Honeymoon Yang Tidak Diinginkan

1249 Kata
Marvel menatap ponselnya gamang, dia ingin mengabari pacarnya namun dia ragu malah nantinya mereka akan bertengkar namun jika tidak dijelaskan takut nantinya dara salah paham. Setelah menimbang cukup lama akhirnya Marvel pun menjelaskan dengan pelan agar Dara mengerti. Setelah berdehem beberapa kali Marvel membalas sapaan Dara ditelepon. “Kenapa sayang?” "Aku mau ngomong, tapi dengerin dulu jangan salah paham ya." “Kenapa sih? Jangan buat aku khawatir, kamu udah tidur sama mbak Xia mas?” Suara disebrang telepon terdengar panik dan menuntut membuat Marvel gelagapan. "Eh bukan sayang, bukan itu!" “Terus kenapa?” "Emlmm, lusa mertua aku nyuruh aku ke Maldive sama Xia." Marvel berkata dengan lirih takut membuat hati pacarnya terluka, dan benar saja tak ada balasan dari sebrang telfon membuat Marvel panik. "Dara.... " “Mas mau —” "Bukan sayang, jauhkan pikiran kotormu itu dari otakmu, tentu saja aku tidak akan menyentuhnya sama sekali. " Bukanya menjawab, Dara malah terisak kecil disebrang telfon membuat Marvel yang tadinya duduk resah langsung bangkit dengan wajah panik. "Sayang—” “Tapi di sana cuma kalian berdua, nggak mungkin kalau nggak ngapa ngapain." Bentaknya disela tangis. Marvel mengusap wajahnya frustasi, bagaimana meyakinkan dara jika dia tidak berminat menyentuh istri yang dinikahi terpaksanya itu. "Percaya sama aku Dara —" Panggilan terputus. “Sial!” Marvel mengumpat setelah tiba tiba saja dara mematikan ponselnya, jika sudah begini mana bisa Marvel meninggalkannya dengan keadaan Dara marah marah, mana bisa tenang dia apalagi nanti jaraknya yang cukup jauh dan tidak mungkin dia akan bolak balik untuk menyambangi kekasihnya itu. Dengan tergesa Marvel menyambar kuncinya berniat kekontrakan Dara. "Mau nemuin Dara?" Suara Xia dari arah belakang membuatnya menghentikan langkah, namun dirasa tidak terlalu penting Marvel hanya mendengus dan melanjutkan langkahnya kembali. "Bagaimana jika kita membuat kesepakatan." Lagi lagi Marvel menghentikan langkahnya antara muak dengan tingkah Xia namun juga penasaran dengan apa yang wanita itu ucapkan. Dengan wajah malas Marvel berbalik, dan menatap balik wajah Xia yang tersenyum miring menatapnya. "Maaf saya tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong anda." Desis Marvel ketika beberapa menit setelahnya Xia tak kunjung membuka suara. Xia menghela nafas santai. "Begini Marvel, kamu boleh ajak Dara diacara honeymoon kita." Alis Marvel terangkat sedikit tak mengerti dengan apa yang Xia ucapkan apakah dara diperbolehkan ikut ke acara liburan itu? Apa wanita ini tidak salah bicara. "Iya Marvel, kamu boleh ajak Dara bersama kita tapi dengan satu syarat." Dalam hati Marvel sudah bersorak, dia bisa liburan bersama sang kekasih ditempat yang sama diimpikan dara dulu, namun dia juga penasaran dengan apa syarat yang Xia ajukan. "Apa syaratnya?" "Wahh bahagia sekali kamu Marvel begitu mendengar kamu juga bisa membawa kekasihmu bersama kita, sampai sampai kamu begitu tidak sabar mendengar syarat dariku." Marvel hanya menghel nafas malas ketika mendengar basa basi Xia yang dirasa tidak penting sama sekali. "Oke, syaratnya mudah sekali Marvel, kamu disana harus memperlakukan aku layaknya istri yang mencintai suaminya dan ...." "Apa magsud anda? Saya sudah bilang saya tidak akan menyentuh ...." "Stttt jangan marah dulu Marvel, aku gak minta kita harus berhubungan badan meskipun itu juga tidak salah, kita suami istri yang sah dimata hukum dan negara." Marvel sedikit mengulum bibirnya malu karna mengira Xia ingin mereka benar benar melakukan honeymoon layaknya pasangan suami istri yang sebenarnya, jelas saja dia tidak mau. "Lalu apa?" "Dan hormati lah dirimu sebagai menatu keluarga kami, jangan mempermalukan keluargaku, jangan mesra mesra an dengan kekasih itu didepan banyak orang, menjijikan." "Hmm baiklah." Xia berdehem singkat "Setidaknya kabarkan berita baik ini pada kekasihnya yang sekarang mungkin saja menangis mendengar kamu dan aku akan honeymoon." Baru saja akan menghubungi dara mengingat satu hal yang dirasa cukup penting. "Tapi, apakah Dara bisa libur seminggu lamanya." Xia tersenyum miring "Kamu lupa siapa yang kamu ajak bicara Marvel, membuatmu menikahiku saja bisa apalagi hanya membuat dara bisa libur satu minggu." Marvel berdecak malas, lalu keluar rumah menuju teras untuk menghubungi sang kekasih mengabarkan hal gembira ini. ------ "Apa Kamu sudah gilaa Xiaaa?!!!!" Sentak Dean ketika mendengar penjelasan Xia yang ber keinginan membawa dara dalam acara honeymoon mereka dan meminta ijin untuk meliburkan dara selama seminggu. Masalah meliburkan Dara cukup mudah, mengingat peran dara dikantornya yang tidak terlalu penting dan orang lain bisa menggantikan sementara. Masalahnya dia membawa Dara. Mama Teresa membuat acara itu untuk membuat mereka menjadi dekat tapi Xia malah mengancurkannya dengan menghadirkan orang yang amat dicintai laki laki yang kini sudah berstatus suami adiknya. Apa sudah gila adiknya ini?. Sudah kemaren kemaren dibuat gila dengan permintaan Xia yang ingin menikah dengan Marvel, orang yang sudah dianggap sahabatnya sendiri dan kini malah membuat hal gila lainnya. Dean memijit pelipisnya pusing. "Kakak gak ngerti, dia pasti akan setiap detik menghubungi sang kekasih, dan aku tidak bisa menikmati liburanku juga." "Tap—” "Aku tau keputusan apa yang aku ambil kak, aku nggak akan membiarkan mereka bermesraan di depan mataku sendiri." "Tapi Xia, mereka orang yang saling jatuh cinta, sejauh apa kamu menjauhkan mereka punya seribu cara untuk mendekat." "Aku tau kak, tapi aku punya jutaan ribu cara membuat keduanya menjauh, kakak meragukanku?" Dean menghela nafasnya lelah, Dara keras kepalanya sama sepertinya dan jika dia mengatakan bisa dia akan melakukan berbagai cara untuk mewujudkanya. "Baiklah kalau gitu, jaga diri di sana kalau ada apa apa segera hubungi kakak." "Ck, gue bukan anak kecil lagi sialan." Dean tertawa, adiknya sangat arogan namun tanpa sadar selalu bertingkah menggemaskan didepannya. "Baik lah baiklah wahai orang dewasa.” ------ Marvel yang tengah menuju ke rumah sang kekasih karna kekasihnya tak kunjung mengangkat panggilannya dan sebelumnya Xia yang melihat dia keluarpun tak mengeluarkan ancaman memuakkan kembali. Setelah sampai dikontrakan Dara, gadis itu hanya membuka pintu dan kembali masuk. Melihat kekasihnya yang terlihat masih merajuk, dan marah padanya membuat Marvel mengulum bibirnya gemas, wajah sembab Marvel terlihat menggemaskan dimatanya. Setelah keduanya duduk Marvel segera meraih tangan Dara meskipun wanita itu tak mengalihkan wajahnya dari depan tak mau memandang Marvel. "Sayang, aku punya kabar gembira." Dara segera menatap Marvel tajam dan menyentak tangannya dari genggaman pria itu. "Kabar gembira kalau kamu bisa berduaan dengan orang secantik mbak Xia?" Marvel hanya bisa mengulum senyum gemas dengan tingkah Dara yang marah dan sirat akan kecemburuan. "Aku rasa, lebih cantik kekasihku." Mendengar godaan itu Dara memalingkan wajahnya dengan wajah bersemu merah. "Sayang, aku benar benar bawa kabar gembira buat kita, terutama kamu." Kembali Marvel meraih tangan Dara dengan lembut, dan kali ini wajah Dara terlihat tenang dan lunak dia akan mendengarkan apa yang akan dibicarakan Marvel. "Kamu bisa ikut aku sama Xia liburan diMaldave sayang. " Mata dara membulat dengan wajah syok. "Kamu nggak bercanda kan mas?” Marvel mengacak rambut Dara gemas dan menggeleng sembari tersenyum manis. "Tapi gimana bisa?" Marvel sedikit gugup dan berdehem singkat membuat Dara menangkap hal yang tidak beres tidak mungkin Xia, sosok arogan dan keras itu dengan mudah mengajak pacar suaminya untuk ikut liburan bersama, apakah wanita itu menyiapkan rencana licik? "Mas? Kamu disuruh berhubungan badan sama—" "Bukan sayang." "Lalu apa mas, pasti ada yang kamu sembunyiin kan?" Marvel menghela nafas sejenak "Dia ngajuin satu syarat, dengan memperlakukan dia layaknya istri di tempat umum dan kita tidak boleh mengumbar kemesraan." Dara mengangkat alisnya berfikir, itu syarat yang sangat mudah, dia dan Marvel memang jarang bermesraan didapan orang banyak secara terang terangan dan dia rasa bukan masalah besar untuknya. "Baiklah, maafin aku ya mas akhir akhir ini aku sering berfikir negatif ke kamu." Pria itu membalas dengan tersenyum lembut "Nggak papa sayang itu wajar, cuma yang perlu kamu tau, cuma kamu orang yang aku cintai." "Aku percaya mas." ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN