Bagian 8 : Kunjungan

2754 Kata
Karena agenda kemarin membuat keduanya lelah, apalagi Amren yang harus mengurus si bayi besar serta pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal, jadilah keduanya tidur sampai siang. Seperti liburan ke puncak waktu itu, lagi-lagi keduanya tidur saling memeluk. Sebenarnya bukan hal yang aneh, tapi mereka lebih mengawasi keberadaan mbok Haryu saja. Karena mbok Haryu izin tidak datang hari ini, maka Amren berani tidur sekamar dan berguling-gulingan dengan Ley. Ya, yang satu menjadi guling yang satu menggulingkan. Intinya, mereka suka melakukan aktivitas tidur yang aneh. "AMREN!" "Hng." "AMREN JANGAN GILA KAMU! TIDUR DI d**a PEREMPUAN YANG BUKAN ISTRI KAMU!!!" Sontak matanya langsung terbuka lebar. Ini kejutan. Kejutan dari ibunya yang sudah lama tidak mengunjungi rumah Amren. Lalu, kenapa harus hari ini, disaat Amren hanya ingin menghabiskan waktu bersama Ley saja. "Reren..." gumam Ley karena merasa tidurnya terganggu. Amren tidak menjawab gumaman Ley, tapi langsung melihat dari mana sumber suara tadi berasal. Teriakan yang membuat kepalanya terasa akan pecah. "Bun?" Wajah Aidya memerah menahan emosi. Kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Pemandangan yang seharusnya tak dia lihat di kamar pasangan—tadinya kamar Amren dan Shasa—itu. "Keluar. Ikut!" Aidya bukan lagi marah. Amren tahu kalau ibunya itu kecewa harus melihat perempuan di kamarnya dan Shasa, dulu. Mengikuti dengan cepat langkah ibunya, Amren memikirkan bagaimana caranya agar Ley tidak mendapati pembicaraan yang pasti serius ini. Kalau Ley sampai terbangun dan Amren tidak ada, gadis itu akan mencarinya. "Bun, Bun... kita bicara di ruang kerja aku, ya." Amren menggenggam tangan Aidya, berharap ibunya bisa diajak kerjasama. Meski emosi, Aidya tetap mau mengikuti permintaan Amren. Sampai di ruang kerja pria itu, diam-diam Amren menghela napas lega. Setidaknya ibunya bisa meluapkan kemarahan di ruangan yang kedap suara tersebut. "Bunda mau ngomong apa?" "Ngomong apa?! Mikir enggak, sih kamu sudah kelewatan?! Setelah resmi jadi duda begini kelakuan kamu yang sebenarnya, hah!!??" Amren menanggapi dengan tenang, "Bunda salah paham." "Salah paham apa?! Bunda enggak mau tahu, kamu harus ambil tindakan. Kamu laki-laki, umur kamu sudah semakin matang. Bunda enggak perlu lagi, kan ngomel-ngomel ke kamu yang sudah tua ini?? Apa iya, Bunda harus datang jenguk kamu setiap hari atau kalau perlu nginap di sini supaya kamu enggak melakukan hubungan di luar ikatan, kan?!" "Bunda..." "Siapa namanya? Kenapa dia bisa tidur sama kamu? Sudah berapa lama kalian begini, hah? Atau... dua tahun mama tinggal di Amrik kamu enak-enakan kumpul kebo begini, ya, Amren?! Jawab!!" Menarik napas yang dalam, Amren tentu menjadi pihak yang serba salah. Menjawab salah, tidak menjawab disuruh menjawab. "Oke. Gini. Namanya Alaia, dipanggil Ley. Dia anak gadis mantan atasanku yang dititipkan ke aku." "Anak gadis? Dititip ke kamu? Apa-apaan itu bapaknya?! Enggak mikir bisa terjadi apa-apa diantara kalian??" Aidya kembali mengeluarkan rasa marah. "Jujur sama bunda, kamu sudah sentuh berapa kali? Dia steril? Atau jangan-jangan... diam-diam sudah hamil. Oh, ya ampun! AMREN!" pekik Aidya. "Aku enggak pernah sentuh sampai kesitu, Bun. Enggak ada hamil, hamil itu... kami belum sampai ke arah sana—" "BELUM???!! Jadi kamu sudah mikir akan ke arah sana??!!" "Bu—bukan gitu... ya... memang belum sampai ke sana, Bun." Amren bingung sendiri menjelaskannya. "Tanggungjawab!" "Hah?" "Kamu harus tanggungjawab." Amren tergagap. "Tanggung—tanggungjawab apa?" "Nikahi perempuan itu, Amren!" * Kepala Amren terasa begitu berat. Pening yang menguasai, rentetan ocehan ibunya, dan Ley yang suaranya sudah mengaum mencari dirinya. Bagus sekali. Perpaduan yang sangat pas untuk merobohkan kewarasan Amren detik ini. "Bun... please jangan paksa aku nikah—" "Dan biarin kamu hidup seenaknya? NO WAY! Amren, bunda yang tinggal di Amrik, bukan kamu." Ya. Karena Aidya memang penganut kebebasan yang super bebas, alias tidak mau menikah lagi semenjak bercerai dari ayah kandung Amren memang suka hidup berpindah tempat. Paling sering tentunya di Amerika, karena ibunya sudah memiliki pekerjaan mumpuni sekaligus tempat tinggal super layak, dan pastinya tunjangan dari ayah Amren, yang notabenenya masih memberi penghidupan yang layak untuk Aidya. "Jangan jadi pengecut seperti ayahmu!" tegur Aidya. Keluarganya jelas penuh pertentangan. Suami istri yang selalu memiliki visi misi berbeda untuk Amren, itu sebabnya Amren memilih menikah muda dulu, membangun perusahaan sendiri, hidup jauh dari orangtua dan bercerai-pun tidak ada andil dari kedua orangtuanya. Hanya Aidya yang menemani, guna memastikan apakah kewarasan Amren bisa bertahan setelah ditinggalkan. Walau begitu, Amren bukan tipikal yang langsung trauma karena—bukan hanya sekali—berada dalam situasi perceraian. Saat remaja sudah paham mengapa ayah dan bundanya memutuskan bercerai, dan saat nasib rumah tangganya sendiri harus pisah, Amren juga paham harus ikhlas. "Bun... Ley itu masih—" "Bunda mau ketemu, mau ngomong sama perempuan itu. Sana, panggilin dia. Bunda tunggu di ruang tv." Amren malah melotot tak percaya. "Bun...?" "Kenapa? Sudah sana!" Mau tak mau Amren harus berhadapan dengan Ley, dan segera menyuruh gadis itu untuk menemui Aidya. * Aidya berbohong akan menunggu Ley di ruang tv. Sebenarnya, Aidya ingin mengintip apa yang akan putranya dan Ley lakukan jika sedang berdua saja. Bukan apa-apa, jika ketahuan Aidya memang harus mendorong putranya untuk segera menikahi perempuan yang terlihat begitu akrab dan dekat dengan Amren tersebut. "Mau ngapain, Reren?" Samar-samar Aidya mencuri dengar, untung saja pintu kamar belum tertutup sempurna. Aidya bergerak pelan mendorong sedikit lagi pintu agar mendapatkan celah untuk mengintip. "Enggak mau... Ley capek!" Dari sudut pandangnya saat ini, Ley terlalu manja pada Amren. Namun, keintiman keduanya saat saling membujuk dan merajuk membuat Aidya cemas. Dia tidak suka putranya mempermainkan anak gadis seseorang. Apalagi kalau sampai hamil di luar nikah. Aidya akan memukul wajah Amren dengan tongkat baseball kalau sampai itu terjadi. Walau tinggal di luar negeri, Aidya tidak mengizinkan putranya bersikap seperti itu. "Ayo, Ley. Ditunggu bunda saya di bawah." "Enggak mau..." "Saya cium, ya? Kalau masih enggak mau saya cium kamu." "Cium aja." Dan benar saja, adegan selanjutnya adalah Amren yang dengan cepat mencium bibir Ley. Bukannya berhenti, Aidya malah mendapati keduanya ketagihan. "Baru dibiarin sebentar, suruh manggil saja sudah begini. Apalagi kalau enggak ada siapapun di rumah. Awas ya, kamu Amren!" Aidya berucap super pelan. Sudah tak sanggup dia melihat interaksi antara Amren dan Ley. Memang sekejap tadi berhenti, tapi masih lanjut berciuman berkali-kali. Aidya menggaris bawahi, berkali-kali. Aidya tidak bisa menghakimi salah satu, jelas dua-duanya salah. Duda seperti Amren diberi santapan empuk? Wah, sudah. Habis sampai tulangnya, Aidya membatin. Lagi pula, misinya untuk mendapatkan cucu bisa lebih dipercepat. Tak apa, meski harus dengan cara mendesak, Aidya akan membantu putranya untuk memiliki kehidupan berkeluarga yang layak kembali. Meskipun Aidya yakin, pertentangan bukan hanya dari mantan suaminya yang begitu menginginkan Amren menjadi pengusaha sukses, tapi juga ayah si gadis. * Pandangan Aidya langsung menajamkan begitu Amren berjalan beriringan dengan Ley. Pria yang sudah 32 tahun itu masih saja seperti anak bocah yang setiap pergerakannya mendapat teguran dari ibu. Ley menggandeng lengan Amren begitu semakin mendekat pada Aidya, mungkin takut jika perlakuan Aidya sama seperti mamanya. "Ley, bunda enggak galak, kok." Amren mencoba menenangkan Ley yang diam-diam telapak tangannya berkeringat dan wajahnya memucat. Ley tidak membalas ucapan Amren, dia sibuk menunduk tidak melihat langsung mata Aidya. Dengan berani Amren menggenggam tangan Ley, tidak melepaskannya meski sudah duduk berhadapan dengan Aidya. Belum ada yang memulai, Aidya sibuk memberi kode pada Amren mengenai Ley yang terus menunduk dan kelihatan bergetar. Merasa perlu meluruskan ini dengan bundanya, Amren meyakinkan Ley untuk tetap duduk di sana dan Amren mengajak Aidya ke dapur. "Itu kenapa dia kayak takut bunda makan begitu?" Amren mendesah. Memijat lebih dulu kepalanya sesaat. "Dia trauma sama perempuan dewasa." Aidya mendelik. "Trauma? Kenapa? Mau diperkosa sama perempuan mana memangnya, hah? Gila aja ada yang nekat—" "Bun." Amren menghentikan rentetan ocehan tak jelas ibunya. "Bukan tentang seksualitas. Dia trauma karena dulu mamanya selalu mukul dia kalau pengin tahu dunia perempuan dewasa. Pakaian bunda, dandanan bunda, dan cara bunda natap yang mungkin bikin dia ketakutan gitu." Aidya menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Papanya tahu?" Amren mengangguk. "Sebenarnya aku enggak dikasih tahu papanya, tapi nyari tahu sendiri." Kemudian helaan napasnya terdengar sangat miris. Aidya memukul d**a putranya cukup keras hingga Amren yang terkejut memekik. "Bun!" "Kenapa kamu kayak nyesel gitu?! Kalau kamu diam-diam nyari tahu, kamu pengen tahu banyak, berarti kamu ngaruh perhatian lebih ke dia, kan? Kenapa napasnya kayak orang ngeluh begitu, sih?! Kamu laki-laki apa banci kerjaannya ngeluh!" Amren mendesis. "Bunda jangan sembarangan ngomongin banci, nanti kaumnya marah." "Siapa kaumnya?!" "Mantan suami bunda." Aidya memukul bibir Amren. "Sembarangan kamu! Kalau banci mana bisa ada kamu." "Bisalah. Banci juga bisa berdiri, Bun." "Aih! Makin ngaco kamu. Jangan sengaja ngalahin pembicaraan, cepat bilang sama bunda, kamu mau nikahin dia, kan?" Baru Amren hendak menjawab, Aidya sudah memotong. "Harus mau! Orang tadi kamu aja ciumin anak orang sampai tidur-tiduran begitu! Kalau enggak dinikahin bisa gawat, nanti cucu bunda lahir sebelum kalian nikah... ya ampun, ya ampun, bunda enggak bisa bayangin—" "Bunda... Ley masih dibawah umur. Hamil akan bikin kandungannya terganggu. Please, Bunda. Jangan over acting begini." "Dibawah umur?" Lagi, Amren menghela napas keras. "Iya, Bunda. Ley masih tujuh belas—eh, ya ampun, Bunda..." "Apa? Kenapa?" Gestur panik Amren seketika saja membuat Aidya ikut panik. "Besok ulang tahun ketujuh belas!" Amren menahan pekikannya. Dia baru ingat jika besok adalah hari ulang tahun anak gadis Hafriz tersebut. Bagaimana Amren harus merayakannya? "Gimana ini, Bun? Duh, aku enggak nyiapin apa-apa." Aidya yang tidak tahan melihat tingkah kesana kemari putranya menghentikan dengan cara memukul pipi Amren, tidak terlalu keras. "Bunda aaaagggghhhhh... kenapa aku dipukul terus, sih?!" "Kamu yang kenapa selalu bikin bunda pengin mukul kamu! Kenapa enggak bilang kalau perempuan itu masih kecil, Amren??? Apa yang bakalan papamu bilang nanti?! Gimana nanti kalau kamu hamil ini anak dibawah umur, Amren?? Ya ampun. Harusnya mama yang lebih panik dari pada kamu yang bingung bikin kejutan apa?!" Amren bungkam. "Sekarang, pikirin gimana caranya mama tetap dapet cucu dari pernikahan sah, tapi papamu dan papanya ngasih restu. Gimana, Amreeeeennn!??" * Jurus pertama yang Aidya lakukan adalah mendekati Ley dari hati ke hati. Tidak mau terburu-buru, dia membentuk komunikasi lebih dulu dengan Ley agar gadis itu tidak takut. Seperti yang Amren bilang, keadaan traumatis Ley memang agaknya parah. Aidya juga bisa berpikir jernih dengan lebih dulu mengakrabkan diri, bukan tiba-tiba menanyakan kamu mau, ya, nikah sama anak bunda. Pastilah bingung semesta ini kalau ada wanita dewasa melakukan hal itu. Tak ada angin tak ada hujan meminang anak gadis orang. "Terus, kalau Ley sekolah pasti ada guru perempuan. Gimana, tuh? Takut?" "Emmm, enggak terlalu. Kan jauh-jauh, Bunda. Ley enggak takut, terus juga guru-guru Ley baik." Aidya langsung suka karena Ley tipe yang penurut. Bahkan ketika diminta memperkenalkan diri, Ley yang bergetar tapi langsung Aidya dekati dengan sabar akhirnya mau menjelaskan secara lengkap. Sekarang, hanya mereka berdua di ruang tv. Amren diusir lebih dulu oleh Aidya. "Ley suka dandan?" Melihat ragu ke arah Aidya, Ley mengangguk tipis. "Besok-besok mau bunda dandani?" Tawaran Aidya membuat Ley langsung mengeratkan kedua tangan. Gadis itu mulai bergetar takut lagi. Aidya menggenggam tangan Ley, mengusapnya dan perlahan mengurai tautan tangan gadis itu agar lebih tenang. "Bunda enggak akan mukul Ley. Bunda yang mau dandani Ley." Aidya mengusap rambut Ley dengan sayang. "Ley boleh pakai make-up. Ley, kan sudah besar. Ley cantik sekali pasti kalau didandani." "Kemarin juga Reren bilang gitu. Waktu Ley didandani buat wisuda sekolah, kata Reren Ley cantik, terus Reren tanya boleh enggak cium Ley," Aidya langsung melotot dan Ley menghentikan ucapannya. Buru-buru Aidya tersenyum dan menyuruh Ley melanjutkan. "Terus Ley enggak jawab, soalnya Ley pengin nangis. Ley takut, Bunda. Dulu Ley selalu dimarahin mama kalau pegang-pegang bedak mama, Ley dipukul kalau cobain lipstik mama. Kata mama Ley enggak boleh cantik, Ley enggak boleh genit, Ley enggak boleh dandan pokoknya. Mama marah-marah terus kalau lihat Ley, mama jahat sama Ley, Bunda." Aidya yang memang dasarnya asli cengeng, tidak tega melihat wajah sendu Ley. Dia bawa kepala Ley untuk bersandar di dadanya. Aidya tidak menyangka akan bertemu anak korban kesakitan mental seorang ibu. Meski Aidya tidak tahu apa yang terjadi, tapi jelas dia membenci seorang ibu yang mengangkat tangan untuk memukul anaknya sendiri tanpa salah apa-apa. "Ley punya bunda, Sayang. Jangan nangis. Ley bisa cerita sama bunda, ya." Ley mengangguk dalam pelukan Aidya. Mereka baru beberapa menit berkenalan, beberapa menit mencoba saling akrab, beberapa menit mencoba membagi cerita, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selama beberapa waktu kemudian. Sekarang, dalam pikiran Aidya, ketimbang sibuk mendapatkan cucu adalah bagaimana dia membuat Ley lebih terarah. Ada benarnya ucapan Amren, jika dipaksa hamil, mungkin kandungan Ley akan bermasalah karena usianya terlalu muda. Huh, sekarang sepertinya tinggal kemauan Amren. Terserahlah dia mau apa. Tapi dalam lubuk hatinya, Aidya tetap ingin membantu Ley dan putranya. Pelukan keduanya terurai.  "Ley suka sama Reren?" "Ley sayang sama Reren. Reren baik banget sama Ley. Reren juga perhatian sama Ley, suka deket-deket Ley, suka—" "Suka cium Ley." Aidya melanjutkan. Pipi Ley langsung bersemu merah. "Kok bunda tahu?" "Bibir Ley makin tebel, tuh. Pipinya juga! Ley, bunda kasih tahu." Aidya mendekat ke arah Ley. "Apa bunda?" "Kalau Reren mau cium kamu, dimana aja. Di mata, kek, di pipi, kek... pokoknya jangan mau. Nanti muka Ley bisa bengkak." Ley langsung memegang wajahnya. "Terus gimana, dong, Bunda?" "Pokoknya kalau Reren mau cium kamu, suruh nikahin kamu dulu. Gitu. Biar halal." "Terus muka Ley enggak bengkak bunda kalau halal?" Aidya mengangguk semangat. "Betul." "Tapi Ley pernah ajak nikah Reren, terus ditolak." "Kok bisa? Apa katanya?" "Ley enggak tahu cara tanggungjawab kalau nikah apalagi sambil kuliah." Dasar Amren! "Memangnya Ley ajak Reren nikah kenapa? Karena sayang?" Ley mengangguk. "Ley sayang Reren. Ley enggak mau pisah sama Reren." "Oh, gitu. Terus kalau Reren enggak sayang Ley gimana?" Bukan tanpa alasan Aidya menanyakan hal tersebut, karena sebenarnya Amren tengah berdiri di tangga. Ley diam sejenak, begitu juga Amren. "Kalau Reren enggak sayang Ley... Ley mau pergi aja sama papa." * Amren yang semula berdiri mematung saja, berdeham pelan karena merasa terlalu lama menyelami ucapan Ley. Ada perasaan tak terima saat Ley dengan mudahnya menjawab akan meninggalkannya begitu saja. Bahkan gadis itu belum berusaha sama sekali, tiba-tiba Amren merasa malas melangkahkan kakinya turun. Dia malas menatap Ley yang sudah menoleh karena panggilan Aidya pada Amren. "Amren? Ngapain di situ? Sini, gabung sama bunda sama Ley." Sepertinya cara Aidya memanasi putranya cukup berhasil. Buktinya, Amren malas-malasan melirik ke arah Ley yang anteng saja seperti tidak pernah mengatakan apapun. Kalau tidak ada bundanya, Amren sudah menggencat Ley dengan— "Kenapa kamu natap ke Ley begitu, Ren? Kamu marah sama Ley?" pancing Aidya. Lagi, ibu dari putra 32 tahun tersebut memang jago memancing keributan. "Bun, stop bikin suasana keruh." Meski mengatakan dengan santai, Aidya tahu kalau Amren tidak setenang yang terlihat. "Oh. Ya udah, deh. Bunda masuk kamar tamu ya, bunda mau beres-beres, mandi, terus..." —menatap Ley— "kita habisin waktu berdua, yuk, Ley. Nanti belanja sama bunda berdua aja, ya? Nanti kita—" "Enggak boleh!" seru Amren. Pandangan kedua pasang mata di hadapannya terarah langsung pada Amren. Menghilangkan gugup yang tiba-tiba saja mendera, Amren kembali berdeham. "Pokoknya bunda enggak boleh bawa Ley. Kalau bunda mau belanja dan minta temenin Ley, jangan hari ini. Aku mau ngomong berdua sama Ley. Jangan diganggu." Aidya belum puas hanya dengan cara seperti itu, dia memilih melanjutkan lagi. Menoleh ke arah Ley, wanita itu berkata, "Oh... kalau itu, sih terserah Ley. Iya, kan, Ley?" Gadis itu kebingungan. "Ley mau ikut bunda atau ngomong sama Reren?" Aidya hanya mengetes, tapi ekspresi putranya malah sangat serius menunggu jawaban dari Ley. Tidak Aidya sangka, akan sebegininya atensi Amren pada gadis tujuh belas tahun. Duh, jadi inget masa muda. Aidya sekarang lebih memahami apa arti cinta itu buta, karena melihat dua sejoli yang terlihat saling kuat tarik menarik itu. "Ley... Ley... juga mau ngomong sama Reren." Crap. Diam-diam Amren berseru senang dengan keputusan Ley. Walaupun begitu, setelah ini sesi pembicaraan mereka pasti akan sengit. * "Jadi, kamu mau ninggalin saya, Ley?" mulai Amren. Pandangan bingung Ley tercetak jelas, tapi Amren tak mau tahu bagian itu dia hanya ingin tahu apa yang melatari Ley berpikiran untuk meninggalkannya. "Tadi kamu bilang ke bunda kamu akan ninggalin saya, Ley." "Ya... soalnya bunda nanya kalau Reren enggak sayang Ley." "Terus, kamu dengan gampangnya bilang mau ninggalin saya?? Selama ini kita barengan, kamu manja-manja ke saya, kita cium-ciuman, kita tidur bareng... kamu mau ninggalin saya gitu saja?? Iya??" Ley sepertinya tidak terima disudutkan, akhirnya melawan argumen Amren. "Kan Ley cuma jawab, Reren. Kalau Reren beneran enggak sayang sama Ley yaudah Ley bakalan tinggalin Reren!" "Kamu pikir saya enggak sayang sama kamu???" tekan Amren. "Kalau Reren sayang Ley kemarin pas Ley ajak nikah harusnya Reren jawab! Kemarin Reren enggak bilang mau nikah sama Ley juga! Berarti Reren enggak sayang sama —" "Ayo nikah!" Ley terdiam. Gadis itu terkejut, meski sebenarnya Amren juga sama terkejutnya. "Reren..." Amren memejamkan matanya sesaat, membulatkan tekad. "Alaia Pelita Keagra, menikahlah dengan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN