Xia dan Marvel tengah berenang di kolam renang yang telah disediakan pihak resort, sedangkan Dara tadi menyiapkan minuman karna merasa tidak enak. Dia merasa hanya menumpang liburan maka dari itu dia berinisiatif membuatkan minuman untuk Xia dan Marvel meskipun tanpa diminta sekalipun, dia sadar diri.
Meskipun Marvel sendiri sudah melarang, dan Xia sendiri tak perduli dia tidak menyuruh namun tidak juga melarang jadi terserah apa yang Dara perbuat asal tidak mengganggu liburannya dan membuatnya terganggu dengan tingkahnya.
Kini di kolam hanya ada Xia yang memakai bikini sexy yang belahan dadanya terlihat dan juga Marvel yang hanya telanjang d**a dan hanya memakai celana pendek.
Beberapa saat kemudian Dara datang membawa nampan, melihat itu Xia tersenyum sinis, wanita itu pantas menjadi pelayan dan tidak cocok dengan Marvel sama sekali tapi kenapa pria yang sudah berstatus suaminya itu begitu menggilainya apa yang ada didiri dara tapi tidak ada didirinya.
Setelah mengambil minuman yang dara berikan Xia bersender ditepi kolam sembari menimati minuman yang cukup menyegarkan tenggorokanya, sedangkan Marvel tengah asik berenang dan Dara sendiri masih menyiapkan diri untuk berenang meskipun dalam hati merasa tidak enak satu kolam dengan anak bosnya itu.
"Vel sini deh."
Meskipun merasa heran Marvel akhirnya berenang mendekat setelah sebelumnya melirik Dara dan wanita itu memberikan tatapan menyetujui.
"Dara bisa ambil video kita, pake ponsel gue aja."
Dara merasa aneh namun tak juga membantah, wanita itu mengarahkan kamera yang telah menyala kearah mereka berdua hingga beberapa detik berlalu dan tanpa diduga Xia mengalungkan sebelah tangannya pada Marvel dan menarik pria itu mendekat dan dengan cepat mencium bibir Marvel.
Marvel yang masih syok hanya bisa melotot dan mematung bahkan ketika Xia masih melumat bibirnya dan Dara yang sudah menjauh dengan ponsel yang sudah ditinggal dimeja tak jauh darinya.
Sial.
Marvel segera melepas dekapan Xia dengan sedikit mendorongnya hingga membuat kepala gadis itu hampir mengenai pinggiran kolam namun Marvel tak perduli, pria itu segera naik dan mengejar dara yang pergi kearah pojok kamarnya.
Sedangkan Xia yang ditinggal sendiri tersenyum miring, melihat punggung tegap Marvel yang semakin menjauh tak perduli dengan perlakuan Marvel tadi, yang pasti dia bisa membuktikan pada dara jika Marvel lebih pantas bersamanya.
***
Marvel yang melihat Dara menangis, segera memeluknya dari belakang meskipun wanita itu kerap memberontak melepaskan pelukanya.
"Maaf sayang, aku tadi ga sadar."
"Ga sadar apa keenakan, Mas."
Marvel memutar tubuh Dara agar menghadapnya, mata gadis itu sembab dan tak mau menatapnya sama sekali namun Marvel menahannya agar tetap bertatapan dengannya.
"Maaf yah, aku beneran ga sadar, Sayang."
Tanpa Marvel duga, Dara manariknya dan menciumnya dengan ganas, membuat Marvel yang awalnya terkejut hanya tersenyum kecil dan membalas lumatan dara yang sarat akan kemarahan. Bahkan bibirnya sedikit kebas karna hisapan Dara yang begitu kuat, jarang sekali dara meciumnya terlebih dahulu atau menciumnya sedemikian bruntalnya.
“Handphonemu bunyi."
Suara Xia yang tiba tiba membuat keduanya tersentak, terlebih mereka sedang keadaan sudah diselimuti nafsu.
Dara segera mendorong Marvel sedikit menjauh dan menunduk malu. Sedangkan Marvel mengusap sulivanya dan berdehem sebentar sebelum mengusap kepala Dara singkat lalu berlalu dari sana meninggalkan Xia yang mengepalkan tangannya sejak melihat kejadian tadi.
Ini petama kalinya dengan kepala matanya sendiri melihat mereka berhubungan seintim itu meskipun bukan yang terlalu untuk sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara sedang berciuman.
Sebenarnya tadi setelah Marvel pergi dia langsung menyusulnya, hampir saja Xia menampar Dara ketika dengan tidak tahu malunya mencium suaminya dengan menggebu, namun langkahnya terhenti dan langsung membatu ditempat ketika Marvel dengan tatapan penuh cinta dan juga mengimbangi ciuman dara mendadak hatinya berdenyut, bahkan air matanya nyaris turun namun tidak jadi, dia tidak ingin air matanya turun sia sia hanya untuk masalah sepele.
Xia mendekat, mengangkat wajahnya angkuh sembari tersenyum sinis.
"Gua baru lihat loe sebinal itu, gue gak lihat Dara sikalem dikantor."
Xia berhenti di depan Dara yang masih tak berkutik, bahkan sejak tadi wanita itu hanya menunduk dan terlihat gugup memainkan tangannya sendiri.
"Apa, emang sifat loe emang gini? Murahan?"
PLAK!!
entah sejak kapan kedatangan Marvel yang Xia tau, tiba tiba saja wajahnya berputar hampir 90° ketika mendapat tamparan yang cukup keras bahkan pipinya terasa kebas dan juga perih.
"Saya nggak akan meminta maaf pada anda, karna mulut sialan anda melukai kekasih saya."
Entah sejak kapan Dara menangis, yang pasti disaat Marvel menggandeng dan mengajaknya pergi wanita itu sudah terisak menangis.
Dia pria pertama yang berani menamparnya, dia pria yang berstatus sebagai suaminya sendiri.
Entah mengapa mendapat perlakuan Marvel membuat hatinya hancur, dulu saat pacarnya berselingkuh hatinya memang sakit tapi ini 3 kali lebih sakit dari itu, ketika suamimu sendiri lebih membela wanita lain dan melukaimu dengan tak hanya fisik tapi juga hati.
Xia segera mengusap air matanya yang tiba tiba turun lalu berjalan masuk kedalam kamar untuk mengompres pipinya yang mungkin saja akan membekas karna pasti nanti mamanya akan menelfon vidio call dan mamanya yang cerewet pasti bertanya tanya banyak hal.
Namun baru saja akan memasuki kamar, Xia melewati kamar Dara yang tidak terkunci disana Marvel memeluk Xia yang terisak. Hingga kemudian tatapannya tak sengaja bertabrakan dengan Marvel. Namun mata pria itu tak menyiratkan rasa penyesalan sedikitpun malah yang Xia tangkap Marvel menatapnya dengan tajam.
Xia segera berlalu dari sana tanpa perduli.
Setelah mendapat apa yang dibutuhkan, Xia segera mengompres pipinya yang memerah, memang tamparan Marvel tidak terlalu keras namun untuk tenaga pria itu sangat menyakitkan.
Dan benar saja, baru saja beberapa menit setelah mengompres Xia mendapati teresa menelfonya, Xia segera merapikan semuanya dan menutupi warna merahnya dengan rambut yang dibiarkan terurai kedepan hingga karna kelamaan panggilannya mati, namun tak lama kemudian kembali berdering dan Xia langsung mengangkatnya.
"Kenapa ma?"
“Ish kamu ini ditelfon ga diangkat kemana sih?”
"Tadi ke toilet, Ma."
“Ck, kebiasaan, alasan aja.”
Xia memutar bolamatanya malas, mamanya memang sulit dibohongi.
“Gimana honeymoonnya?”
"Lancar." jawab Xia singkat.
“Mama gak percaya kalau lancar, apalagi ada Dara disana.”
“Emang kenapa kalau ada Dara? Bukan masalah yang penting.”
Xia mendengus menyenderkan ponselnya dibantal dan berpura pura membersihkan kuku dengan alatnya.
Mama teresa yang mengetahui mood anaknya memburuk hanya bisa mengela nafas menyesali perkataanya, dan sejak tadipun dia tak melihat Marvel disamping Xia padahal sebelumnya dia memesankan kamar untuk mereka berdua.
Apakah Marvel sekamar dengan Dara? Tapi itu tidak mungkin, Xia bukan orang yang gampang menyerah. Apalagi berbagi dengan sesuatu yang sudah diklaim menjadi miliknya.
Hingga dia hanya bisa melihat anaknya yang terlihat kegiatannya membersihkan kuku kuku cantiknya tanpa memperdulikan dirinya, hingga beberapa menit kemudian matanya hampir melotot ketika tak sengaja Xia menyampirkan rambutnya dibelakang dan memperlihatkan pipinya yang memerah dan seperti bekas tangan?
"Sayang ..."
Baru saja akan bertanya suara sesorang yang dikenalnya terdengar.
"Sorry buat tadi."
Xia yang memang tak mengetahui kedatangan Marvel yang tiba tibe manjadi panik, namun terlambat mamanya sudah melotot dilayar ponsel dia juga baru sadar jika tanpa sengaja dia memindahkan rambutnya membuat pipinya bekas tamparan Marvel terlihat.
"Hm, gak papa, aku juga salah."
"Ya, memang anda keterlaluan tapi saya juga reflek melakukanya."
Sepertinya Marvel belum menyadari jika sejak tadi mertuanya mendengar percakapan mereka, diam diam Xia meraih ponselnya dan mematikan sebelum mamanya tau lebih banyak, karna dia yakin setelah ini dia akan diintrogasi dan mendengar omelan mamanya yang membuatnya bosan.
"Iya gak papa kok." Jawab Xia dengan santai, tidak ada kemarahan sedikitpun, entah mengapa meskipun hatinya benar benar sakit mengingatnya tapi sungguh dia tidak bisa memebenci Marvel.
"Gimana keadaan Dara?”
"Dia sudah lebih baik, tadi udah tidur."
Keduanya duduk dipinggir ranjang, dan semuanya terasa canggung, membuat Marvel mengambil ponsel untuk dimainkan.
Sedangkan Xia hanya menatap Marvel yang sepertinya tak nyaman disedekatnya, kadang Xia berfikir jika dia juga menangis apakah dia juga diperlakukan manis seperti Dara. Marvel yang memeluknya dan juga menenangkanya dengan lembut.
"Marvel."
Marvel melirik sebentar, lalu berdehem.
"Apa kamu nggak bisa buka sedikitpun hatimu buat aku ?"
****