Bab 2. Babak Baru

1115 Kata
7 tahun kemudian. “Mama,” panggil seorang bocah sambil berjalan masuk ke dalam kamu. Agnes menoleh dan senyumnya mengembang. “Kenapa, Sayang?” tanya Agnes lembut. “Ma, mau beli roti ini,” ucap bocah bernama Kenzo itu sambil menunjukkan apa yang dia lihat di tablet yang dia pegang. “Ken mau kue ini, Ma.” “Kue apa sih. Coba Mama liat.” Agnes yang sedang bersiap pergi ke kantor, menjeda dulu kegiatan berhiasnya. Dia mengambil tablet itu untuk melihat apa yang diinginkan putranya. “Oh, ini. Ya udah ntar kalo Mama pulang kantor, Mama beliin ya,” ucap Agnes sambil mengembalikan tablet putranya. “Minta apa itu?” tanya Rini, ibu Agnes yang masuk ke kamar sambil membawa pakaian yang baru dia setrika. “Minta kue bentuk ikan, Bu. Ntar biar Agnes mampir ke mall pas pulang kantor.” “Kenzo kalo minta dibeliin kue ikan, hari ini di sekolah harus pinter ya. Maemnya juga harus pinter,” ucap Rini pada cucu kesayangannya. “Iya. Tapi Kenzo mau 2 kuenya ya.” Bocah kecil itu kembali berlari keluar kamar. “Kamu jangan terlalu manjain Kenzo, Nes. Dia jadi sering gak mau makan nasi karena ngemil mulu,” lapor Rini. “Iya, Bu. Ntar Agnes batesin beli jajannya. Lagian Agnes juga udah harus nabung. Taun depan Kenzo masuk SD.” “Nah, bener itu. Ya udah buruan, ntar kamu telat loh.” Rini kembali keluar. Dia akan menyuapi cucunya sebelum mengantar cucunya pergi sekolah. Agnes punya anak. Dia hamil setelah melakukan hubungan terlarang dengan Thomas malam itu. Agnes yang kaget saat mendapati dia hamil, semakin drop dan frustrasi. Sepertinya masalah tidak hentinya menghampiri dia. Rini yang tahu pengorbanan putrinya, mencoba menenangkan putrinya. Setelah beberapa bulan membujuk putri tercintanya, akhirnya emosi Agnes mulai stabil dan bisa menerima kehadiran anak dalam kandungannya. Merasa mendapatkan sindiran dari tetangga yang curiga Agnes tengah berbadan dua, demi kesehatan mentalnya sendiri, Agnes memutuskan pindah. Dengan sisa uang pemberian dari Thomas, Agnes membeli rumah sederhana untuk tinggal bersama ibunya sambil menanti kelahiran putranya. Sebuah warung kecil di depan rumah, menghiasi rumah mereka, untuk memberi Rini kegiatan sekaligus jadi penopang hidup mereka sebelum Agnes bekerja lagi. Agnes keluar dari kamarnya. Dia sudah rapi dan siap berangkat. “Sayang, hari ini sekolah yang pinter ya. Di rumah yang baik sama nenek. Ntar Mama beliin rotinya,” ucap Agnes berpesan pada putranya. “Iya. Tapi Mama jangan lupa beli kuenya ya. Dua ya, Ma,” celoteh Kenzo. “Siap! Mama jalan dulu ya. Tante Linda udah nunggu di depan tuh. Bu, Agnes jalan ya.” Agnes berpamitan pada ibunya dan Kenzo. Dia mencium putranya beberapa kali sampai membuat bocah kecil itu kegelian. Seperti biasanya, Agnes akan berjalan keluar gerbang kompleks yang tidak jauh dari rumahnya. Di depan sana sudah ada mobil Linda sahabatnya di kantor yang selalu setia memberinya tumpangan. “Duh, cantik banget, Nes. Tumben amat,” sapa Linda yang merasa penampilan sahabatnya berbeda dari biasanya. “Apaan sih. Emang biasanya gimana?” jawab Agnes sambil tersenyum dan memasang sabuk pengamannya. “Ya biasanya emang cantik. Tapi hari ini keliatan lebih cantik. Apa karena mau naik jabatan ya.” Linda mulai menjalankan mobilnya. “Gak usah ngaco deh. Kayaknya ini karena potongan rambut aku deh. Lagian kan ini saran kamu kemaren.” Kemarin memang Agnes terpaksa menata rambutnya di salon, karena menurut Linda penampilan Agnes terlalu biasa saat menjadi manajer baru nanti. Prestasi Agnes yang cemerlang di perusahaan, membuat sahabatnya itu cepat mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Dan hari ini, Agnes akan diangkat jadi manajer baru di kantor. “Bener juga. Kamu makin keliatan cerah dan cantik banget. Aku jadi penasaran, gimana reaksi Pak Doni ntar pas liat kamu.” Agnes melihat lagi ke sahabatnya. “Emang kenapa? Harus banget ya liat dia bereaksi.” “Harus dong. Tapi Nes, kamu beneran masih belum mau buka hati lagi? Masih gak move on ya dari papanya Kenzo?” Agnes terdiam. Dia terpaksa berbohong, kalau dia dulu pernah menikah dan bercerai. Dengan begitu, kehadiran Kenzo tidak akan menjadi hal yang sulit diterima. Masalah Kenzo memang teratasi, tapi kini statusnya yang dianggap sebagai janda muda yang cantik jelita, membuat para wanita khawatir suami mereka akan terpikat kepadanya. Begitu juga Doni. Manajer perusahaan yang santer terdengar menyukai dirinya. Doni yang tampan dan selalu baik pada dirinya dan Kenzo, sayangnya masih belum bisa menggetarkan hatinya. Entah mengapa, setelah memiliki Kenzo, hati Agnes seolah membeku pada pria mana pun. “Aku belum mikirin itu, Lin. Masih mau fokus ke kerjaan sambil gedein Kenzo,” jawab Agnes. “Wah ... kasian dong Pak Doni. Bakalan lama nungguin kamu.” “Aku gak pernah nyuruh dia nunggu loh ya. Aku gak pernah janjiin apa-apa.” “Iya, aku tau. Tapi Nes, aku kok jadi penasaran ya ama papanya Kenzo. Secakep apa sih dia kok sampe bikin kamu gak move on.” “Liat aja Kenzo. Dia gak jauh beda ama papanya.” “Fix! Pasti cakep banget. Kenzo aja kecil-kecil udah cakep, apa lagi gedenya. Makin penasaran aku.” “Udah ah, gak usah bahas itu. Males aku.” Agnes selalu menolak kalau ada yang bertanya soal papa putranya. Dia tidak ingin mengingat pria itu lagi dan takut ketahuan, tentang apa yang dia sembunyikan. Mobil Linda tiba di kantor. Dua wanita itu segera berjalan menuju ke aula utama, karena hari ini mereka akan menjadi salah satu pegawai yang akan naik jabatan. Agnes dan Linda segera masuk ke aula utama. Mereka menuju kursi yang telah disiapkan sambil menyapa beberapa teman yang mereka kenal di sana. Gugup. Agnes duduk dengan gugup, menunggu namanya akan dipanggil naik ke panggung. Rombongan para petinggi perusahaan mulai berdatangan. Para manajemen perusahaan juga mulai memasuki ruangan. Bangku yang berjajar di sana mulai terisi. Sebentar lagi acara akan di mulai. “Nes, Pak Doni tuh,” bisik Linda pelan. “Ish, apaan sih,” tegur Agnes. “Eh, kalian janjian ya. Kenapa warna baju kalian mirip.” “Enggak ya. Aku juga gak tau dia bakalan pake kemeja biru juga,” bantah Agnes. “Hayoo ... apa ada sesuatu yang belum aku tau,” sindir Linda. “Ish! Apaan sih. Gak ada ya. Udah ah diem. Tuh, acaranya mau dimulai.” Rombongan pimpinan perusahaan mulai masuk. Mata Agnes yang menangkap rombongan pria tajir melintir yang duduk di Tahta itu, membuatnya semakin gugup bercampur senang. Dia sampai tidak bisa menyembunyikan senyumnya, mengingat sebentar lagi dia akan jadi manajer. Namun tiba-tiba senyum Agnes perlahan mulai memudar. Matanya terus tertuju ke dua orang pria yang berjalan di depannya. Mata Agnes bahkan ikut sampai dua pria itu duduk di barisan tempat duduk terhormat. Senyum cerah itu kini menghilang berganti ketegangan yang menyerangnya. “Dia. Kenapa dia di sini,” ucap Agnes dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN