Ara mencoba meraih hapenya tapi tak bisa. Ibunya membuat tanda agar tidak berisik dengan jari telunjuk yang dia tempelkan dimulutnya. Ara ahirnya berhenti mencoba mengambil hapenya. Dia pasrah dengan apapun yang akan terjadi selanjutnya.
“Gimana le? Kapan main ke rumah?” Tanya Ibu Ara lagi.
“Masih belum turun kapal Bu. Belum bisa memastikan kapan bisa main kesana.” Jawabnya.
“Oh begitu. Kira – kira kapan turun kapalnya?”
“Bulan depan. Kalau penggantinya sudah ada.”
“Kalau gak ada? Gak turun dong?”
“Masih nunggu Bu. Soalnya posisi saya dikapal gak boleh kosong. Jadi kalau belum ada gantinya, perusahaan gak bakal ngasih ijin turun.”
“Ara tiap punya pacar kok ya jauh – jauh terus sih. Sebelumnya juga bbgh.” Ara membekap mulut Ibunya.
“Halo, nanti ku telpon lagi ya. Dah.”
“Apa sih Ra?” ibunya kesal.
“Udahlah buk. Ngapain mesti bahas yang sudah – sudah sih?”
“Oh, kamu beneran putus ya sama Diki?”
“Lah emangnya dikira bohongan?”
“Biasanya kan seminggu uda baikan lagi.”
“Ibuuuuuu.”
“Iya iya maaf. Tapi, kamu kenal yang telpon tadi tuh dimana?”
“Di apa itu namanya? Buk buk?” lanjut Ibunya.
“Fecebook.”
“Nah itu.”
“Kenapa emangnya?”
“Kamu yakin Ra?”
“Pasti habis ngegosip nih.”
“Hush. Bukan ngegosip. Tukar informasi. Sering.”
“Bukan sering. Sharing.”
“Sama sajalah.”
“Gini nih ngajarin orang tua. Dibetulin gak mau.”
“Iya deh iya. Apa tadi?”
“Sharing.”
“Saring.”
“Sharing.”
“Saring.”
“Ah tahu ah.”
“Yaudahlah, dengerin Ibu sini. Kemarin mbak Hilda anaknya Bu Tumina ketemuan sama orang dari buk buk itu.”
“f*******: buk.”
“Iya iya fesbuk.”
“Terus?”
“Yeee kepo.”
“Jadi cerita gak sih? Dapet kata kepo darimana coba si Ibu. Diajarin Bulek Tumina ya?”
“Iya hehe. Jadi pas ketemuan itu ternyata orangnya jelek. Item, kurus, rambutnya klimis kayak habis dikasih minyak nyong - nyong sebotol.”
“Terus?”
“Mbak Hildanya kaburlah. Hahaha.”
“Ya salah sendiri gak di cek.”
“Fotonya di buk buk tuh ganteng katanya Ra.”
“Eh iya fesbuk. Gak usah melotot gitu, percuma sipit.” Lanjut Ibunya sebelum Ara ngomel lagi.
“Kan sekarang sudah ada video call bu. Tinggal di telpon video sudah bisa lihat wajah aslinya.”
“Coba mana Ibu mau nelpon video sama calon mantu.”
“Ogah. Minta mbak Wiwid dulu bawain mantu. Kok Ara mulu.” Jawab Ara sambil berjalan ke dalam kamarnya.
Ara segera menelpon Luffi.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Nah gitu dong salam dulu.”
“Hehe.”
“Tadi Ibu kok ga dilanjut ngomongnya?”
“Sudah ah ga usah dibahas.”
“Pacarmu jauh – jauh terus? LDR terus?”
“Enggak.”
“Lalu?”
“Mantanku dulu pindah kota karena mau daftar militer. Jadi ya jauh deh.”
“Oh mantannya orang berseragam. Jadi minder nih.”
“Emangnya kamu kalau kerja gak seragaman?”
“Seragamku mah apa. Kotor sama bau oli. Bedalah sama yang bajunya kinclong dan wangi.”
“Percuma juga seragam kinclong kalau hatinya kotor.” Ada penekanan pada kata kotor yang Ara sebutkan.
“Aduuuuh dalem banget nih kayaknya. Inget mantan ya neng?”
“Kan kamu yang ngajakin bahas.”
“Yaudah iya. Tapi putusnya kenapa?”
“Yakin nih mau dibahas?” ucap Ara kesal.
“Lho memangnya kenapa? Masih cinta ya?”
“Oh oke. Sok deh tanya apa.”
“Kenapa dulu putus?”
“Dia selingkuh.”
“Tau selingkuh darimana?”
“Banyak bukti.”
“Bukti apa?”
Ara menghela napasnya. Rasa kesal semakin menumpuk padanya sekarang.
“Dia pernah makai foto cewek lain di BBM nya. Aku telpon yang angkat temennya dia bilang lagi keluar sama cewek. Ada lagi yang mau ditanyain?”
“Kamu marah?”
“Ya menurutmu? Coba pacarmu yang begitu? Apa kamu gak marah?”
“Bukan soal itu.”
“Terus apa lagi?” suara Ara meninggi.
“Sekarang kamu marah?”
“Apa sih? Ga jelas banget.”
“Kamu marah aku bahas ini?”
“Aku tuh kesel. Aku sudah berusaha buat ga inget – inget itu. Tapi malah dibahas lagi. Kamu tahu gak sih gimana sakitnya dihianatin? Kamu sudah nemenin dari dia yang biasa – biasa saja, sampai dia dapetin apa yang dia mau. Tapi.” Ara tidak melanjutkan perkataannya. Sesak itu muncul lagi. Torehan luka yang mengering kini tergores lagi. Seakan ada yang menetesinya dengan perasan jeruk. Ara menahan airmatanya, bibirnya bergetar, dia tak mampu lagi berucap.
“Ra.” Panggil Luffi. Tapi Ara hanya diam. Dia menahan isaknya. Tak ingin Luffi mendengar isakan itu.
“Maaf Ra. Aku gak bermaksud membuatmu marah. Maafin aku Ra.”
Ara menghela napasnya. Mencoba menengkan hatinya. Mencoba mengurangi rasa getar dalam dirinya. Dia menggigit bibir bawahnha. Lalu menghela napas lagi.
“Gak pa – pa. Toh semuanya sudah berlalu. Sudahlah.”
“Senyum dong.” Ucap Luffi menggodanya.
“Sudah.”
“Mana gak kelihatan?”
“Yaiyalah kan telpon biasa bukan video.”
“Oooh mau video call ya? Oke oke.” Kemudian Luffi mematikan teleponnya dan beralih ke panggilan video. Ara ragu untuk mengangkatnya. Dia tak ingin Luffi melihatnya dalam kondisi itu. Tapi tiba – tiba dia mengangkat telepon itu.
“Hai Ara. Mana senyumnya?” Luffi mencari – cari sosok Ara dalam panggilan video itu, tapi yang dilihatnya hanya tembok.
“Lah kok cuma tembok?” Ara lalu menggeser videonya ke arah kasur.
“Lah kok ganti kasur?”
“Hahahaha.”
“Lah malah ketawa.”
“Noh ngomong saja sama tembok. Aku lagi kesel sama kamu.”
“Yeeee, masa' aku sayang – sayangan sama tembok?”
“Biarin.”
“Eh Ra. Pacaran yuk?”
“Uhuk uhuk uhuk.” Ara kaget dan tersedak mendengar perkataan Luffi. Meskipun begitu, tetap saja dia mengarahkan kamera ke arah kasur. Bukan ke arahnya.
“Kamu kenapa Ra? Keselek guling?”
“Pacaran saja sama tembok sana.”
“Gak maulah. Aku normal kok. Cewek masih banyak ngapain juga pacaran sama tembok.”
“Oh cewekmu banyak?”
“Gak gitu maksudnya kan di dunia ini jumlah cewek kan banyak.”
“Oh kamu mau pacaran sama cewek sedunia?”
“Lah. Susah ngomong sama orang PMS.”
“Kok tahu?”
“Tahulah. Kan aku bisa nerawang.”
“Halah.”
“Pokoknya aku suka yang terawang – terawang. Apalagi baju terawang. Hahaha.”
“Dasar mesum.”
“Hahaha.”
“Malah ngakak.”
“Eh udah jam berapa disana?”
“Kenapa?”
“Nanya aja.”
“Oh, kamu mau jumatan ya?”
“Eh? Iya.”
“Tapi kan kamu dikapal?”
“Ya jamaah sekapal aja.”
“Ooooh. Yaudah deh kamu lanjutin dulu. Aku tutup ya?”
“Iya. Tapi.....”
“Tapi apa?”
“Kamu sudah gak marah?”
“Enggak. Yaudah sana.”
“Iya. Dah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah menutup telepon Ara baru menyadari, bahwa dia belum memberikan jawaban atas ajakan Luffi tadi. Dia menepuk keningnya sendiri. “Lah ngapa jadi lupa ngejawab.” Ucapnya sendiri. “Biarin deh. Palingan nanti juga bakal bilang lagi.” Pikirnya. Ara yang tadinya kesal, karena Luffi sudah mengorek tentang masa lalunya. Tentu saja semua gara – gara Ibunya yang asal nyeplos saja kalau ngomong. Tapi sekarang dia sedang rebahan di kasur sambil senyum – senyum. Dia mengingat perkataan Luffi yang dengan entengnya bilang. “Pacaran yuk?”.
Baru saja Ara akan memejamkan matanya. Tapi tiba – tiba saja hapenya berdering. Nomer tersebut tak ada di kontak Ara. Ara membiarkannya. Dia selalu beranggapan bahwa, kalau nomer gak dikenal nelpon tuh wajib diabaikan dulu. Kalau memang penting atau yang telepon adalah orang yang dia kenal. Pasti dia akan menelpon lagi. Maka diabaikannya telepon itu. Baru kemudian sebuah pesan masuk di hapenya. Dari nomer yang sama.
“Lali ta karo aku? Kok gak diangkat?”
Catatan :
Le / tole (bahasa jawa) : panggilan untuk anak laki – laki.
“Lali ta karo aku? Kok gak diangkat?” (bahasa jawa) : Lupa ya sama aku? Kok gak diangkat?