Setelah tantenya tina di lobi. Mereka pun segera berangkat. Ibu Hans duduk di depan di samping supir. Ara, Dita dan Nesa duduk di tengah.
“Mau kemana ini Bu?” Tanya supie pada Ibu Hans.
“Mau kemana Ra?” Tantenya beralih bertanya padanya.
“Kita ke Pantai saja Pak.”
“Pantai mana Mbak? Ngetan, ngulon, ngidul opo ngalor?”
“Eh di u ada pantai apa Pak?”
“Pantai Kesek. Hehe.”
“Hahahaha. Itu mah tambak garam Pak.” Jawab Ara.
“Jadi kemana mbak?”
“Ke Malanh saja Pak. Disana banyak pantai bagus.”
“Gimana Tan, setuju gak?” lanjut Ara.
“Terserah kamu saja deh, Tante ngikut.”
“Berangkat Pak.” Ucap Ara pada supir.
Mereka pun berangkat. Baru juga sampai di Lawang Kabupaten Malang, supir ijin berhenti sebentar di pom bensin. Beruntung disana ada mesin ATM, Ara segera menarik tunai dari kartu kredit Hans. Sebagai antisipasi, kalau saja Tantenya tak mau keluar uang. Cukup lama mereka menunggu supir, hampir saja Tantenya ngomel, sang supir terlihat berlari menuju mobil.
“Lama banget Pak.” Ucap Tantenya.
“Iya Bu, antri. Maaf ya menunggu lama.”
“Gak apa – apa Pak. Ayo cus jalan.”
“Siap Mbak.”
“Disini hawanya sudah mulai sejuk ya Ra. Ga seperti di rumahmu. Panas.”
Ara mencibir. “Yaiyalah Tan, kan ini sudah dataran tinggi. Rumah Tante juga sama, panas.” Balas Ara. Kedua temannya hanya senyum – senyum mendengar jawaban Ara. Sementara Tantenya melengos kesal.
Perjalanan menuju pantai kawasan Malang memang cukup jauh. Membutuhkan waktu berjam – jam. Mereka pun tertidur dalam perjalanan itu. Walau perjalan memakan waktu lama, tapi jalan menuju pantai sudah diaspal. Hanya saja perlu berhati – hati saat melewati tanjakan yang bernama jurang mayit. Sekitar 2 jam kemudian mereka pun sampai. Nesa yang sudah bangun duluan membangunkan kedua temannya.
“Ra, Dit, sudah sampai nih.” Ucapnya.
Ara pun terbangun dan mencolek Tantenya. “Tan, sudah sampai.”
“Dimana ini Ra?”
“Ini namanya Pantai Balekambang. Tuh ada tulisannya.”
“Ooooh.”
Mereka turun dari mobil dan segera berhambur ke pantai.
“Ra, tante haus nih. Beli minum dong.”
“Es pistol mau Tan?”
“Eh? Es apa itu?”
“Mau nggak?”
“Iya deh coba. Cepetan ya, haus nih.”
Ara segera memesan 5 es kelapa muda. Satu diberikannya pada sang supir. Satu dia bawa dan yang tiga dibawa oleh penjualnyadengan nampan.
“Sebelah mana mbak?” Tanya penjual es.
“Disana Pak.” Ucao Ara sambil menunjuk Tantenya yang duduk di bawah pohon kelapa.
“Oiya Pak, ada persewaan alas duduk gak? Tikar atau apa gitu?”
“Ada mbak, kalau mau nanti saya bawakan.”
“Wah sip Pak. Bayarnya sekalian nanti sama es nya ya?”
“Oke Mbak.”
“Ini minumnya Tan.” Ucap Ara sambil memberikan es kelapa muda padanya.
“Lah katanya es pistol? Kok kelapa muda?”
Sontak Nesa dan Dita pun tertawa. “Kelapa muda tuh bahasa jawanya degan tante. The gun. Es pistol. Hahahaha.” Jelas Ara.
“Halah, ku kira es apa pistol. Bentuknya pistol atau wadahnya gitu. Ternyata, bikin kaget saja. Haha.” Jawab Tantenya.
“Tan, mau kesana gak?”
“Kemana Ra?”
“Itu loh, jembatan itu. Mau gak?”
“Loh seperti di Bali ya Ra?”
“Iya Tan, banyak yang bilang Pantai Balekambang ini tuh Tanah Lot nya Jawa.”
“Nah betul Pantai Tanah Lot. Ayolah kesana, nanti habis dari sana kita cari makan ya.”
“Tante belum sarapan?”
“Sudah sih. Tapi laper pasti kan kalau habis jalan jauh.” Jawab Tantenya.
Saat mereka mau berjalan menuju jembatan itu. Si penjual es datang dengan membawa tikar. “Ini Mbak tikarnya.”
“Iya Pak, pasang disitu deh. Biar dijaga sama Pak supir. Oiya, ada sea food ga Pak?” Tanya Ara.
“Ada Mbak, mau masakan apa?”
“Lobster ada?” jawab Ara.
“Lobsternya masih belum datang Mbak. Biasanya setengah jam lagi sampai.”
“Tante mau makan apa? Kalian juga apa?” tanya Ara.
“Tante mau kepiting.”
“Aku apa saja deh Ra.” Jawab Dita.
“Aku juga terserah deh.” Jawab Nesa.
“Kalau Bapak?” tanya Ara pada supirnya.
“Apa saja boleh mbak.”
“Oke deh. Pak pesan kepiting saus padang satu. Lobster bakar, ikan kerapu asam manis satu, kerang saus padang satu. Nasinya untuk 8 porsi ya Pak. Ada semua pesenan saya Pak?”
“Ada Mbak, tinggal nunggu lobsternya saja.”
“Oke deh. Saya tinggal dulu. Nanti langsung letakkan di tikar saja Pak.”
“Siap Mbak.”
Pantai balekambang merupakan salah satu pantai di kawasan Kabupaten Malang. Letaknya di Dusun Sumber Jambe, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pantai dengan pasir putihnya yang bersih juga dengan ombaknya yang indah. Di pantai ini terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan antara pantai Balekambang dengan sebuah pulau. Pulau itu bernama Pulau Ismoyo. Di pulau tersebut terdapat sebuah pura yang masih aktif digunakan sampai sekarang. Pura tersebut bernama Pura Ismoyo Jati.
Mereka berempat berjalan menuju jembatan. Mereka menyempatkan foto – foto di tengah jembatan. Karena pura tersebut suci, maka bagi para wanita yang sedang haid dilarang memasuki pura. Beruntung, mereka berempat tidak sedang haid. Ibu Hans merasa senang bisa mengunjungi pantai itu. Terbesit keinginannya untuk mengundur hari kepulangannya.
“Ra, Tante betah deh disini. Nginep yuk?”
“Heh?”
“Kok heh?”
“Ara kan ada tugas kampus Tante, Ara sama teman – teman juga gak bawa baju ganti.”
“Halah masalah baju bisa beli. Ayolah, kapan lagi Tante bisa liburan sama kamu.”
“Liburan sama aku apa liburan di pantainya?”
“Hehehe. Pokoknya kita nginep!”
Tante Ara segera masuk ke dalam pulau ismoyo. Disana mereka disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Hamparan pasir putih dan birunya laut. Pulau ismoyo juga sangat indah. Ada beberapa pohon besar disana. Juga sebuah pura bernama pura ismoyo jati. Pura tersebut masih eksis sampai sekarang. Para penganut agama hindu biasanya sering mengadakan ritual disana. Termasuk upacara hari besar keagamaan. Banyak turis manca negara terpikat dengan tradisi dan keindahan pantai Balekambang.
Mereka juga berfoto di dekat pura. Pura dengan bangunan yang sangat unik, ada sebuah patung kepala seperti topeng penari bali di tengah atapnya. Juga ada beberapa anak tangga untuk menuju puncak pura. Setelah puas berfoto, mereka kembali menuju tikar yang digelar di bawah pohon kelapa. Tepat setelah menu terahir dihidngkan diatas tikar, mereka sampai. Kemudian mereka makan bersama – sama. Pak supir yang awalnya akan pergi melipir karena sungkan, dicegah oleh Ara dan diajaknya makan bersama.
Sesuisai makan, mereka pergi ke kios penjual kaos. Membeli baju ganti untuk berenang dipantai. Hari itu sangat cerah, langit berwarna biru sempurna. Pengunjung juga masih belum terlalu ramai. Saat yang tepat untuk berenang.
“Nes kamu pernah snorkling?” tanya Ara.
“Pernah, sekali pas di Bali.”
“Kalo kamu Dit?”
“Kamu nih nanya beneran apa ngeledek sih?” jawab Dita ketus.
“Lah aku kan nanya. Kok dibilang ngeledek.”
“Aku kan ga bisa berenang. Apalagi snorkling.”
“Yeee, makanya belajar. Masak kalah sama anak paus. Dari kecil sudah bisa berenang.”
“Eh awas ya, aku dibandingin sama paus.” Dita mengejar Ara.
“Kan sama – sama GEDE. Hahaha.” Ucap Ara sambil berlari menghindar.
Tantenya yang mendengar itu jadi senyum – senyum sendiri. Dia mengingat tentang masa mudanya. Masa muda yang begitu bebas tanpa beban. Masa dimana dia bisa pergi kemanapun sesuka hatinya. Terlahir dari keluarga kaya membuatnya tak melulu menjadi anak rumahan. Dia lebih suka berpetualang. Termasuk salah satunya Pantai Ujung Pandaran. Dia ingat saat pertama kali bermain hingga lupa waktu. Mau tidak mau dia harus mencari penginapan. Sayangnya semua penginapan sudah penuh. Mungkin memang sudah berjodoh. Dia bertemu dengan Ayah Hans yang sedang berkemah disana. Ahirnya dia pun mendapatkan tempat untuk tidur malam itu. Tentunya dia tidur di tenda sendirian. Sementara Abi tidur di luar hanya dengan sebuah sleeping bag.