Tameng Nyawa

1262 Kata
Moncong senjata itu berkilat dingin di bawah sorotan lampu senter yang menyapu ruangan gelap. Maya merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat tubuh Dirga yang kokoh justru bergerak maju menghalangi peluru. "Jangan bergerak, atau kepalamu akan meledak sebelum kau sempat mengedipkan mata!" gertak pria bertopeng itu dengan suara parau. Dirga tidak gentar, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Maya, menarik gadis itu semakin rapat ke balik punggungnya yang lebar. "Siapa yang mengirim kalian? Nyonya Widya atau tikus-tikus kecil dari dewan direksi?" tanya Dirga dengan nada yang sangat tenang, seolah nyawanya tidak sedang di ujung tanduk. Pria bertopeng itu tertawa parau, sebuah suara yang terdengar sangat menyeramkan di tengah kesunyian kamar yang mencekam. "Siapa pun pengirimnya tidak penting, yang jelas malam ini Arlangga Group akan kehilangan pemimpin mudanya," balas sang penyusup. Tanpa peringatan, jari pria itu mulai menarik pelatuk senjata, siap memuntahkan timah panas ke arah d**a bidang Dirga. Maya memejamkan mata dengan rapat, secara naluriah ia memeluk punggung Dirga dan menyembunyikan wajahnya di sana. Namun, bukannya suara letusan tembakan yang terdengar, melainkan suara dentuman keras dari arah jendela balkon kamar. Kaca balkon pecah berkeping-keping saat sesosok pria lain masuk dengan gerakan salto yang sangat lincah dan cepat. Pria itu menendang senjata sang penyusup hingga terlepas dan menghantam wajahnya dengan pukulan yang sangat telak. "Tuan Dirga, segera bawa Nyonya ke ruang bawah tanah sekarang juga!" teriak pria yang ternyata adalah kepala pengawal pribadi Dirga. Dirga tidak membuang waktu, ia segera menarik tangan Maya dan berlari keluar kamar melewati lorong yang kini dipenuhi asap hitam. Suara tembakan bersahut-sahutan di lantai bawah, menciptakan suasana mencekam seperti medan perang yang sesungguhnya. Maya berlari dengan kaki gemetar, mencoba mengimbangi langkah panjang Dirga yang tampak sangat hafal dengan setiap sudut rahasia mansion ini. "Kenapa mereka menyerang rumah ini? Apakah ini semua karena aku?" tanya Maya dengan suara yang nyaris hilang karena ketakutan. Dirga menggeleng cepat, ia berhenti di depan sebuah lukisan besar dan menekan tombol tersembunyi di balik bingkai emasnya. "Mereka ingin menghancurkan aset Arlangga sebelum rapat besok, kau hanya berada di waktu yang salah," jawab Dirga singkat. Dinding di balik lukisan itu bergeser, menampakkan sebuah tangga darurat yang menuju ke bagian terdalam dari pondasi mansion megah tersebut. Mereka menuruni tangga dengan terburu-buru sementara suara ledakan kembali terdengar dari arah lantai atas yang mereka tinggalkan. Maya merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka terlambat satu detik saja keluar dari kamar tadi. Sesampainya di ruang bawah tanah yang dikelilingi dinding beton tebal, Dirga segera mengunci pintu baja yang tampak sangat kokoh. Ruangan itu dilengkapi dengan puluhan layar monitor yang menampilkan setiap sudut mansion yang kini sedang diinvasi oleh pria-pria bersenjata. "Duduklah di sana, jangan menyentuh apa pun sampai aku mengizinkannya," perintah Dirga sambil menghampiri meja kendali komputer. Maya terduduk lemas di sebuah kursi kulit, matanya terpaku pada salah satu layar yang memperlihatkan kamar Eyang Wiryo. Beberapa perawat dan dokter tampak sedang mencoba mengevakuasi kakek Dirga melalui jalur medis khusus yang tersembunyi. Maya sedikit lega melihat Eyang Wiryo aman, namun ia kembali tegang saat melihat Nyonya Widya berdiri di ruang tamu dengan tenang. "Lihat wanita itu, dia bahkan tidak tampak takut sedikit pun dengan serangan ini," tunjuk Maya ke arah layar monitor. Dirga menatap layar itu dengan rahang yang mengeras, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih karena menahan amarah. "Karena dia yang membukakan gerbang untuk mereka, dia rela membakar rumahnya sendiri demi kepuasan pribadinya," desis Dirga tajam. Tiba-tiba, salah satu layar monitor padam secara mendadak, diikuti oleh beberapa layar lainnya yang mulai menampilkan bintik-bintik statis. "Seseorang sedang memutus kabel optik sistem keamananku, mereka tahu ada ruang kendali di bawah sini," gumam Dirga dengan cemas. Ia segera mengambil sebuah senjata api dari laci meja dan memeriksa magasinnya dengan gerakan yang sangat profesional dan terlatih. Maya menatap senjata itu dengan ngeri, ia tidak pernah membayangkan akan terlibat dalam drama kriminal yang melibatkan nyawa seperti ini. "Kau... kau akan menembak mereka? Bukankah itu akan membuatmu menjadi pembunuh juga?" tanya Maya ragu. Dirga menoleh ke arah Maya, sorot matanya yang tajam mendadak melunak selama beberapa detik yang sangat singkat. "Terkadang kau harus menjadi monster untuk melindungi apa yang kau sayangi, Maya, dan saat ini kau adalah prioritasku." Kata-kata itu menghantam hati Maya lebih keras daripada suara ledakan yang terus terdengar dari atas sana. Ia tidak mengerti mengapa Dirga begitu peduli padanya, padahal hubungan mereka hanyalah sebuah kontrak bisnis yang penuh dengan kebohongan. "Kenapa? Bukankah aku hanya bidak untuk mengamankan tanah pantimu?" tanya Maya dengan nada yang menuntut kejujuran dari pria di depannya. Dirga terdiam, ia melangkah mendekati Maya dan meletakkan tangannya di atas kepala gadis itu dengan gerakan yang sangat canggung. "Karena kau mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya aku lindungi sepuluh tahun lalu, tapi aku gagal melakukannya," bisik Dirga parau. Maya tertegun, ia ingin bertanya lebih lanjut, namun suara benturan keras pada pintu baja ruang bawah tanah memutus percakapan mereka. Pintu baja itu bergetar hebat akibat hantaman benda tumpul dari luar, seolah-olah ada raksasa yang sedang mencoba mendobraknya masuk. Dirga segera menarik Maya ke sudut ruangan yang paling terlindung di balik meja besi yang sangat berat. "Tetap di sini dan jangan keluar apa pun yang terjadi, mengerti?" perintah Dirga dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Maya hanya bisa mengangguk pasrah, ia melihat Dirga bersiap di balik pilar beton dengan senjata yang sudah terkokang dengan sempurna. Engsel pintu baja itu mulai terlepas satu per satu, menciptakan suara derit logam yang sangat menyakitkan telinga bagi siapapun yang mendengarnya. Cahaya senter dari luar mulai menembus celah pintu, menandakan bahwa para penyusup sudah sangat dekat dengan posisi mereka. "Keluar sekarang, Dirga Arlangga! Berikan dokumen aslinya atau gadis itu akan mati pelan-pelan di depan matamu!" teriak suara dari luar. Maya tersentak, ia baru menyadari bahwa dokumen tanah panti asuhan yang asli masih berada di tangan Dirga sejak di ruang kerja tadi. Dirga melirik ke arah Maya dengan pandangan yang penuh arti, seolah ia sedang membuat sebuah keputusan besar yang sangat sulit. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan map kecil yang berisi dokumen tanah panti asuhan yang sangat berharga bagi Maya. "Jika terjadi sesuatu padaku, ambil map ini dan larilah melalui lorong pembuangan di belakang lemari itu," bisik Dirga sambil memberikan map itu. Maya menggeleng keras, ia tidak ingin meninggalkan Dirga sendirian menghadapi maut di ruangan bawah tanah yang gelap ini. "Tidak! Aku tidak akan pergi tanpamu! Kita harus keluar dari sini bersama-sama!" tolak Maya dengan air mata yang mulai mengucur deras. Dirga hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan penuh dengan penyesalan mendalam atas segala sikap dinginnya. Tanpa peringatan, pintu baja itu runtuh sepenuhnya dan beberapa bom asap dilemparkan ke dalam ruangan, menciptakan kabut putih yang sangat pekat. Maya terbatuk-batuk, pandangannya menjadi kabur dan ia hanya bisa mendengar suara tembakan yang memekakkan telinga berkali-kali. Ia merasa tubuhnya ditarik oleh seseorang dalam kegelapan asap yang sangat menyesakkan napas tersebut. "Dirga? Apakah itu kau?" tanya Maya dengan penuh harap sambil meraba-raba tangan orang yang sedang menariknya dengan sangat kuat. Namun, alih-alih suara Dirga yang menenangkan, ia justru mendengar tawa sinis yang sangat ia kenal di dekat telinganya. "Sayang sekali, Maya, suamimu sedang sibuk meregang nyawa di sana, sekarang giliranmu untuk ikut denganku," bisik sosok itu. Maya meronta, namun sebuah sapu tangan beraroma kimia yang sangat menyengat langsung dibekapkan ke hidung dan mulutnya dengan paksa. Kesadarannya mulai menipis, dan hal terakhir yang ia lihat adalah sosok Dirga yang terkapar di lantai dengan darah yang mulai membasahi kemeja putihnya. Dunia Maya menjadi gelap gulita saat ia ditarik paksa keluar dari ruang bawah tanah menuju kegelapan malam yang penuh dengan misteri. Siapakah sosok yang menculik Maya, dan benarkah Dirga telah tewas dalam pertempuran berdarah di mansionnya sendiri? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN