Siang itu begitu cerah. Ara baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk dikepalanya.
“Segernya.” Ucap Ara.
“Emangnya kamu kemarin di sana nggak mandi?” Tanya Wiwid.
“Ya mandi. Tapi kan beda kak.”
“Gimana liburan sama Tante Maya?”
“Enaklah. Tumbenan orangnya diem aja loh. Hahah.”
“Ohya?”
“Iya kak.”
“Tumbenan ya. Jangan – jangan lagi galau tuh Tante Maya?”
“Mbuh, yang penting aku sudah di rumah sekarang. Dan sudah ngabisin duitnya Kak Hans.”
“Hahaha. Dasar kamu tuuh. Bisa – bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan.”
“Halah, kakak juga dapet bagian saja loh.”
“Ya, kakak adek kan harus kompak.”
“Kompak semprulnya.” Sahut Ibunya yang tiba – tiba ikut nimbrung setelah mencuci piring.
Sontak keduanya langsung tergelak “Hahahaha.”
Hape Ara berdering. Wiwid mengintip siapa yang menelepon adiknya.
“Apa lirik – lirik? Juling baru tahu rasa.” Ucap Ara ketus.
“Halah, palingan calon mantu Ibu yang nelpon. Ya kan?”
“Yeeee. Sok tahu. Ini kak Hans yang telepon.”
“Lah, ngapain nggak diangkat – angkat?”
“Biarin aja. Hahaha. Palingan mau ngomel itu duitnya ku mbil banyak.”
“Kamu ambil berapa emang?”
“Gak tahu. Pokoknya setiap kali bayar ya aku pakai kartu kredit dia. Enak aja mau pake debitku. Apalagi Tante Maya kan gak mau keluar duit. Kayaknya orangnya tahu deh kalau kak hans ngasih kartu kreditnya ke aku.”
Sekarang ganti hape milik Wiwid yang berdring. Benar saja, hans ganti menelpon padanya.
“Eh Ra, dia nelpon aku nih.”
“Biarin saja kak. Palingan nanti dia kesini.” Jawab Ara cuek.
“Kalian ini kok seneng banget ngerjain Hans. Kasihan lah.” Ucap Ibunya membela Hans.
“Ciyeeeee, ngebela ponakannya ciyeeee.” Ara meledek Ibunya. Langsung saja mereka bertiga tertawa. Setelah menelpon Wiwid juga gak diangkat. Hans ahirnya memutuskan menelpon Tantenya.
“Eh. Sekarnag Hans ganti nelpon Ibu nih.”
“Hahaha. Malah nelpon ke Ibu.” Sahut Wiwid sambil tertawa.
“Bener – bener pantang menyerah ya dia kak.” Sahut Ara.
“Sudah – sudah, jangan ame. Ibu mau angkat telponnya. Kasihan.”
“Halo, ada apa Hans?”
“Halo Tan. Ara ada?”
“Ada kok. Kenapa?”
“Kalau Wiwid?”
“Ada kok. Kenapa?”
“Oh. Mereka ngerjain Aku rupanya. Jangan bolehin mereka pergi Tan. Aku berangkat kesana sekarang.”
Tut.
Telepon ditutup. Ara dna Wiwid saling memandang Ibunya. Seakan mereka menanyakan kok cepet langsung ditutup? Ibunya pun menjawab.
“Dia cuma nanyain kalian. Terus ditutup teleponnya.”
“Ah palingan pulsanya habis.” Sahut Wiwid.
Ibunya hanya mengangkat alis dan bahunya. Dia sengaja membiarkan mereka berdua tak tahu kalau Hans akan segera kesana. Dari kecil mereka selalu suka menggoda Hans. Hans adalah anak satu – satunya dari kakak laki – laki Ibunya. Jelas saja dia dimanja dan difasilitasi dengan baik. Setiap kali mereka berunjung kesana, selalu saja mereka membuat Hans menangis. Karena mereka selalu merebut mainan Hans. Atau bahkan mereka meninggalkan Hans yang masih bersembunyi saat mereka main petak umpet. Kekompakan kakak beradik itu memang sangat bagus. Apa lagi dalam urusan jail. Bahkan hingga sekarang. Hans masih saja menjadi bahan ledekan bagi mereka. Tidak pernah ada kata tenang jika mereka ada dalam satu tempat yang sama.
Tuing.
Ada notifikasi chat masuk di hape Ara.
“Lagi ngapain?”
“Lagi ngeringin rambut.”
“Lah siang – siang giini ngeringin rambut?”
“Iya kenapa?”
“Habis ngapain kamu?”
“Ngapain apanya?”
“Itu KERAMAS.”
“Ya kan habis mandi. Pingin aja keramas.”
“Pingin apa pingin? Jangan – jangan....”
“Jangan – jangan apa?”
“Kamu habis mandi besar ya? Hahaha.”
“Mandi besar gundulmu.”
“Berarti mandi kecil dong?”
“Dikira buang hajat apa ada besar kecil.”
“Hahaha. Aku lagi libur nih. Temenin ya?”
“Kemana?”
“Ke hatimu.”
“Alay.”
“Aku gak layangan kok.”
“Lah. Siapa juga yang bilang kamu layangan.”
“Itu kamu tadi bilang alay.”
“Lah makin bungung aku.”
“Ada lagunya tuh.”
“Lagu apa? Belum pernah tahu nih aku.”
“Alay anak layangan. Nongkrong pinggir jalan. Sama teman – teman.”
“Lah beneran ada ya? Hahaha. Coba nyanyi dong.”
“Ga mau.”
“Ayolah, lewat Voice Note.”
“Enggak ah, nanti kamu jatuh cinta denger suaraku.”
“Yeee. Kemarin – kemarin juga sudah denger kamu nelpon.”
“Iya deh iya.”
Voice Note.
“Alay anak layangan. Nongkrong pinggir jalan. Sama teman-teman. Biar kelihatan anak pergaulan. Yang goyang kelayapan. Alay gaya kayak artis. Sok selebritis, norak-norak habis. Dilihatnya najis, aduh tentu narsis. Alay jangan lebay please. Alay kalau ngomong lebay. Dasar anak j****y dilihatnya jijay. Alay orang bilang anak layangan. Kampungan gayanya sok-sokan. Alay kalau ngomong lebay. Dasar anak j****y dilihatnya jijay. Alay orang bilang anak layangan.”
“Kok cuma segitu?” tanya Ara.
“Udah ah, ga bisa nyangi dangdut.”
“Heh siapa itu yang nyanyi Ra?” tanya kakaknya.
“Halah kepo.”
“Assalamualaikum.” Ucap hans yang sudah berada di tengah – tengah mereka.
Ara dan Wiwid langsung diam dan melotot kaget.
“Kok cepet?” Tanya Wiwid.
“Apanya?” ucap Hans sambil mencomot weci di meja.
“Ibu kok gak bilang kalau kak Hans mau kesini.” Bisik Ara pada Ibunya.
“Kata Hans gak boleh.” Ibunya balik berbisik.
“Sudah kalian gak usah bisik – bisik. Kalian harus tnggung jawab.”
“Tanggung jawab apa kak?” tanya Ara.
“Kan kamu sudah ngambil uang banyak dari kartu kredit.”
“Terus?”
“Temenein Mama lagi gih.”
“OGAH.”
“Ayolah Ra.” Bujuknya.
“Noh Mbak Wiwid noh. Dia cuti hari ini. Suruh dia saja. Aku masih capek baru pulang dari pantai. Tante Maya gak capek apa?”
“Asal kakak tahu ya. Mbak Wiwid juga dapet banyak tuh oleh – oleh. Jadi mbak Wiwid saja. Bye.” Lanjut Ara sambil mengambil sepiring weci dan masuk ke dalam kamarnya.
Wiwid tak bisa berkutik. Ahirnya dialah yang harus menemani Tantenya.
“Iya deh iya.” Jawab Wiwid sambil cemberut.
Hans pun mengajaknya segera pergi menuju hotel tempat diamana Mamanya menginap.
***
Malamnya, Wiwid masih juga belum pulang. Ara bertanya pada Ibunya.
“Mbak Wiwid belum pulang Bu?”
“Belum, barusan nelpon masih dijalan katanya.”
“Tante Maya tuh gak ada capeknya Bu. Waktu kami lagi enak – enak tidur. Eh dia ikutan mancing di pantai sama para nelayan kata Pak Supir. Ara kasihan sama supirnya. Disuruh nemenin manccing. Hahaha. Paginya pak supir cerita ke aku. Baru balik jam empat pagi katanya.”
“Tantemu memang suka petualangan Ra. Kamu kira dia ketemu sama Om Abi dimana?”
“Dimana Bu?”
“Di Pantai.”
“Eh? Gimana ceritanya?”
“Jadi dulu tuh Tantemu suka pergi – pergi sendiri. Main sendiri dah pokoknya. Karena kalau dia makai fasilitas yang diberi orang taunya. Belum apa – apa sudah gak diijinin. Jadilah dia main di pantai sehaian sampai lupa waktu. Dia pergi ke penginapan tapi pada penuh karena lagi ahir pekan. Kebetulan Om Abi lai ngecamp disana. Mereka ketemu dan ahirnya Tantemu tidur deh di tenda Om.”
“TIDUR BERDUA?”
“Heh, enggaklah. Nagwur saja kamu. Tante tidur di tenda. Om tidur di luar.”
“Om dari awal kenal sudah bucin ya Bu.”
“Apa tuh bucin?”
“b***k Cinta. Hahaha.”
Hape Ara berdering. Tapi tangan Ara kalah cepat dengan Ibunya. Ibunya segera mengangkat telepon itu dan langsung bilang
“Ara lagi tidur. Mau ngobrol sama Ibu gak?”
Ara melotot, tapi tak berani mengambil hapenya.
“Boleh Bu.” Jawab orang diseberang telepon.
“Kalau boleh Ibu tahu. Kapan kamu mau main kesini?”
Deg. Jantung Ara berdegup semakin kencang. Apa kira – kira yang akan dia jawab pada Ibu Ara.