Ara kembali menuju tempat dia melepas sepatu dan tasnya. Tapi ternyata tas dan sepatunya telah lenyap. Sudah tidak ada ditempatnya lagi.
“Sial banget sih hari ini. Mimpi apa aku semalem.” Ucapnya sendiri. “Nesaaaaaaa. Firaaaaaa. Ditaaaaaa. Mana sepatu sama tasku.” Teriaknya di depan basecamp. Jelas dia tak berani masuk dengan kondisinya seperti itu.
“Ke kamar mandi dulu sana. Bau ih.” Ucap Fira.
“Heh aku kayak begini gara – gara kalian. Malah ngatain, toh kamu juga kotor dan bau.”
“Yeeee sudah aku bersihinlah.”
“Bersihin dulu Ra kotorannya. Apalagi bau cowok tadi pasti nempel dikamu. Kan kamu dipeluk tadi.” Lanjut Nesa.
“Gak ikutan.” Sahut Dita.
“Ya Tuhan, kenapa temanku gak ada yang waras.” Ara berlari menuju toilet dengan tatapan geli dari mahaiswa lain.
“Kesambet ya kalian senyum – senyum?” Ucap Ara pada beberapa mahasiswa yang sedang ngaca di toilet.
“Nan, tadi kamu lihat gak ada acara FTV loh di kampus.” Ucap salah satu dari mahasiswa yang tadi Ara semprot.
“Oh iya dong Ris. Bagus banget, ada cara nangis sam peluk – peluk.” Jawab seorang gadis bernama Nanda.
“Kalo nyindir depan aku sini. Mau aku peluk kalian hah? Biar pada bau juga kalian.” ucap Ara yang sedang menyiram rambutnya di dalam bilik kamar mandi.
“Kabuuuuuur.” Ucap mereka serentak sambil meninggalkan Ara sendirian. Nesa melihat gadis – gadis itu berlarian keluar dari kamar mandi dan hampir saja menabraknya.
“Raaaaaa.”
“Apa Nes?”
“Kok tahu kalau aku?”
“Sudah hapal sama suaramu, yang suka ngomel kalau tugas ada yang ga beres.”
“Dasar nyebelin. Buka pintunya, pakai baju nih.” Ucapnya sambil menggantungkan tas keresek di knop pintu.
Ara membuka pintu bilik tempatnya membilas rambut. “Makasih ya. Kirain kalian cuma mau ngerjain, ternyata kalian juga mikirin nasibku setelah kalian bikin kotor begini.”
“Hahaha. Sudahlah cepet ganti. Bau.”
“Mana sabunnya?”
“Gak bisa ambil sendiri?”
“Sekalian. Mumpung kamu disini.”
Nesa mengambilkan sabun mandi yang selalu mereka letakkan di ventilasi, di atas westafel. Buat jaga – jaga kalau mereka gak sempat pulang untuk mandi saat ada kegiatan HMJ di pagi hari, setelah semaleman begadang menyiapkan berbagai hal untuk acara tersebut.
“Ra.”
“Hem?”
“Kamu gak pa – pa?”
“Kenapa? Kan kalian yang ngerencanain semuanya?”
“Enggak Ra. Serius. Kami gak ada yang ngasih tahu Diki soal hari ini.”
“Lalu darimana dia tahu? Kalau kalian mau ngerjain aku kayak gini? Dan timingnya bisa pas banget dia dateng sambil bawa kue.”
“Sayang kuenya jatuh ya, padahal kelihatannya enak.”
“HEH.”
“Hahaha. Entahlah Ra, siapa ha kira – kira yang ngasih tahu dia? Padahal kita – kita juga gak ada yang nyimpen nomer dia.”
“Bodo amatlah Nes.”
“Kamu beneran gak pa – pa Ra?”
“Iya gak pa – pa. Lega rasanya bisa ngeluarin segala uneg – uneg yang selama ini cuma kesimpen sendiri. Ditelen sendiri. Sekarang bisa muntahin semua itu rasanyaega Nes.”
“Kamu serius Ra?”
“Serius.” Ucapnya sambil keluar dari bilik kamar mandi.
“Maaf ya Ra.”
“Lah ngapain kamu yang minta maaf. Sudahlah.”
“Aku bakal nyari tahu siapa yang ngasih info ke Diki.”
“Gak perlu. Kayaknya aku tahu deh siapa.”
“Siapa?”
“Gak boleh kepo.”
Mereka berdua meninggalkan kamar mandi dan menuju basecamp. Disana teman – temannya sudah menunggu dengan kue tart yang dibawa oleh Mas Awan. “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to Ara.” Teman – temannya menyanyikan lagu untuknya. Bukannya terharu, dia malah tertawa ngakak.
“Kok ngakak sih Ra?” tanya Mas Awan.
“Heh siapa yang mesen kue? Fira ya?” tanya Ara.
“Iya kok tahu kamu Ra?” jawab Fira.
“Lihat noh nama siapa yang ada di kue. Kalian kok bisa – bisanya gak ngecek sih. Hahaha. Gatot gatot.” Ucap Ara masih dengan tertawa.
“Kamu nih Fir.” Ucap Nesa kesal.
“Yeee mana aku tahu. Sama mbak penjualnya ditanya. Namanya siapa mbak? Ya ku jawablah Fira.”
“Wooooooooo. Dasar kamu Fir.” Mereka serentak berseru pada Fira.
“Hehe. Gak pa – pa ya Ra. Udah sana tiup lilinnya keburu leleh. Aku idah ga sabar mau makan kuenya.” Ucap Fira.
“Kalo ngomong ga pake di rem emang si Fira nih.” Sahut Nesa kesal.
“Aku kam emang pengen Nes. Kamu tuh ngomel mulu.”
“Sudah, sudah, ayo Ra ditiup.” Ucap Mas Awan.
Ara memehamkan mata, lalu berdoa, dan meniup lilinnya. Terdengar riuhan tepuk tangan dan ucapan selamat saat semua lilin sudah padam. Ara langsung memotong kue nya.
“Ayo ambil saja yang mau.” Ucapnya.
Tanpa aba – aba Fira langsung mengambil sepotong kue dengan ukuran besar. Dan langsung melahapnya, hingga mulutnya cemong.
***
Malam itu di rumah Ara suasana sangay sepi. Kakaknya lembur, Ibu dan Ayahnya pergi makan malam bareng rekan kerja Ayahnya. Sendirianlah dia di rumah. Luffi pun masih belum juga membalas pesan darinya. Karena merasa bosan. Diapun menelpon Hans.
“Kakaaaaaaaaaaak.”
“Apa sih Ra? Aku gak budeg.”
“Cepetan kesini.”
“Kesini kemana?”
“Ke rumahku.”
“Ngapain? Warung belum tutup ini.”
“Temenin.”
“Kan ada Wiwid.”
“Mbak Wiwid lembur.”
“Tante sama Om kan juga ada.”
“Lagi dinner di luar sama teman kerja Ayah.”
“Oh.”
“Kok oh sih kak?”
“Pacarmu suruh datanglah.”
“Kalo jomblo mah gak usah ngeledek sesama jomblo dong.”
“Hahaha.”
“Malah ngakak.”
“Aku gak bisa kesana Ra warung belum tutup.”
“Halah kan ada Dimas kak. Ayolah.”
“Gak mau.”
“Orang – orang kok pada kejem banget sih. Aku ulang tahun malah pada sibuk semua. Yaudah sana urusin warung baksonya. Awas ada kuntilanak nangkring atas gerobak.” Ucap ara kesal, lalu dia mematikan teleponnya.
“Dasar manja.” Ucap Hans yang sedang membereskan warungnya, bersiap untuk tutup.
Tak lama setelah Ara rebahan, dia pun tertidur pulas. Hingga dia tak mendengar saat kakak dan orang tuanya pulang. Bahkan saat Hans membangunkannya, dia hanya membalikkan badan tak merespon. Rencana kejutan yang sudah dirancang oleh mereka gagal. Karena Ara lebih memilih tidur dari pada merespon Hans yang membangunkannya. Mereka ahirnya juga memilih untuk istirahat dikamar masing – masing. Hans pun ikut tidur di sofa ruang tamu.
Tengah malam hape Ara berdering. Dia meraba kasurnya untuk mencari dimana posisi hapenya. Setelah dia menemukannya, segera dia angkat telepon itu tanpa melihat layarnya.
“Hallo assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Loh kok gelap?”
“Apanya yang gelap?”
“Ra, layarnya gelap. Kamu taruh di telinga ya hapenya?”
“Eh? Sebentar – sebentar.” Ara menaruh hapenya di kasur. Membetulkan rambut dan bajunya yang sudah berantakan. Lalu dia kembali mangambil hape dan melihat layarnya. Disana Luffi sedang berdiri dipinggir kapal. Dengan begitu banyak lilin merah yang ada disekitarnya. Lilin – lilin itu membentuk sebuah hati. Dia mengarahkan kamera hapenya pada bentuk lilin tersebut.
“Gimana Ra? Kamu suka?” tanya nya.
“Suka.”
“Selamat ukang tahun Ara, semoga kita bisa segera bertemu.” Ucapnya sambil tersenyum. Ara masih terdiam dengan senyuman diwajahnya. “Maaf seharian ini gak ngabarin kamu. Aku nyari lilin merah susah Ra. Sampae muter beberapa toko.”
“Kamu turun kapal?”
“Belum, hanya belanja bulanan keperluan dikapal.”
“Oh.”
“Aku gak tahu kesukaanmu apa. Tapi semoga kamu suka dengan kado yang aku kirimkan.”
“Kado?”
“Mungkin sampenya 3 harian. Baru bisa beli tadi. Karena ya nunggu bisa turun pas belanja bulanan kapal.”
Ara tersenyum melihat Luffi dengan segala perhatiannya. Keromantisan dan kelembutannya.
“Oh iya, aduh duh mati lagi deh ini lilin – lilinnya. Dari tadi ribet ngehidupin lilin terus, makanya jam segini baru bisa nelpon kamu setelah dari tadi anginnya sangat kecang. Nah kan mati semua deh lilinnya. Hahaha.” Oceh Luffi yang semakin membuatnya merasa diutamakan.
“Makasih.” Ucap Ara sambil berkaca – kaca. Sungguh diluar dugaan. Setelah seharian dia mengalami berbagI hal dari yang baik sampai yang buruk. Dan sekarang dia diperlakukan sangat manis oleh seseorang yang bahkan belum bertemu dengannya. Orang yang mengutamakannya. Orang yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Orang itu adalah Luffi.
“Makasih aja nih?” tanya Luffi.
“Apa lagi dong?”
“Cium dulu dong. Hahaha.” Godanya. Lalu Ara pun menciumnya secara online. “Muach.” Katanya sambil memonyongkan bibirnya ke kamera.
“Hahaha. Gak mau ah.”
“Tadi minta. Sekarang gak mau.”
“Gak mau kalo cuma cium. Peluk juga dong.”
“Gimana mau meluk coba? Masak aku meluk hape sih?”
“Hahaha. Gak jadi deh. Gak mau semuanya.”
“Dasar aneh. Tadi minta, giliran dikasih gak mau.”
“Gak mau kalo cuma lewat hape. Gak berasa.”
“Gak berasa apa?”
“Gak berasa kecup basahnya dan tonjolan waktu pelukannya.” Ucap Luffi sambil tertawa.
“Yeeeee dasar m***m. Manusia oli tukang mesum.” Jawab Ara juga dengan tertawa.