Setiap tahun, akan diadakan Pekan Olahraga Sekolah. Untuk tahun ini, SMA Garuda Sakti menjadi tuan rumah dalam acara bergengsi untuk anak-anak SMA di kota ini. Banyak pertandingan olahraga yang akan diadakannya, khususnya basket dan futsal. Ada juga beberapa stand dan pameran yang sengaja dihadirkan untuk memamerkan hasil karya siswa. Semua sudut sekolah tampak ramai dengan hiasan khas acara ini sebagai penyambutannya bagi seluruh peserta dari SMA-SMA tetangga.
Acara seperti ini adalah sebuah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak siswa. Mereka menggunakan acara semacam ini untuk menjalin pertemanan dengan siswa dari sekolah lain atau bagi mereka yang masih jomblo berharap akan mendapatkan seorang pacar. Karena tidak ada yang mustahil ketika acara bergengsi seperti ini diadakan.
Semua orang antusias, semua guru dan staff sekolah sibuk karena harus memamerkan sekolah ini kepada semua orang, para tim olahraga juga sibuk berlatih karena tidak ingin kalah di kandang sendiri, siswa pada bagian pameran juga sibuk dengan penataan stand mereka agar menarik perhatian dan tidak bisa dilupakan oleh semua pengunjung yang hadir, anak-anak OSIS sebagai orang penting untuk acara semacam ini sibuk mondar-mandir dengan memakai jas almamater, para siswa jomblo sudah siap menebar ranjau kemana-mana, dan sisanya hanya menatap lapangan tidak peduli.
Genta berdiri seperti orang bodoh di tribun sendirian. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Acara seminggu penuh ini seperti agenda tahunan yang begitu dinanti oleh banyak orang. Tetapi tidak dengan seorang Genta. Dia hanya menantikan waktu jam kosong karena jika acara seperti ini, dia tidak memiliki teman mengobrol.
Zidan tentu saja sibuk menyiapkan timnya, karena cowok itu adalah ketua tim basket. Tito sendiri akan mondar-mandir dengan rompi anak PMR dan terus berjaga di sekitar lapangan. Siapa tahu ada yang mau pingsan atau terluka. Indira yang biasanya menjadi objek kejahilannya juga harus ikut andil dalam acara karena anggota dari Cheerleader, selaras dengan Zidan. Sedangkan Alyn? Semua anak kelas XI IPA 1 mendapat tugas untuk memimpin pameran di aula sekolah.
Genta menghela napas panjang, menatap lapangan hampir setengah jam membuatnya bosan. Dia tidak mungkin mengganggu sahabatnya saat ini. Mereka semua sedang sibuk dan tentunya demi mengharumkan nama sekolah mereka.
Menjadi orang yang tidak memiliki bakat sepertinya memang sangat membosankan. Genta tidak pernah ikut andil dalam kegiatan apapun selama bersekolah di sini. Walaupun hanya duduk-duduk menjaga stand pun, tidak pernah. Cowok itu asik menatap lalu-lalang manusia yang perlahan tumpah ruah di sekolahnya.
Anak-anak SMA lain sudah datang dengan menggunakan bus sekolah atau bus sewaan. Berlomba-lomba untuk memperlihatkan fasilitas terbaik dari sekolah asal mereka masing-masing. Genta tidak peduli, cowok itu memilih menyingkir dari sana. Berjalan-jalan akan membuat fokusnya teralihkan, maybe.
Tribun penonton penuh dengan manusia berseragam macam-macam rupa. Alat-alat musik untuk memberi semangat setiap tim yang bermain juga sudah disiapkan masing-masing sekolah. Setiap warna tribun adalah satu sekolah. Jadi, beda warna akan berarti beda sekolah.
Sebelum acara bergensi tahun ini dimulai, SMA Garuda Sakti sebagai tuan rumah wajib memberikan sebuah persembahan. Genta bisa melihat grup musik tampak tidak baik-baik saja. Mereka kalut dan bingung, padahal setelah tim teater mundur, maka grup musik mereka akan maju.
"Siapa yang bakalan maju? Kita semua enggak bisa nyanyi. Mana mungkin kita cari penyanyi dalam waktu singkat. Nama ekstrakurikuler musik bakalan jelek kalau kaya gini caranya."
Cowok itu menatap beberapa anak seni musik yang tertunduk bingung. Genta mendengar jika sang vokalis mengalami kecelakaan ketika hendak ke sekolah. Itu artinya tim musik tidak bisa maju. Beberapa kali MC memanggil mereka namun tetap diabaikan.
Sampai akhirnya Genta maju ke atas panggung. Hal yang tidak pernah Genta pikirkan sebelumnya, dia berhasil naik ke atas sini dengan kepercayaan diri yang pas-pasan. Apakah suaranya akan membuat semua orang terkesan? Genta tidak pernah mengeluarkan suara lain selain berteriak.
Tatapan semua orang mengarah padanya. Tito yang berjaga di pinggir lapangan menatapnya, menggeleng dengan cepat. Mungkin takut jika dirinya akan sangat memalukan. Sedangkan Zidan yang berada di barisan pemain hanya bisa terdiam menatap sahabatnya berada di atas panggung.
Cowok itu duduk diatas kursi yang disediakan dengan membawa sebuah gitar akustik. Genta memegang mikrofon yang berada di depannya, lalu membuat mikrofon itu pas di depan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya Genta duduk sebagai orang yang berguna.
"Selamat pagi!" Sapa Genta dengan suara merdunya. Kali ini bukan suara cempreng atau canda seperti biasanya. Bahkan suara itu mampu membius siapa saja yang mendengarkannya.
"Pagi!" Kompak semua orang yang berada di tribun penonton.
Genta tersenyum, "Pagi ini saya akan menyanyikan salah satu lagu yang spesial menurut saya. Karena hari ini adalah penampilan perdana saya yang akan membawakan lagu garis terdepan. Semoga kalian semuanya suka!"
Tatapan semua orang tertuju kepada Genta ketika cowok itu memetik gitarnya. Mata-mata meremehkan yang tadinya terlihat berubah menjadi mata memuja. Cowok itu membuka mulutnya, menyuarakan suaranya yang lembut dan enak didengar.
Bilur makin terhampar.
Dalam rangkuman asa.
Kalimat hilang makna.
Logika tak berdaya.
Suara tepuk tangan riuh dari para penonton yang mendengarkan suara Genta di bait-bait awal.
Di tepian nestapa.
Hasrat terbungkam sunyi.
Entah aku pengecut.
Atau kau tidak peka.
Tito dan Zidan saling pandang walau dari kejauhan. Satu lagi hal yang tidak mereka ketahui dari sosok Genta, cowok itu pandai bernyanyi dan bermain gitar.
Ku mendambakanmu mendambakanku.
Bila kau butuh telinga 'tuk mendengar.
Bahu 'tuk bersandar.
Raga 'tuk berlindung.
Pasti kau temukan aku di garis terdepan.
Bertepuk dengan sebelah tangan.
Tatapan semua orang teralihkan kepada sosok Genta yang dianggap biasa saja. Memang, cowok itu sangat populer, hanya saja mereka tidak pernah tahu seperti apa diri Genta sebenarnya.
Di sudut tribun, Alyn sedang berdiri untuk melihat Genta. Cewek itu bisa dengan mudah mengenali suara Genta walaupun dari jauh.
Kau membuatku yakin.
Malaikat tak selalu bersayap.
Biar saja menanti tanpa batas, tanpa balas.
Tetap menjelma cahaya di angkasa.
Yang sulit tertampik dan sukar tergapai.
Ku mendambakanmu mendambakanku.
Bila kau butuh telinga 'tuk mendengar.
Bahu 'tuk bersandar.
Raga 'tuk berlindung.
Pasti kau temukan aku di garis terdepan.
Bertepuk dengan sebelah tangan.
Riuh tepuk tangan ketika Genta mengakhiri lagunya. Cowok itu berdiri, lalu tersenyum dan turun dari panggung tanpa sepatah kata pun. Acara inti dimulai dan Pekan Olahraga Sekolah resmi dibuka.
###
Sekolah mulai sepi, para siswa dari sekolah lain telah pulang sejak satu jam yang lalu. Untuk hari ini, tim olahraga sekolah menang semua, entah besok. Anak-anak dari tim olahraga dikumpulkan untuk melakukan breafing dan evaluasi. Sedangkan anak OSIS sedang rapat bersama dengan anak PMR dan beberapa sub-tugas yang mereka bentuk.
Beberapa anak dari tim pameran sedang membereskan dagangan mereka. Sama halnya dengan Alyn yang baru saja selesai membersihkan semua barang-barang kelompoknya dan menutup stand-nya sore ini sendirian. Sebenarnya Alyn memiliki kelompok, namun yang terjadi bukan hal yang luar biasa untuknya.
"Kenapa sendirian? Yang lainnya mana?" Tanya Genta yang muncul begitu saja dengan menenteng tas ranselnya.
Hampir saja Alyn menjerit karena kedatangan Genta yang tiba-tiba dan cukup mengagetkannya. Cewek itu mengelus dadanya lalu menatap Genta yang menampakkan senyum manisnya. Bahkan cowok itu masih bersikap sama padanya walaupun semua orang tampak memuja Genta.
Setelah acara nyanyi di atas panggung yang menggegerkan seluruh sekolah, cewek-cewek dari sekolah lain pun mulai mendekati Genta. Tentu saja Alyn tahu semuanya, cewek itu bisa melihat dengan jelas jika cewek-cewek itu membicarakan Genta di depannya. Mungkin mereka tidak tahu jika Genta ada yang punya.
Alyn ingin tertawa ketika berpikir tentang Genta ada yang punya. Siapa? Ingin sekali Alyn bilang begitu. Tapi, apa boleh?
"Kamu ngapain?" Tanya Alyn kepada Genta yang berdiri di depannya. Jantung Alyn berdetak cepat, lesung pipi Genta disebelah kiri timbul begitu saja. Membuatnya semakin suka.
"Lo cemburu, ya?" Tanya Genta tiba-tiba.
Alyn memasang raut wajah kaget ketika mendengar Genta mengatakan hal itu padanya. Apakah wajahnya kelihatan cemburu? Cewek itu hanya diam dan menundukkan kepalanya. Sesaat jantungnya bekerja dua kali lipat.
"Gue cuma nyanyi. Enggak maksud sama sekali buat tebar pesona sama sekali. Karena gue, udah punya Elo." Ucap Genta tepat di telinga Alyn.
Cewek itu bisa menatap mata Genta yang sedikit cokelat. Cowok itu masih sama, wajahnya begitu mulus tanpa cela. Mungkin karena perawatan juga, pikir Alyn. Pacarnya begitu sempurna dengan sikap yang begitu manis dan mengerti dirinya.
Entah keberanian dari mana, Alyn menggenggam tangan Genta dan tersenyum. Walaupun tanpa bicara sekalipun, Genta bisa merasakan jika Alyn merasa tenang berada di dekatnya.
Belum sempat mereka meninggalkan stand milik Alyn. Seseorang sudah merangkul pundak Genta. Cowok dengan atasan kaos dan celana panjang abu-abu.
"Nah, bucin! Pegangan tangan segala, deh." Ledek Zidan yang merangkul pundak Genta.
Alyn hendak melepaskan tangannya, takut jika Genta tidak nyaman. Tetapi cowok itu malah mengeratkan pegangan tangannya. Memberi kode kepada Alyn jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Hai Ralyn ... Besok Rere gue mau kesini. Elo bisa 'kan temenin dia selama gue tanding?" Kali ini Zidan mengajak Alyn bicara.
Cewek itu sedikit gelagapan, bingung dengan apa yang baru saja Zidan katakan. Pasalnya, sahabat Genta baru saja mengajaknya bicara dan kemarin Tito sempat-sempatnya menandai tugas sekolahnya. Sayang, Alyn belum berterima kasih karena tidak berani menegur Tito langsung.
Genta menatap Alyn yang tampak kebingungan. "Rere itu pacarnya Zidan. Sekolahnya besok tanding sama sekolah kita."
Alyn mengangguk paham, tetapi mengapa Zidan memintanya untuk menemani pacar cowok itu? Apakah Rere tidak akan terganggu dengan kehadirannya?
Seperti bisa membaca pikiran Alyn, Zidan langsung meluruskan. "Rere enggak suka keramaian. Mungkin karakternya hampir mirip sama Lo. Gue enggak yakin dia mau bareng teman-temannya yang lain karena sempat ada masalah gitu."
"Gimana?"
"Iya, boleh!" Jawab Alyn dengan melirik ke arah Genta. Cowok itu hanya mengangguk lalu menatap Zidan yang berada di depan mereka.
"Kalau gitu, lanjutin pacarannya. Gue mau balik dulu!" Ledek Zidan yang langsung berlari sebelum Genta memukulnya.
Genta mengajak Alyn untuk segera pulang, tangan mereka masih saling bertautan. Membuat beberapa orang merasa iri karena seorang Ralyna bisa mendapatkan Gentasena. Walaupun Genta bukan murid yang pandai atau cowok-cowok yang mirip di cerita novel, namun cowok itu memiliki karakter yang menyenangkan. Jadi, siapa saja yang dekat dengan Genta akan memiliki energi positif.
Cowok itu memperhatikan Alyn yang sedang memakai helm. Perhatiannya teralihkan pada leher cewek itu yang membiru. Seperti luka yang sama dengan beberapa hari yang lalu namun di tempat yang berbeda.
"Kenapa?" Tanya Alyn ketika melihat Genta bengong cukup lama.
Cowok itu menyadarkan dirinya dari lamunannya lalu menggeleng dengan cepat.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?" Tanya Genta setelah selesai memakai jaketnya.
Alyn menggeleng, biasanya orang-orang akan membuat rencana dan menyuruhnya melakukan apapun kemauan mereka. Namun ketika bersama Genta, dia memiliki pilihan yang sama seperti manusia yang lainnya.
Cowok itu menatap Alyn, menarik cewek itu ke dalam pelukannya. Genta merasa sangat kasihan dengan Alyn, seperti ada sesuatu hal yang sangat besar sehingga menghancurkan mentalnya.
"Genta ... Ngapain kamu?" Teriak Hilda yang kebetulan bersamaan dengannya ke parkiran.
Genta memejamkan matanya sejenak, sedangkan Alyn tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka ketahuan Hilda, sang guru BK ketika dalam posisi berpelukan.
"Pura-pura lemas sama pusing," bisik Genta tepat di telinga Alyn.
Cewek itu diam, namun akhirnya mengikuti kemauan Genta untuk kesekian kalinya. Cowok yang katanya pacarnya ini memang benar-benar gila. Bahkan saat ini Genta berusaha mengangkat tubuhnya.
Alyn berusaha memejamkan matanya agar terlihat natural. Dia sudah gila karena mengikuti cowok bernama Gentasena ini.
"Lho kenapa, Ralyn?" Panik Hilda mendekat ke arah Genta.
Cowok itu pura-pura panik, "Biasa Bu, kumat penyakitnya! Saya bawa ke UKS dulu aja deh, Bu. Permisi!"
Genta menggendong Alyn menjauh, kabur dari Hilda sebelum guru BK berisik itu mengikutinya. Mereka bersembunyi di celah gedung yang menjorok. Dengan posisi Alyn di dalam dan Genta yang menghadap wajah Alyn secara langsung.
Cewek itu bisa mencium aroma Genta sedekat ini. Bisa merangkul pinggang cowok itu dengan leluasa dan menatap dagunya dari bawah.
Genta menunduk, menatap mata Alyn yang juga menatapnya. Senyumnya mengembang, sebelum Genta merasakan sebuah ciuman yang menghancurkan kewarasannya.
Matanya membulat seketika, tubuhnya kaku ketika Alyn berani menjamah bibirnya. Cewek itu telah mengambil ciuman pertamanya, berusaha merapatkan tubuh Genta agar mendekat ke tubuhnya.
Sebelum kehilangan kendali, Genta melepaskan ciuman itu secara paksa. Alyn tampak sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya. Bahkan dia telah lancang melakukan hal tidak senonoh seperti tadi. Cewek itu bisa melihat perubahan ekspresi wajah Genta. Sampai akhirnya Genta meninggalkannya, berjalan lebih dulu tanpa mengucapkan kata apapun kepadanya.
###