Makan Malam Bersama Mertua

1133 Kata
Pagi sekali Marvel membuka matanya ketika dirasa badannya terasa begitu pegal, memang melelahkan hari kemaren dia harus menghadapi tamu tamu yang tidak bisa dianggap sedikit, sedikit merenggangkan tubuhnya laki laki itu sedikit terkejut ketika mendapati sebuah selimut yang merosot ketika dia beranjak duduk. Tak ambil pusing Marvel segera mengecek ponselnya, tadi malam dia menunggu balasan dari kekasihnya, karna tak kunjung menjawab panggilannya, ingin mendatangi kontrakan Dara namun mengingat ancaman Xia yang tak main main membuatnya urung. Mengingat Xia, gadis itu adalah gadis manja, yang apa apa langsung disuguhi didepan matanya tanpa repot repot usaha sendiri jadi mustahil dia sudah bangun. Marvel segera manghela nafas lega ketika menjawab chatnya dengan tenang, tadi malam sebenarnya dia ingin menunggu balasan chat dari Dara hanya saja tubuhnya dan pegal dan kantuk yang tidak bisa ditahan membuatnya tidur tanpa bisa dicegah. Setelah membalas pesan sang kekasih Marvel segera pergi dari rumah, mengingat dia belum membeli ataupun membawa pakaian ganti satupun dan badannya sudah lengket dan dia tidak nyaman. Baru saja dia bangkit dari duduk marvel dikejutkan dengan sesuatu benda jatuh dari arah dapur, takut apa yang jatuh dia segera berlari kesana untuk memeriksa apa yang terjadi. Dari jauh bisa Marvel lihat Xia tengah duduk merapikan sebuah telur gosong yang tumpah sekaligus dengan wajannya. Dan didepannya masih menyala kompor dengan ponsel yang jaraknya cukup jauh dan menampilkan tayangan dari youtobe orang memasak telur. "Sialan, ga guna banget tutor di youtube, tau gini beli aja sih, ribet banget." Gerutunya dengan tangan yang masih membersihakan sisa sisa minyak yang masih bercecaran. Marvel hanya menatapnya datar, lalu berbalik sebelum Xia menyadarinya, dia sangat malas jika harus dihadapkan dengan gadis itu pagi pagi sekali. Dia segera menyambar mobil dan bergegas pergi. Setelah membeli pakaian cukup banyak dan mandi juga berganti pakaian bukanya pulang, Marvel malah mendatangi kontrakan Dara yang tidak cukup besar namun layak dihuni. Awalnya Marvel menyarankan untuk menggunakan aparteman saja namun dara menolak. Setelah sampai dikontrakan Dara dan mengetuk pintu beberapa kali, terlihat Dara yang menyambutnya dengan wajah yang masih sembab namun pakaiannya rapi mungkin akan berangkat kekantor. Melihat Marvel, Dara segera menyambutnya dengan memeluk pria itu dengan erat bahkan air matanya kembali tumpah. Marvel tak kalah erat membalasnya. "Di dalam aja. gak enak dilihat orang," bisiknya yang diangguki Dara. Setelah melepas pelukanya mereka segera masuk, dan keduanya duduk di sofa berhadapan. "Tadi malam kalian--" Marvel menahan bibir Dara dengan jarinya, lalu kembali memeluk wanita itu. "Nggak. Dan sampai kapanpun aku nggak akan menyentuhnya.” Dara semakin terisak dengan kata kata penenang Marvel, bahkan ketika tangan kekar itu mengelus lembut rambutnya tak membuatnya tenang. "Aku takut kamu ninggalin aku." "Nggak akan." Dara mendongak, dia sudah tidak menangis namun masih terisak kecil. "Tapi, kalau dia mau bikin kamu cinta sama dia?" "Aku yang akan bikin dia sendiri nyerah, dan memilih pergi." Dara mengulas senyum, bibirnya menatap Marvel penuh harap membuat Marvel tau apa yang diinginkan Dara, baru saja kedua bibir mereka akan bertemu sebuah dering ponsel membuatnya terkejut dan melepaskan pelukanya untuk melihat siapa yang menelepon. Sedangkan Dara mengalihkan wajah dengan wajah bersemu, malu membuatnya tersenyum. Ternyata dari Darren, sang papa mertua. "Iya om-em, Pa." “Bisa kerumah sekarang?, mama ngajakin kamu sama Xia sarapan bareng.” Marvel menghela nafas lalu melirik Dara sekilas. "Baik, Pa. Saya akan segera kesana sama Xia." Setelah panggilan ditutup Marvel mengusap wajahnya, lalu menatap Dara sendu. "Sayang, maafkan--” "Nggak apa-apa, Marvel, aku ngerti kamu kesana aja. " Marvel kembali menghela nafas ketika melihat senyuman manis Dara yang menyimpan luka. Melihat tatapan ragu Marvel, Dara mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi Marvel dengan sayang. “Aku percaya, meskipun raga kamu sama dia, hati kamu tetap di aku kan.” "Tentu." Sahut Marvel cepat sembari mengenggam tangan Dara dan mengecupnya beberapa kali. *** Setelah sampai di rumahnya dan Xia, ternyata wanita cantik itu sudah siap dengan pakaian modisnya, memang Dara dan Xia jauh berbeda. Dara yang sederhana dan Xia yang tampil dengan segala pakaian mewah dan bermerknya seolah menyatakan jika dirinya wanita berkelas. "Habis darimana?" Tanya Xia santai setelah sampai di depan sang suami. Marvel menghela nafas dengan wajah muak. "Saya rasa anda sudah tau jawabanya. " "Apakah ancamanku belum cukup, Marvel?" Marvel yang sudah berbalik dan akan melangkah menghentikan kembali langkahnya, namun tidak berbalik. "Apakah dihidup anda hanya ada ancaman dan kepuasan untuk diri anda sendiri?" Xia tersenyum miring melihat punggung Marvel yang semakin menjauh. "Ternyata kamu sudah mulai bisa memahamiku sayang." Marvel sedikit menyernyit risih ketika mendengar Xia memanggilnya dengan kata sayang namun tak ambil pusing dia segera menuju mobilnya dan disusul Xia setelahnya. Setelah beberapa menit mereka sampai dirumah megah milik orangtua Xia jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 15 menit. Baru saja masuk gerbang mereka langsung disambut 2 penjaga, setelah memarkirkan mobilnya keduaya segera masuk. "Wah pengantin baru kita sudah datang." Suara ceria Teresa, sang mama tampak riang dan menyambut anak dan menantunya, sedangkan sang papa dilihatnya baru saja turun dari arah tangga. "Kak Dean ga ikut sarapan sama kita juga ma." Tanya Xia setelah keempatnya duduk di meja makan. "Nggak, abang kamu lagi ngurusin rara yang lagi ngidam.” "Ck emang menyusahkan saja wanita lemah itu." "Heh!” Teresa menghardik ucapan sang anak dengan gemas. "Kamu ini nanti kalau kamu nanti ngidam dan lebih parah biar diketawain Rara tau rasa." "Aku nggak akan nyusahin kalau nanti hamil, karna anak kita pinter, ya kan sayang." Serunya sembari menatap Marvel binar. Marvel yang tak berpikiran sejauh itu menjadi canggung kepada kedua mertuanya dan bingung harus menjawab apa, jika seandainya saja hanya berdua dia mungkin akan mengeluarkan kata kata pedas namun disini ada dua orang penting dihidupnya, meskipun sempat kecewa karna ikut rencana licik Xia namun dia tetap menyayangi kedua orang tua itu. " Ehem... Sebaiknya kita segera makan, ada yang mau papa omongin pada kalian semua. " Marvel menghela nafas lega, mendengar kata kata Darren seolah menyelamatkannya dari suasana yang kurang nyaman baginya, merekapun makan dengan tenang tak ada pembicaraan setelahnya hanya suara sendok yang mengisi. Beberapa saat kemudian mereka semuanya selesai dan siap mendengarkan sang kepala keluarga. "Papa udah menyiapkan tiket honeymoon di maldives untuk kalian berdua selama satu minggu. " Marvel tercekat, sementara Xia sudah bersorak gembira memang itu impiannya dia ingin honeymoon dimaldives bersama suaminya kelak. "Tapi pa, selama itu? Lalu siapa yang menghandle ... " "Kamu jangan kuatir Marvel, untuk saat ini semuanya stabil dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan jadwal Dean, dia pasti maklum.” "Iya, kamu nggak perlu khawatir Marvel, Dean aja dulu sama rara sampai hampir satu bulan, dan pulang pulang bawa cucu, mungkin kalian juga bisa gitu." Goda Teresa sembari menatap Marvel. Marvel menghela nafas berat, seminggu? Bagaimana dia ijin pada Dara, dan pastinya Dara akan marah padanya dan dia tidak bisa itu sehari saja tanpa Dara dia merasa kesepian apalagi sampai seminggu. Sedangkan Xia diam diam tersenyum miring melihat raut wajah Marvel yang gelisah. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN