Kesadaran Maya berputar-putar di dalam kegelapan yang pekat, sementara aroma zat kimia yang menyengat masih tertinggal di indra penciumannya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa dingin dari rantai besi yang mengikat pergelangan tangannya langsung menyadarkannya pada realitas yang pahit.
"Bangunlah, Gadis Panti, jangan biarkan tidurmu terlalu nyenyak di tempat kotor ini," suara melengking Sisca terdengar dari balik bayang-bayang. Maya mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu bohlam yang berkedip-kedip di ruangan lembap tersebut.
Ruangan itu tampak seperti gudang tua yang terabaikan, dengan dinding beton yang berlumut dan bau amis yang menusuk hidung. Sisca berdiri tepat di depan Maya, memainkan sebuah pisau lipat kecil dengan senyum kemenangan yang sangat mengerikan.
"Di mana Dirga? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Maya dengan suara serak yang nyaris hilang. Sisca tertawa nyaring, sebuah tawa yang meremehkan penderitaan Maya yang kini tak berdaya di hadapannya.
"Suami kontrakmu itu sedang sibuk bertaruh nyawa dengan timah panas di jantungnya, jika dia belum mati saat ini," sahut Sisca dingin. Air mata Maya tumpah seketika, membayangkan tubuh Dirga yang bersimbah darah di lantai ruang bawah tanah mansion tadi.
Maya meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki, namun rantai besi itu justru semakin melukai kulit pergelangan tangannya yang halus. "Kau iblis, Sisca! Kau dan Nyonya Widya tidak akan pernah mendapatkan apa pun dari kekejaman ini!" maki Maya.
Sisca melangkah maju dan menjambak rambut Maya dengan kasar, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang penuh obsesi. "Kami sudah mendapatkan segalanya, Maya, termasuk dokumen tanah panti yang kau simpan di balik bajumu itu."
Sisca merogoh saku gaun Maya dan mengeluarkan map kecil berisi dokumen berharga yang diberikan Dirga sesaat sebelum ledakan terjadi. Maya membelalak, menyadari bahwa harapan terakhir anak-anak panti kini berada di tangan wanita yang sangat membencinya.
"Sekarang, kau hanya perlu menunggu berita kematian Dirga sebelum aku melenyapkanmu untuk selamanya," bisik Sisca tepat di telinga Maya. Ia melepaskan jambakannya dan berjalan menuju pintu besi besar, meninggalkan Maya sendirian dalam kesunyian yang mencekam.
Sementara itu, di reruntuhan ruang bawah tanah Mansion Arlangga, debu dan asap putih mulai menipis tertiup angin dari ventilasi yang rusak. Sosok pria yang tergeletak di lantai perlahan mulai menggerakkan jemarinya yang berlumuran darah segar.
Dirga terbatuk keras, memuntahkan darah yang menyumbat tenggorokannya akibat hantaman benda tumpul saat ledakan tadi terjadi.
Ia meraba dadanya, merasakan peluru yang bersarang di sana ternyata tertahan oleh rompi anti peluru tipis yang selalu ia kenakan.
"Maya... di mana kau..." gumam Dirga dengan suara yang sangat parau dan penuh dengan penderitaan fisik yang luar biasa. Ia mencoba berdiri, namun rasa sakit di rusuknya membuat ia kembali terjatuh dan mengerang tertahan di atas lantai beton yang dingin.
Dengan tekad yang kuat, Dirga menyeret tubuhnya menuju meja kendali yang untungnya masih berfungsi meskipun layarnya sudah banyak yang retak. Ia menekan tombol darurat yang terhubung langsung dengan satelit pribadi milik tim intelijen rahasianya yang selama ini ia sembunyikan.
"Lacak sinyal GPS dari kalung yang dipakai Maya, sekarang juga!" perintah Dirga saat panggilan itu tersambung dengan operator di seberang sana. Ia teringat bahwa kalung perak peninggalan ibu Maya yang ia perbaiki tempo hari telah ia pasangi alat pelacak mikro tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Sinyal terdeteksi di kawasan gudang pelabuhan utara, Tuan, sekitar sepuluh kilometer dari posisi Anda saat ini," lapor suara dari operator. Dirga memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk melakukan misi penyelamatan yang sangat berbahaya bagi nyawanya.
Ia mengambil kotak P3K darurat di bawah meja dan menyuntikkan adrenalin ke lengannya untuk menekan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh. Dirga mengenakan jaket kulit hitam untuk menutupi noda darah di kemejanya, lalu mengambil senjata cadangan dari lemari rahasia lainnya.
"Aku datang, Maya, jangan berani-berani mati sebelum aku membayar utang nyawaku padamu," desis Dirga dengan tatapan mata yang kembali tajam. Ia keluar melalui lorong pembuangan rahasia yang menuju ke garasi belakang, di mana sebuah motor sport hitam sudah menunggunya dalam kegelapan.
Di gudang pelabuhan, Maya mencoba menggunakan sisa kekuatannya untuk meraih sepotong kaca tajam yang jatuh tidak jauh dari kakinya. Ia harus membebaskan diri sebelum Sisca kembali dan melakukan tindakan nekat yang bisa mengakhiri hidupnya malam ini.
Tangan Maya berdarah saat mencoba memotong ikatan tali yang menghubungkan rantai besinya dengan tiang penyangga gudang yang sudah berkarat. Setiap gesekan kaca itu menimbulkan rasa perih yang luar biasa, namun ia tidak peduli demi keselamatan dirinya dan dokumen yang dicuri.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang sangat kencang terdengar mendekat ke arah gudang, memecah kesunyian malam di pelabuhan yang sepi. Sisca yang sedang berbicara di telepon di luar gudang tampak terkejut dan segera memerintahkan anak buahnya untuk bersiaga penuh.
"Siapa yang berani datang ke sini? Periksa sekarang juga dan tembak siapapun yang mencoba masuk!" teriak Sisca dengan nada yang sangat panik. Suara tembakan mulai terdengar di luar, diikuti dengan teriakan kesakitan dari anak buah Sisca yang tampak tidak siap menghadapi serangan mendadak.
Pintu besi gudang didobrak dengan sangat keras dari luar, menampakkan sosok pria dengan jaket kulit yang penuh dengan noda tanah dan darah. Dirga berdiri di sana dengan senjata di kedua tangannya, tampak seperti malaikat maut yang datang untuk menjemput para pendosa.
"Dirga! Kau masih hidup?" pekik Maya dengan rasa lega yang tak terlukiskan hingga air matanya kembali mengalir deras membasahi pipi. Dirga tidak menjawab, ia segera melepaskan tembakan ke arah dua pria yang mencoba menyerangnya dari arah samping dengan gerakan yang sangat cepat.
Sisca yang melihat Dirga masih hidup segera berlari ke arah Maya dan menodongkan pisau lipatnya ke leher gadis yang masih terikat itu. "Jangan mendekat, Dirga! Satu langkah lagi, maka istri kontrakmu ini akan mati di tanganku!" ancam Sisca dengan tangan yang gemetar.
Dirga berhenti melangkah, ia menurunkan senjatanya namun matanya tetap menatap Sisca dengan intensitas yang sangat mematikan dan dingin. "Kau sudah kalah, Sisca, lepaskan Maya sekarang atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari esok pagi."
Sisca tertawa histeris, ia menekan ujung pisaunya ke leher Maya hingga setetes darah mulai mengalir membasahi kalung perak yang dipakai gadis itu. "Aku lebih baik mati bersama gadis ini daripada melihatmu hidup bahagia bersamanya, Dirga!" teriak Sisca dengan penuh kebencian.
Maya menatap Dirga, ia melihat kilatan kecemasan yang mendalam di mata suaminya, sesuatu yang membuktikan bahwa ia bukan sekadar kontrak bagi pria itu. "Jangan pedulikan aku, Dirga! Ambil dokumennya dan lari!" teriak Maya dengan keberanian yang muncul dari keputusasaan.
Namun, Dirga justru melemparkan senjatanya ke lantai dan mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah kepada tuntutan gila Sisca. "Ambil nyawaku sebagai gantinya, Sisca, tapi biarkan Maya pergi dari sini dengan selamat," tawar Dirga dengan suara yang sangat rendah.
Sisca tertegun sejenak mendengar tawaran itu, seolah tidak percaya bahwa Dirga yang dingin rela mengorbankan nyawanya demi seorang gadis panti asuhan. Kelengahan Sisca yang hanya sedetik itu dimanfaatkan oleh Maya untuk menusukkan potongan kaca di tangannya ke arah paha Sisca dengan sekuat tenaga.
Sisca menjerit kesakitan dan refleks melepaskan dekapannya pada leher Maya, memberikan celah bagi Dirga untuk menerjang maju dengan kecepatan kilat. Dirga menghantam Sisca hingga terpental ke tumpukan kayu, sementara ia segera menarik Maya ke dalam pelukannya yang sangat erat dan hangat.
"Kau aman sekarang, aku di sini," bisik Dirga sambil mencoba melepaskan rantai besi yang mengikat tangan Maya dengan alat pemotong kecil. Maya menangis sesenggukan di d**a Dirga, merasakan detak jantung pria itu yang sangat kencang namun memberikan rasa aman yang luar biasa.
Namun, di tengah momen haru itu, Nyonya Widya tiba-tiba muncul di ambang pintu gudang dengan sebuah remote control kecil di tangannya. Wajahnya tampak sangat tenang, sebuah ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Sisca yang meledak-ledak tadi.
"Indah sekali adegan reuni ini, tapi sayangnya aku tidak suka akhir cerita yang bahagia untuk kalian berdua," ucap Nyonya Widya dengan suara datar. Ia menekan tombol di remote tersebut, dan seketika itu juga suara detak bom mulai terdengar dari bawah lantai gudang tempat mereka berdiri.
"Gudang ini sudah dipasang bahan peledak yang cukup untuk meratakan seluruh area pelabuhan ini dalam waktu tiga puluh detik," tambah Nyonya Widya. Dirga terbelalak, ia segera menggendong Maya yang kakinya masih lemas dan berlari menuju jendela kaca di bagian belakang gudang yang sangat tinggi.
"Lompat, Maya! Percayalah padaku!" teriak Dirga sambil memecahkan kaca jendela dengan sikutnya saat waktu di layar bom menunjukkan angka lima detik terakhir. Mereka terjun bebas ke arah air laut yang gelap tepat saat sebuah ledakan dahsyat menghancurkan gudang itu menjadi kepingan api yang membumbung tinggi.
Di dalam air yang dingin dan gelap, Maya merasa tangannya terlepas dari genggaman Dirga akibat guncangan ledakan yang sangat kuat di permukaan air. Ia mencoba menggapai ke atas, namun tubuhnya justru tertarik ke dalam pusaran air yang diciptakan oleh puing-puing gudang yang tenggelam.
***