Kamu?

1272 Kata
Ara duduk disamping Nesa. Lalu dia mengekuarkan hapenya. Mengecek apakah ada notif dari Luffi. Tapi ternyata tidak ada satupun notif di hapenya. Kemudian dia mengirim chat pada Luffi. “Hey. Ngapain?” Tapi masih centang satu. “Loh kok gak aktif.” Pikirnya. Lalu dia memasukkan lagi hapenya ke dalam saku. Dia mulai merasa moodnya memburuk. Memang cinta bisa membuat mood naik turun seperti roller coaster. “Masih lama Nes?” Tanyanya pada Nesa yang masih sibuk mengetik. “Bentar.” “Aku pulang deh ya?” Ucapnya pada Nesa. Bukannya menoleh pada Ara, Nesa malah menoleh ke mas Awan. Mas Awan memberikan kode dengan mengangkat alisnya dua kali. Lalu dia pun menjawab. “Yasudah kamu ke parkiran dulu deh. Kurang dikit.” “Oke. Jangan lama – lama loh.” Ara pun pergi menuju parkiran. Sepanjang dia berjalan banyak mahasiswa lain yang melihat ke arahnya. Namun dia tak mengerti kenapa mereka melihat ke arahnya. Kemudian dia terhenti karena ada debuah uang koin jatuh di depannya. Dia jongkok dan mengambilnya. Lalu dia menoleh ke atas tempat dimana orang menjatuhkan koin itu. Byuuuuuuuuuuuur. Siraman air berwarna merah itu tepat mengenai dirinya. Dita dan beberapa teman lain ada diatas sana. “Sialan aku dikerjain.” Batinnya. “Heh apa – apaan kalian? Turun sini. Belum pernah dikelonin pocong ya kalian.” Ucapnya kesal. Melihat Ara kesal, mereka malah tertawa. Baru saja Ara mau menghampiri mereka, tiba – tiba sebuah telur mendarat di kepalanya. “Firaaaaaaaaaaaaa.” Teriaknya. Fira berlari menjauh dari Ara. “Oh kalian sekongkolan ya mau ngerjain aku. Gak ada kerjaan kalian hah?” dia masih belum sadar dengan tujuan mereka melakukan itu padanya. Dilepaskannya sepatu dan tas miliknya. Lalu dia berlari sekencang mungkin mengejar Fira. Mereka kejar – kejaran seperti kucing dan tikus. Baru saja dia berhasil menangkap Fira. Nesa menghampirinya sambil membawa seplastik tepung. Nesa menghamburkan tepung itu dengan asal. “Heh, aku juga kena nih Nes.” Teriak Fira. “Bodo amat.” Jawab Nesa.  Kemudian seorang cowok dengan kemeja putih datang. Dia membawa sebuah kue tart untuk Ara. Hari ini adalah ulang tahunnya. Tapi Ara benar – benar tak mengingatnya sama sekali. Cowok itu begitu tampan dengan setelan kemeja putih dan celana hitam. Tinggi, putih dan rapi. “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to you.” Dia bernyanyi sambil menghampiri Ara yang masih tak percaya dengan kejadian itu. Ara tercengang mengetahui siapa yang membawakan kuenya. Bagaimana bisa dia disini? Batinnya. Ara mundur selangkah saat cowok itu sudah berada dihadapannya. “Selamat ulang tahun Ra.” Ucapnya. Tak hanya Ara, teman – temannya juga kaget dengan kehadiran cowok itu. Bagaimana dia tahu Ara disini dan momennya bisa sangat pas. “Kalian sekongkol sama dia?” tanya Ara pada teman – temannya. “Enggak Ra.” Jawab Nesa dan Fira. “Kamu ngapain kesini?” tanya Ara padanya. “Aku mau ngasih kejutan sama kamu Ra. Ini kan ulang tahunmu.” Ucapnya lembut. “Gak perlu. Gak butuh.” Jawab Ara. Nesa dan Fira merasa ada yang tidak beres. Siapa kira – kira yang membocorkan acara kejutan ulang tahun Ara padanya. Dan kenapa dia bisa sampai disini. Bukannya dia sedang tugas dinas. Fira dan Nesa saling berpandangan. Mereka tak berani bersuara. Sementara cowok itu mendekat pada Ara. “Pergi kamu Diki.” Bentak Ara padanya. “Ra. Sudah dong jangan marah.” “Jangan marah kamu bilang? Setelah semuanya, kamu kesini dengan santainya bilang jangan marah?” “Ra, aku tahu aku salah. Maafin aku Ra.” Dia mengucapkan itu dengan nada selembut mungkin. “Maaf? Maaf kamu bilang?” Suara Ara terdengar bergetar. Matanya mulai berkaca – kaca. “Kenapa kamu kesini sih?” lanjutnya sambil menahan amarah. “Ra, aku kesini mau minta maaf sama kamu.” “Gak butuh. Semuanya sudah selesai.” “Ra dengerin aku dulu.” Ucapnya sambil berjalan mendekat ke Ara. Ara yang kaget reflek menampik tangannya yang membawa kue. Kue itu jatuh dan hancur begitu saja. Membuat Diki menghentikan langkahnya mendekati Ara. “Jangan mendekat.” Ucap Ara memperingatkannya. “Ra. Please Ra. Maafin aku.” “Lebih baik kamu pergi.” “Ra, aku jauh – jauh kesini mau ketemu kamu Ra.” “Aku gak minta.” “Aku gak pernah minta perhatianmu. Sudah cukup. Perhatikan saja dia. Aku sudah gak mau lagi.” Kini airmatanya sudah tak mampu dia bendung. Dia mengingat semua luka yang pernah Diki berikan padanya. Tentang acuhnya dia, tentang perselingkuhannya, bahkan saat terahir kata putus terucap. Semua seakan berputar kembali diingatannya. Diki yang melihat Ara menangis memberanikan diri maju mendekatinya. Diraihnya tangan Ara dan dipeluknya. Dia tak menghiraukan kotornya tubuh Ara yang sudah terkena telur dan tepung. Dia memeluknya dengan erat. Seperti tak ingin kehilangan. “Lepasin aku.” Ucap Ara sambil terisak – isak. “Tenang dulu Ra.” Jawabnya sambil mengelus rambut Ara. “Kita sudah selesai Dik. Selesai.” “Ra, kamu tenang dulu.” “Kita sudah putus. Sudah berbulan – bulan Dik.” “Kenapa kamu datang lagi? Kenapa?” ucapnya sambil terus menangis. “Sssttt. Ra sudah Ra, jangan nangis.” “Kamu sudah bikin aku hancur sehancur hancurnya. Kamu biarkan aku dengan segala prasangkaku sendiri. Berbulan – bulan aku berusaha untuk lupa. Aku mengobatinya sendiri. Kenapa saat semuanya sudah mengering kamu torehkan lagi luka Dik? Kenapa?” Ucap Ara sambil memukul – mulul d**a bidang Diki. Diki menahan tangan Ara. Lalu menggendongnya dan membawanya menuju mobil. Teman – temannya tak berani ikut campur masalah mereka. Dibiarkannya Diki membawa Ara. Diki mendudukkan Ara disampingnya. Memeluknya dengan erat. Dibiarkannya Ara menangis hingga dia merasa tenang. Lalu saat Ara sudah tak lagi terisak, dia kembali berbicara padanya. “Ra. Maaf. Aku salah. Tolong maafin aku.” “Aku sudah maafin kamu.” Jawabnya sambil menyeka airmatanya. “Kita balikan ya?” “Gak.” “Ra, please.” “Enggak Dik. Enggak.” “Aku masih sayang sama kamu Ra. Aku sudah jauh – jauh kesini demi kamu.” “Oh.” “Ra, maafin aku. Ternyata dia tak sebaik kamu. Dia selingkuhin aku Ra.” “Oh, kamu kesini karena itu. Karena ternyata kamu juga dicampakan?” “Bukannya begitu Ra.” “Sudahlah Dik. Kamu cari saja wanita lain. Aku sudah lelah. Aku bukan ban serep yang bisa kamu pakai kapan saja saat ban utamamu kempos.” “Ra.” “Aku sudah muak dengan semua kebohonganmu. Sudah cukup Dik. Kamu tahu gimana perasaanku saat kamu gak bales chatku? Gak angkat telponku? Enggak kan? Kamu gak akan pernah tahu semua itu. Karena kamu sedang bahagia dan bersenang senang dengan yang lain. Bahkan tanpa penolakan ataupun jawaban, kamu dengan mudahnya mengahiri hubungan dengan mengganti foto profil BBM mu dengannya. Dan sekarang kamu disini? Kamu disini karena dia selingkuhin kamu? Hahaha. Karma does it's job faster than i thought.” Ucap Ara sambil menyeka air matanya.  Diki terdiam. Dia baru menyadari kesalahannya bukanlah masalah sepele. Bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan hati Ara kembali. Setelah begitu lama dia biarkan Ara sendiri. Menanti kabar darinya. Menanti telepon dan chat darinya. Tapi dia selalu abai dan merasa dicintai dengan sangat. Dia merasa Ara akan selalu memaafkannya. Selalu bisa menjadi tempatnya ingin kembali. Selalu bisa menjadi bagian darinya kapanpun dia ingin. Ara sudah tidak seperti dulu lagi. Keabaian Diki telah mendewasakannya. Mendewasakan rasa rindunya untuk tidak merengek meminta perhatian. Rasa Ara sudah berubah. Tak lagi merasa kosong tanpa perhatian. Karena hari – harinya kini sudah cukup sibuk dengan segala keriwehan kegiatan HMJ. Serta kedatangan seorang Luffi yang mampu membuatnya tersenyum kembali. “Asal kamu tahu. Rasaku sudah mulai terkikis. Saat yang mengangkat teleponku bukanlah kamu. Tapi orang lain, yang dengan santainya bilang kamu sedang jalan dengan Silvi. Sepertinya aku memang tak kau anggap ada. Sepertinya temanmu tak tahu aku pacarmu. Atau mereka tak tahu kamu punya pacar?” Diki masih terdiam. Dia merasa begitu malu. Karena dengan percaya diri dia datang jauh – jauh untuk merayakan ulang tahun Ara. Tapi Ara malah menolaknya. Dia sangat tertampar dengan segala penjelasan Ara. Kesalahannya sangat fatal dan sangat tidak mungkin untuk dapat dimaafkan. Ara bangkit dari duduknya dan membuka pintu mobil disebelah kanannya. Diki mencegahnya dengan menarik tangan Ara. Tapi Ara menghempaskan tangannya dengan keras. “Pergilah. Cukup aku saja yang merasakan sakit karenamu. Jangan ulangi pada yang lain.” Ucap Ara sebelum dia menutup pintu mobil Diki. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN