Ara merebahkan tubuhnya di kasur. Seharian, main bersama teman-temannya, sedikit menghibur hatinya yang galau. Setidaknya, dia bisa menikmati hari itu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Sebuah pesan masuk di ponsel Ara. Ara melihat ponselnya. “Pak Ganjo? Tumbenan ngechat?” ucap Ara pelan. Dia membaca isi pesannya. 'Memangnya kalau bukan Dosen, kenapa?’ Deg. Hati Ara mendadak berdetak lebih kencang. Ara seakan terbawa ke masa lalu. Masa dimana, Luffi datang secara tiba-tiba, lalu menghapus lukanya. Ara hanya membacanya. Dia tidak berani membalas pesan itu. Pesan yang bukan ditujukan Dosen pada mahasiswanya. Karena, isi pesan itu, seperti dikirim oleh seorang pria yang sedang mendekati seorang wanita. Ara meletakkan ponselnya. Dia tidak ingin berada dalam kenyamanan semu. Dia hany

