Amren merasa sangat khawatir menghadapi semua ini. Ley akan merayakan kelulusan yang tinggal menghitung hari. Segala persiapan yang bentuknya secara fisik sudah Amren bantu siapkan, tapi harus Amren akui kalau gadis yang sekarang sedang duduk di taman ditemani segelas s**u dan makanan camilan kesukaannya itu sedang patah semangat karena papanya tidak kunjung datang.
Semakin lama mengenal Ley, semakin Amren tahu bahwa gadis itu tidak benar-benar memiliki sikap kekanakan. Justru banyak sisi dewasa yang Ley sembunyikan dan samarkan dengan kepolosannya.
Amren bergerak maju, mendekati Ley dengan lamunannya. Bahkan gadis itu juga tidak sadar kalau suara sandal rumah Amren mendekat. Begitu Amren merangkul Ley dari belakang dan merangkum tubuh kecil Ley, barulah gadis itu menoleh.
"Hai." Amren sengaja memberi sapaan.
"Hai, Reren."
Amren mengeratkan pelukannya, sesekali menciumi kepala Ley. "Kenapa sekarang kamu makin suka sendiri, ya, Ley? Kamu enggak suka berduaan sama saya?" goda Amren.
Bibir Ley mengerucut, tidak setuju dengan apa yang Amren ucapkan. "Kok Reren ngomongnya gitu?"
"Ya, abis. Kamu terlalu sibuk sendirian. Kapan, dong kita sibuk berdua kayak waktu di puncak, hm?" Amren mengambil kesempatan mencium bibir Ley yang memang sepenuhnya menoleh pada Amren.
"Issshh! Reren yang bilang jangan deket-deket kalau di rumah, nanti ketahuan mbok Haryu. Gimana, sih! Reren bikin Ley bingung, nih!"
Sepertinya Amren malah menambah daftar buruk yang membuat mood Ley makin anjlok. Buktinya seperti saat ini, bukannya membantu Ley agar tidak marah-marah, Amren malah membuat Ley tambah marah.
"Awas, ah! Ley bete sama Reren." Gadis itu melepas dengan paksa rangkulan Amren. Tidak memedulikan panggilan Amren akan namanya. Seperti biasa, Ley memang buruk dalam pengendalian mood. Mungkin sudah bawaan dari orangtuanya, karena memang Hafriz juga sering berubah mood dan sulit diterka.
"Ley..."
Amren tidak berhenti sampai di situ. Dia terus mengikuti Ley dan tidak membiarkan Ley sendirian. Semakin dibiarkan yang malah Ley seperti membangun dunianya sendiri.
"Kamu marah-marah terus, kenapa? Lagi datang bulan, hm?"
"Tauk, ah!" Ley beringsut naik ke kasur dan melebarkan selimut menutupi tubuhnya. Seluruh tubuhnya.
"Enggak gerah kamu, Ley?"
Diam-diam Amren menaikkan suhu AC hingga tidak terasa sejuk lagi. Alasan Ley tidak mau membuka selimutnya karena AC memang terasa sejuk sekali, tapi kalau sudah begini tak lama pasti gadis itu akan menggeliat kepanasan. Amren hanya perlu menunggu saja.
"Ley, saya mau tidur di sini, ya."
"Ngapain??" sahut Ley dengan suara agak teredam dari dalam selimut.
"Ya, pengin aja. Biasanya juga kamu yang pengin tidur sama saya. Iya, kan?"
Amren memang sengaja menggoda Ley dengan mendekatkan diri pada tubuh Ley yang terbungkus selimut, lalu merengkuhnya erat. Dengan begitu Ley akan merasa makin kegerahan.
Benar saja, tak lama Ley mengeluh kegerahan. Setelah selimut dibuang paksa oleh Ley yang secara otomatis membuat rengkuhan Amren terlepas, dan setelah selesai dengan urusan selimut, segera Amren menarik tubuh gadis itu menjadi berbaring di atasnya.
"Reren!" Ley memekik, terkejut.
Memilih tidak mengatakan apa-apa, Amren hanya membenarkan posisi rambut Ley yang agak berantakan. Bahkan melihat wajah tertegun Ley yang begitu dekat, dengan deru napas menggeliat disekitar wajahnya Amren mendadak pening. Akibat ulahnya sendiri, sih efek peningnya sampai ke kepala; atas dan bawah.
"Ley... kenapa kamu cantik sekali."
Dengan cepat Ley menjawab, "Kalau enggak cantik nanti Reren enggak suka sama Ley."
Tentu saja Amren tertawa karenanya. Bisa saja gadis itu menjawab.
"Reren..."
Biasa. Suara manja Ley datang.
"Kenapa?"
Ley sengaja menjulurkan jari-jarinya untuk menyentuh wajah Amren. Berlama-lama dibagian bibir pria itu.
"Kan... Ley sudah mau lulus. Kalau nanti Ley sudah beneran lulus..."
Ley menggantung kalimatnya.
"Kenapa, Ley? Kalau kamu sudah lulus kenapa?" tagih Amren penasaran.
"Kalau Ley sudah lulus. Hmm. Reren... nikah, yuk!"
"Apa??" Apalagi ini Tuhaaaaan.
*
Amren termenung seketika. Ajakan atau yang lebih tepatnya lamaran tak resmi itu datangnya dari seorang gadis yang baru genap tujuh belas beberapa hari lagi. Memang, sih. Amren sempat memikirkan hal itu, tapi bagi Amren itu hanya sebuah pikiran, delusi yang tidak akan direalisasikan mengingat keadaan dan banyak hal lainnya. Amren yang sudah pernah gagal sekali meretas kalimat memangnya nikah itu gampang!? dan hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Kalau menyeletuk begitu pada Ley, mana tahan gadis itu untuk tidak menangis karena dikira langsung ditolak oleh Amren.
Menenangkan diri, Amren akhirnya mencoba untuk membuka pembicaraan serius ini dengan penjelasan yang pastinya lebih bisa Ley terima.
Ditangkupnya wajah Ley yang berbinar sekali menyampaikan ajakan menikah setelah benar-benar lulus.
"Kamu enggak mau kuliah?" Pelan, Ren, pelan. Jangan paksa Ley terlalu jauh. Amren mengingatkan diri sendiri.
"Mau."
"Terus mau nikah juga?"
"Mau."
Jangan dikira Ley hanya menjawab mau gadis itu juga mengangguk dengan semangat.
"Gimana caranya kamu kuliah sekaligus nikah, Ley?"
"Eng—"
Kan? Pada akhirnya juga Ley pasti kebingungan. Sederhana saja, sih. Amren menanyakan hal itu lebih ke ranah serius, dalam artian, bagaimana Ley bisa mempertanggungjawabkan antara kewajibannya sebagai seorang mahasiswi sekaligus seorang istri. Jelas itu bukan tanggungan yang ringan. Apalagi kalau sampai ada kemungkinan anak ditengah-tengah perjalanan nanti, mau ditelantarkan yang mana? Anak? Atau pendidikan?
Meski Amren yakin Ley akan dengan sepenuh hati menuruti ucapannya untuk mengurus anak, tapi Amren tak akan tega membiarkan masa depan Ley mentok hanya sebagai ibu rumah tangga. Namun, membiarkan Ley menjalankan keduanya juga tidak akan bisa. Ley bukan tipikal yang bisa menjalani dua peran sekaligus.
"Gimana? Kamu tahu caranya, Ley?"
Gelengan pelan sebagai jawabannya. "Masa nanti Ley kalau lagi kuliah sambil nikah, Reren?"
Makin jadi. Pikiran Ley memang tidak bisa ditebak. Mengapa pula harus menikah pada saat jam kuliah.
"Bukan gitu maksud saya, Ley."
"Terus?"
"Coba kamu duduk dulu, saya enggak bisa jelasin kalau posisinya begini." Ley menurut.
Setelah duduk tenang saling berhadapan, keduanya mulai serius kembali.
"Ley. Kamu tahu nanti kuliah apa saja yang harus kamu lakukan?"
Ley mengangguk paham. "Belajar."
Amren menghela napas. "Kuliah memang tujuannya buat belajar, Ley. Tapi nanti tipe belajarnya sudah pasti berbeda. Kegiatannya juga berbeda. Enggak seperti kamu sekolah. Memang lebih santai, tapi enggak sesantai itu juga, kuliah itu sama dengan kamu belajar mendewasakan diri. Kamu ikuti aturan dosen, tapi kamu juga membuat aturanmu sendiri karena dosen juga bukan sosok guru seperti di sekolah. Dosen kuliah lebih membebaskan, tapi juga menuntut kamu belajar cepat."
Ley terlihat mencermati betul apa yang Amren ucapkan, tapi Amren tahu tidak sepenuhnya gadis itu paham.
"Gini, deh. Gimana caranya kamu belajar terus saya minta kamu ngurusin saya waktu di rumah? Karena kalau kita menikah, kamu sebagai istri harus mengurus suami. Gimana? Kamu mau ninggalin pelajaran kamu yang berharga? Karena kalau nanti sudah jadi istri, suami kamu juga lebih berharga dari pelajaran-pelajaran di buku."
Ley menggaruk kepala. Mendesah bingung. "Kenapa ribet banget, sih, Reren? Ley binguuuung. Masa iya nanti Reren gangguin kalau Ley lagi belajar di rumah?"
"Ya, pasti, dong! Saya bakal gangguin kamu, apalagi kalau malam hari."
"Ya udah. Ley belajarnya pagi, siang, sore. Biar malemnya Reren gangguin sepuasnya. Iya, kan?"
Rasakan kau Amren! Malah ditawarin sama anak gadis. Rutuk Amren dalam hati.
*
"Kok Ley malah dicium?" sahut gadis itu kebingungan.
Ya, siapa yang tidak bingung kalau sedang menyarankan sesuatu malah mendapat ciuman.
"Kamu terlalu bikin saya gemas, Ley. Jawaban kamu lebih tepatnya."
Gadis itu mendorong tubuh Amren agar tidak terlalu dekat. Kini, dia enggan berlama-lama diberi ciuman karena ajakan menikahnya belum dijawab oleh Amren. Yang dia tangkap malah berputar-putar saja pembahasan mereka.
"Reren jangan bohong! Ayo, dong jawab. Kan Ley mau tahu Reren mau apa enggak."
Sifat tidak sabaran ini baru Amren temukan. Tidak terduga sekali sikap yang Ley tunjukkan.
"Ley. Jujur, saya ini kurang begitu siap menikah sekarang." Amren menatap Ley dengan pandangan tegas.
"Kenapa?"
"Karena saya pernah menikah. Selain pernah gagal, saya enggak mau kamu trauma suatu saat nanti akan pernikahan, karena..." karena saya tahu kamu masih memiliki trauma lain.
"Karena apa, Reren?"
Amren menghela napas, mengganti ekspresi lebih rileks dengan menunjukkan senyumannya. Tangan Amren terjulur mengusap rambut panjang serta hitam milik Ley.
"Karena kamu terlalu muda, Ley. Umur kita terlalu jauh perbedaannya."
"Terus?"
Amren terdiam, tak lama mengeluarkan tawanya. "Terus... kamu urus dulu kelulusanmu yang benar. Jangan berpikir macam-macam mengenai pernikahan. Kalau nanti sudah saatnya menikah, kamu akan menikah, Ley."
"Sama Reren, kan?"
Lagi. Amren dibuat terdiam.
"Kita lihat saja nanti, ya."
*
Amren menekan pelipisnya yang terasa sakit karena berbagai pikiran menyeruak masuk. Mungkin saja Ley belum mengerti apa yang sedang gadis itu rasakan, masih terlalu muda untuk melihat kenyataan yang ada. Namun, Amren tidak bisa membiarkan ini terlalu lama. Sebab tanpa sadar dia sudah terlalu—ikut—bergantung pada Ley.
"Sadar, Ren... hidup lo bukan cuma tentang Ley!"
Bukan hanya Ley yang membutuhkan ruang sendiri. Ternyata dia juga membutuhkannya apalagi setelah ucapan, ajakan, dan pengharapan Ley tadi.
"Kenapa gue bisa tertarik sama cewek sepolos Ley? Apa yang ada dipikiran gue, sih?!"
Sampai sekarang Amren masih mencoba menolak perasaan pada Ley. Dia jelas bukan pencinta anak dibawah umur, dia juga bukan tipikal yang selalu terbawa suasana. Lalu, kenapa ada sesuatu yang menyelinap masuk dalam hatinya?
Fakta bahwa Ley bukan cucu dari orang sembarangan, Hafriz yang ternyata selalu terbelit masalah karena menikahi perempuan dari seseorang yang memiliki pengaruh besar di Eropa sana membuat Amren harus ikut berhati-hati. Perasaannya pada Ley jika diteruskan mungkin akan membawa dampak lain, tapi Amren jelas lolos kualifikasi untuk menjadi menantu berkelas. Amren juga tidak ingin Ley sampai bertemu ibunya lagi yang ternyata mengalami gangguan kejiwaan.
Dari daftar riwayat kesehatan Ley, gadis itu pernah dirawat di rumah sakit ternama dengan perawatan khusus ketika usia sepuluh tahun karena tindak k*******n yang baru Hafriz ketahui setelah istrinya dibawa ke psikiater. Ley tentu tidak baik-baik saja jika terus dibiarkan tinggal bersama Hafriz.
"Apa menikahi Ley adalah cara yang ampuh untuk menghilangkan trauma itu?"
Menimbang, memikirkan, dan terus bergumul dengan banyak pertanyaan malah membuat Amren semakin bingung. Padahal, cara paling ampuh adalah dengan melakukan sesuatu bukan hanya memikirkannya.
Bahkan dikepala Amren kini hanya ada kiasan wajah Ley yang begitu bahagia selama liburan mereka kemarin. Hanya ada wajah penuh keceriaan, adegan manis-manis yang keduanya lakukan. Sudah jelas jawabannya. Amren juga menginginkan Ley bersamanya.
"Ya ampun! Kenapa pusing mikirin hal beginian, Ren!??? Kenapaaa!???"
*
Amren tidak sempat melihat seperti apa kebaya yang Ley inginkan untuk dipakai di acara wisudanya. Dia tetap menyokong besar apapun yang gadis itu ingin pakai nanti, toh dalam pikiran Amren ini hanya bentuk salah satu acara perpisahan anak SMA, memangnya mau seperti apa. Yang wisuda kuliah saja pastinya tidak begitu rumit, walau ya... mungkin sama saja bagi beberapa orang.
"Tuan jam berapa berangkat ke kantor?" Mbok Haryu bertanya.
"Nanti, mbok. Saya mau antar Ley ke tempat wisudanya."
Sengaja Amren bangun agak siang karena mengantar Ley sesuai jam acara wisuda sekolah gadis itu. Kalau diundangan resmi acaranya mulai jam sepuluh pagi.
"Oh, gitu."
"Ley sudah bangun, mbok?" tanya Amren sembari menyesap kopinya.
"Sudah, Tuan. Orang dari salon datang jam tujuh."
Dahi Amren mengkerut. "Dari jam tujuh sampai jam sembilan belum selesai?"
"Sudah, kok, Tuan. Cuman non Ley-nya takut keluar kamar."
"Takut? Kenapa? Hasil riasannya jelek, mbok?"
Tentu saja Amren cemas, kalau sampai hasil riasannya jelek itu adalah salah Amren. Karena dia yang mencarikan salon untuk periasnya datang ke rumah.
"Enggak, Tuan. Malah non Ley cuaaantikk sekali, Tuan." Mbok Haryu menyematkan senyuman di akhir peragakannya mengatakan betapa cantiknya Ley.
Amren jadi bingung sendiri. Jika mbok Haryu saja mengatakan Ley cantik, dandanannya sudah selesai, lalu kenapa Ley takut keluar kamar?
Menghabiskan kopinya terlebih dulu, barulah Amren mengganti pakaian lebih formil dan berniat mengecek Ley.
"Ley." Percobaan ketukan pertama tidak dijawab oleh gadis tersebut, padahal jelas-jelas Ley ada di kamar. "Ley, saya masuk, ya."
Menggeser kenop pintu dan yang pertama kali Amren lihat adalah tubuh Ley yang menelungkup kan wajahnya di atas meja rias. Gadis itu bahkan sudah mengenakan kebaya berwarna hijau lumut yang sukses menyembulkan sisi seksinya karena Ley hanya memakai dalaman yang menutupi hingga d**a saja. Harus Amren akui jika perasaan excited-nya kini malah lebih terpacu dari mbok Haryu sebelumnya.
"Ley." Amren masih berusaha bersikap waras untuk tidak memikirkan bayangan dikepala guna menyentuh kulit bersih Ley tersebut.
"Kamu enggak mau ke luar, kenapa? Kata mbok Haryu kamu takut. Apa yang kamu takutkan, Ley? Cerita sama saya."
Perlahan Ley mengangkat wajahnya, lalu memandang Amren dari pantulan cermin. Mata mereka terlihat beradu di dalam cermin. Amren tidak bisa berkata-kata karena memang benar apa yang diucapkan mbok Haryu. Ley sangat cantik.
Rambutnya dikepang kedalam dengan aksen bunga-bunga kecil berwarna putih —yang Amren yakin itu bunga palsu dan hanya sebagai hiasan—mengitari rambut kepangan Ley yang ditata ke sebelah kanan saja.
Warna mata Ley juga terlihat agak berbeda dari biasanya. Amren yakin gadis itu dipakaikan soft lense, karena tidak mungkin warna mata asli hitam sepekat itu.
Tanpa sadar Amren menelan ludah susah payah. Apa yang dia lihat kini sudah persis seperti bidadari saja, padahal Amren sendiri belum pernah melihat bagaimana sosok bidadari itu.
"Kamu cantik, Ley."
Begitu saja. Terucap dengan lancar dari bibir Amren. Pria itu bahagia sekali melihat Ley yang berhasil dibuat sedemikian rupa cantiknya.
Mendekati Ley, mereka tidak lepas saling memandang dari cermin. Amren tersenyum lebar. Begitu sampai di belakang Ley, Amren membungkuk seraya berkata, "Boleh saya mencium kamu?"
*
Amren tidak jadi meminta jatah cium, karena wajah sendu Ley menandakan hal lain yang tidak bisa dirinya tebak.
"Kenapa, Ley?"
"Ley enggak boleh dandan begini, Reren. Enggak boleh...!"
Ini masalah serius. Ley tidak menunjukkan rasa keberatan sebelum dirias, sekarang dirinya malah memprotes.
"Siapa yang bilang enggak boleh?"
Ley mendongak, matanya bergetar ketika menemukan milik Amren. "Mama..."
Amren diam. Mungkin sudah waktunya Ley mengungkap apa yang menjadi ketakutannya selama ini. Tidak mungkin dirinya bisa membantu jika Ley sendiri masih menutup diri.
"Cerita pelan-pelan, Ley. Kenapa mama kamu ngelarang kamu dandan."
"Kan waktu itu Ley masih kecil. Mama selalu marah kalau Ley sentuh tempat make-up mama. Mama juga enggak suka kalau Ley didandanin, Ley enggak boleh kayak cewek-cewek lain yang suka dandan, mama bakalan marah kalau Ley dandan kayak yang lain. Ley enggak boleh..."
Tanpa bicara, Amren membawa Ley pada pelukannya. Dia bisa mengerti kenapa gadis itu sedih. Mengingat memori mengenai sang mama yang tidak bahagia pasti terasa menyakitkan.
"Mama kamu enggak suka kalau kamu semakin pintar dan mengerti dunia perempuan, ya? Dia enggak mau kamu semakin tumbuh dewasa, dia mau kamu menjadi anak-anak selamanya. Iya?"
"Ley enggak mau jadi kayak mama. Ley enggak mau jadi orang dewasa kayak mama. Ley enggak mau."
Yang bisa Amren lakukan adalah menenangkan Ley saat ini. Paling tidak dia sudah tahu apa yang terjadi hingga Ley sempat mendapat perlakuan kasar dari ibunya sendiri. Mungkin Ley tidak tahu kalau saat itu ibunya sudah mengalami gangguan kejiwaan yang membuat Ley menjadi sasaran empuk. Mungkin semuanya akan terus menjadi sisi traumatis bagi Ley untuk menjadi lebih dewasa sesuai usia atau lebih nantinya. Ley memaksa dirinya sendiri untuk tetap seperti anak-anak karena alasan tersebut. Ley tidak ingin menjadi orang dewasa yang seperti ibunya, karena dimata Ley versi dewasa hanya akan menjadi seperti ibunya.
Ini tidak bisa dibiarkan, Amren akan mencari cara agar semua ini tidak membuat Ley semakin parah di masa depannya.
*
Momen wisuda yang Ley datangi berjalan seperti pada acara wisuda umumnya. Sambutan orang-orang penting sekolah, berbagai penampilan-penampilan, runtutan acara yang harus diikuti seluruh angkatan akhir dan sesi berfoto.
Amren tidak jadi masuk kantor hari ini, dia mau tidak mau menggantikan posisi Hafriz yang tidak bisa hadir di acara tersebut. Beberapa guru menanyakan siapa dirinya, Amren hanya menjawab kerabat jauh papa Ley. Agak canggung memang karena Amren sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang mengenal Ley serta papanya.
Pastinya yang lebih mencolok adalah Ley yang terus menempel pada Amren sepanjang acara. Bahkan Ley tidak mau duduk terpisah. Jadilah banyak pertanyaan dari para guru, Ley sendiri memilih diam dan membiarkan Amren menjawab.
"Reren, foto yuk!" ajak Ley.
"Sana kamu foto sama temen-temen kamu, Ley. Saya malu kalau gabung sama temanmu."
"Issh! Bukan sama mereka. Cuma Ley sama Reren aja."
Alis Amren menyatu. "Berdua?"
"Issshh! Reren lama." Gadis itu langsung menarik lengan Amren menuju panggung yang tidak terlalu tinggi dan memang sengaja disiapkan diakhir acara untuk sesi berfoto.
Ley dengan cekatan meminta salah satu temannya memberikan kamera ponselnya untuk menangkap gambar Ley dan Amren. Berdua. Mereka mengganti pose sesuai yang Ley inginkan, lalu pada pose terakhir semua orang terkejut karena Ley dengan percaya diri mengecup pipi Amren.
Ketika selesai Amren malu dilihat banyak orang, tapi Ley justru tersenyum lebar.
"Nanti dicetak, ya, Reren fotonya. Terus dipajang dibingkai besar, biar kayak pasangan-pasangan yang suka muncul di feed Instagram." Ucap Ley di dalam mobil.
"Ngapain? Kamu pajang aja di i********:, enggak perlu dicetak."
"Perlu! Jadi nanti kalau Reren kangen sama Ley, punya banyak foto buat dilihat. Iya, kan?"
Kangen?