Antara Langit danMaut

1224 Kata

Angin malam di ketinggian lantai dua puluh menderu liar, mencambuk rambut Maya yang kusut dan penuh debu. Tangannya yang gemetar kini hanya bertumpu pada jemari Dirga yang licin karena peluh dan noda darah yang belum mengering. Di bawah kaki mereka, aspal jalanan Jakarta tampak seperti jurang tak berdasar yang siap menelan raga siapa pun yang terjatuh. "Dirga, lepaskan aku! Jika kau terus memegangiku, kita berdua akan jatuh!" teriak Maya di tengah bisingnya baling-baling helikopter. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin yang mendekat, menciptakan pusaran angin yang membuat pijakan sempit mereka di unit pendingin ruangan semakin goyah. Dirga menggeleng keras, rahangnya mengatup rapat menahan perih yang menyengat dari luka tembak di bahu kirinya. "Diam, Maya! Aku sudah bersumpah tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN