evaluasi

1038 Kata
Baru saja Ara akan memejamkan matanya. Tapi tiba – tiba saja hapenya berdering. Nomer tersebut tak ada di kontak Ara. Ara membiarkannya. Dia selalu beranggapan bahwa, kalau nomer gak dikenal nelpon tuh wajib diabaikan dulu. Kalau memang penting atau yang telepon adalah orang yang dia kenal. Pasti dia akan menelpon lagi. Maka diabaikannya telepon itu. Baru kemudian sebuah pesan masuk di hapenya. Dari nomer yang sama. “Lali ta karo aku? Kok gak diangkat?” “Ih siapa sih kok aneh.” Ara membiarkan pesan itu. Lalu telepon itu berdering lagi. Ara merasa ada yang aneh. Dia tak berani mengangkat telepon itu. Setelah telepon itu mati, Ara segera memblokir nomer tersebut. Ara selalu cuek dengan nomer baru. Apalagi sok kenal, tanpa ngenalin diri. *** Pagi itu Ara tiba – tiba dijemput sama Fira. Ara yang masih mandi menyuruhnya untuk menunggu di kamarnya. Tapi, Fira yang dasarnya gak bisa diam. Dia pun pergi ke dapur. Duduk di meja makan dan nyamil apa saja yang ada dihapannya. “Bakwan jagungnya enak Tante.” Ucapnya mengagetkan Ibu Ara. “Eh, enak ya? Sudah sarapan belum Fir?” “Sudah Tan. Tapi masih muat kok kalau sarapan lagi. Hehehe.” Jawabnya sambil nyengir. “Oh, yaudah ayo sarapan lagi. Nunggu Ara mandi juga masih lama.” Ucapnya sambil menyodorkan piring ke Ara. “Loh ada Fira.” Ucap Wiwid yang baru saja keluar kamar. “Eh mbak Wiwid. Mbak, kayaknya aku pernah lihat mbak Wiwid deh pas ke toko.” “Toko mana?” “Toko peehiasana. Kakak sama cowok deh waktu itu. Pacarnya?” Wiwid melotot, dia yang jomblo jadi kaget sendiri. Kapan dirinya pergi ke toko perhiasan. Sama cowok pula. “Kayaknya kamu salah lihat deh Fir.” Jawab wiwid. “Enggam mbak, seriusan itu mbak. Sama Ibu – Ibu juga kalau gak salah. Cuma Aku ga jadi nyapa, gara – gara Mamaku udah ngajakin pulang.” “Oh pasti waktu sama Hans dan Tante Maya nih.” Batin wiwid. “Lanjut makan dulu aja Fir. Ayo makan ayo. Udah laper nih aku.” Kilah Wiwid mengalihkan pembicaraan Fira. Ayahnya juga sudab bergabung di meja. Mereka seakan sudah terbiasa melihat Fira juga ikut duduk disana. Fira tak akan pernah gengsi, apalagi malu. Kalau urusan perut, semuanya lewat. Seperti tertutup kabut saja wajah mereka dimatanya. Ara baru saja kuar kamar dan menyeret kursinya. “Ada apa sih Fir? Tumbenan kan lagi libur ini?” “Mas Awan ngajakin makan – makan nanti.” “Heh? Mas Awan?” perasaan Ara menjadi tak enak. “Yakin makan – makan?” “Iya Ra, beneran.” “Aku sih ngerasa ini bukan soal makan – makan deh.” “Kenapa memangnya?” “Ehem.” Ayahnya berdehem. Membuat mereka terdiam seketika. “Dimakan dulu. Kalau mau ngobrol ga usah makan.” Ayah dan kakaknya sudah berangkat kerja. Ara dan Fira masih di ruang tamu. Ara yang merasa perasaannya gak enak. Seketika kepikiran buat menelpon Nesa. “Halo Nes.” “Ya Ra, ada apa? Tumbenan pagi – pagi nelpon?” “Si Fira ada di rumahku nih.” “Ngapain dia?” “Katanya Mas Awan ngajakin makan – makan? Kamu diajak?” “Enggak tuh.” “Nah kan aneh. Aku juga gak dihubungi kok sama dia. Coba kamu kesini deh. Jangan luoa bawa laporan kegiatan kemaren.” “Iya, lima belas menitan lah nyampe sana. Aku siapin berkasnya dulu.” “Oke.” “Eh Fir. Mas Asan ngajak kamu lewat apa?” “Sms. Kenapa?” “Halah. Palingan Mas Awan tuh mau nagih laporan kegiatan.” “Enggak Ra, dia ngajakin makan.” “Kamu sih. Giliran ada kata makan langsung percaya – percaya aja. Kita buktikan nanti.” “Ayo. Mau taruhan?” “Oke.” “Traktir makan malam selama sebulan.” “Oke.” *** Di kampus. Kampus memang sedang libur, tapi masih ada kegiatan yang berlangsung. Setiap kali liburan semester, tiap – tiap HMJ akan mengadakan kegiatan. Ara, Fira dan Nesa segera menuju basecamp. Ternyata disana juga sudah ada beberapa orang yang hadir. Ara masih menaruh curiga pada Ajakan ketua HMj nya itu. Gak mungkin dia akan ngajakin acara makan – makan tanpa tujuan yang jelas. Mereka bertiga duduk berjajar. Ara masih memandangi sekeliling. Masih merasa ada yang janggal. Perasaannya benar – benar gak enak. “Masih ada yang belum datang ya?” “Masih mas. Tapi udah bisa di mulai kok.” Jawab Popi, sekertarisnya. “Assalamulaikum warahmatulaahi warabarakaatuh.” “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh.” “Jadi, maksud saya mengundang kalian semua kesini yaitu mau membahas tentang evaluasi kegiatan olimpiade yang sudah kita laksanakan.” Fira menunjukkan ekspresi kaget. Lalu menoleh ke arah Ara. Ara tersenyum puas. Dia menang taruhan dengan Fira. “Jadi dimohon untuk segera menyelesaikan laporan kegiatan acara tersebut. Dan dimulai evaluasi dari para panitia dahulu.” Nesa menyerahkan berkas laporan kegiatannya. Mereka memulai evaluasi kegiatan. Mulai dari acara, konsumsi, keamanan, publikasi, dekorasi dan banyak lagi. Mereka mencari titik lemah tiap seksi. Mencari solusi untuk acara kedepannya. Diskusi berjalan normal dan lancar. Hanya Fira yang terlihat kesal. Usai evaluasi mereka bubar dari basecamp. Hanya beberapa orang yang tinggal disana untuk nyantai. Termasuk Fira. Dia menunggu selesai evaluasi untuk menanyakan tentang makan – makan yang dijanjikan oleh Awan. “Mas, katanya mau makan – makan?” “Hahaha. Mau makan – makan?” “Iyalah. Tadi kan sudah janji.” “Aku gak janji kok. Tapi sini deh aku bisikin.” Fira mendekat, mereka berbisik – bisik sambil melirik ke arah Ara. “Apa?” tanyanya. “Gak ada.” Jawab Fira. Lalu dia kembali duduk ke samping Nesa. Lalu dia mebisikkan sesuatu padanya. “Sudah tahu.” Jawab Nesa cuek. “Kalian bahas apa sih? Kok pake bisik – bisik.” Ucap Ara kesal. Karena dia tidak dibisiki juga. “Yeeee. Kepo.” Ucap Fira. “Oh, yasudah. Jangan lupa makan malem selama sebulan ya.” Ucap Ara sambil tersenyum sinis. Fira langsung cemberut. “IYA.” Ucapnya. “Masih ada yang mau dibahas?” tanya Ara pada Mas Awan. “Gak ada kok.” “Oh yaudah, aku pulang dulu deh.” “Eh jangan pulang dulu.” “Lah kan sudah gak ada yang dibahas lagi.” “Duduk sini dulu deh. Istirahat dulu.” “Mumpung masih jam segini. Belum terlalu panas buat pulang.” “Ra sini deh.” Panggil Nesa. “Apa?” “Sini.” “Apasih?” “Sini dulu ah elah.” “Males ah. Mau pulang aku. Mau tidur.” “Tidur mulu kek ayam.” Sahut Fira. “Heh apa hubungannya tidur sama ayam?” ucap Ara kesal. “Gak ada sih. Hehe.” “Jitak nih.” “Sini Ra.” Panggil Nesa lagi. “Kalian tumbenan sih bawel terus.” Ucap ara sambil kembali duduk. “Tunggulah, bentaran masih ngedit ini. Nanti pulang bareng.” Sementara mereka yang di dalam basecamp menahan Ara agar dia tidak pulang. Teman – teman yang tadi bubar sedang merencanakan sesuatu untuknya. Sesuatu hal yang tidak akan Ara lupakan seumur hidupnya. Mereka sibuk memeprsiapkan bahan – bahan. Banyak sekali, mulai dari yang biasa sampai yang bikin mual. Dasar kelakuan anak muda tuh aneh – aneh. Mereka gak akan bisa duduk tenang, jika masih belum melakukan hal yang sudah biasa mereka lakukan ditiap perayaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN