Bab 1. Wanita Bayaran
“Puaskan aku. Berikan perawanmu. Jangan harap bisa keluar dari sini kalau aku belum terpuaskan!”
Suara serak dan dalam itu membuat nyali Agnes semakin menciut. Dia semakin mengerutkan badannya, saat tangan kekar itu mulai meremas lengannya.
Aroma kuat alkohol bercampur aroma wangi dari tubuh pria di depannya itu juga langsung menusuk rongga hidungnya. Entah mana yang lebih dominan tapi yang pasti hal itu membuat napas Agnes kian sesak.
Agnes memejamkan matanya saat wajah pria di depannya itu mulai mendekat. Mengetahui sasarannya di mana, Agnes memejamkan matanya erat-erat, berharap pekerjaan menakutkan ini akan segera berakhir.
Agnes terpaksa menyetujui tawaran Rei yang akan memberinya uang 3 milyar, jika Agnes mau menyerahkan keperawanannya malam ini.
Agnes yang sejak dulu mati-matian menjaga perhiasan mahal miliknya itu, menyerah ketika tagihan rumah sakit ibunya datang bersamaan dengan ancaman para penagih hutang untuk segera membayar cicilan yang sudah menunggak lama.
Tanpa ragu meski tahu akan menyesal, Agnes menyetujui pekerjaan laknat ini demi kelangsungan hidup.
Dia bahkan sempat menolak saat Rey menawarnya hanya dengan 1 milyar. Tapi ternyata permintaan Agnes untuk menaikkan harga menjadi 3 milyar langsung disetujui oleh Rey, karena dia yakin kliennya akan menyetujuinya.
Dan kini Agnes berakhir di tempat ini. Sebuah presiden suit di sebuah hotel dengan lampu temaram dan pria yang kini sedang menciumnya.
Otak Agnes tiba-tiba menjadi sedikit lebih rileks, saat tanpa sengaja lidah Thomas menyentuh salah satu titik rawan di bibirnya. Tanpa sadar Agnes menyesap lidah Thomas yang baru malam ini dia temui.
“Puaskan aku, Sayang,” lirih Thomas di telinga Agnes yang kemudian langsung mencumbui Agnes tanpa henti.
Petualangan cinta yang panas dan baru pertama kalinya Agnes alami, membuat dia pasrah dan balik membalas sebisanya.
Meski terkadang sedikit kaku, tapi Agnes akan mulai lincah, saat Thomas membimbingnya dengan sabar.
Thomas seperti pria kecanduan. Entah mengapa dia menikmati wanita itu perlahan, sejengkal demi sejengkal.
Dia seolah ingin menikmati semua bagian tubuh Agnes tanpa ada yang dia tinggalkan. Padahal, bercinta dengan wanita malam, bukanlah pertama kalinya dia lakukan.
Tapi biasanya, Thomas akan menyuruh mereka melayaninya, bukan melayani mereka. Tapi aroma tubuh Agnes, membuat Thomas semakin hilang akal di tengah pengaruh alkohol yang lebih dulu menguasainya.
Tangan kekar Thomas menurunkan resliting gaun yang dipakai Agnes. Dia memeluk wanita itu erat dan menggigit bibir bawah Agnes yang sedang dia lumat.
“Akkh,”rintihan Agnes keluar menahan sakit bercampur perih yang menderanya bersamaan.
Sayangnya rintihan itu makin membakar hasrat di dalam tubuh Thomas. Dia segera membawa Agnes ke ranjang, yang akan menjadi saksi penyatuan mereka malam ini.
Pencahayaan ranjang yang lebih terang dari lampu tidur, membuat Agnes sedikit malu, saat dia sudah berada di atas ranjang. Pakaian yang dia kenakan sudah tanggal dan kini hanya tinggal dua portal penjaga area sensitifnya.
Thomas melepas kancing kemeja dan celanya sambil menatap wajah Agnes. Pandangan mereka bertemu, meski dirinya masih ada di sini temaram.
Agnes berusaha melihat wajah pria yang dia sinyalir sangat tampan. Tubuh berotot, tinggi dan tampak kokoh itu, membuatnya menelan ludah kasar.
“Puaskan aku, Sayang. Aku akan membawamu tak bisa melupakanku,” ucap Thomas yang kemudian segera mendatangi Agnes hanya dengan mengenakan boxer.
Mata Agnes terbelalak saat dia melihat wajah Thomas untuk pertama kalinya dalam suasana terang.
Rahang yang tajam namun tampak lembut. Mata yang dalam dan sangat tajam.
Alisnya yang hitam legam, sangat kontras dengan kulitnya yang sekuning madu. Warna yang eksotis dan sempurna seperti bayangan Agnes selama ini.
Namun sayangnya, waktu memuja Thomas sudah harus berakhir. Pria tampan itu sudah mengendusi lagi leher Agnes yang membuat wanita cantik itu menggeliat.
Thomas membuat akal Agnes kacau lagi. Dia tidak ingin Agnes melamun menikmati ketampanannya saja, tapi merasakan sentuhannya juga.
Agnes tidak bisa menolak lagi. Otaknya malah seolah menyetujuinya saat dia tahu kalau Thomas tampan.
Setidaknya dia tidak akan menyesal melepas keperawanannya pada pria setampan Thomas.
**
Agnes terbangun saat dia mendengar ada suara alarm dari ponselnya. Alarm yang dia pasang untuk membangunkannya di pagi hari.
Karena terlalu lelah, Agnes susah membuka matanya. Alhasil, suara alarm itu mati sendiri, tanpa sempat dia matikan.
Setelah bunyi alarm, sekarang dia kembali mendengar suara yang tidak biasa dia dengar. Suara napas yang mirip dengan dengkuran lembut, yang pasti bukan darinya karena dia masih tersadar.
Terdiam sejenak, akhirnya mata Agnes terbuka lebar. Bayangan kejadian tadi malam, langsung kembali menari di pikirannya.
Agnes berbalik. Dan benar saja, pria itu masih tidur pulas. membelakanginya.
“Ya ampun, ngapain juga aku masih di sini. Ayo pulang!” ucap Agnes memaksa dirinya agar segera tersadar.
“Akh!” jerit Agnes tertahan saat dia merasakan nyeri di pangkal pahanya.
Tapi dia tidak bisa mengikuti rasa sakit itu. Dia harus segera bangun dan pergi dari kamar ini.
“Duh, perih banget sih,” keluh Agnes sambil berusaha memakai pakaiannya tanpa mandi, takut kliennya bangun.
“Sialan si Rei. Katanya gak sakit, ternyata badanku kayak abis digebukin gini,” umpat Agnes sambil berdesis menahan perih dan nyeri.
Setelah memastikan semua barangnya sudah dia bawa, Agnes segera pergi meninggalkan Thomas sendirian. Dia akan menjemput uangnya di Rei untuk segera dia gunakan membayar hutang dan rumah sakit ibunya.
Beberapa jam setelah Agnes pergi, akhirnya Thomas terbangun saat dia mendengar suara panggilan masuk di ponselnya. Dengan berat hati, Thomas mencari ponselnya di atas nakas, lalu menerima panggilan itu.
“Selamat pagi, Pak. Sudah saatnya ke kantor,” lapor Beni, asisten pribadi Thomas.
“1O menit lagi, naik ke atas,” perintah Thomas dengan suara serak dan mata terpejam lalu memutus sambungan telepon.
Thomas menggeliat. Dia berbalik dan tidak lagi menemukan ada Agnes di sana.
Karena harus segera ke kantor, Thomas memilih segera mandi dan menunggu baju gantinya datang.
Saat Thomas keluar, dia sudah melihat Beni ada di sana dengan tas berisi baju ganti. Thomas mengambil tas itu dengan wajah kesal.
Beni melihat sepertinya keadaan atasannya tidak baik-baik saja. Biasanya Thomas tidak setegang ini setelah bermalam dengan seorang wanita.
“Mana wanita itu?” tanya Thomas sambil menatap tajam ke Beni yang berdiri di depannya.
“Wanita? Wanita semalam, Pak?” jawab Beni ingin memastikan.
“Siapa lagi kalo bukan dia! Bawa dia ke sini.” Rahang Thomas bergetar.
“Tap-tapi dia sudah pergi, Pak.”
Thomas mendengus dan mengepalkan tangannya erat-erat. “Pergi? Siapa yang nyuruh dia pergi?” Raut wajah Thomas semakin mengetat.
“Seperti biasanya mereka akan segera pergi saat tugas mereka selesai, Pak.”
“Dia bukan seperti wanita lainnya. Dia uang 3 Milyar! Cari dia. Cari dia dan bawa dia ke sini! Cepat!” titah Thomas dengan suara menggelegar.
Thomas melepas napas dalam dan berat sambil menatap jauh ke depan, seolah bisa melihat keberadaan Agnes di luar sana.
“Beraninya kamu tipu aku. Aku akan buat perhitungan denganmu, wanita jalang!”