Napas Maya tertahan di tenggorokan saat telapak tangan Dirga yang besar membekap mulutnya dengan sangat erat. Di dalam ruang sempit di balik rak buku, detak jantung mereka beradu dalam irama yang penuh ketakutan.
"Cari ke setiap sudut ruangan ini, aku tahu gadis ingusan itu masuk ke sini!" teriak Nyonya Widya histeris dari luar. Para penjaga mulai mengobrak-abrik meja kerja Dirga, menjatuhkan tumpukan dokumen berharga ke lantai marmer dengan kasar.
Maya memejamkan mata sambil mencengkeram erat kertas instruksi kejam yang baru saja ia temukan. Dirga semakin merapatkan tubuhnya, memastikan tidak ada suara sedikit pun yang bisa membocorkan persembunyian mereka yang rapuh.
"Jika dia menemukan kita, kontrak ini berakhir dan panti asuhanmu akan rata dengan tanah sebelum fajar," bisik Dirga pelan. Maya tersentak, merasa benci sekaligus bergantung pada pria yang sedang memeluknya dengan protektif ini.
Nyonya Widya mendengus kesal karena tidak menemukan siapa pun di ruang kerja yang kini berantakan itu. "Sialan, mungkin dia sudah kembali ke kamar atau bersembunyi di tempat lain," gumamnya sebelum melangkah pergi.
Setelah suasana benar-benar sunyi, Dirga mendorong pintu rahasia dan menarik Maya keluar dengan gerakan kasar. Ia segera merebut dokumen tua itu dari tangan Maya sebelum gadis itu sempat protes lebih jauh.
"Berikan padaku, kau tidak seharusnya melihat dokumen ini sekarang atau kapan pun!" gertak Dirga dengan rahang mengeras. Maya tidak tinggal diam dan mencoba merebutnya kembali, meski tenaganya kalah jauh dibandingkan tenaga pria di depannya.
"Kau pengecut, Dirga! Kau menutup-nutupi kejahatan besar dengan uang dan kekuasaan yang kau punya!" maki Maya parau. Dirga mencengkeram bahu Maya, memaksanya menatap langsung ke dalam mata elangnya yang memancarkan luka tersembunyi.
"Kau hanya melihat satu kepingan puzzle, Maya, dunia ini jauh lebih kotor dari yang kau bayangkan," ucap Dirga rendah. Ia menarik Maya menuju sebuah lemari besi di pojok ruangan dan memasukkan kode rahasia yang sangat rumit.
Dirga mengeluarkan sebuah map kulit berwarna merah darah yang tampak jauh lebih baru dari dokumen sebelumnya. "Baca ini jika kau benar-benar ingin menghancurkan hidupmu dengan kebenaran yang pahit," tantangnya dingin.
Maya membuka map itu dengan tangan gemetar, matanya memindai laporan keuangan yang menunjukkan bukti sabotase internal sepuluh tahun lalu. Ada aliran dana besar masuk ke rekening pribadi Nyonya Widya tepat seminggu sebelum kecelakaan maut orang tua Maya.
"Jadi... Nyonya Widya yang melakukannya? Dan kau menutupi dosanya selama ini?" tanya Maya dengan nada sangat bingung. Dirga memalingkan wajah ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Aku masih remaja saat itu dan tidak punya pilihan selain mematuhi instruksi Eyang Wiryo demi nama besar Arlangga," ungkapnya.
Maya merasa mual menyadari bahwa ia terjebak di tengah keluarga yang sanggup membunuh demi menjaga citra publik.
"Lalu kenapa kau memilihku menjadi istri kontrakmu? Apakah ini cara licikmu untuk menebus dosa masa lalu?" cecar Maya. Dirga melangkah mendekat dengan tatapan intens yang membuat Maya mendadak kehilangan keberanian untuk terus menghujatnya.
"Karena kau satu-satunya orang yang punya bukti kepemilikan tanah panti yang sebenarnya adalah milik ayahmu," jawab Dirga jujur. Tanah itu adalah aset terakhir ayah Maya yang harus dilegalkan agar tidak jatuh ke tangan pihak asing melalui Nyonya Widya.
"Kau memanfaatkanku lagi, Dirga, kau benar-benar tidak berubah sedikit pun," ucap Maya dengan senyum getir yang menyakitkan.
Dirga tidak membantah, ia justru meraih tangan Maya dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari secara perlahan.
"Setidaknya aku tidak membiarkanmu mati di trotoar seperti rencana ibu tiriku itu," sahut Dirga dengan nada yang tiba-tiba melunak.
Momen canggung itu terputus oleh suara ketukan pintu yang sangat keras dari pelayan tua yang tampak panik luar biasa.
"Tuan Dirga, Eyang Wiryo mendadak mengalami sesak napas di kamarnya!" lapor pelayan itu dengan suara bergetar. Dirga langsung berlari keluar ruangan tanpa memedulikan apa pun lagi, disusul oleh Maya yang mengikuti dari belakang dengan cemas.
Di kamar utama, suasana sangat tegang dengan kehadiran dokter pribadi dan Nyonya Widya yang berpura-pura sedih. "Dirga... kemarilah, cucuku," panggil Eyang Wiryo dengan suara yang sangat lemah dari atas ranjang besarnya.
Dirga berlutut di samping kakeknya, menggenggam tangan pria tua yang telah membentuknya menjadi pria yang kaku dan dingin. Eyang Wiryo melirik Maya yang berdiri di ambang pintu, memberi isyarat agar gadis itu mendekat ke arahnya.
"Bawa istrimu ke sini, aku ingin memastikan masa depan Arlangga sudah berada di tangan yang tepat," perintah kakek tua itu. Maya melangkah masuk dan merasakan tekanan luar biasa saat tangan Eyang Wiryo menyatukan tangannya dengan tangan Dirga.
"Jaga cucuku, Maya, dia memiliki beban berat yang tidak akan pernah kau mengerti sepenuhnya," bisik Eyang Wiryo perlahan.
Tangan Dirga terasa sangat dingin, namun ia menggenggam tangan Maya dengan kekuatan yang seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Aku berjanji, Eyang, aku akan menjaga kehormatan Arlangga bersama Maya," ucap Dirga dengan nada yang sangat formal. Setelah kakeknya tertidur karena pengaruh obat, Dirga melepaskan tangan Maya dan kembali memasang topeng dinginnya yang angkuh.
Nyonya Widya mendekat dan menatap mereka dengan tatapan penuh racun yang mematikan. "Jangan senang dulu, Dirga, kontrak pernikahan tidak akan menyelamatkanmu jika perusahaan jatuh ke tanganku besok pagi," ancamnya.
"Cobalah jika kau berani, Ibu, tapi ingat aku punya kartu as yang bisa membuatmu membusuk di penjara," balas Dirga telak. Nyonya Widya pergi dengan amarah meledak-ledak, meninggalkan Maya yang menatap wajah suaminya yang tampak sangat pucat karena kelelahan.
"Kau sebaiknya istirahat, Dirga, kau terlihat sangat tidak sehat malam ini," saran Maya dengan rasa simpati yang muncul tiba-tiba.
Namun, Dirga justru membentaknya dan memerintahkannya untuk segera kembali ke kamar tanpa izin untuk keluar lagi.
Maya mendengus kesal dan berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Sisca berdiri di lorong gelap. "Hati-hati, Maya, kecelakaan bisa terjadi kapan saja, seperti yang dialami orang tuamu dulu," bisik Sisca dengan seringai licik.
"Apa maksudmu? Apa yang kau ketahui tentang orang tuaku?" tanya Maya dengan suara yang mendadak hilang kendali karena panik. Sisca hanya tertawa dan menyuruh Maya menanyakan pada Dirga tentang siapa yang sebenarnya memotong rem mobil orang tuanya.
Pikiran Maya kacau balau, ia memutuskan untuk mencari udara segar di taman belakang mansion daripada kembali ke kamarnya. Di sana, ia tak sengaja melihat Nyonya Widya sedang menerima botol cairan bening dari seorang pria misterius berpakaian hitam.
"Pastikan ini dicampurkan ke minuman Dirga sebelum rapat pemegang saham dimulai besok," perintah Nyonya Widya dengan nada keji. Maya terperanjat dan tak sengaja menginjak ranting kering, membuat kehadirannya diketahui oleh pria misterius bersenjata itu.
Maya berlari sekuat tenaga menuju mansion sementara pria itu mengejarnya dengan langkah yang sangat cepat dari belakang. Ia berhasil masuk dan mengunci pintu samping sebelum berlari menaiki tangga menuju kamar Dirga dalam keadaan panik.
Tanpa mengetuk, Maya mendobrak pintu kamar Dirga dan menemukan pria itu berdiri di depan cermin tanpa baju yang lengkap.
Maya terpaku melihat luka parut besar di punggung Dirga yang tampak seperti bekas operasi akibat kecelakaan hebat di masa lalu.
"Dirga! Seseorang mencoba membunuhmu dengan racun!" teriak Maya dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan. Dirga tidak tampak terkejut, ia segera memegang bahu Maya untuk menenangkannya dari serangan panik yang sangat hebat itu.
Belum sempat Maya menjelaskan, suara ledakan kecil terdengar dari lantai bawah disusul dengan bunyi alarm keamanan yang memekakkan telinga. Lampu mansion padam seketika, dan suara tembakan mulai terdengar bersahut-sahutan dari arah halaman depan yang luas.
"Mereka beraksi lebih cepat dari dugaanku," gumam Dirga sambil menarik Maya masuk ke dalam pelukannya yang sangat protektif. Tiba-tiba pintu kamar didobrak paksa, dan beberapa pria bertopeng masuk dengan senjata yang langsung diarahkan ke arah mereka.
Di tengah kegelapan, Maya melihat moncong pistol diarahkan tepat ke jantung Dirga yang sedang melindunginya. Sepertinya, malam ini bukan hanya tentang kontrak pernikahan, melainkan pertaruhan nyawa yang sesungguhnya di kediaman Arlangga.
***