Siang ini, mentari kembali membara. Wajah langsatnya merona, membakar sesiapa yang sengaja melintas dibawah sana. Manusia-manusia yang semula berjalan menunduk menghitungi takdir pun segera berhambur berlindung dibawah bayang pohon, kanopi-kanopi berlubang, gelengan kipas dinding hingga ruang sempit berpendingin. Lain itu, disudut paling tak meriah kota Malang, tempat remaja-remaja datang pulang dengan wajah tertekuk, mentari justru meneduh. Semburat merahnya mendadak hilang, digantikan angin dan awan-awan mendung yang sama sekali tak menjemukan. Pada bayang samarnya, ia seolah menyurati bahwa-
“Kebahagian itu diciptakan, bukan dicari.”
Kinan menoleh kesudut ruang, tempat seorang lelaki bergitar berdiri memandangi kanvas putih dan menginterupsinya meromatisasi mendung. Lelaki itu sedikit memiringkan gitar dipunggung, bermaksud membuat ruang lebih luas untuk memamerkan kanvas putih ditangannya.
Kening Kinan mengerut sekilas saat matanya mulai meneliti tiap satuan persegi. Lantas, ketika secercah ingatan jatuh dikepala, ia merekahkan senyum. Kanvas putih yang tampak kosong dari kejauhan itu, bukanlah kanvas biasa. Jika dipandang seksama, ada guratan putih timbul yang mewarnai sisi tengah. Sementara dipojok kanan bawah, dengan ukuran yang membuat sesiapapun memicingkan mata, sebuah tulisan ‘Kebahagiaan itu diciptakan, buka dicari’ disisipkan tegak bersambung oleh sang seniman.
“Itu!” saut Kinan dengan nada ceria tertahan, kakinya segera melangkah ringan mengambil alih kanvas dari tangan Alan, “Ketemu dimana?” tanyanya penasaran.
Dagu Alan menunjuk kardus lapuk yang berisi tumpukan-tumpukan kertas bekas, “Disitu.” Ucapnya sedikit ragu, “Habis hilang?”
Kinan mengangguk cepat, “Iya, liburan semester kemarin lab bahasa di cat ulang. Semua barang yang beresin mas-mas cleaning service. Terus waktu udah selesai, tiba-tiba ilang gitu aja lukisan ini. Udah dicari kemana-mana nggak ada, eh taunya ditumpukan kertas bekas. Huh, untung aja, padahal sabtu besok kertas-kertas ini mau diloakin sama Pak Nur.”
“Kayaknya penting banget lukisan ini.” komentar Alan.
“Penting nggak penting, sih.” Ujar Kinan sembari meletakkan kanvas putih yang keberadaannya sangat ia rindukan itu diatas rak buku. Gadis itu terdiam sejenak, “Ini lukisan Pak Nur waktu lomba hari guru tahun lalu. Tapi, meskipun ‘Cuma gini aja’, lukisan ini kaya makna. Lukisan ini mengajarkan kita bahwa kanvas adalah media paling realistis untuk menciptakan kebahagiaan. Juga, kebahagiaan itu bukan berarti banyak warna. Cukup satu, putih sekalipun. Yang terpenting adalah keberanian mengakui bahwa putih merupakan warna yang perlu diperhitungkan. Yang terpenting adalah keberanian mengakui bahwa sesederhana apapun senyuman merupakan bentuk kebahagiaan yang perlu diciptakan.”
Alan tertegun sejenak, matanya terus memandangi lukisan ‘sederhana’ itu.
Tiba-tiba, Kinan tertawa kecil, “Tapi, makna itu Cuma alasan. Pak Nur sebenarnya nggak bisa melukis. Makna tadi disampaikan secara spontan waktu presentasi. Jadi, waktu lukisan itu hilang, Pak Nur nggak begitu nyariin.”
Alan menoleh setengah terkejut, “Serius?”
“Iya! Tapi dengan kespontanan itulah Pak Nur jadi pemenang lomba. Keren emang, guru satu itu.”
Lelaki yang kini benar-benar mencondongkan badannya kearah lukisan itu mengangguk setuju, “Iya, Keren banget.” Ujarnya, “Tapi, Nan, lo sendiri gimana? Udah pernah menciptakan kebahagiaan?” tanyanya.
Kinan mengerjap, memandang lekat-lekat lelaki yang sedang menunggu jawabannya itu. Setelah beberapa detik keheningan berlalu, sudut bibirnya terangkat sesumbar. Tangannya segera merogoh ikat rambut yang baru saja dikembalikan Johan tadi pagi. Gadis itu menguncir rambutnya tinggi-tinggi, “Sudah.” Jawabnya tegas.
Kening Alan berkerut, “Itu?” tanyanya heran.
Kinan mengangguk mantap, “Iya, ini. Nguncir rambut adalah kebahagiaan sederhana yang berhasil aku ciptakan.”
Alan tersenyum, “Ikut seneng dengernya.”
“Kalau kamu, Lan?”
Lelaki itu menggedikkan bahu, “Nggak tau.” Jawabnya pasrah, “Belum ada kayaknya.”
“Kalau gitu, ayo kita buat kebahagiaan bareng. Hm, yang sederhana aja, yang bisa diciptakan tukang gitar dan tukang baca puisi!” ujarnya bersemangat, “Musikalisasi puisi, yuk?”
Alan mengulum senyum memandangi wajah Kinan yang berbinar, gadis itu berbicara seolah bahagia sangat mudah ditemukan diantara kata ‘Kita’, “Kalau gitu sudah.” Ujarnya tiba-tiba, “Gue juga udah menciptakan kebahagiaan itu.”
Kedua alis Kinan terangkat, ia tidak habis pikir, secepat itu Alan berubah dihadapannya, “Oh ya? Apa?”
Perlahan, mata Alan beralih menatap lembut kuncir rambut dikepala Kinan yang bersemayam begitu sombong. Hingga tanpa sadar, seutas senyum sekelebat terlukis begitu saja, “Kebahagiaan yang berhasil gue ciptakan adalah membahagiakan lo, Nan.” jawabnya tanpa ragu.
Gadis dihadapannya mendadak bungkam, jantungnya tak lagi mampu diredam. Ia mengerjapkan mata berulang, mencoba mencari kesadaran diantara sisa-sisa mimpi semalam. Kinan segera membuang matanya jauh-jauh dan meraba apapun yang dapat mengalihkan pikirannya, “Hah, mana ada!” jawabnya setengah pura-pura tertawa.
Alan turut tertawa, “Hahaha, bercanda.” Kilahnya, “Tapi serius deh, gue seneng kalau lo berani kuncir rambut kayak sekarang. Ya, walaupun cuma didepan gue dan di Lab Bahasa doang, tapi gue seneng aja. Lo berani ambil sikap atas diri lo sendiri tanpa perduli pikiran orang lain, termasuk gue.”
“Termasuk kamu?” ulang Kinan.
Lelaki itu mengangguk, “Ya siapa tau, lo mikir gue sama kayak orang-orang lain yang mempersoalkan itu.”
“Kalau kamu sama kayak orang-orang diluar sana, aku nggak mungkin disini sekarang, Lan.” Jawab Kinan sembari tersenyum.
“Hm, orang-orang diluar sana.” Ulang Alan, “Apa orang-orang yang lo maksud itu termasuk Johan?” tanya Alan.
Kinan menggigit ujung bibirnya, “Orang-orang yang aku maksud adalah orang-orang yang selalu sibuk mempertanyakan muasal luka dan memandangnya sebagai dosa.” Jawabnya, mencoba sebaik mungkin menghindari pertanyaan Alan.
Lelaki itu mengangguk, mencoba memahami pesan tersirat dibalik jawaban Kinan.
“Tapi, Lan, kenapa kamu memilih buat nggak tanya tentang lukaku sampai sekarang? Padahal aku pernah bilang, selain tersinggung pada sesiapa yang mempertanyakan lukaku, aku juga tersinggung pada sesiapa yang pura-pura acuh.”
Alan menghela nafas dan kembali duduk dibangku latihan. Jemarinya segera cekatan membenarkan posisi pangkuan gitar dan mendentingkan nada-nada, “Nggak semua luka harus punya alasan, Nan. kadang, luka memang ada untuk menemani kita tumbuh.” jawabnya tenang, “Lagi pula, gue nggak mau tau, Nan, alasan dibalik luka itu. Yang gue mau tau, adalah gimana caranya lo bisa nyaman sama gue tanpa alasan.”
Mendengar itu, sudut hati Kinan berdebar lebih kencang. Matanya meneduh menatap Alan, “Thanks, Lan.” Jawabnya tulus, “Dihadapanmu, akhirnya aku bisa berhenti berlari. Dihadapanmu, akhirnya aku bisa jadi diriku sendiri.”
Alan tersenyum cerah, “Dunia adalah apa yang kita pandang, Nan. Kalau pandangan lo baik, maka segalanya akan membaik. Tapi sebaliknya, jika pandangan lo buruk, maka dunia akan lebih memburuk.” jawabnya penuh makna, “Jadi gue harap, lo juga bisa jadi Kinan yang gue kenal dihadapan semua orang. Tenang, gue bisa pastiin nggak akan ada satu orang yang berani tanya soal luka itu. Gue kan jago berantem!”
Kinan tertawa renyah, “Jago berantem dari mana, orang babak belur gitu.”
“Gue bilangnya jago berantem ya, bukan kebal dipukul!” kilahnya tak mau kalah.
“Hahaha, yaudah iya. Terserah Alan aja!”
“Yaudah, jadi nggak?”
“Jadi apa?”
“Menciptakan kebahagiaan?”