Jalan - jalan part 3

1163 Kata
Karena sudah terlalu malam, dan Ara belum juga pulang. Ibu Ara menjadi khawatir. Ara di telepon juga nggak diangkat. Kemudian dia memutuskan untuk menelpon Hans dan meminta bantuannya mencari Ara. “Halo Hans.” “Iya ada apa Tan?” “Tante mau minta tolong nih. Kamu sibuk gak?” “Sudah mau tutup warung kok ini Tan. Minta tolong apa?” “Ara belum pulang nih. Tadi kan dia ke kampus. Coba kamu lihat kesana.” “Astaga Tan, maaf nih.” “Kenapa Hans kamu ga bisa ya?” “Bukannya gak bisa Tan. Tapi tadi Hans itu.” “Kalau gak bisa gak pa – pa kok.” “Loh bukan begitu Tan. Tadi Hand minta Ara buat nemenin Mama jalan – jalan.” “Loh, mau dia?” “Iya, dengan segala syaratnya.” “Kemana mereka?” “Hans juga gak tau Tan. Hans ciba telepon Mama deh.” “Nanti kabari Tante ya kalau sudah ada kabar.” “Siap Tan.” Hans menelpon Mamanya. Cukup lama tidak juga diangkat. Telepon Ara juga gak diangkat. Kemana mereka? Pikirnya. Memudian dia teringat dengan supir yang dia suruh untuk mengantar mereka. Ditelponnya lah sang supir. “Halo Pak. Kok belum pulang?” ucap Hans langsung nyerocos saat telepon itu baru diangkat. “Anu Pak, Ibu minta menginap.” “Hah menginap? Memangnya kalian kemana?” “Ke pantai Pak.” “Pantai mana?” “Pantai Balekambang.” “Dimana itu?” “Malang selatan Pak.” “Kok gak ngabari sih Pak kalau nginep. Kan saya jadi nungguin. Kemana mereka sekarang? Saya telepon ga ada yang angkat.” “Lagi makan malam di pinggir pantai Pak. Mungkin hapenya tidak dibawa.” “Yasudah bilang sama Ara nanti buat ngubungin Ibunya. Ibunya nyariin.” “Siap Pak.” Kemudian Hans memilih untuk pergi ke rumah Ara untuk mengabari Tantenha. Toh warung baksonya dan rumah Ara deket. Tok. Tok. Tok. “Assalamualaikum Tan.” “Waalaikumsalam.” Tantepun membuka pintu dan Hans segera melesat masuk. “Jadi gimana Hans?” “Mereka keenakan Tante.” “Keenakan gimana?” “Mama aku minta nginep.” “Eh ada Hans. Gimana kabarnya?” ucap Ayah Ara. “Baik om. Om maaf nih, Hans minta tolong Ara nemenin Mama jalan – jalan. Gak ijin sama Om dan Tante. Tadi bener – bener gak kepikiran. Denger Ara mau, aku langsung iya – iya in aja semua syaratnya. Daripada Mama ngomel terus. Bisa budeg aku nanti.” “Hahaha. Gak pa – pa sudah. Itung – itung biar Ara sama Tantenya bisa deket.” Ucap Ayah Ara. “Hans. Kesini bawa bakso gak?” mbak wiwid tiba – tiba datang dan ikut nimbrung di ruang tamu. “Bawa kok. Nih, ambil mangkuk gih.” “Eh wid. Kok manggilnya Hans sih. Panggil Mas dong.” Sela Ibunya. “Hah? Mas?” ucap mbak wiwid sambil berlalu. Mbak wiwid memang gak suka memanggil Hans dengan sebutan kakak atau mas atau apalah. Karena dia merasa merek seumuran, kenapa mesti manggil begitu coba. Sementara budaya mengajarkan begitu, setiap anak dari kakak orang tua juga harus dipanggil kakak. Walaupun usianya lebih muda. Tapi mbak wiwid gak suka hal itu. Jadi dia manggilnya tetep Hans. Kecuali di depan Tantenya yang comel itu. *** “Mbak Ara. Tadi Pak Hans telepon. Katanya, mbak disuruh hubungi Ibunya. Nyariin soalnya.” “Haduh. Aku kelupaan ngabarin Ibu. Makasih ya Pak. Kalian gak lupa ngabarin keluarga kalian?” tanya Ara pada dua temannya yang sedang asik makan cumi bakar. “Sudah kok Ra.” “Aku juga sudah.” “Aku aja nih yang belom. Aku telepon dulu deh.” Ara membuat panggilan video pada kakaknya. Mbak wiwid pun mengangkatnya. “Heh kemana saja kamu. Jam segini belum pulang.” Omel mbak wiwid saat wajah Ara muncul di layar hapenya. “Hahaha. Liburan sama Tante Maya nih. Sama temen – temen juga. Ahahaha. Mana Ibu?” Mbak wiwid mengoper hape ke Ibunya. “Bu, maaf ya. Ara lupa bilang. Ara nemenin Tante Maya nih.” “Iya, liburan kemana kamu sama Tante Maya?” tanya Ibunya. “Ke pantai Bu. Balekambang.” “Lah kok jauh banget kesana?” “Sekalian Bu. Hehe, itu Tante Maya seneng. Malah ngajak nginep.” “Tumbenan orangnya enggak ngomel seharian ini.” Ucapnya bisik – bisik. “Hahahaha sampe minggu depan juga jabanin deh Ra.” Sahut hans yang tiba – tiba nongol di samping Ibu Ara. “Heh. Ada Dita.” Bisik Ara. “Eh lupa.” Hans langsung menyingkir. “Besok sudah pulang kok Bu.” “Iya sudah sana lanjutin deh.” Jawab Ibunya. “Jangan ditutup dulu bu. Oleh – olehnya jangan lupa.” Ucap Mbak Wiwid. “Tenang, duit banyak. Hahahaha. Aku tutup ya, Assalamualaikum.” Ucap ara, lalu menutup teleponnya. “Kok dia bilang duit banyak ya Bu?” ucap wiwid pada Ibunya. “Emangnya dia punya uang?” Ibunya balik tanya. Hans menepuk keningnya. “Aduh, bakal banyak nih tahihan bulan depan.” Ucapnya. “Kamu kenapa Hans?” tanya Ibu Ara. “Ya itu, syaratnya Ara tan. Minta kartu kredit buat biaya.” “Wah, asik nih. Aku bakal WA minta oleh – oleh yang banyak aaaaah.” Ucap Wiwid menggoda Hans. “Kakak sama adik sama aja. Mata duitan.” “Yang penting gratisan. Hahahaha.” Ucap wiwid sambil memakan baksonya. “Semoga keselek bakso kamu wid. Hahaha.” Balas Hans. “Sudah – sudah. Kayak anak kecil saja kalian ini.” Ucap Ayah Ara, sambil mengunyah bakso yang baru saja dia masukkan dalam mulutnya. “Nginep sini saja Hans. Ara kan ga disini. Tidur saja sana di kamarnya.” “Ide bagus om.” Ucapnya sambil tersenyum. Ide jailnya muncul. Dia pun segera masuk kamar dan menggeledah isi kamar Ara. Dia membuka laci tempat belajar Ara. Tapi tak ada yang aneh. Laci samping tempat tidur juga biasa – biasa saja isinya. Kira – kira dia menaruh rahasia dimana ya? Batinnya. Hans mengurungkan niatnya untuk membuka lemari Ara. Dia takut nanti malah nemu kacamata kuda alias BH. Karena tak menemukan apapun, dia pun keluar lagi dari kamar dan mengambil baksonya di meja. “Heh. Kok dimakan sih.” Ucap Wiwid. “Lah kan pas satu – satu wid.” Jawab Hans. “Yeeee. Masak yang bawa ikutan makan sih.” “Dasar cerewet. Bilang aja mau nambah.” “Udah kamu makan ya ogah.” “Kalian ini kalau ngumpul paati ribut, kayak tom and jery aja.” Ucap Ibu nya. Keduanya langsung diam, tapi saling melotot satu sama lain. *** “Gimana Ra?” tanya Nesa. “Udah beres.” Ucapnya sambil mencomot udang goreng krispi. “Tante ga nambah makannya?” tanya Ara. “Udah kenyang. Kalian habisin ya. Tante ke kamar dulu. Pak ayo antar saya ke penginapan. Nanti balik lagi jemput mereka.” “Siap Bu.” Jawab Pak Supir. Mereka pun berangkat menuju penginapan. “Eh Ra, itu Tantemu yang mana? Aku baru kali ini tahu Tantemu yang itu.” Tanya Nesa. “Oh, dia istri dari om ku yang di Palangkaraya.” “Ooooh. Pantesan.” Hape Ara berdering. Ada telepon dari Luffi. Mata Ara berbinar, membuat kedua temannya merasa aneh. Ara pun segera mengangkatnya. “Halo.” “Asslamulaikum.” “Waalaikumsalam. Hehe lupa.” “Tapi sama aku gak lupa kan?” “Hahaha. Enggaklah.” “Tapi kok ga hubungin seharian ini. Kemana saja?” “Hehe. Lagi diajak jalan – jalan sama Tante. Ini malah ngajakin nginep.” “Ooooh. Kemana?” “Ke pantai.” “Pantai mana?” “Balekambang.” “Ooooh Balekambang.” “Kamu tahu?” “Enggak.” “Lah kok oh?” “Ya oh aja haha. Enak ga disana?” “Enak dong. Seru.” “Kalau sama aku pasti lebih seru.” “Yeeee pede amat.” “Siapa ra?” tanya Dita kepo. “Kepo.” Jawab Ara. “Palingan si tanpa nama. Hahaha.” Sahut Nesa. “Eh, ssssttt.” Ucap Ara pada mereka. “Loh nomerku masih belum di simpan ya?” tanya Luffi. “Sudah kok. Nesa nih.” Jawab Ara. “Loh sama temen – temen juga?” “Iya, biar ga bosen. Jalan kalau cuma sama Tante yang ada bosen.” “Yaudab, lanjut di chat saja. Ga enak sama temenmu.” “Oke.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN