”
Johan menatap Gavinda dengan tatapan nakal, “Nembak siapa?”
“Ya, Kinan lah, Jo!”
“Yah, nggak mau! Kan aku sukanya sama kamu.” Goda Johan, “Jadian yuk?”
Kinan berdecak kasar melihat perangai penganggunya itu, “Dasar Lacoste!”